Derit Ranjang Temanku

Derit Ranjang Temanku
Clear Juga


__ADS_3

Kayla bukan hanya menegur Iman yang tidak sopan telah menyela perkataan dirinya. Ia juga telah menegur Kirana yang tidak sopan dalam bertutur kata pada Iman.


Kayla meminta Vina untuk menelpon Raka, datang saat itu juga ke kantor Kirana. Sebenarnya Kirana tidak setuju dengan keputusan Kayla, tetapi ia tidak bisa membangkang. Ia hanya bisa protes di dalam hatinya," menyebalkan, aku harus bertemu dengan Raka di kantorku sendiri! kenapa juga ia harus kemari sih?"


Kring kring kring kring kring


Di hadapan semua orang, Vina menelpon Raka. Kebetulan Raka sedang tidak sibuk di kantornya, ia pun segera mengangkat panggilan telepon dari Vina.


📱" Tante, ada apa ya?"


📱" Segera datang ke kantor Non Kirana sekarang juga. Karena ada hal penting yang ingin disampaikan olehnya."


📱" Hal penting, apakah itu Tante?"


📱" Sudah lekas datang sekarang juga, nggak perlu banyak tanya dulu. Nanti juga kamu akan tahu."


📱" Siap Tante. Sekarang juga aku meluncur ke kantor Kirana."


Saat itu juga panggilan telepon dimatikan oleh kedua belah pihak.


Sejenak semua menunggu kedatangan Raka, sedangkan di tempat lain, Raka penasaran untuk apa dirinya diminta datang ke kantor Kirana.


Raka justru senyam senyum pada saat melajukan mobilnya menuju kantor Kirana.


"Ahhhh sepertinya ini pertanda bagus dech. Disaat aku sudah akan move on, ini ada tanda-tanda baik bagiku. Semoga saja ini hal yang positif mengenai perubahan sifat Kirana kepadaku. Aku rasa Kirana kini sudah mulai luluh dan bersedia bekerja sama dengan perusahaanku. Makanya ia memerintahkan Tante Vina untuk menelponku segera datang ke kantornya juga," gumamnya cengengesan sendiri sembari mengemudikan mobilnya.


Tak berapa lama, sampai juga di kantor Kirana. Raka terkejut pada saat masuk ke dalam ruang kerja Kirana. Melihat begitu banyak orang. Kayla langsung saja meminta Raka untuk duduk.


"Raka, pasti kamu heran bukan kenapa diminta datang kemari?"


Sejenak Raka menganggukkan kepalanya, dan Kayla pun menceritakan semuanya pada Raka. Raka melotot ke arah Iman," heh, Tante Vina sama sekali tidak mengadu apa pun padaku. Justru aku mengetahui semuanya sendiri! jadi jangan seenaknya dalam menuduh tanteku!"


Sejenak Raka pun menceritakan kepada semuanya yang ada di ruangan tersebut, bagaimana ia mengetahui tentang masa lalu Vina. Hal ini sontak saja membuat Vina kaget.


"Nak Iman, sudah jelas kan? jika Vina tidak mengatakan apapun pada Raka. Jadi nggak usah salah paham lagi. Dan Vina kamu nggak perlu lagi risgn dari kantor ini seperti yang barusan Kirana katakan."


"Jika Kirana sudah menentukan atau mengambil keputusan. Ya sudah Nak Iman harus terima jika anak saya membatalkan kerja samanya dengan anda."


"Jadi sudah tidak ada permasalahan lagi bukan? dan anda juga tak usah mendekati Vina lagi karena hanya akan membuat luka masa lalunya menganga kembali."

__ADS_1


"Sebaiknya anda pulang bersama istri anda. Dan perbaiki tingkah laku anda. Tak usah lagi menganggu Vina."


Tetapi Iman keras kepala, ia sama sekali tidak bergeming dari duduknya," nggak bisa seperti itu Bu. Justru saya punya itikad baik untuk menebus kesalahan saya terhadap Vina."


Kayla tersenyum," itikad baik yang bagaimana? dengan bertujuan meninggalkan istri dan anak, itu dibilang itikad baik?"


"Kamu justru membuat suatu kesalahan yang baru, bukan malah memperbaiki kesalahan masa lalumu."


"Seharusnya kamu itu berbuat baik pada istri dan anakmu. Karena itu sudah menjadi keputusan dirimu bukan tempo dulu lebih memilih istrimu daripada memilih Vina."


"Jika kamu ingin menebus kesalahanmu pada Vina, seharusnya kamu lakukan tempo dulu. Dengan segera menikahi dirinya karena kamu yang telah merayu dirinya untuk menyerahkan kesuciannya dengan iming-iming pernikahan."


"Sudahlah, tak perlu kamu terus saja membela diri disini. Cepat pulang bersama dengan istrimu. Dan carilah reken kerja yang baru."


Dengan sangat terpaksa Iman berlalu pergi dari ruang kerja Vina. Tetapi ia sama sekali tidak mengajak Lina, justru Lina menyusul dengan langkah cepat kepergian suaminya," mas tunggu!"


Iman melirik sinis ke arah Lina," semua gara-gara kamu! kerja samaku dengan perusahaan Kirana batal!"


Lina semakin tidak mengerti dengan jalan pikiran dari Iman. Ia sama sekali tidak melakukan apa pun tetapi malah disalahkan," mas, kamu nggak dengar apa yang ibu tadi katakan padamu? supaya kamu bersikap baik pada istri dan anakmu untuk memperbaiki kesalahanmu pada Vina."


Lagi-lagi Iman hanya melirik sinis pada Lina, ia justru mempercepat langkahnya. Dan bahkan ia sama sekali tidak mengajak Lina untuk turut serta dalam mobilnya. Ia meninggalkan Lina begitu saja.


Sementara di ruang kerja Vina, saat ini Raka juga sedang bergumam," sialan, aku pikir ada berita baik untukku. Ternyata ini permasalahan Tante Vina."


Raka pun tidak ingin berlama-lama, ia segera berpamitan pada Kayla dan Vina untuk segera pergi dari kantor tersebut. Karena ia tidak ingin terlalu lama bertatap muka dengan Kirana, yang hanya membuat rasa cintanya tidak menghilang tapi malah semakin dalam.


"Jika aku terlalu lama berada di kantor Kirana, yang ada aku nggak bisa move on darinya," batin Raka seraya melangkah pergi dari kantor Kirana.


Sementara saat ini Vina sedang protes pada Kirana," Non Kirana, kenapa tidak membiarkan aku saja yang pergi dari kantor ini? malah Non membatalkan kerja sama dengan dirinya?"


Kirana tersenyum," untuk permasalahan pribadi saja, ia tidak bisa bertanggung jawab. Apa lagi untuk urusan kerja sama. Aku nggak ingin kecewa di kemudian hari."


Kayla juga menasehati Vina, supaya menghilangkan trauma masa lalu dan membuka hati untuk pria lain.


"Vina, mbak sebelumnya minta maaf ya. Bukan maksud mbak ingin menggurui dirimu, tetapi ini juga demi masa depanmu. Masa iya kamu akan hidup sendiri selamanya tanpa adanya pasangan hidup. Dan ini juga tidak baik, bisa membuat si Iman terus menerus salah paham dengan kesendirian dirimu. Pasti ia terus berpikir jika kamu tidak bisa move on darinya."


"Vina, janganlah takut untuk melangkah ke depan dimana ada hari cerah dan bahagia. Mbak yakin, banyak pria yang bisa dan mau menjadi pendamping hidupmu. Yang bisa menerima kekurangan dirimu, menerima apa adanya dirimu."


"Allah itu menciptakan manusia untuk berpasang-pasangan, jadi saran Mbak buka hatimu. Dan jadikan pengalaman masa lalumu ini sebagai guru. Jika kamu dekat dengan pria, jangan mudah menyerahkan segalanya hanya karena rayuan."

__ADS_1


Terus saja Kayla menasehati Vina, bagaimana pun Vina pernah menjadi adik iparnya. Hingga ia tidak ingin melihat Vina terpuruk sebegitu lamanya hanya karena masa lalunya.


Setelah cukup lama Kayla memberikan nasehat pada Vina, ia pun memutuskan untuk segera kembali ke rumah. Dan Kirana juga kembali ke ruang kerjanya. Sementara Vina terus saja diam. Didalam otaknya terus saja terngiang dengan semua nasehat dari Kayla.


"Apakah aku bisa membuka hatiku untuk pria lain? apa lagi saat ini usiaku juga sudah tidak muda lagi? aku baru menyadari jika selama ini apa yang aku lakukan adalah suatu kesalahan terbesarku, dengan terus mengasihani diriku sendiri. Aku tidak memikirkan tentang masa depanku."


"Semoga saja aku bisa menjalankan semua nasehat dari Mbak Kayla. Dan semoga saja di usiaku yang sudah tidak muda lagi bisa bertemu dengan jodohku. Aku memang seharusnya berpositif thinking."


Terus saja Vina melamunkan segala yang barusan di nasehatkan oleh Kayla untuk dirinya. Tiba-tiba ia ingat Raka, didalam hatinya sudah berniat akan memberikan suatu pelajaran untuk Raka yang sudah lancang melabrak Iman tanpa sepengetahuan dirinya.


"Lihat saja Raka, nanti setelah kita bertemu di rumah aku akan memberimu sebuah pelajaran! gara-gara kamu, Iman jadi salah paham padaku dengan mengira bahwa aku masih berharap padanya!" gumamnya penuh kekesalan.


******


Tak terasa sore menjelang...


Vina sudah siap dengan segala ocehannya untuk Raka. Hingga Raka bari saja pulang, sudah mendapatkan banyak omelan dari Vina.


Tanpa Vina sadar jika ia berkata banyak hal di depan orang tuanya.


"Vina, kamu kenapa tiba-tiba marah ke Raka? dia baru pulang kerja lho, seharusnya nanti nunggu rasa lelahnya reda dulu. Dan juga tidak baik marah-marah seperti itu. Sebenarnya ada apa sih? siapa itu Iman, dan bicara apa sih kamu?" tegur Ibu Riris.


"Iya Vina, kok kami jadi penasaran dengan jati diri Iman? apakah Iman itu kekasihmu? karena selama ini kamu tidak pernah bercerita ataupun memperkenalkan seorang pria kepada kami. Jika benar Iman adalah kekasihmu, ayah sangat senang. Apa lagi umurmu itu sudah cukup matang untuk berumah tangga. Malah seharusnya saat ini kamu sudah punya anak yang sedang tumbuh dewasa," ucap Ayah Sugeng.


Sontak saja hal ini membuat Vina semakin kesal pada Raka," semua gara-gara kamu Raka!"


Setelah mengatakan hal itu, Vina berlalu pergi dari hadapan Raka dan kedua orang tuanya.


Kini Bu Riris dan Ayah Sugeng beralih ke Raka. Belum juga opa atau omanya berkata, Raka sudah terlebih dahulu berkata," opa dan oma nggak perlu khawatir, semua hanya salah paham saja."


Raka lekas berlalu pergi pula dari hadapan Oma dan Opanya, karena ia tidak ingin mendapatkan pertanyaan. yang hanya akan membuat ia susah untuk memberikan sebuah jawaban yang tepat. Ia tidak ingin Vina semakin marah padanya.


"Bu, ada apa sih dengan anak dan cucu kita? padahal ayah masih penasaran dengan pria yang bernama Iman," ucap Ayah Sugeng.


"Nggak cuma ayah saja yang penasaran, ibu juga penasaran. Tetapi baik Vina maupun Raka, tidak ada yang mau memberi tahu pada kita siapa itu Iman?" ucap Bu Riris.


Orang tua tersebut begitu penasaran. Tetapi mereka juga tidak berani untuk menanyakan kembali pada Vina ataupun pada Raka. Mereka berpikir, suatu saat nanti Vina atau Raka pasti akan memberi tahu pada mereka, siapa itu sebenarnya Iman.


Sementara saat ini Raka sudah ada di depan pintu kamar Vina. Ia ingin meminta maaf.

__ADS_1


__ADS_2