Derit Ranjang Temanku

Derit Ranjang Temanku
Curiga


__ADS_3

Ia ingin sekali menolak permintaan Kirana, tetapi itu tidak mungkin. Karena sama saja ia akan mengecewakan bosnya.


"Bagaimana ini ya Allah, apakah aku mampu jika sering bertemu dengan Iman? seorang pria yang begitu dalam menorehkan luka dihatiku?"


Vina pun tidak bisa konsentrasi pada saat Kirana sedang berbicara.


"Mbak Vina, bagaimana menurut mbak dengan apa yang barusan aku katakan?"


Mata Vina berkaca-kaca, ia malah bengong dan membayangkan kisah masa lalunya tersebut. Hingga ia tidak sadar jika dirinya saat ini sedang berada bersama Kirana.


"Mbak Vina ada apa?" satu usapan di lengan Vina membuat dirinya tersentak kaget.


"Nggak ada apa-apa Non Kirana. Maafkan saya ya. Tadi bagaimana?" tanya Vina hingga membuat Kirana mengulangi apa yang ia jelaskan.


Di dalam hati Kirana juga merasakan jika ada hal yang aneh pada Vina dan juga Iman. Dari tadi keduanya sama-sama tidak fokus, hingga membuat Kirana harus menjelaskan materi kerja sama secara berulang-ulang.


"Sebenarnya ada apa dengan Mbak Vina dan juga dengan Mas Iman? kenapa aku merasa mereka telah saling kenal ya? mereka terlihat berbeda dech," batin Kirana mulai curiga.


Tetapi untuk saat ini ia tidak ingin bertanya terlebih dahulu. Ia berniat bertanya jika sudah sampai di kantor.


Sejenak Vina mencoba untuk fokus di dalam bekerja. Walaupun pria yang ada di hadapannya membuatnya tidak nyaman dan sudah ingin pergi saja dari hadapannya.


"Ya Allah, ada apa dengan semua ini? kenapa aku malah dipertemukan kembali dengan pria yang telah menyakitiku? pria yang telah merenggut kesucianku? apakah aku harus jujur pada Kirana supaya aku tidak mendampinginya setiap ia bertemu dengan Iman? tetapi pasti Kirana akan penasaran dan juga curiga. Ya Allah, semoga aku mampu menahan gejolak amarahku ini," batin Vina menenangkan dirinya sendiri.


Sementara di dalam hati Iman juga begitu banyak kata yang terpendam," Alhamdulillah, akhirnya doaku terkabul untuk bisa bertemu dengan Vina dan meminta maaf secara langsung."

__ADS_1


Bahkan tanpa sepengetahuan Vina, Iman meminta nomor ponsel Vina pada Kirana. Hingga malam hari, Imam menelpon Vina.


Kring kring kring kring kring


Satu panggilan telepon masuk ke nomor ponsel Vina. Ia memicingkan alisnya pada saat melihat nomor ponsel yang menelpon adalah nomor ponsel yang tidak terdaftar atau tidak ada di penyimpanan kartu memorinya.


"Siapa ya, aku paling malas sebenarnya jika ada nomor asing masuk dan menelpon. Tetapi jika tidak aku angkat, aku khawatir itu adalah nomor telepon Kirana. Karena beberapa kali pernah terjadi seperti ini."


Dengan sangat malas, Vina mengangkat panggilan telepon tersebut.


📱"Hallo, maaf ini siapa ya?"


📱" Vina, ini aku. Tolong jangan matikan dulu, karena aku ingin mengatakan sesuatu yang sangat penting yang sudah lama ingin aku katakan padamu."


Sebenarnya Vina ingin mematikan sepihak panggilan telepon dari Iman, tetapi ia juga ingat bahwa Iman mengadakan kerja sama dengan Kirana. Hingga terpaksa ia membiarkan Iman tetap berbicara di sambungan teleponnya.


📱"Vina, selama ini aku mencari dirimu. Bahkan selama ini aku jalani hidup dengan tidak tenang dan penuh rasa bersalah. Maafkan aku Vina, untuk semua kesalahan dan dosaku dimasa lalu padamu."


📱" Nggak, sampai kapanpun aku tidak akan pernah memberikan pintu maaf pada pria bejad seperti dirimu. Biar saja seumur hidupmu di hantui oleh rasa bersalah!"


📱" Vina, aku mohon jangan seperti ini. Aku serius benar-benar tersiksa."


Tetapi Vina tetap pada pendiriannya, ia tidak akan pernah bisa memaafkan Iman yang telah merusak masa depannya.


Tanpa Vina sadari, ada sepasang mata melihat dari balik pintu kamarnya yang tidak di tutup rapat tersebut," jadi ada seorang pria yang telah menyakiti hati Tante Vina? aku harus mencari tahu siapakah pria ini dan aku akan buat perhitungan dengannya. Karena perbuatan pria ini, Tante Vina sampai sekarang tidak menikah!"

__ADS_1


Raka segera berlalu dari pintu kamar Vina karena ia tidak ingin keberadaan dirinya di ketahui oleh Vina. Raka akan menyadap panggilan telepon yang masuk ke nomor ponsel Vina, untuk melacak keberadaan Iman.


"Aku yakin, esok atau lusa pria itu menelpon Tante Vina lagi. Aku akan menyadapnya supaya aku bisa tahu siapa sebenarnya pria yang telah membuat Tante Vina patah hati hingga tidak bisa dekat dengan pria manapun."


********


Vina begitu kesal setelah mendapatkan panggilan telepon dari Iman," ia pikir aku apaan! setelah merenggut kesucianku dan tiba-tiba saja memutuskan menikah dengan wanita lain. Dengan seenaknya meminta maaf padaku! tidak semudah itu! aku tidak akan pernah memaafkanmu Iman! biar saja seumur hidupmu di hantui rasa bersalah! semoga saja keturunanmu juga merasakan hal yang serupa yang pernah aku rasakan!"


Rasa sakit hati Vina sudah benar-benar berurat berakar. Karena ulah Iman, ia harus memiliki status yang tidak jelas. Ia masih gadis tapi sudah tidak perawan lagi.


******


Esok harinya, Iman benar-benar menelpon Vina kembali. Kesempatan ini digunakan oleh Raka untuk mencari tahu keberadaan Iman saat ini. Raka sangat lihai untuk hal yang satu ini.


📱" Sudah aku bilang, aku tidak akan pernah memaafkan dirimu ya! tolong nggak usah menelponku lagi. Justru aku bersumpah supaya kelak kamu merasakan apa yang aku rasakan. Semoga salah satu keturunanmu mengalami hal yang aku alami!"


📱"Astaghfirullah aladzim, tolong jangan berkata seperti ini Vina. Karena aku memang memiliki seorang anak gadis. Dan ia bahkan satu-satunya anak gadisku. Tolong cabut kutukanmu itu."


📱" Hahahaha... tidak akan! justru aku akan sangat bahagia jika suatu saat nanti anakmu mengalami apa yang aku alami!"


📱"Vina, anakku tidak tahu apa-apa dan tidak salah apa-apa. Kenapa kamu menyangkut pautkan dan mengutuk dirinya untuk kesalahanku? Vina, apa pun akan aku lakukan supaya mendapatkan maaf darimu, tapi tolong jangan mendoakan hal buruk untuk anakku."


Vina menutup panggilan telepon tersebut, sedang di kamar sebelah Raka tersenyum puas karena ia sudah berhasil menemukan keberadaan seseorang yang telah membuat sakit hati Vina berkepanjangan.


"Hem, ternyata lokasi rumahnya tidak jauh dari rumah ini. Hanya berjarak tiga puluh menit saja. Aku akan temui orang yang telah menyakiti hati Tante Vina. Jika perlu aku akan membuatnya malu dihadapan keluarganya!"

__ADS_1


Entah apa yang sedang direncanakan oleh Raka saat itu. Ia begitu ingin membalaskan sakit hati Vina.


Hingga suatu sore, Raka pun datang ke alamat rumah yang ia peroleh dari penyadap panggilan telepon Iman waktu itu. Ia sudah tidak tahan lagi ingin mempermalukan Iman dihadapan keluarganya.


__ADS_2