
Keenan mendekati Farah setelah mematikan rokoknya. Pria itu sengaja menggoda dengan memberikan sentuhan sensualitas pada gadisnya.
"Aarrghh!" lenguh Farah keluar tidak bisa ditahan.
"Farah, kamu kenapa lagi!" tanya nyonya Lyn semakin curiga pada kelakuan Farah.
Farah memelas pada Keenan berharap dilepaskan. "Maaf Bi, aku buru-buru keseleo jadinya... Temanku sedang di bawah, aku cuci muka dulu!"
"Kamu ini, bikin Bibi jantungan tau! Cepat telepon Kakakmu, ini sudah larut malam... Tidak enak juga kamu nginep di rumah temanmu itu!"
"Bibi aja ya, Kakak mana mau angkat telpon aku!" Farah kembali beraksi merengek pada bibinya sekaligus di depan kekasihnya. Keenan begitu takjub di tiap harinya dengan kemampuan Farah.
Keenan justru semakin senang usil dengan gadisnya, dia mencium bibir Farah.
"Ya sudah, Bibi telpon Kakakmu itu. Semoga dia tidak sibuk dan cepat menjemputmu!"
"Mmmpphh!" Bibir Farah dikunci oleh kekasihnya.
"Faraaah?"
Sekuat tenaga Farah mendorong tubuh kekasihnya, dia sudah mengumpat sarkas di dalam hati. "Maaf Bi, aku ikut gosok gigi... Sudah ya Bi... Aku tunggu Kakak, dia tahu harus menjemputku kemana!"
Tuutt!
Farah merasa berdosa sudah tidak sopan dengan bibinya. Namun, tingkah kekasihnya sudah membuat Farah ingin melenguh keras.
"Aarrghh, Kaaak..." Farah merintih saat Keenan kembali menerjang tubuh kekasihnya. Keenan kembali menggagahi Farah, di tengah gelora hasrat keduanya, giliran ponsel Keenan berdering di samping tubuhnya. Dengan menyeringai dia menatap Farah yang sudah menggelengkan kepala menolak. "Jangan berisik ya Sayang!"
'Terkutuklah kamu Keenan Kaviandra!"
"Halo, Ma... Aarh!" Benar saja Keenan menjawab panggilan ibunya dengan masih melakukan penyatuan.
"Kamu lagi ngapain?" Nyonya Lyn dibuat mengernyit di seberang sana.
"Nge-gym!" sahut Keenan cepat masih menggerakkan tubuhnya. Sekuat tenaga Farah tidak bersuara, gadis itu mengatupkan bibirnya erat.
"Selarut ini? Sudah, hentikan sekarang dan jemput Farah di rumah temannya. Dia bilang kamu antar dia sebelumnya!"
"Aku bukan supirnya, mengapa sekarang Mama selalu meminta tolong padaku?"
Farah membuka lebar mulutnya dengan ucapan sarkas Keenan, beruntung saat mengatakan kalimat dingin itu, Keenan menghentikan pergerakan tubuhnya. Namun, melihat ekspresi Farah dia kembali menerjang tubuh gadisnya.
"Mmmmpphh!" Farah kembali menutup mulutnya, kali ini dengan bantuan tangannya agar lenguhan tidak keluar.
Bunyi decit peraduan kulit mereka justru membuat nyonya Lyn kembali mencurigai apa yang sedang dilakukan Keenan sebenarnya. "Kamu nge-gym apa suaranya kayak gitu!!"
"Angkat beban, Keenan memakai earphone." Keenan seperti begitu terbiasa berbohong. Padahal, ini adalah pertama kalinya dia membohongi ibunya, bahkan tidak tanggung dia benar-benar tidak memiliki etika. "Aarghh , aku lagi tanggung Ma! Jika dia mau menunggu, maka tunggulah... Aargh!"
"Jangan lama-lama, kasihan Farah! Kamu telepon dia, dia kan takut sama kamu..."
"Iya Ma, bye!"
Tuutt!
"Aarrrrghh!"
Setelah menutup panggilan, Farah dan Keenan menjerit bersamaan. Keduanya ternyata sudah menuju puncak permainan panas mereka. Keenan menjatuhkan diri sejenak di samping tubuh kekasihnya.
"Kakak sungguh berani barusan!" Farah berbalik mencerca kekasihnya dengan raut wajah sendunya.
"Aku tidak mungkin melewatkan kesenangan ini, Baby!" Keenan bangkit dan bersiap membersihkan dirinya.
"Ayo Sayang, kita harus cepat membersihkan diri..." Keenan menggendong Farah, gadis itu segera melingkarkan tangan di bahu kekasihnya. "Apa Bibi akan curiga?"
"Tidak..."
Farah mengulumkan senyuman dan mencium lekat pipi kekasihnya. "Aku sungguh bahagia, Keenan..."
***
Condominium Royal Luxury, 11.00 PM.
"Bi!"
__ADS_1
Farah memekik girang setelah melihat wanita paruh baya yang tengah menonton di ruang tengah.
"Akhirnya kalian sampai juga, cape tahu Bibi nunggu kalian..."
"Salahkan Kakak, dia lama sekali menjemputku!! Tahu gitu minta antar sopir temanku..."
Tak!
Keenan menoyor kepala Farah perlahan, Farah menjerit dan memegang kepalanya menunjukkan raut yang menggemaskan. "Sudah nyuruh, ngeluh!!"
"Sudah... Sudah..." Nyonya Lyn kembali melerai keduanya.
Keenan menjatuhkan dirinya di samping nyonya Lyn atau ibunya dengan menutup kedua matanya. Dia teramat sangat lelah saat ini. Nyonya Lyn tersenyum seraya mengelus kepala putra kebanggaannya. "Kamu lelah, sudah makan?"
"Aku beluuum!!" Farah menyela padahal dia belum ditanya. "Aku lapaaar~" rengeknya kemudian membuat nyonya Lyn terkekeh dengan tingkah keduanya.
"Ck," Keenan membuka matanya berdecak mengejek Farah. "Mama sudah lama?" tanya Keenan merubah posisinya duduk tegak.
"Sudah dari siang, Mama membawa seluruh kebutuhan Farah. Mulai sekarang dia akan tinggal bersamamu..."
"Aaarrh, love you to the moon and back!!" Farah melompat memeluk bibi tersayangnya. Bibinya ikut memeluk erat kembali anak angkat kesayangannya.
"Kamu manja begini, Bibi jadi khawatir..." Nyonya Lyn mengacak rambut Farah lembut.
"Bibi tenang saja, kan ada Kakak... Wleee!" Farah menjulurkan lidahnya menggoda Keenan.
"Cih, aku bukan baby sittermu!!"
"Keenan~"
"Ma, siapa sebenarnya anak Mama!!" rutuk Keenan menunjukan wajah kesalnya.
"Akuuu~" Farah menyahut terus menggoda, jika ada bibinya dia merasa bebas mengusili prianya.
"Hiiissh!" Keenan bersiap kembali menoyor gadisnya. Nyonya Lyn kembali menahan tangan putranya.
"Sudah, kalian lapar bukan? Mama sudah siapkan makanan dari tadi sore..."
Nyonya Lyn bangkit dan memberi perintah pada pengurus rumah di Condo. Farah bangkit dia kembali menggelayut manja di dalam dekapan bibinya. Keenan menatap pemandangan yang mengoyak batinnya. Gadis manja kesayangan keluarganya itu, sudah ia rusak masa depannya. 'Maafkan Keenan, Ma...'
Keenan dan Farah begitu lahap menyantap makan malam yang terlambat. Bagaimana tidak lahap, keduanya hampir setengah malam melakukan sesi percintaan yang semarak. Nyonya Lyn memperhatikan lekat penuh haru. Namun, sedetik kemudian jantungnya seperti lepas dari tempatnya.
DEG!
'Sejak kapan Keenan menggunakan cincin seperti itu?'
Dengan model cincin yang digunakan Keenan, tentu dia tidak bodoh tidak mengetahui bahwa Keenan menggunakan cincin pernikahan. Saat membuang pandangannya, nyonya Lyn kembali dikejutkan dengan jemari tangan Farah yang ikut serta menggunakan cincin yang serupa.
"Ehm..." Nyonya Lyn berdehem sejenak, rasanya tidak nyaman. "Keenan..."
"Hm?" Keenan menatap ibunya dengan wajah kebingungannya.
"Apa kamu sudah memiliki wanita? Isn't it?" Nyonya Lyn langsung bertanya dengan menunjukan tatapannya pada tangan Keenan. Keenan terdiam, dia mengerti kemana arah pertanyaan ibunya.
"Uuhhukk!!"
Jika putranya merespon biasa saja, lain hal dengan Farah yang justru terlihat gelisah bahka sampai tersedak. Otomatis nyonya Lyn menatap Farah dengan tatapan yang sulit diartikan gadis kecil itu. Farah semakin gelisah, dia melambatkan kunyahan makanannya.
"Ya, tapi aku belum bisa membawakannya ke hadapan Mama!"
Denyut jantung Farah berdetak semakin kencang, dia tidak berani menatap siapapun. Rasanya naf-su makannya hilang saat ini juga. Nyonya Lyn menaikan sudut bibirnya, dia menyambut perkataan Keenan dengan suka cita.
"Baguslah, dengan begitu Mama dan Papa tidak perlu menunggu lama menjadi Oma dan Opa..."
"Uuhhuukkk!" Keenan yang tengah menenggak air putihnya mendadak tersedak. "Ma!"
"Apa salahnya, bukankah dengan begitu akan ada pernikahan kedepannya?"
Farah semakin mengeratkan genggaman tangannya dibawah tubuhnya. Dia tidak berpikir bahwa kemungkinan Keenan menunjukan dirinya di hadapan keluarga besar Kaviandra sebagai pasangan. Belum tentu paman dan bibinya bahkan Karen sekalipun merestui hubungan keduanya.
"Kita lihat saja nanti, aku tidak ingin terburu-buru. KTech masih harus berjuang untuk semakin terdepan!"
"Haiish..."
__ADS_1
"Aku istirahat lebih dulu, Mama pulang atau menginap?"
"Papamu suruh Mama pulang!"
"Baiklah, hati-hati Ma, Paman Tang akan mengantar Mama pulang."
"Hm, ingat jaga Farah... Dia Adikmu!"
Pedih ku saat merasa indah, semua hilang dan usai... Bila cinta ini tak nyata, jangan engkau beri harapan... Sudah cukup kini kusadari, terlalu cepat jatuhkan hati...
Keenan terdiam sejenak, dia menatap Farah yang tidak bergeming sedari ibunya bertanya pasal wanita. "Ya!"
Pria itu hanya menjawab singkat dan bergegas keluar dari ruang makan menuju ruangan pribadinya. Farah ingin menangis saat ini juga, hanya saja dia tidak boleh semakin membuat bibinya curiga.
"Farah..."
"Iya, Bi?" Farah mendongak sendu.
"Apa tidak masalah kamu tinggal disini?"
Farah menggeleng perlahan, bibinya mendekat dan memeluk Farah cepat. "Jika Keenan mempersulitmu, katakan pada Bibi. Oke?"
"Ya... Sejauh ini Kakak sangat baik memperlakukanku!" Farah mengukir senyuman di wajah sayunya.
"Apa kamu masih menyukai Kakakmu itu?"
Deg!
Farah membatu, memang bukan rahasia lagi di keluarga Kaviandra jika sedari kecil Farah selalu mengatakan dia menyukai Keenan pada siapapun. "Hehe... Siapa yang tidak menyukai pria sempurna seperti Kakak."
Nyonya Lyn hanya bisa menanggapi dengan senyuman dan mengusap kepala Farah lembut. "Apa kamu akan kecewa jika Kakakmu memiliki wanita lain?"
Entah apa tujuan nyonya Lyn kali ini bertanya demikian pada Farah. Tentu saja Farah sudah sakit hati detik ini juga. Hanya saja, dia bisa apa?
"Aku akan bahagia, jika Kakak bahagia... Aku tidak bisa mengatur kehidupan siapapun, bukan?" Farah tidak tahan, dia menjatuhkan air matanya.
Nyonya Lyn kembali memeluk Farah. "Kamu sudah besar ternyata, Bibi yakin... Kamu akan mendapatkan pria hebat yang akan menjaga dan menyayangimu? Bukankah, kamu juga sudah mendapatkan pria itu?"
Nyonya Lyn mengangkat tangan Farah yang tersemat cincin. Ingin rasanya Farah pingsan saat ini juga. Gadis itu sudah tidak punya kekuatan untuk menjawab. Nyonya Lyn tersenyum, dia pamit karena sudah terlalu larut malam. Farah menatap nanar ke depan, tubuh nyonya Lyn sudah menghilang di balik pintu bersama paman Tang.
"Maafkan aku, Bi..." Farah kembali menjatuhkan air matanya.
Cinta ini takkan berbalas, sayang kupastikan melayang, pedih ku saat merasa indah, semua hilang dan usai... Bila cinta ini tak nyata, jangan engkau beri harapan... Sudah cukup kini kusadari, terlalu cepat jatuhkan hati...
Farah berjalan gontai menuju kamar yang sudah dipersiapkan nyonya Lyn sebelumnya. Dia menenggelamkan diri dalam tumpukan bantal dan menangis sejadi-jadinya. Sedangkan di kamar Keenan, pria itu tengah berendam menenggak winenya. Pikirannya ikut kalut, semakin kesini kehidupan mereka semakin tidak bisa diterka.
Pedih ku saat merasa indah, semua hilang dan usai... Bila cinta ini tak nyata, jangan engkau beri harapan... Sudah cukup kini kusadari, terlalu cepat jatuhkan hati...
Keenan memainkan cincin yang melingkar di jari besarnya. "Aku tahu ini akan menjadi bencana... Tapi, aku tidak ingin melepaskannya. Farah Lee..."
Keenan bangkit menyudahi sesi merenungnya. Dia sudah merindukan gadis kecilnya, entah apa yang sedang gadisnya lakukan sekarang.
"Dimana Farah dan Ibuku?" tanya Keenan pada salah satu pelayan yang sedang merapikan meja makan.
"Oh, emm... Selamat malam Tuan! Nyonya besar sudah pulang, dan Nona Muda ada di kamarnya..." Jenny yang merupakan pelayan yang bertugas membersihkan meja makan selarut ini begitu senang tuannya bertanya padanya. Wajahnya tersipu menunduk, Keenan hanya mengenakan handuk kimono, jelas terlihat cetakan roti sobek beraneka ragam rasa di indra penglihatan Jenny.
"Apa ada yang bisa saya bantu, Tuan?" Jenny harus bisa mengambil kesempatan yang sangat jarang ini.
"Tidak, pergilah!" Keenan menghardik dan segera menuju kamar dimana kekasihnya berada.
'Cih, lihat saja Keenan... Sebentar lagi, aku yang akan mengendalikanmu!' batin Jenny merutuk setelah kepergian tuannya.
Ceklek!
Perlahan Keenan membuka pintu kamar Farah, walau Farah menguncinya pria itu dengan mudah memasukinya.
"Kamu sudah tidur, Baby?" Keenan mendekat dan berdecak kesal wanitanya tidur telungkup. Dengan perlahan Keenan membenarkan posisi tidur Farah. "Kamu menangis?" Keenan gelisah saat sudut mata Farah mengeluarkan air matanya.
Farah memang teramat sangat lelah, dia sudah tertidur pulas dan tidak terbangun saat Keenan memperbaiki posisi bahkan kini sudah mengganti seluruh pakaian gadisnya menggunakan piyama tidur yang sudah disiapkan ibunya di lemari wardrobe yang sudah dipenuhi pakaian Farah saat ini. Keenan juga kembali mengobati luka memar yang masih terlihat. Keenan sudah selesai dengan semuanya, dia bersiap memposisikan diri ikut tertidur di samping tubuh Farah. "Good night Baby, I love you... So much..."
--- To be continue ---
Credit of song : Merasa Indah by Tiara
__ADS_1