Gadis Kecil Milik Mr. Mafia

Gadis Kecil Milik Mr. Mafia
EPS 103 # Mangsa


__ADS_3

Keenan sudah berada di gedung KTech. Pria itu melayangkan tatapan nyalang siap menerkam siapapun yang berani menentangnya. Dia tidak menyangka akan ada orang yang mengganggu kesenangannya malam ini. Semua anak buah intinya sudah bersiap di posisi mereka. “Mereka sungguh berani menginterupsi perayaanku!”


“Lapor, Tuan!” Salah satu anak buah yang diberi tugas menjaga markas segera melaporkan status penjahat yang sedang terkurung di kandang musuh. “Mereka berusaha keluar menuju rooftop!”


Keenan menaikan sudut bibirnya dengan senyum sinis yang terpetakan jelas di wajahnya. “Apa yang sudah mereka dapatkan?”


“Tidak ada, mereka tidak bisa mengakses keamanan sistem kita!”


Keenan kembali melebarkan senyuman jahatnya, dia segera mengisyaratkan perintah dengan tangan. Tanpa perlu kata seluruh anak buahnya mengerti. Ben dan Ken segera berjaga di barisan terluar. Keenan yakin pihak musuh sedang mengirimkan bantuan.


Di sisi lain menuju ruang rooftop yang berada di lantai teratas setelah ruang presdir, Hyu kembali meminta bantuan pada rekan lainnya.


“Aku ulangi!! Misi gagal… Misi gagal!! Secepatnya kirim bantuan!!” Hyu memekik melaporkan statusnya.


“Rao!”


Dor…


Pria plontos itu menolong rekannya, pria yang bernama Rao mengulumkan senyuman. Keduanya saling melindungi satu sama lain. Anak buah Keenan semakin tumpah ruah dan memojokkan keduanya.


“Shiiit!” pekik Hyu merasa semua tidak ada habisnya.


“Sam, isi kembali peluru terbaruku!” Keenan menatap Sam tajam.


“Bagian produksi baru mengeluarkannya siang tadi. Hasil uji coba mengatakan butuh dua puluh detik untuk merespon apa yang anda perintahkan!” ucap Sam ragu menjawab keinginan tuannya.


“Tidak jadi soal, keluarkan!” Keenan bersiap melemaskan otot lehernya. “Aku sudah tidak bisa menggunakan EYES, jadilah mataku!” titah Keenan kemudian dan langsung menekan tombol lift keluar ruangan.


“Noted!” Sam dan anak buah Keenan yang lain segera menyebar dan kembali menargetkan musuh yang hanya dua orang. Namun, terasa seperti beberapa puluh orang.


Suara baku tembakan terdengar jelas di telinga Keenan, Sam sudah memberikan alat yang diinginkan Keenan dengan cepat. Langkah kaki Keenan terhenti dengan mata yang nyalang menatap sebuah Heli mencoba membawa kabur mangsanya.


“Heh…” Hyu menyeringai menatap Keenan, dia mencabut sebuah granat dan bersiap melemparkan ke arah Keenan saat ini juga.


Dengan cepat Sam, mengaktifkan shield dan menangkap granat dengan tangan kosong. Granat itu hancur lebur di tangan Sam begitu mudah seperti meleburkan sehelai kertas yang terbakar. Hyu dan rekannya terbelalak dengan aksi heroik Sam. Mereka sampai menghentikan gerakan saking syoknya.


“Cepat naik!!” seru rekan lainnya membuyarkan lamunan Hyu dan rekannya.


Syuuutt!


Tanpa menunggu lama, Keenan menembakkan senjatanya langsung menghentikan kedua mangsanya.


“Aaarghh!!”


Bruuuk!


Rekannya yang lain kebingungan, sementara itu anak buah Keenan melayangkan tembakan mencoba menghentikan Heli di hadapan mereka. Heli itu akhirnya pergi sebelum mereka meledak tanpa bisa melarikan diri dari sana.


“Kamu sungguh berani memasuki kawasanku!” pekik Keenan berjalan tegap mendekati keberadaan Hyu.


Pria plontos itu menyeringai. “Pelurumu ini tidak berarti apapun ditubuhku! Hahaha…”


Keenan menyeringai, dia tidak lagi meneruskan langkah kakinya. Dia justru menatap lekat ke arah Hyu. Kedua tawanan itu jelas merasa takut. Namun, mereka berusaha mengelabui musuh mereka. Jika mereka terlihat takut, mungkin saja Keenan dan anak buahnya akan lebih cepat menghentikan nyawa mereka sekarang juga.


“Aku akan menghabisimu Mr. K! Setelah ini, aku akan menghadiahkan kepalamu pada Tuanku!”


Keenan terkekeh mengejek. “Menyentuh sistemku saja tidak bisa, apalagi menyentuh tubuhku!”


“Cuih!” Hyu meludah mengejek musuhnya. “Kamu bukan apa-apa tanpa teknologimu, Keenan!”


“Jika kamu pria sejati, aku akan mengakui kehebatanmu untuk duel satu lawan satu tanpa menggunakan teknologi pembantu!!” Hyu mengejek dan menantang Keenan.

__ADS_1


Keenan hanya tersenyum sinis pada musuhnya. “Untuk membunuhmu, aku tidak perlu mengeluarkan energiku dengan berlebihan…” Dengan tenang Keenan kembali memprovokasi musuhnya.


“Cih… Akui saja, kamu bukan apa-apa tanpa teknologimu! Kamu hanya seseorang yang tidak bisa menggunakan otot-ototmu…”


“Untuk apa aku bersusah payah menggunakan ototku? Tuhan menciptakan otak untuk mempermudah hidupmu… Tanpa menggunakan ototku, aku jelas jauh lebih unggul darimu!” Keenan menjulurkan tangannya, wajah Hyu terlihat pucat. Dia tidak bisa menebak apa yang akan dilakukan musuhnya. “Heh, sayangnya… Aku lupa, jika kamu tidak memiliki otak!”


“Aaarrkkk!!”


Hyu terhenyak, dia memegang lehernya. Sesuatu terasa mencekik tenggorokannya. Rekan Hyu lainnya menegang dengan reaksi temannya.


“Aku bahkan bisa mengendalikan tubuhmu tanpa perlu menyentuhmu…” Keenan menyeringai penuh kemenangan. “Aku pun jelas tidak akan pernah mengotori tanganku dengan tubuh kotormu!”


Seperti yang dilakukan pada Axcel tempo lalu, Keenan kembali menggunakan selongsong peluru yang berisi serpihan magnetik khusus yang bisa merespon perintah yang dikeluarkan oleh Keenan.


Hyu semakin merasakan kesakitan yang teramat sangat. Pria tambun dan plontos itu merasa bahwa ada bola besi yang bergerak di dalam tubuhnya. Dia mulai merasakan bola itu mulai menutup jalan udara dari tenggorokan dan hidungnya.


“Bagaimana? Apa kamu masih mau menantangku berduel satu lawan satu? Menggunakan ototmu? Silahkan! Hahaha…" Keenan mengejek Hyu senang. "Itupun jika kamu masih bisa bernafas lebih dari satu menit dari sekarang!! Haha...”


Darah merah segar mulai mengalir keluar dari seluruh panca indra tubuh Hyu. Rekannya Rao sudah terlihat syok di tempat. Tidak ada lagi yang lebih mengerikan dari pembunuh bayaran bernama Keenan Kaviandra.


“Huh, aku meninggalkan perjamuan penting untuk melihat hal membosankan ini. Kamu sungguh mengecewakan!”


“Aaarrrkkk!”


Keenan bosan, dia segera mengakhiri permainannya. Pria itu mengeratkan kepalan tangannya, seluruh serpihan besi dalam tubuh Hyu memadat sempurna menutup jalan oksigen dan memecah beberapa organ tubuh Hyu dalam waktu singkat. Kedua bola mata Hyu membulat sempurna, dia sudah meregang nyawa tanpa sempat bisa mengatakan sepatah kata.


Bruuuk!!


Seluruh anak buah Keenan menelan ludah mereka, setelah melihat kejadian ini, sudah dipastikan, mereka tidak akan pernah berani melawan titah tuannya.


“Denyut nadinya hilang!” Sam mendekat memeriksa kondisi Hyu.


Keenan menurunkan kembali tangannya, sekilas dia merasa tidak nyaman, wajah gadisnya menunjukkan diri di pandangan matanya.


“Aaarkkk!”


Pria itu memekik tertahan saat tangan Keenan mencengkram kuat lehernya. “Heh, kamu jauh lebih lemah… Aku tidak mungkin membunuh yang lemah! Hehe…” Keenan mengolok rekan kerja Hyu yang memang terlihat seperti sosok yang lemah.


Sam mengaktifkan EYES dalam matanya, dia bisa mengakses data mengenai pria yang baru kali ini dia lihat di lapangan.


“Tunggu!” Sam menghentikan aksi Keenan yang sudah selangkah ingin kembali melayangkan nyawa yang lainnya.


“Dia adalah hacker terbaik milik Black Shadow!” sambung Sam memberikan penjalasan.


“Apa peduliku!! Apa kamu tidak rela aku melayangkan nyawanya?” ketus Keenan tidak senang dengan tingkah Sam.


“Haish, bukan begitu… Sumber dayanya cukup mumpuni… Dia hampir membobol akses sistem kita. Dia hanya sedang tidak beruntung saja saat ini… Jika saja dia tidak salah memotong kabelnya. Niscaya, data milik kita sudah mereka rampas!”


Keenan menatap nyalang pada si pria di depannya. Ingin rasanya Keenan melenyapkan nyawa Rao sekarang juga. Namun, perkataan Sam tentu ada benarnya.


“Heh… Kamu cukup beruntung, memiliki ekstra waktu untuk kembali hidup di dunia!” Keenan menjatuhkan musuhnya. Pria itu terbatuk memegangi lehernya yang panas, tak lama dia segera menghirup oksigen secepat yang ia bisa.


“Aku serahkan dia padamu!” Keenan menatap Sam nyalang bercampur kesal. Sam selalu tahu cara meruntuhkan kesenangannya.


“Kita akan mencoba dengan vaksin X penyesuaian, agar sebagian memori ingatannya tetap ada dan sebagian lain hilang seperti yang kita harapkan!”


Keenan menyeringai senang, tidak salah jika Keenan selalu menuruti saran asisten khususnya. Tidak ada yang jauh lebih mengerti kemauan Keenan dari pada Samuel.


“Ben!”


“Ya, Tuan…”

__ADS_1


Ben mendekat menundukkan tubuhnya.


“Kirim kepala Hyu ke kediaman Black Shadow… Seperti keinginan terakhirnya..." Keenan menyeringai. "Mereka sudah cukup berani menyentuh wilayah yang tidak boleh disentuh!”


“Dimengerti, Tuan!”


Keenan berbalik badan, dia menegaskan jasnya. “Aku tunggu kalian di sel bawah!”


“Huh!” Semua orang kompak membuang nafas lega.


“Dia baru saja mengumumkan siapa wanitanya, dia mengirim kepala Hyu itu artinya dia mengajak berperang…” Sam merutuk lirih dan menyuruh anak buahnya membawa Rao menuju sel bawah tanah.


Ben mencoba menarik tubuh Hyu, dia merasa tidak kuat. “Uuughh!”


“Cih lemah…” ejek Sam, mendorong tubuh Ben untuk menepi.


“Hi ilih, coba aja kalo lu ngerasa si paling kuat!” sungut Ben tidak ingin diremehkan.


“Gini doang! Ehmm…” Sam merasa tidak kuat, dia sampai menahan diri tidak bernapas. “Kenapa dia begitu berat? Dia abis makan apa?!!” rutuk Sam merasa harga dirinya jatuh sekarang.


“Ha… Ha… Ha!” ejek Ben kembali mendorong tubuh Sam.


Sam menyuruh beberapa anak buah untuk ikut serta membantu mereka.


“Ahaa!!” Sam menepuk bahu Ben dengan keras.


“Sakit, Samueeel!!”


“Hish, lemah banget sih… Baru ditepuk dikit doang gayanya dah kayak banci sebelah!”


“Wei, lu ngutuk gue!!” umpat Ken merasa tatapan Sam mengisyaratkan dirinya.


“Itu sih bagi yang nyadar!” sahut Sam terkekeh. “Darah pria ini berisi besi, wajar jika dia berat… Kamu bisa mengeluarkannya lebih dulu…” Sam memberi arahan lebih dulu pada Ben dan Ken.


“Iwwh, atut… Abang aja deh!” rengek Ken dibuat-buat.


Plaak!!


“Icchhh, abang jahat!!” Ken semakin menjadi seperti banci perempatan.


Sam bergidik dan beringsut keluar dari sana sebelum Ken merasuki dirinya. Ben menggelengkan kepala, dia memilih menyuruh beberapa anak buah untuk membawa korbannya. “Tak sampai hati aku menyiksa mayat ini!”


Di dalam sel bawah, Sam sudah kembali menemani tuannya mengeksekusi tahanan yang di bawa olehnya.


“Kamu cukup idiot mengantarkan nyawamu kesini!” Keenan duduk angkuh membuang kepulan asap tebal dari rokok yang ada di tangannya. Si pria kecil tidak mampu berkata, dia mati atau pun tidak terasa sama saja.


“Apa yang diinginkan Mr. Wei, hm?” Keenan bangkit dan mendekati wajah si pendosa, dia mengepulkan asap tebal di wajah Rao.


“Uuhuukk!!”


Sam menaruh trolly di samping tubuh Keenan. “Jawab!!” pekikkan Keenan membuat Rao mendelik dengan sorot mata tajam, tak lama pria itu terbahak dengan tingkah yang mencurigakan. “Hahaha… Sampai mati pun, aku tidak akan pernah memberitahukannya padamu!”


Dengan cepat Keenan menginjeksi musuhnya dengan vaksin yang tersedia.


“Aaarrkk!!”


Jeritan kencang Rao menggema memenuhi ruangan sempit, disusul tawa kepuasan dari diri Keenan. Sam menyeringai, dia pun sama. Dalam kondisi seperti itu, menyiksa musuh mereka tentu menjadi kesenangan tersendiri.


“Menjeritlah!” Keenan menatap nyalang musuhnya dan mengapit wajah Rao dengan erat. “Jika kamu adalah orang yang kuat, maka kamu akan menerima keberuntungan menjadi anak buahku… Tapi, jika tidak… Maka, kamu akan bertemu dengan Hyu di neraka sana! Hahaha…” Keenan membuang wajah pria kecil dihadapannya. Dia menerima sapu tangan untuk membersihkan tangannya. “Aku serahkan padamu!”


“Baik, Tuan!” Sam menunduk mengerti.

__ADS_1


Keenan bergegas berbalik dan bersiap meninggalkan gedung KTech, dia sungguh merindukan kekasihnya. “Baru saja aku meninggalkanmu, rasanya sudah seperti sewindu!”


--- To be continued ---


__ADS_2