
Pagi sekali, Kombes Beno datang ke rumah Kayla. Hal ini sempat membuat kaget Kayla dan Mickel. Apa lagi Beno ingin bertemu dengan Kirana.
"Ben, sudah lama sekali ya kita baru bertemu dari kasus Airin. Oh ya, ada perlu apa tumben datang ke rumahku?" tanya Mickel penasaran.
"Aku datang kemari karena ingin bertemu dengan anakmu yang bernama Kirana."
Belum juga Beno selesai berbicara, Kayla sudah panik dan bertanya," ya ampun, memangnya ada masalah apa dengan Kirana, ya Mas Beno?"
Beno pun tersenyum," lihatlah Mickel, aku belum selesai berbicara istrimu sudah menyela dan terlihat sangat panik seperti itu. Padahal tidak selamanya aparat Polisi datang ke rumah seseorang untuk menangkap orang."
" Jika kalian ingin tahu apa maksud dan tujuanku ingin bertemu dengan Kirana, tolong panggilkan Kirana sekarang juga."
Saat itu juga Mickel memanggil Kirana untuk segera datang ke ruang tamu.
"Halo Om Beno, kenapa tidak menelpon saja? biar aku yang datang ke markas Om Beno saja, jadi tidak merepotkan seperti ini," ucap Kirana membuat Kayla dan Mickel menjadi semakin penasaran. Sepasang suami istri ini hanya bisa saling berpandangan satu sama lain.
Beno tersenyum riang, ia mengatakan ada kabar baik untuk Rindi. Dimana pihak pemerintahan luar negeri dimana dulu Rindi bekerja telah memberikan ganti rugi uang gaji yang seharusnya di dapatkan oleh Rindi selama bekerja dua tahun.
"Alhamdulillah, jadi sudah positif Mbak Rindi bisa mendapatkan gajinya, om? lantas prosedur apa yang harus di tempuh olehnya untuk bisa mengambil gajinya tersebut?" tanya Kirana.
Beno menjelaskan jika Rindi harus datang ke kantor pusat penyalur tenaga kerja dengan membawa identitas lengkap dirinya serta memberikan informasi tentang siapa nama majikanya? dan siapa nama agensi yang menyalurkan dirinya bekerja pada majikan yang jahat tersebut.
Karena data dan informasi dari Rindi sangat diperlukan untuk bukti pengambilan uang gaji yg selama dia tahun tidak dibayarkan.
"Baiklah Om Beno, nanti aku akan segera mengajak Mbak Rindi ke yayasan penyalur tenaga kerja. Terima kasih sekali atas bantuan Om Beno," ucap Kirana sang riang.
Beno bahkan akan mendampingi Kirana dan Rindi ke yayasan penyalur tenaga kerja. Supaya tidak di persulit, karena uang ganti rugi sudah dikirimkan ke yayasan tersebut untuk diberikan pada Rindi. Beno melakukan hal itu dengan senang hati.
__ADS_1
"Wah, sekali lagi terima kasih ya Om Beno. Berarti sekarang saja apa ya, kita ke yayasan penyalur tenaga kerja tersebut? biar permasalahan segera terselesaikan," ucap Kirana.
Beno pun mengiyakan, hingga saat itu juga Kirana berlari kecil memanggil Rindi untuk segera bersiap-siap dengan membawa segala yang di butuhkan untuk ke yayasan penyalur tenaga kerja dimana dulu Rindi melakukan proses pemberangkatan menjadi TKW ke luar negeri.
"Mba Rindi, cepat bersiap-siap dan membawa kartu identitas yang lengkap serta bukti diri pada saat mbak dulu bekerja di luar negeri. Karena semua itu di perlukan untuk mengambil gaji mbak yang dua tahun sempat di tahan. Saat ini Om Beno sedang menunggu kita. Biar nanti Airin di jemput oleh mamah saja!"
Rindi terperangah, ia hampir tidak percaya jika gajinya akan turun. Ia padahal sempat menyerah dan mengikhlaskan semuanya itu.
Dengan mata berkaca-kaca, Rindi segera bersiap-siap. Ia tidak ingin banyak tanya terlebih dahulu karena sudah di tunggu oleh Beno dan Kirana.
Beberapa menit kemudian..
Berangkatlah Rindi bersama dengan Kirana dan Beno ke yayasan penyalur tenaga kerja dimana dulu Rindi mendaftarkan dirinya untuk bekerja di luar negeri.
Hanya beberapa menit saja mereka telah sampai di lokasi. Mereka melangkah dengan pasti kebagian informasi. Beno yang mengurusnya karena jika Kirana atau Rindi yang maju khawatir akan dipersulit.
Tiga puluh menit berada di yayasan tersebut, Beno berhasil juga mencairkan dana yang di peruntukan untuk Rindi.
"Rindi, ini uang gajimu selama dua tahun. Coba dihitung dulu jika kurang aku akan minta kekurangannya."
Beno memberikan amplop coklat besar ke tangan Rindi. Ia pun gemetaran pada saat merogoh isi amplop tersebut.
"Subhanallah wal hamdulillah. Pak Beno-Mbak Kirana, terima kasih. Mungkin jika aku tidak mendapatkan bantuan dari kalian berdua, aku tidak akan mendapatkan uang hasil jerih payahku ini."
"Pak Beno, berapa ongkos yang harus aku bayar untuk jasa yang telah bapak berikan untuk menolong saya?"
Beno memicingkan alisnya," kamu sedang menghinaku? aku ini tidak materialistis atau menggunakan kesempatan dalam kesempitan. Semua yang aku lakukan karena ingin menolongmu dan juga sudah menjadi tugas dari pihak kepolisian untuk menolong warga Indonesia yang membutuhkan. Apa lagi ini menyangkut dengan pemerintahan luar negeri. Aku tidak terima salah satu warga Indonesia di perbudak begitu saja oleh pihak asing."
__ADS_1
"Sebaiknya kamu gunakan dengan sebaik-baiknya uang hasil jerih payahmu itu untuk memulai hidup baru yang lebih baik bersama ibu mertua dan anakmu. Aku tidak pernah menerima uang suap."
Tiba-tiba bulir bening keluar dari mata Rindi, ia begitu terharu dan bahagia. Ia tidak menyangka jika Beno begitu baik padanya.
Setelah tugas Beno selesai dalam membantu Rindi, ia segera berpamitan pada Kirana dan Rindi untuk kembali ke markas besar. Sedangkan Rindi kembali ke rumah bersama dengan Kirana.
" Mbak Kirana, terima kasih banyak atas bantuannya. Aku benar-benar tidak bisa membalas segala budi baik Mbak. Hanya doa yang terbaik bukan hanya untuk Mbak Kirana tapi juga untuk seluruh keluarga Mbak."
Kirana menyunggingkan senyumnya," aminnn.
Selagi asik melajukan mobilnya, tiba-tiba rambu lalu lintas berubah merah. Dan pada saat Kirana menghentikan laju mobilnya. Tiba-tiba mobil yang di belakangnya menabrak bagian belakang mobil Kirana.
BRAKKKK!!!
Sontak saja Kirana langsung marah, ia pun memutuskan untuk keluar dari mobil guna mengecek belakang mobilnya.
"Mbak Rindi, nggak usah keluar ya. Duduk saja di dalam, biar aku yang menyelesaikan kekacauan ini. Kurang ajar banget sih, nabrak mobil Yeng sedang berhenti!"
Kirana keluar dari mobil dengan mendengus kesal dan ia segera menghampiri mobil yang ada di belakangnya dan mengetuk kaca mobil tersebut dengan sangat keras.
"Heh, minggir kan mobilmu sekarang juga! lihatlah kamu haus bertanggung jawab!" Kirana menunjuk ke arah bemper mobilnya sendiri yang penyok.
Sang pengemudi tersebut dengan santainya dan tanpa merasa bersalah meminggirkan mobilnya, begitu pula dengan Kirana juga meminggirkan mobilnya.
"Heh, kenapa kamu nggak ada kata maaf sama sekali hah? lihat perbuatanmu itu!"
"Santai....aku akan ganti kerugianmu.. Tinggal sebutkan saja nominal uangnya untuk memperbaiki mobilmu," ucapnya ringan.
__ADS_1