Derit Ranjang Temanku

Derit Ranjang Temanku
Kembali Dinasehati


__ADS_3

Sore menjelang, disaat makan sore bersama Mickel keceplosan berkata," bagaimana Kirana, apa keputusan yang telah kamu ambil?"


"UHUK UHUK!"


Kirana tiba-tiba tersedak, Kayla lekas menepuk punggungnya dan tak lupa memberikan minum. Karena mulai detik ini, Kirana duduk terpisah dari Sandy supaya tidak usil pada Sandy lagi. Hingga pada saat terdesak, Kayla bisa lekas menolongnya.


"Ya ampun Kirana, masa iya kamu sedang melamun ya? sampai tersedak seperti itu?" goda Mickel terkekeh.


Kirana diam saja, dia hanya merespon perkataan Mickel dengan senyum keterpaksaan. Sedangkan Kayla menjadi penasaran dengan perkataan suaminya barusan.


"Pah, sebenarnya ada apa sih?" tanyanya heran.


"Kepo nech ye," goda Mickel yang membuat semua yang ada di meja makan tergelak dalam tawa, hanya Kayla saja yang melirik sinis kearah Mickel karena merasa kesal.


Dia bertanya serius, jawabnya malah sebuah candaan dari suaminya.


"Papah suka seperti ini makanya Kirana dan Sandy tumbuh sepertimu, pah," rajuk Kayla.


"Hem, maaf dech. Aku sengaja seperti tadi supaya suasana di meja makan tidak kaku. Lagi pula kan ada Airin, masa iya cerita dihadapannya," bisik Mickel.


Kayla pun mengatakan pada suaminya, lain kali tidak usah mengatakan hal penting jika sedang di meja makan karena ada Airin. Jika hal itu tentang dewasa, tidak baik juga jika Airin turut mendengarnya. Hingga Mickel tidak melanjutkan perkataannya tersebut pada Kirana, ia mencari waktu yang tepat untuk bisa membahas tentang perusahaan Raka.

__ADS_1


Hingga pada saat selesai makan, disaat Airin kembali kekamar bersama dengan baby sitternya, barulah Mickel mulai membahas tentang perusahaan Raka kembali.


"Kirana, kamu belum jawab pertanyaan papah barusan?" ucapnya.


Kirana menjawab jika dirinya akan tetap mengadakan kerja sama dengan perusahaan Raka. Hanya saja jika pada waktu pertemuan, dia akan meminta asisten pribadinya yang hadir mewakili dirinya.


Kayla sempat memicingkan alisnya pada saat mendengar tentang perusahaan Raka," kalian sedang berbicara apa sih? Pah coba ceritakan sejenak saja, biar mamah juga bisa bantu kasih solusi. Karena mamah melihat wajah Kirana tidak ikhlas seperti itu."


Mickel terkekeh," memang bagaimana caranya supaya bisa membedakan wajah yang ikhlas dan wajah yang tidak ikhlas itu seperti apa mah?"


Kayla menahan rasa geramnya mendengar perkataan dari Mickel. Dari dulu hingga sekarang, Mickel memang suka sekali seperti ini. Mencampur adukkan lawakan disetiap perkataannya. Hingga kerap kali Kayla kesal sendiri.


Setelah mendengar cerita dari Kirana, Kayla sudah tidak penasaran lagi. Justru ia kini bisa mengambil sebuah kesimpulan.


Kayla pun bisa memberikan sedikit saran dan masukan pada Kirana.


"Nak, ikuti saja kata hatimu. Jika kamu merasa tidak nyaman tetapi kamu paksa saja bekerja sama dengan Raka, hasilnya juga tidak akan baik."


"Walaupun menurut mamah, kebencian kamu terhadap Raka itu sudah melewati batas wajar."


"Papahnya sudah meninggal, mamah saja sudah melupakan masa lalu itu. Seharusnya kamu tidak menyangkut pautkan masalah pribadi dengan pekerjaan."

__ADS_1


"Apa lagi Raka itu anak baik, dan ia tidak tahu menahu tentang kejahatan yang telah dilakukan oleh Almarhum Alvin di masa lalu."


"Tetapi seperti yang Mamah katakan tadi. Semua kembali pada dirimu sendiri. Kerjakan dan putuskan apa pun yang telah menjadi pilihan hatimu."


"Jika kamu tidak yakin, nggak usah di lanjutkan karena itu tidak baik hanya menambah dosamu saja. Nanti di setiap pertemuan kamu bersikap tidak baik padanya."


Panjang lebar Kayla menasehati Kirana, dan Kirana mengatakan," sesuai dengan yang aku katakan tadi mah. Aku tidak akan membatalkan kerja sama dengan Raka, hanya saja setiap ada pertemuan, aku tidak akan datang. Aku akan meminta asisten pribadiku yang datang."


Baik Kayla maupun Mickel tidak setuju dengan pola pikir Kirana. Itu sama saja sebuah keputusan yang diambil secara terpaksa. Kembali lagi Mickel dan Kayla menasehati Kirana.


Sejenak Kirana diam, ia seolah sedang berpikir kembali dengan keputusan dirinya. Dan ia memang merasa dirinya terpaksa dalam ambil sebuah keputusan hingga ia pun berniat akan membatalkan kerja sama dengan perusahaan Raka.


'Pah, jika aku merubah sebuah keputusan, apakah papah marah?" tanya Kirana merasa ragu.


Mickel menyunggingkan senyumnya, ia pun berkata," bukankah Papah sudah pernah mengatakan pada saat kamu menemui Papah di kantor, apapun yang menjadi keputusan dirimu tidak akan membuat papah marah atau pun kecewa."


"Terima kasih ya Pah, jika begitu aku esok akan membatalkan kerja sama dengan perusahaan Raka. Karena aku juga tidak ingin kasar terus jika berhadapan dengannya, takut dosaku bertambah juga."


Hingga pagi menjelang, disaat Kirana sudah ada di kantor. Ia segera meminta asisten pribadinya mendatangi perusahaan Raka untuk membatalkan kerjasama.


"Mbak Mey, tolong segera ke kantor Raka dan mengatakan padanya bahwa kesepakatan kerjasama di batalkan saja. Jika ditanya apa alasannya, jawab saja alasan itu hanya bos yang tahu."

__ADS_1


__ADS_2