
Semakin hari semakin Hendrik dan Airin tidak bisa terpisahkan satu sama lain. Mereka sama sekali tidak ada hubungan ayah dan anak. Tetapi ikatan batin mereka seolah sudah terpatri satu sama lain. Hingga di suatu hari, Airin sakit.
Di tengah malam, ia terus saja mengigau memanggil nama Hendrik. Tentu saja hal ini membuat Rindi bingung harus bagaimana.
"Aduhhh...Bu... bagaimana ini?" tanya Rindi pada ibu mertuanya.
"Mau bagaimana lagi, alangkah lebih baiknya kamu segera hubungi Nak Hendrik. Siapa tahu dengan seperti itu, Airin akan jauh lebih baik," saran Ibu mertuanya.
"Tapi Bu, aku nggak enak," ucap Rindi ragu.
"Astaghfirullah aladzim, ini demi Airin. Lihatlah dia meracau memanggil nama Nak Hendrik terus," ucap Ibu mertua Rindi.
"Kakkkkk Hendrikkkkkkk....sini kakkkkkk!"
Badan Airin demam, padahal sudah diberi obat penurun panas. Sedangkan Rindi tidak berani membawa Airin ke dokter tengah malam. Lagi pula dirinya hanya memiliki kendaraan bermotor saja.
Rindi terus saja mondar mandir karena ia bingung. Walaupun ibu mertuanya sudah menyarankan dirinya untuk menelpon Hendrik, tetapi ia tidak juga melakukannya.
Hal serupa ternyata juga sedang dirasakan oleh Hendrik, tiba-tiba ia tidak bisa tidur. Gelisah dan yang ada di pikirannya adalah Airin.
__ADS_1
"Ya Allah, kenapa aku terus saja memikirkan Airin? nggak seperti biasanya aku seperti ini, semoga saja ini hanya perasaanku saja dan kondisi Airin baik-baik saja," gumamnya mondar mandir sendiri di dalam kamarnya dengan sesekali menggaruk kepalanya yang tak gatal.
Hendrik ingin menelpon Rindi tetapi ia juga tidak berani karena sudah tengah malam. Tetapi ia terus saja gelisah.
Hingga ia memutuskan untuk meminta tolong Kayla menelpon Rindi. Dengan langkah ragu, Hendrik mengetuk pintu kamar Kayla.
Tok tok tok tok
"Mah, ini aku Hendrik."
Kayla segera mengerjapkan matanya, dan pada saat dirinya akan bangkit dari ranjang, Mickel menahannya," mau kemana sih sayang?" tanya Mickel dengan mata masih sedikit terpejam.
"Oh ya sudah," jawab Mickel memejamkan matanya kembali.
Kayla melangkah ke arah pintunyae dan membukanya," ada apa nak?"
Hendrik sejenak menceritakan tentang kegelisahan dirinya terhadap Airin. Ia hanya ingin memastikan kondisi Airin saja. Dan meminta tolong Kayla untuk menelpon Rindi. Saat itu juga Kayla menelpon nomor ponsel Rindi, bahkan dengan panggilan video.
Rindi yang dari tadi sudah memegang telepon dan ragu untuk menelpon Hendrik, ia sangat antusias mengetahui Kayla menelpon dan langsung mengangkatnya.
__ADS_1
📱"Hallo Bu Kayla."
📱"Hallo Rindi, kenapa kamu terlihat cemas sekali?"
Belum juga Rindi berkata lagi, Kayla dan Hendrik mendengar racsu Airin.
📱"Rindi, Hendrik tiba-tiba gelisah ingat Airin, dan ia memintaku untuk menelponmu. Apakah Airin sehat, itu sedang mengigau atau bagaimana?"
📱"Airin sakit Bu, dia meracau memanggil Mas Hendrim terus. Tapi aku nggak enak ingin menelpon Mas Hendrik."
📱"Astaghfirullah aladzim, apakah sudah di beri obat penurun panas?"
Hendrik terlihat sangat panik, dan ia memutuskan untuk segera ke rumah Rindi malam itu juga itu mengetahui lebih jelas tentang kondisi Airin.
"Mah, aku akan ke rumah Rindi sekarang juga!" pamitnya.
"Mamah ikut, nak!" Kayla berlari kecil menyusul Hendrik yang berlari ke garasi mobil.
Hendrik sudah tidak sabar lagi untuk segera sampai di rumah Rindi. Ia tidak ingin terjadi hal buruk pada Airin.
__ADS_1