Derit Ranjang Temanku

Derit Ranjang Temanku
Benar-Benar Tidak Tahu Diri


__ADS_3

Kayla pun diam pada saat mendengar perkataan dari Mickel, tetapi jiwa ingin tahunya meronta. Ia tidak akan tinggal towm begitu saja. Didalam hatinya sudah punya keinginan dan rencana untuk menguak tabir rahasia yang terselubung pada keluarga Usna dan Oddy.


"Heran saja, masa iya semua harta dirampas begitu saja kok nggak berontak sama sekali. Aku rasa memang ada hal yang tidak wajar di sini. Aku harus menyelidiki semua ini."


"Apakah memang yang dikatakan oleh Usna benar atau tidak? ini yang perlu aku ungkap faktanya seperti apa. Tidak masalah bagiku jika memang menolong orang yang membutuhkan."


"Entah kenapa hati ingin merasa ada yang aneh dengan Usna dan Oddy. Belajar dari pengalamanku waktu di hianati sahabatku sendiri."


"Astaghfirullah aladzim, kenapa aku jadi berburuk sangka pada Usna dan anaknya ya? karena aku merasa ada hal yang tidak wajar disini."


Kayla terus saja melamun hingga ia tidak sadar jika sedari Mickel menegur dirinya," Sayang... Kayla... Mamah..."


Mickel menepuk bahunya barulah bisa tersadar dari lamunannya.


"Astaghfirullah aladzim, maafkan aku kak. Ya sudah terserah kakak saja mau bagaimana?" ucap Kayla.


"Tadi Usna bilang, dia dan Oddy benar-benar sudah tidak punya tempat tinggal gara-gara di rampas pula oleh saudara dari almarhum Isal. Jadi kita harus mencarikan tempat tinggal untuk mereka berdua. Apakah sebaiknya mereka tinggal di rumah kira kita saja untuk sementara waktu?" tanya Mickel meminta persetujuan.


Kayla tidak setuju dengan hal itu, ia pun memberikan saran jika Usna dan Oddy di carikan tempat kontrakan saja. Tentu saja hal ini bertentangan dengan keinginan Mickel. Bahkan didalam hati Usna ada rasa tidak suka dengan keputusan Kayla," istri Mickel kok sombong banget ya, mentang-mentang dia kaya. Hingga seenaknya sendiri dan apa salahnya jika aku sama anakku tinggal serumah dengannya?"


Kayla menyadari ada rasa tidak suka pada diri Usna terhadap dirinya, karena tidak sengaja Kayla melihat sorot mata tajam terpancar pada wajah Usna.


Tiba-tiba Usna berucap," jika Kayla tidak rela kamu membantu kami, sebaiknya tidak usah Mickel. Lupakan saja pesan terakhir dari Almarhum Mas Isal."


Kayla memicingkan alisnya menatap kearah Usna," apa maksud perkataanmu itu nggak Usna? aku sama sekali tidak punya pikiran seperti itu. Kenapa Mbak Usna bisa berpikiran buruk terhadapku?"


Mickel mulai resah gelisah jikalau ia sudah melihat kekesalan yang terpancar pada wajah Kayla. Ia pun mencoba memberikan pengertian kepada Usna," mohon maaf Mbak Usna, jangan berpikiran buruk terhadap istri saya. Karena Kayla bukanlah wanita yang jahat, justru selama ini ia sering membantu orang tanpa pamrih."

__ADS_1


"Jika memang Kayla seperti yang kamu katakan, tidak mungkin ia menolak keinginanmu untuk mengajak kami berdua tinggal di rumahmu. Memangnya kenapa jika kami tinggal bersama kalian, toh itu hanya untuk sementara waktu saja," ucap Usna yang membuat Kayla ingin sekali marah hanya saja ia tidak enak dengan Mickel. Karena bagaimana pun, Usna adalah istri dari sahabat Mickel.


Dengan menahan rasa kekesalan dirinya, Kayla pun bisa menjawab kata-kata tidak sedap dari Usna," maaf Mbak Usna jika perkataan saya menyinggung perasaan anda. Yang namanya orang membantu itu terserah bagaimana cara membantunya bukan? seharusnya mbak itu bersyukur karena kami bersedia membantu mbak. Walaupun dengan cara kami mencarikan sebuah kontrakan rumah. Masa iya dibantu kok menawar itu kan jarang ada, mohon jangan tersinggung. Karena selama ini orang yang selalu saya bantu tidak pernah menawar bantuan saya. Malah mereka bersyukur dengan bantuan yang saya berikan."


Didalam hati Kayla sangat kesal," dikasih hati minta jantung! eh apa ya peribahasanya sampai lupa."


Mickel kembali menengahi," maaf ya Mbak Usna, bukan Kayla tidak mengizinkan kalian untuk tinggal sementara di rumah kami. Aku lupa jika kami ini kalau berbicara tidak bisa pelan, dan anak-anak kami juga suka sekali bercanda ria. Kami khawatir kalian tidak bisa istirahat dengan nyaman. Mohon maaf tadi aku nggak ingat akan hal ini."


Tetapi Usna malah mencibir," halalahhh pake alasan segala. Kamu pikir aku percaya begitu saja. Nggak usah menutupi kesalahan istrimu, Mickel."


Oddy yang sedari tadi melihat perdebatan tersebut merasa tidak enak," Bu, nggak boleh seperti itu. Seharusnya kita itu bersyukur karena masih ada orang yang bersedia membantu kita. Tolonglah Bu, jangan bersikap seperti ini. Di manapun kita tinggal nggak apa-apa, dari pada kita tinggal di kolong jembatan."


"Tante Kayla-Om Mickel, tolong maafkan atas sikap ibuku ya."


Oddy menangkupkan kedua tangannya di dada seraya ia terus menatap kearah Kayla dan Mickel.


Oddy hanya melirik sinis kearah Usna, ia benar-benar tidak menyangka dengan sikap tidak sopan Usna pada Kayla dan Mickel. Hingga ia pun memutuskan untuk pergi saja," Bu, sebaiknya kita jalani hidup masing-masing saja jis ibu seperti ini."


Namun pada saat Oddy akan melangkah pergi, Usna pun berkata," silahkan saja kamu pergi dengan begitu kamu memang anak yang durhaka. Membiarkan ibu kandung tinggal sendiri apa lagi di saat ayahmu sudah meninggal dunia seperti ini. Apakah kamu lupa dengan janjimu pada Almarhum ayahmu, bahwa kamu akan selalu ada di samping ibu dan selalu menjaga ibu?"


Usna menitikkan airmata buayanya, hingga membuat Oddy Iba dan mengurangkan dirinya untuk pergi.


Mickel pun segera mengajak Oddy dan Usna kesebuah rumah kontrakan. Walaupun sebenarnya didalam hati Usna tidak setuju untuk tinggal di rumah kontrakan.


Beberapa menit kemudian...


Mereka telah sampai di sebuah rumah kontrakan mewah yang tidak seperti dipikirkan oleh Usna. Bahkan di dalam hati Usna sempat bergumam," aku pikir rumah kontrakan biasa, ternyata rumah kontrakan mewah seperti ini."

__ADS_1


Mickel menjelaskan pada Usna dan Oddy bahwa rumah kontrakan tersebut adalah salah satu usaha milik Kayla. Dimana Kayla memiliki usaha penyewaan rumah ada di wilayah tersebut.


"Mbak Usna, nggak usah khawatir. Kami tidak akan meminta uang sewa sepeserpun. Kalian berdua tinggal menempatinya. Dan kamu Oddy, bisa bekerja di kantorku ya," ucap Mickel.


"Wahhhh terimakasih atas segala pertolongannya ya Om Mickel-Tante Kayla. Semoga Allah membalas dengan berlipat rezeki dan kebaikan yang lain," ucap Oddy.


Tetapi Usna sama sekali tidak mengucapkan terima kasih. Justru kembali lagi ia berkata," kami bisa tinggal disini tapi bagaimana dengan kebutuhan sehari-hari dan dengan biaya untuk selamatan almarhum Mas Isal?"


Oddy menyela," bu, ini urusanku. Bukan urusan Om Mickel, dia sudah banyak membantu. Ibu jangan seperti ini dong!" Oddy sangat kesal dengan perilaku Usna.


"Oddy, sudahlah nggak usah berdebat dengan ibumu. Mba Usna nggak usah khawatir nanti aku yang akan mengurus biaya untuk selamatan pengajian empat puluh hari atau seratus harinya Almarhum Isal."


Sejenak Mickel meraih dompet yang ada di saku celananya dan ia meraih uang ratusan ribu sebanyak sepuluh lembar dan memberikannya pada Usna," ini bisa untuk makan beberapa hari terlebih dahulu."


Usna menerima uang sebesar satu juta tersebut tetapi dengan mencibir," ya ampun Mickel, hari gini memberikan uang cuma satu juta? sudah pasti kurang."


Oddy sangat geram," ibu, sudah cukup ibu membuat malu aku! hentikan perilaku ibu yang sudah di lewat batas ini kepada Om Mickel!"


Tetapi Usna justru berkata lagi," jika ingin membantu itu jangan tanggung-tanggung. Masa iya orang kaya, memberikan uang cuma satu juta?" protesnya.


Mickel pun meraih dompetnya lagi, dan ia memberikan uang lagi sebesar dua juta kepada Usna. Barulah ia diem da tersenyum tanpa mengatakan terima kasih," nah ini baru ok."


"Astaghfirullah aladzim, mohon maaf atas sikap ibuku ya om dan tante."


Kembali lagi Oddy menangkupkan kedua tangannya didada.


"Sudahlah Oddy, nggak usah dipikirkan. Kami pamit pulang dulu ya. Sebaiknya kamu bantu ibumu untuk menata semua pakaianmu dan pakaian ibumu."

__ADS_1


Saat itu juga Mickel mengajak Kayla kembali ke rumah. Di dalam hati Kayla, benar-benar tidak menyangka melihat sikap buruk Usna.


__ADS_2