
Sontak saja lelaki muda tersebut terhenyak kaget," hem siapa bilang saya sedang melamun? saya sedang fokus mendengarkan semua yang anda katakan."
Kirana tersenyum sinis, ia tahu betul jika lelaki muda yang ada di hadapannya tersebut tidak fokus dengan semua perkataan yang ia laporkan, tetapi ia tidak ingin menegur lagi karena menurut dirinya hanya akan memakan waktu lama.
"Brian, ada kasus apa? papah dari tadi telpon kamu nggak diangkat-angkat," tegur Beno terhadap Brian.
Sontak saja membuat Kirana menoleh," Om Beno?"
"Hey cantik?"
Brian sudah curiga terlebih dahulu, ia mengira jika Beno ada main dengan gadis muda yang membuat dirinya terpesona.
"Pah, jangan katakan kalau....
"Jadi orang itu jangan suudzon, gadis cantik ini anak dari sahabat baik papah. Dia ini pintar bela diri, sering kok tanpa sengaja menangkap para penjahat yang selalu jadi incaran aparat kepolisian. Dia anak dari, Om Mickel."
Beno menyela perkataan dari Brian.
"Astaga, jadi dia ini anak Om Beno? tapi kok nggak tegas seperti om ya? saro tadi aku menjelaskan panjang lebar, dia cuma melotot ke arahku dengan tatapan kosong," ucap Kirana tanpa ada rasa sungkan.
Sejenak Beno mengatakan bahwa Brian memang anak sulung darinya. Dia tidak mengetahui Kirana, dan juga sebaliknya karena baik dirinya maupun Mickel jika saling bertemu tidak pernah bercerita tentang keluarga. Mereka hanya bercerita tentang seputar pekerjaan masing-masing.
"Hem, mungkin saja anak om ini telah jatuh cinta padamu Kirana. Oh ya katakan saja ada apa kamu datang kemari?" tanya Beno mengalihkan pembicaraan karena ia melihat wajah Brian pias dan bersemu merah.
Dengan sangat terpaksa, Kirana segera menceritakan tentang laporannya. Beno dengan gerak cekstt mengurusnya.Dan setelah tiga puluh menit berlalu, dimana lelaki yang bermasalah dengan Rindi dimasukkan ke dalam sel sementara karena kasus perlu di pelajari terlebih dahulu. Rindi memberanikan diri menghadap ke Beno.
__ADS_1
Setelah urusan selesai, Kirana mengajak pulang Rindu, tetapi ia tidak bersedia dengan alasan ingin berbicara sebentar dengan Beno. Karena ada hal yang ingin ia tanyakan. Kirana penasaran juga, hingga ia pun dengan sabar menemani Rindi di kantor polisi tersebut.
"Pak, saya ingin bicara sebentar dengan bapak. Apakah bisa?" ucapnya agak takut.
"Bicara saja, ada apa?"
Sejenak Rindi menunjukkan tentang foto ibu mertuanya, karena ia rada percuma saja jika menunjukkan foto Airin pada masa bayinya.
"Bapak kenal wanita tua ini kan? wanita yang telah meletakkan anak saya di pelataran cafe beberapa waktu yang lalu. Nama anak saya Airin, dan saya Rindi. Selama ini saya. bekerja di luar negeri tetapi selama dua tahun di luar negeri saya mendapatkan masalah, dimana majikan saya kejam hingga saya tidak di izinkan menghubungi ibu mertua atau mengecek kabar Airin."
Rindi menceritakan semuanya apa yang telah aia alami kepada Beno.Ia tahu jika ibu mertuanya marah padanya yang tak pernah kirim uang selama bekerja di luar negeri hingga tega membuang Airin begitu saja.
"Beno sumringah," Alhamdulillah, akhirnya kamu pulang juga ke Indonesia. Apakah kasusmu di luar negeri sudah di proses? jika belum nanti saya bantu,* ucap Beno ramah.
Katanya sedang di proses, dan butuh waktu yang cukup lama. Tentu saja Beno marah mendengar hal itu," seenaknya saja pihak pemerintahan di sana mengatakan hal itu. Nanti saya yang urus, dan saya yakin kamu akan mendapatkan hal kamu yang dia tahun itu."
"Oh ya, anakmu selama ini aman. Dia berada di rumah Kirana, majikanmu yang sekarang."
Rindi terperangah, dan Kirana baru menyadari ia pun menepuk jidatnya sendiri," astaga dari tadi Mbak Rindi mengatakan nama Airin, aku kok ya nggak ngeh ya? iya, mbak. Airin selama ini tinggal di rumah saya dan bahkan di sekolahkan oleh orang tua saya."
Rindi menitikkan air mata harunya, ia terus saja mengucapkan terima kasih pada Kirana tanpa berhenti.
"Om Beno, saya pamit pulang dulu ya. Pasti Mbak Rindi sudah tidak sabar ingin bertemu Airin. Nanti jika ada kabar tentang kelanjutan laporan saya hubungi saya saja. Dan mengenai kasus Mak Airin tentang gajinya yang di luar negeri juga nanti bisa hubungi saya saja ya, om."
Kirana memberikan kartu nama dirinya pada Beno. Sedangkan Brian dari tadi mematung di samping Beno.
__ADS_1
Saat itu juga Kirana dan Rindi menyalami Beno, tanpa lupa mereka menyalami Brian juga. Pada saat Kirana menyalami Brian, dia pun tak sungkan berkata," kalau lagi bekerja yang fokus dan tegas seperti Om Beno. Jangan terlalu banyak bengong."
Sontak saja nasehat Kirana membuat wajah Brian pias. Dia hanya berani berkata di dalam hati saja," aku bersikap seperti ini karenamu Kirana. Baru pertama kali kita bertemu, kamu sudah berhasil mencuri hatiku."
Beberapa menit kemudian...
Selepas kepergian Kirana dan Rindi. Beno pun tersenyum ke arah Brian," Papah tahu jika kamu suka padanya bukan? dari tatapan matamu padanya sudah sangat jelas jika kamu naksir padanya. Kamu nggak usah khawatir, nanti papah bantu kamu untuk lebih dekat dengan Kirana. Ingat ya, nggak usah lagi kamu berpacaran dengan gadis yang nggak jelas seperti Rere. Papah ngga suka padanya."
"Pah, nggak usah lagi bahas Rere. Toh aku sudah putus dengannya enam bulsnt yang laku kok. Beneran ya, bantu aku untuk bisa mendapatkan hati Kirana."
Beno mengacungkan kedua ibu jarinya seraya tersenyum ke arah Brian ansi sulungnya yang baru saja bekerja di kepolisian karena baruulus kemiliteran.
Saat ini mobil yang sedang di kemudikan oleh Kirana sudah memasuki pelataran rumah mewah orang tuanya. Rindi sempat kagum, di dalam hatinya begitu bersyukur karena Airin
diasuh oleh keluarga kaya dan juga baik hati.
"Alhamdulillah, selama ini Airin tinggal di sini. Aku yakin keluarga Non Kirana baik. Karena Non Kirana sendiri juga sangat baik, walaupun ia terlibat tegas dan mahal tersenyum," batin Rindi.
Pada saat dirinya keluar dari mobil bersama dengan Kirana. Tiba-tiba ada seorang anak kecil berlari ke arah Kirana," yeeeehhhh...Kak Kirana sudah pulang."
Kirana langsunge mensejajarkan tubuhnya setara dengan Airin dan memeluk serta menciuminya. Dari arah rumah, melangkah dengan pasti Kayla menghampiri Kirana dan Rindi.
"Dari tadi Airin ngomong saja, Kak Kirana kok nggak pulang-pulang ya mah. Dia sudah nunggu kamu tuh," ucap Kayla terkekeh. Dan pandangan matanya beralih ke arah Rindi.
Rindi dan Kayla sejenak saling berpandangan, karena mereka sebelumnya pernah bertemu di sebuah cafe di pusat perbelanjaan.
__ADS_1