
Beberapa bulan kemudian...
Anak ketiga Kayla telah lahir berjenis kelamin laki-laki, dan di beri nama, Sandy.
Terima kasih istriku tersayang, telah memberikan kebahagiaanku dengan melahirkan kembali seorang anak laki-laki.
"Sayang, kita sudah memiliki tiga orang anak. Dua laki-laki dan satu perempuan. Aku pikir sudah cukup, aku nggak tega jika kamu harus hamil lagi. Waktu itu aku hanya bercanda, jika menginginkanmu untuk hamil sampai sebelas kali."
"Sebaiknya kamu segerakan saja untuk memasang alat kontrasepsi, supaya tidak hamil lagi. Kini kita, fokus saja untuk merawat ke-tiga anak kita."
Kayla hanya mengiyakan saja, di dalam hatinya merasa sangat senang. Karena dia sempat berpikir, ucapan Mickel waktu itu serius.
**********
Tak terasa Sandy kini telah berumur delapan belas tahun, Hendrik berumur dua puluh satu tahun sedangkan Kirana jalan dua puluh tahun karaena selisih saeu setengah tahun dengan Hendrik.
Hendrik menjalani kuliah hanya dia tahun saja. Dan saat ini sedang belajar memimpin perusahaan milik Kayla atas seizin Kayla dan Mickel.
Sementara kedua adiknya masih duduk di bangku kuliahan.
Sedangkan kehidupan Naya kini juga sudah berubah. Dia berhasil pula menyekolahkan Ayu dan juga mengoperasi bibir sumbingnya. Hingga kini Ayu sudah tidak terlihat sumbing di bibirnya.
Ayu saat ini sudah bekerja di sebuah perusahaan yang ternyata adalah milik, Alvin. Tetapi dia sama sekali tidak tahu, karena yang memimpin perusahaan tersebut adalah anak Alvin dari istrinya yang sekarang.
Pada saat Alvin bercerai dari Naya, beberapa bulan kemudian, dia menikah dengan seorang wanita muda dan melahirkan seorang anak laki-laki yang saat ini berumur dua puluh tiga tahun, hanya selisih satu tahun saja dengan Ayu. Karena saat ini Ayu berumur dua puluh empat tahun.
"Ayu, kita taruhan yuk? di sini sipa yang bisa meluluhkan hati, Den Raka?" ucap Ita.
"Aku nggak ikutan ah, karena aku di sini berniat untuk bekerja bukan untuk merayu atau mencari pacar,' tolak Ayu.
"Jangan eperti itu, Ayu. Kita melakukan tantangan ini supaya kerja kita juga lebih bersemangat lagi," ucap Tia.
"Walaupun aku tidak ikut dengan tantangan kalian berdua, aku juga sudah bersemangat dalam bekerja. Untuk apa repot-repot melakukan sebuah tantangan? sama saja mempermainkan perasaan, Den Raka," ucap Ayu.
__ADS_1
syebenarnya di dalam diri Ayu dia merasa tidak percaya diri, karena kondisi bibirnya yang tidak normal seperti kedua temannya. Walaupun sudah dioperasi masih ada sedikit bekasnya.
Pada saat mereka asik bercengkrama sambil makan siang di sebuah cafe, tak sengaja mata Ayu menatap ke sosok pria yang tak asing lagi baginya.
"Bukankah itu, papah Alvin? jadi itu istrinya yang sekarang. Aku tidak akan lupa dengan kelakuannya dulu terhadapku dan mamah. Aku sudah berjanji di dalam hati akan membalaskan rasa sakit hatiku kepadanya, jika suatu saat nanti aku bertemu dengan dirinya."
Kebencian yang dirasakan Ayu sudah berurat berakar dari dirinya berumur enam tahun. Kala itu Naya sengaja mencari keberadaan, Alvin. Untuk meminta bantuan berupa dana untuk mengoperasi bibir, Ayu. Tetapi saat itu tidak diberi sepeserpun oleh, Alvin.
Bahkan Naya sampai mengiba, menangis di tengah jalan. Karena pada saat itu, Naya sedang berkeliling jualan siomay dengan mengajak Ayu. Dan tanpa sengaja setelah satu tahun perceraian, dia di pertemukan kembali dengan, Alvin di sebuah taman dimana Alvin sedang sendirian.
Lebih terkejut lagi pada saat Ayu melihat seorang pemuda menghampiri Alvin dan istrinya," astaga, itu bukannya Den Raka. apakah dia itu anak papah Alvin?'
Kebencian semakin terasa hingga tak sadar kedua tangannya mengepalkan tinju, ingin sekali ia menghampiri Alvin untuk mengumpat, memarahi dan mengatakan hal buruk kepadanya,tetapi Ayu berusaha menahan emosinya.
'Ayu, kamu kenapa tiba-tiba diam saja seperti itu?" tegur Ita.
Bahkan Ita dan Tia menatap ke arah dimana Ayu saat ini menatap yakni ke arah Rama dan orang tuanya.
"Cie-cie...jangan-jangan teman kita yang satu ini sudah mulai jatuh cinta kepada, Den Raka,' goda Ita.
"Kalian ngomong apa sih? memang yang aku tatap yang ada di depanku itu hanya satu meja saja? bukannya banyak meja juga, dan banyak orang juga, bukan?" ucap Ayu.
"Halah...nggak usah munafik deh. Sebaiknya kamu ikut saja dengan tantangan kita," ucap Ita.
Hingga pada akhirnya, Ayu menyanggupi keinginan kedua temannya tersebut untuk menerima tantangan mereka bersaing mendapatkan hati, Raka.
"Lantas apa imbalannya bagi yang menang? dan apa hukumannya bagi yang kalah?" tanya Ayu.
"Jika salah satu dari kita menang, yang kalah akan bersedia di perintah apa saja oleh yang menang. Dan hukuman bagi yang kalah yaitu, menuruti apapun perintah dari yang menang, meskipun di jadikan sebagai kacung atau pembantunya. Dan berlaku untuk satu bulan saja," ucap Ita.
"Lantas, jika ternyata Den Raka malah suka beneran dengan si pemenang bagaimana?" tanya Ayu.
"Yah, baguslah. Berarti itu suatu keberuntungan bagi yang menang. Kita tidak akan melarang atau protes. Bukan begitu kan, Ita?"
__ADS_1
"Ya, Tia. Betul sekali. Kita justru akan ikut merasakan bahagia bagi si pemenang," ucap Ita.
Hingga saat itu juga, mereka bertiga bersaing untuk bisa mendapatkan hati, Raka. Walaupun rencana sesungguhnya Ayu yakni untuk balas dendam pada, Alvin.
"Kesempatan bagus, karena sudah sekian tahun aku menunggu saat seperti ini. Dimana aku bisa bertemu dengan, Papahnya Alvin dan ingin balas dendam. Aku nggak menyangka ternyata, Raka anak dari pria jahat itu!"
"Lihat saja, aku akan menjadikan Raka sebagai alat ajang balas dendamku. Dan aku juga akan menyingkirkan istrinya juga. Alvin tidak berhak bahagia dengan siapun. Baik dengan anak apa lagi dengan istrinya!"
Jalan untuk balas dendam bagi Ayu, kini terbentang lebar. Dia begitu bersemangat untuk mengikuti tantangan dari teman-temannya.
*******
Esok harinya, Ayu datang ke ruabg kerja Raka.
Tok tok tok tok tok
Ayu mengetuk pintu ruang kerja tersebut.
"Masuk!"
Ayu pun segera masuk, sedangkan Raks hanya sekilas saja menatap ke arah, Ayu. Dan dia kembali menatap ke arah berkas yang ada di hadapannya.
"Ada apa, Ayu?" tanyanya dingin.
"Ada satu berkas yang harus, Den Raka tanda tangani."
Ayu menyodorkan berkas tersebut ke hadapan, Raka. Dan sejenak Raka membacanya. Lantas ia menantanginya.
"Sudah, hanya ini saja?"
"Ita, Den Raka."
"Kalau begitu keluarlah, karena aku sedang banyak pekerjaan!"
__ADS_1
Saat itu juga Ayu berlu pergi dari ruang kerja Raka dengan penuh kekesalan.