Derit Ranjang Temanku

Derit Ranjang Temanku
Akhirnya Berdamai


__ADS_3

Mickel dan Kayla segera membawa pulang Hendrik, karena mereka tidak ingin Hendrik terus menerus meratapi nasibnya dan menyalahkan diri sendiri di atas batu nisan Almarhumah Mey.


Setelah sampai di rumah, Hendrik seperti hilang semangat. Ia lebih suka mengurung dirinya di dalam kamar. Dan kehilangan semangat hidupnya. Ia sering melamun dan melamun mengingat kenangan indah semasa hidup bersama dengan Almarhumah Mey. Tak terasa air matanya mengalir deras jika mengingat mendiang istrinya.


"Ya Allah, kenapa aku begitu bodoh tidak mengindahkan nasehat mendiang istriku. Aku bodoh karena terlalu berbahagia dan sampai melupakan segala hal. Kecerobohan dan kebodohanku menghancurkan segalanya. Aku harus bagaimana ya Allah? aku nggak akan mungkin bisa memaafkan diriku sendiri setelah apa yang aku lakukan pada mendiang istriku dan calon anakku. Benar kata ibu mertua jika akulah yang telah membunuh istri dan calon anakku secara tidak langsung."


Hendrik terus menerus merutuki dirinya sendiri, hampir setiap hari dia selalu seperti itu. Hingga waktu tidak terasa sudah empat puluh hari kematian Almarhumah Mey.


Pada saat Hendrik datang ke rumah ibu mertuanya untuk turut serta menghadiri acara selamatan empat puluh hari kematian Almarhumah Mey, ibu mertuanya tidak mengizinkannya bahkan mengusir Hendrik beserta keluarganya.


"Pergilah kalian dari sini, terutama kamu Hendrik! melihatmu hanya membuat luka hati ini kembali ternganga! dasar pembunuh!" umpat ibu mertua Hendrik.


Hendrik hanya bisa menitikkan airmata, ia tidak bisa berkata apa-apa. Sementara Kayla tidak terima dengan ucapan kasar dari ibu mertua Hendrik. Dan ia pun mengatakan sesuatu kepada ibu mertua Hendrik di hadapan banyak orang yang sudah datang untuk ikut acara selamatan empat puluh hari meninggalnya Almarhumah Mey.


"Bu, mau sampai kapan ibu seperti ini? menyalahkan anak kami terus menerus atas meninggalnya Mey? mau sampai kapan ibu menghakimi Hendrik?"


Perkataan yang baru saja dilontarkan oleh Kayla sempat terdengar oleh semua orang bahkan oleh seorang ustadz yang akan memimpin acara tersebut. Ustads tersebut segera bangkit dari duduknya dan melangkah menghampiri Kayla dan keluarganya.


"Ibu, mohon maaf jika saya turut campur dalam hal ini. Karena kebetulan perkataan ibu sempat terdengar oleh saya dan bahkan oleh para warga yang hadir di sini."


"Begini Bu, kita nggak boleh menghakimi atas meninggalnya seseorang apalagi karena unsur kecelakaan. Semua itu sudah takdir dari Allah."


"Allah telah menakdirkan seseorang itu meninggal dengan cara seperti apa? ada yang karena sakit, ada yang tidak memiliki riwayat penyakit juga bisa meninggal bukan?"

__ADS_1


"Juga ada yang sedang berjalan tiba-tiba ketabrak hingga mati. Semua yang ada di dunia itu sudah ada yang mengaturnya."


"Jodoh, maut, rezeki, semua itu sudah ada yang mengaturnya. Kira hanyalah sebagai pelaku atau berperan menjalankan kehidupan di dunia ini."


"Sementara Akir cerita dari kehidupan sudah diatur oleh Allah. Ibaratnya Allah itu sebagai sutradaranya, sedangkan kita sebagai pemerannya."


"Bu, jika ibu seperti ini tidak baik loh. Almarhumah juga akan merasakan sedih, karena dengan begini ibu belum ikhlas dengan meninggalnya anak ibu."


Setelah mendengar semua nasehat dari Pak Ustadz, sejenak ibu mertua Hendrik terdiam seolah sedang meresapinya.


Hendrik berlutut di kaki ibu mertuanya," Bu, aku mohon jangan hukum aku seperti ini. Tolong maafkan aku, Bu."


Sang ibu tiba-tiba menitikkan airmatanya," bangunlah Hendrik, jangan seperti ini. Justru ibu yang minta maaf atas segala perkataan ibu selama ini yang selalu menyakitimu."


"Terima kasih ya Bu, sudah bersedia memaafkanku."


Semua orang yang melihat pemandangan tersebut ikut terharu dan lega juga. Sudah tidak ada lagi amarah yang ada di dalam diri ibu mertua Hendrik. Baik Hendrik maupun ibu mertuanya mengucapkan terima kasih kepada Pak Ustadz.


Kayla dan suaminya serta kedua adik Hendrik juga turut senang," Alhamdulillah ya Allah, pada akhirnya sudah tidak ada lague permusuhan. Semoga selamanya seperti ini."


Kini Hendrik dan keluarganya di izinkan untuk ikut serta berdoa di acara selamatan empat puluh hari meninggalnya Almarhumah Mey.


Acara berjalan dengan lancar tidak ada suatu halangan apapun. Di dalam hati Hendrik, ia berjanji akan terus menjaga dan memberikan nafkah untuk ibu mertuanya dan ketiga adik iparnya yang masih teramat kecil. Walaupun ia akan tinggal di rumahnya lagu bersama dengan orang tua dan kedua adiknya.

__ADS_1


******


Esok harinya, Hendrik mulai bekerja setelah empat puluh hari terpuruk dan tidak melakukan aktifitas apapun.


Dia menyadari jika tidak baik berlarut dalam kesedihan dan merutuki diri sendiri terus. Jika ia tidak bekerja, lantas bagaimana dengan kehidupan Ibu mertua dan ketiga adik iparnya.


"Bismillah, aku mulai bekerja hari ini. Sayang, aku minta maaf ya atas segala yang telah terjadi. Aku janji padamu akan selalu menjaga Ibumu dan ke-tiga adikmu. Aku akan memberikan pendidikan yang layak sampai ketiga adikmu tumbuh dewasa."


Hendrik menatap foto pengantin dirinya bersama dengan mendiang istrinya. Setelah itu dia berangkat ke kantor. Kini Hendrik lebih lagi rajin dalam beribadah juga berpuasa. Karena dia ingin mendapatkan ketenangan di dalam hatinya.


Hari pertama bekerja, banyak sekali yang harus Hendrik selesaikan karena selama empat puluh hari, ia sama sekali tidak berkutat dengan urusan kantor. Justru Kayla yang menggantikan posisi dirinya untuk sementara waktu.


"Alhamdulillah ya kak, Hendrik sudah bersedia ke kantilt kembali. Semoga tidak ada masalah lagi di dalam keluarga kita," ucap Kayla seraya tersenyum lega.


Mickel tersenyum pula," sepertinya tidak mungkin tidak ada masalah sayang. Selama kita masih ada di dalam dunia ini, selama kita hidup pasti ada saja permasalahan. Jadi doa kita ya semoga selalu bisa menghadapi segala permasalahan dengan lapang dada dan dengan kesabaran."


Kayla mendadak tersenyum, hal ini membuat Mickel heran," sayang, kenapa malah tersenyum? memangnya apa yang aku katakan adalah lelucon?"


"Kak, jika lelucon aku tidak lagi tersenyum tetapi ngakak. Aku sedang heran saja padamu, biasanya kamu nggak pernah bisa serius. Tetapi ini sangat serius sekali. Nggak seperti biasanya disaat sedang serius, kamu malah bercanda," ucap Kayla terkekeh.


Mickel hanya menanggapi dengan lirikan matanya saja tanpa ada sepatah kata lagi. Ia pun berlalu pergi dari hadapan Kayla seraya bergumam di dalam hatinya.


"Manusia memang tidak ada puasnya. Jika aku bercanda di omong, jika aku serius pun di omong."

__ADS_1


Kayla sedang tidak ada kerjaan sama sekali, hingga ia memutuskan untuk pergi ke warung makan milik Rindi. Ia pun melangkah masuk ke dalam rumah mencari keberadaan Mickel, untuk mengajaknya turut serta. Sudah seperti biasa, jika kemanapun Kayla selalu mengajak Mickel.


__ADS_2