
Keenan telah selesai dengan pekerjaannya, dia sudah sangat merindukan gadisnya. Senyumnya mengembang dengan pikiran kotor yang sudah berkelana. Dia meninggalkan pekerjaannya bergegas menuju kamar dimana gadisnya berada.
Farah begitu asik dengan dunianya, sesekali dia mengumpat, sesekali dia terbahak. Farah sedang membaca salah satu manhua favoritnya. Sometimes, Farah seperti membayangkan dirinya adalah salah satu pemain dalam drama kehidupan seperti di manhua yang ia baca. "Presdir itu mencintaiku dengan arogan! Haha..." Farah terbahak mengada-ngada dengan judul buku yang mungkin cocok dengan kisahnya.
"Mengapa kamu begitu senang, Sayang?" Keenan sudah berada di belakang tubuh Farah.
Farah terlonjak dan bangkit segera menyadari siapa yang sudah berada dekat dengannya. "Kakaaak!"
"Apa perlu setakut itu, hm?!" Keenan tidak menyukai respon Farah seolah tengah menyembunyikan sesuatu. "Apa kamu menyembunyikan sesuatu?"
Farah melongo atas ucapan posesif pria dewasa dihadapannya. "Kakak, ngomong apa sih? Orang aku cuma baca komik doang!"
Farah beringsut mundur saat langkah Keenan mendekatinya. Keenan semakin gemas melihat respon adik sepupu rasa kekasihnya itu. "Mengapa kamu terlihat takut begitu, Baby?"
"Bukankah kita sudah sedekat itu?!" Keenan menyeringai dan mulai beraksi menanggalkan jasnya. Farah semakin menelan ludah melihat tingkah Keenan. Seolah tahu apa yang mungkin terjadi setelah ini.
"Tapi kan Kak!" Farah kembali beringsut sampai dia tidak bisa lagi bergerak kemana pun. Dia sudah berada di ujung dinding kamarnya. Keenan terkekeh, dia melepas ikat pinggangnya dan kembali menunjukan di hadapan Farah seperti sebelumnya.
Deg!
Gemuruh dada Farah semakin semarak, hal yang Keenan lakukan kembali mengingatkan Farah akan kejadiaan naas sebelumnya. Farah semakin gelisah dengan wajah yang semakin memucat.
"Kak..." lirih Farah memelas, berharap prianya mau melepaskannya.
"Jadi? Kamu sudah menyadari kesalahanmu?"
Farah mengernyit dengan kalimat Keenan yang tidak ia pahami. "Aku salah apa?"
"Ck! Kamu memang harus di hukum, Sayang!"
Traaak!
Keenan mencambuk lantai dengan ikat pinggangnya, tubuh Farah terlonjak dengan ketakutan yang meningkat 1000%.
"Ampuuun Paduka!" jerit Farah bersujud dengan menautkan kedua tangan di atas kepalanya. Dia sudah memposisikan dirinya seperti budak yang bersimpuh memohon ampun pada rajanya.
Sekuat tenaga Keenan tidak tertawa. 'Sungguh tidak ada kesenangan lain dari mengusilinya! Hahaha'
__ADS_1
"Cepat kemari, atau kamu mau merasakan cambukan ini?" Keenan memperlihatkan ikat pinggangnya. Farah terbelalak dan segera merangkak mendekati kakak sepupunya.
"Kakak jahat banget sih ama aku!" Farah mulai berkaca-kaca. Selama ini hidupnya damai, aman, jaya dan sentosa. Ternyata berhubungan dengan Keenan semua sirna dalam sekejap mata.
"Jahat?" Keenan menunduk dan mencengkram wajah Farah. "Aku hanya ingin bersenang-senang, Sayang!" Keenan mencium bibir Farah.
Farah termenung, dia sedang mereset ulang otaknya. 'Bersenang-senang? Apa maksud Kakak bersenang-senang seperti─'
Tubuh Farah kembali bergidik, dia menyangka Keenan akan memperlakukannya seperti adegan yang dia tidak sengaja lihat di salah satu film layar lebar. Keenan menaikan sudut bibirnya, sepertinya rencananya berhasil.
"Lakukan bl--ow j--ob untukku!" titah Keenan melepaskan pagutan mereka dan kembali berdiri tegak menatap tajam gadisnya.
"Hah? Apa? Bl-ow apa? Kakak butuh ngeringin rambut?" Ternyata tidak seperti ekspektasinya, kesenangan Keenan di luar imajinasi Farah. Tentu saja gadis itu tidak mengerti tentang istilah yang diucapkan Keenan.
"Heh!" Keenan terkekeh melihat ekspresi polos gadisnya. Keenan berlalu menuju nakas, pria itu merasa haus. Dia menuangkan air mineral dan menenggaknya hingga tandas. Farah masih bersimpuh di tempatnya tanpa ingin beranjak. Gadis itu sadar betul, jangan pernah menguji amarah utusan alam baka.
"Umurmu berapa sampai tidak tahu istilah apa barusan?!" Keenan beralih duduk di salah satu kursi. Dengan angkuh dan arogan Keenan duduk mengejek adiknya.
"Dua puluh tahun, tapi apa perlu aku mengetahuinya? Di kampus tidak ada pelajaran mengenai itu!" Farah kembali menjawab dengan wajah annoyingnya. Mendadak Keenan kesal, gadisnya paling tahu membuang waktu!
"Kemari! Kamu membuang waktu istirahat kita yang berharga ini!" Keenan membentak dan menyuruh Farah menuruti setiap instruksi yang diucapkannya.
Farah membuka mulutnya lebar dan merutuk dalam hati sekencangnya. 'What the fu-ck!'
"Hurry up Baby, apa kamu ingin aku melakukannya dengan kasar?"
"Em..." Farah begitu gelisah dan takut dalam waktu bersamaan. Dia sudah berada di depan Keenan, tangannya bergetar hebat, dia berusaha menjalankan apa yang diperintahkan kekasihnya.
'Ya Tuhan! Ingin rasanya aku mendorongnya ke dasar jurang!'
Farah membuka gesper dengan perlahan, keringat dinginnya mulai membasahi wajahnya. 'Ini gimana sih bukanya! Gue gak pernah pake gesper jenis ini anjiiir!!'
Farah terus merutuk dengan ketakutan yang menyelimuti tubuhnya. Dia merasakan sorot mata tajam Keenan tengah memperhatikannya.
"Kamu idiot!" umpat Keenan sarkas semakin membuyarkan konsentrasi Farah. "Aaarghh!"
'Batu belah, batu bertangkup... Makanlah aku... Matilah akuuu!!' rutuk Farah frustasi. Farah memang berhasil membuka pengait gesper dan celana Keenan, sayangnya resleting celana itu tiba-tiba macet dan mengenai senjata kebanggaan prianya. Tentu saja Keenan sedang menjerit kesakitan atas ulas gadis tengilnya.
__ADS_1
"Farah Lee sialan, jerk!" Keenan mendorong tubuh Farah hingga tersungkur. Pria itu memegang senjata berharganya dengan berulang kali mengeluarkan sumpah serapah.
Farah hanya bisa beringsut mundur sedikit dengan menelan ludah. Dia tidak tahu harus melakukan apalagi sekarang. "M-maafkan aku Kak! Bukan salah aku, resletingnya aja yang salting ama tangan aku!"
"Da-mn!" Keenan masih memekik sarkas menunjuk wajah Farah dengan berang.
Sekuat tenaga Farah menahan diri untuk tidak tertawa setelah sebelumnya dia mencoba menahan nafasnya.
"Hah!" Keenan mulai tenang tidak se-hype barusan. Farah menatap kebingungan ke arah pria di hadapannya. "Hiish!"
"Aaarghh, ampun Kak!"
Keenan bersiap memukul tubuh Farah, gadis itu meringkuk ketakutan. Keenan menahan tangannya di udara. Dia sudah sangat lelah dan pusing, adik sepupu tengilnya justru menambah beban pikirannya. "Bagaimana bisa aku terjebak dengan gadis tengil sepertimu, hah!"
"Kamu memang senang mempermainkan emosiku kan? Lakukan sekali lagi!"
"Hah?"
"Lakukan cepat, jika tidak aku akan memakanmu sepanjang malam aku tidak akan membiarkanmu keluar!"
"Hiks, Kakak sungguh tega denganku!" Farah sudah mulai menangis, bukankah menjual air mata selalu menghasilkan?
"Shiiit, da-mn Farah! Kamu berisik sekali! Cepat lakukan jangan banyak omong atau aku memukulmu dengan ini!" Keenan kembali menggenggam ikat pinggangnya.
Dengan enggan Farah kembali melakukan apa yang diperintahkan sebelumnya, jangan tanya bagaimana kondisi hati Farah. Dia sudah memaki, merutuk dan sejenisnya. Hanya saja, dia bisa apa? Pria itu masih membiarkan dia hidup saja sudah beruntung.
"Let's do it Baby, I can't wait anymore..." titah Keenan lirih menunduk mulai memanas setelah Farah berhasil dengan apa yang diperintahkan sebelumnya.
"Terus aku ngapain?" Farah mendongak dengan wajah polos yang membuat emosi Keenan kembali memuncak.
"Astaga Farah Lee!!" Keenan menjerit frustasi. Untung saja dia berhubungan dengan gadis seperti Farah seorang, dia tidak bisa bayangkan jika ada wanita lain sejenis Farah di sampingnya. Dia auto mati muda!
"Apa aku boleh melakukan phone a friends? Apa ask the audience gitu?" Farah meringis dengan menunjukan gigi rapinya berharap Keenan berbelas kasih padanya.
"Hahaha!" Keenan tertawa namun bulu kuduk Farah justru berdiri takut. "Kamu tidak perlu semuanya, aku yang akan mengajarinya!" Keenan mulai menyeringai dan menarik perlahan tangan Farah menuju senjata yang dia banggakan.
Farah menelan ludah, sepertinya dia butuh menghubungi 911 jika seperti sekarang. Benar saja, Keenan sudah menginstruksikan semua hal yang perlu Farah lakukan. Wajah Farah pucat pasi, dengan keringat yang semakin membanjiri seluruh tubuhnya. Ini pertama kalinya, Farah merasa jijik, tapi dia lagi-lagi hanya bisa pasrah. Semakin lama dia semakin terbiasa, justru menyukainya. Sungguh tidak berpendirian Farah kali ini.
__ADS_1
"Ough Baby! Yes... You're great Honey... Aaarrgh!"
--- To be continue ---