
Kayla semakin yakin jika Rindi adalah jodoh untuk Hendrik. Tetapi ia sudah tidak bisa bergeming karena ia tidak ingin menyinggung perasaan Hendrik jika berbicara tentang pernikahan.
Sementara semakin lama kebersamaan Hendrik dan Airin semakin lengket saja. Keduanya sampai tidak bisa terpisahkan bagai hubungan antara ayah dan anak.
"Kak Mimi, bagaimana caranya supaya kita berhasil membuat Hendrik mau menikah dengan Rindi ya? karena aku juga risih melihat kedekatan antara Hendrik dan Airin. Bukan tidak senang, tetapi rasanya itu bagaimana ya?" Kayla akhirnya bercerita pada Mickel tentang keresahan hatinya.
Mickel pun tidak bisa memberikan solusi yang tepat, karena ia juga sudah paham dengan sikap anak sulungnya yang terkesan pendiam tetapi sangat keras kepala.
"Bagaimana ya sayang? aku sendiri juga tidak bisa memberikan sebuah solusi, karena jika kita berbicara lagi tentang ini pasti yang ada Hendrik akan marah lagi. Susahnya kan dia sayang Airin seperti anak kandungnya, tetapi ia sama sekali tidak ada rasa cinta sedikitpun pada Rindi," ucap Mickel.
"Padahal yang aku tahu, setiap seseorang menyukai orang lain justru anak yang dijadikan sebagai modal utama untuk mendapatkan cintanya. Ini nggak ada rasa cinta pada Rindi, tapi pada Airin sayangnya setengah mati. Lantas mau sampai kapan jika seperti ini terus? masa iya mau jalani hidup seperti ini?" keluh kesah Kayla yang sudah resah melihat kehidupan Hendrik.
Lagi-lagi Mickel tidak bisa berkomentar, ia hanya mengangkat kedua pundaknya.
"Sayang, nggak usah terlalu dipikirkan tentang Hendrik, yang ada nanti bikin penyakit. Percaya saja jika seiring berjalannya waktu pasti nanti Hendrik menyerah sendiri jika memang ia benar-benar sayang pada Airin dan enggan jauh darinya. Kita serahkan saja semua ini pada yang Kuasa," hibur Mickel.
Kayla menghela napas panjang," memang iya benar sekali. Hanya Kuasa Allah yang bisa membolak-balik hati manusia. Yang bisa merubah sikap keras hati Hendrik menjadi cair."
__ADS_1
Beberapa Bulan Kemudian...
Kehidupan terus saja berlangsung sesuai dengan aliran air yang mengalir. Begitu pula dengan hubungan Raka dan Desi. Kini Raka sudah bisa meluluhkan hati Desi. Dan keduanya sudah menjalin kasih, hanya saja Desi belum berani berterus terang pada orang tuanya.
"Desi, kita sudah resmi pacaran. Lantas kenapa hingga kini aku tidak diizinkan untuk menemui orang tuamu? sebenarnya ada apa? aku jadi ragu padamu, apakah sebenarnya kamu nggak cinta padaku dan hanya terpaksa saja menerima cintaku?" serentetan pertanyaan keluar dari mulut Raka.
Desi pun bingung harus berkata apa, karena sejujurnya dia takut sekali jika mendapatkan kenyataan pahit hubungan dirinya dengan Raka tidak di restui oleh ayahnya, karena hingga kini Ayahnya Desi masih saja berharap jika Desi bersedia dengan Hendrik.
Desi selalu saja diam dan diam jika Raka sedang protes dengan hubungan mereka. Sikap bungkamnya Desi membuat Raka kadang kesal, tetapi ia selalu mencoba untuk bersabar.
"Desi, aku heran sama kamu. Jika wanita yang lain justru berharap kekasihnya mau menemui orang tuanya. Dan menginginkan hubungan yang serius. Apakah kamu tidak ingin kita ke jenjang yang lebih serius? padahal aku ingin dekat dengan orang tuamu dan berbicara dari hati ke hati. Aku bukan tripikal pria yang suka menjalin hubungan backstreet seperti ini. Ini sangat tidak nyaman dan tidak baik," ucap Raka kembali.
Raka tersenyum sinis," hubungan kita memang baru berjalan satu bulan. Tetapi kamu bekerja di kantorku sudah cukup lama dan itu sudah cukup buatku untuk mengenal dirimu. Berarti disini yang ragu itu kamu terhadapku ya bukan?"
Jika sudah berselisih paham seperti ini, Raka yang selalu menghindar dari Desi karena ia tidak ingin semakin berlarut-larut dan ujungnya ke sebuah pertengkaran.
Raka berlalu pergi meninggalkan Desi yang masih diam membisu melihat kepergian dirinya," maafkan aku ya Mas Raka, bukannya aku tidak cinta atau tidak ingin serius padamu tetapi aku masih takut mengatakan kejujuran kepada orang tuaku terutama kepada ayah. Entah kenapa aku khawatir ada penolakan, karena selama ini ayah selalu saja berharap aku mau dengan Mas Hendrik."
__ADS_1
Desi memutuskan untuk pulang ke rumah, tetapi pada saat sampai di rumah, ia langsung mendapatkan teguran dari ayahnya," dari mana kamu? ayah perhatikan akhir-akhir ini kamu sering keluar malam dan juga setiap libur kantor kamu juga keluyuran. Duduklah dan ayah ingin bicara padamu!"
Dengan berat hati Desi duduk di hadapan Ayah Aris dan Bu Iris yang sedari tadi telah menunggu di teras halaman. Desi terus menunduk karena ia memang sangat takut jika sudah melihat kemarahan yang terpancar pada wajah ayahnya.
"Desi, ayah dan ibu ingin yang terbaik untukmu. Mau sampai kapan kamu keras kepala seperti ini sih? Hendrik itu lelaki yang baik, sangat baik malah. Kamu jangan pandang satui dudanya, tetapi pandang hatinya. Ayah ingin anak semata wayang ayah, punya suami yang tanggung jawab dan setia. Dan itu ayah bisa lihat ada dalam diri Hendrik," ucsy Ayah Aris.
"Astaghfirullah aladzim, ayah. Sudah berapa kali aku katakan pada ayah jika aku tidak ada rasa sedikitpun pada Mas Hendrik. Dan lagi pula belum tentu Mas Hendrik juga mau dengan niat perjodohan ayah ini. Kayanya sudah tidak akan lagi menjodohkanku dengan lelaki manapun. Kenapa terulang lagi seperti ini, ayah?" akhirnya Desi berani berkata.
Aris selalu saja bisa berkata di depan Desi," itu soal gampang, Hendrik kan dua jadi nggak akan menolakmu yang masih status lajang. Ayah yakinkane sosl itu walaupun ayah belum bercerita apapun pada Hendrik."
Sebenarnya Ibu Iris juga tidak setuju dengan perjodohan tersebut. Tetapi ia tidak bisa berkutik, jika Aris sudah mempunyai keinginan.
Tetapi kali ini Ibu Iris berusaha memberikan pengertian pada suaminya," ayah, biarkanlah anak kita memilih jalan hidupnya sendiri. Desi sudah dewasa dan ia sudah bisa memilih mana yang terbaik untuk dirinya. Ini bukan lagi jamannya Siti Nurbaya, ayah. Bukan lagi jamannya seperti kita dulu, sudah berbeda ayah. Mungkin saja saat ini Desi sudah memiliki pilihan sendiri."
DEG!!!!!!!
Perkataan Bu Iris mampu menggetarkan hati Desi. Seketika itu juga wajah Desi berubah pias dan ia panik. Tentu saja hal ini membuat Bu Iris khawatir," kamu kenapa Desi? apakah sakit?"
__ADS_1
Desi celingukan mendapatkan pertanyaan dari ibunya.