
[ Siang Reader TerSayang Aku Gak? Mohon maaf update tersendat ya, RL lagi kejar tayang wkwkwk... Terus ternyata banyak banget Typo yang berterbangan. Terima kasih ya sudah di maklum :) Othor sih udah ngerasa bener tapi ternyata enggak banget, hahaha semoga masih bisa diperbaiki dan dimuluskan lagi setelah end jadi kalian bisa banget baca ulang cek tanpa terganggu.
Terima kasih banyak dukungan para pembaca setia yang selalu beri othor semangat dalam update cerita super halu ini. Semoga terhibur dan terus dukung othor sampai akhir ya... Saranghaeyo... Murah rezeki, sehat terus dan bahagia serta bersyukur yang terpenting di setiap hari kalian semuanya yang selalu support othor dalam keadaan dan kejenuhan bacaan yang beginilah... Maklum ya, othor mah penulis kentang, jujurly gak bisa gombal yang gimana kali, gak bisa mendetail, ga pandai sastra, PUEBI saja gak jelas bener enggaknya. Semoga semua bisa di ambil hikmahnya, yang baiknya semoga bisa di ambil kesimpulan, yang buruknya tolong jangan di tiru bahkan jangan di bully ya hehehe...
Sekali lagi terima kasih banyak-banyak... Kalian terbaaaaik :) ]
⊶⊷⊶⊷⊶⊷⋆⊶⊷⊶⊷⊶
Ceklek...
Axcel memasuki kamar Farah, jam sudah menunjukan tengah malam. Pria itu memang sesekali tidur bersama dengan wanitanya tanpa ingin melecehkannya. Seperti biasa, saat menatap Farah hatinya sungguh nyeri. Sampai saat ini pengorbanannya selalu tidak ada harganya di depan Farah. Tapi dia tidak ingin menyerah, bukan tidak mampu tapi terlanjur. Dia terlanjur cinta mati pada wanitanya...
Axcel tersenyum dan bergegas menuju kamar mandi membersihkan diri mengganti pakaian formalnya dengan piyama tidurnya. Tak lama dia beranjak dan tidur di sebelah Farah memeluk erat wanitanya. Netra Farah terjaga setelah menyadari sentuhan Axcel.
"Cel?" panggil Farah.
"Kau belum tidur Sayang?" Axcel kembali membuka matanya menatap sendu wajah Farah yang cantik natural.
"Aku terbangun..." jawab Farah lirih tak kalah sendu.
"Aku dengar besok kamu akan pergi?"
"Hmm..." Farah membalikkan tubuhnya, membuat mereka kini berhadapan dengan jarak yang sudah sangat dekat.
"Boleh aku ikut?" rengek Axcel manja.
"Hehe..." Farah menggeleng dengan kekehan membuat Axcel merengut kecewa.
"Maaf Cel, aku tidak ingin membuat keluargaku berpikiran yang bukan-bukan." sahut Farah menjatuhkan kepala di dada bidang pria kedua penolong hidupnya.
"Berpikiran apa? Aku menyelamatkanmu, apa yang akan mereka pikirkan?" timpal Axcel tidak terima.
"Aku─" Entah alasan apa Farah tidak ingin mengekspose keberadaan Axcel, apalagi dia sudah membawa seorang anak kecil.
"Apa kamu takut mereka berpikir aku yang menjahatimu dan Keano─" Axcel menghentikan kata yang mulai terasa sulit keluar dari mulutnya.
"Tanpa aku beri tahu sekalipun, mereka akan segera mengetahui siapa ayah dari putraku!"
Axcel mengepalkan tangannya dengan perasaan emosi, dia mencium kening Farah mesra. "Baik-baik di sana ya, Kakek juga tidak membiarkanmu pergi sendirian. Cucu naganya keluar dari sarang tentu saja semua dalam kendalinya."
"Aku mengerti..." Farah mendongak dan tersenyum ke arah Axcel.
"Aku sedih Farah!" rengeknya.
"Cup... Cup... Cup" Farah seolah tengah menenangkan seorang anak kecil. "Sebelum pulang aku akan membuatkanmu kue bagaimana?" bujuk Farah mengusap lembut wajah Axcel.
"Aku ingin ini─" Axcel mengusap bibir Farah.
"Cel─"
"Why?!!" tekan Axcel setengah emosi. "Kamu selalu menggunakanku di saat gejala sakitmu kambuh! Di mana priamu saat kamu membutuhkannya HAH?!!"
"Maafkan aku..." Farah sudah menitikan air matanya.
"Maafku seluas samudra, bahkan seisi dunia Farah!"
Axcel menyapu buliran bening yang membasahi wajah Farah kemudian memeluk erat wanita pujaannya. "Tidurlah kembali, esok pasti akan jadi hari yang melelahkan."
***
__ADS_1
Kediaman Keluarga Besar Lee, Negara B.
"Ibu?" Keano kembali mengingatkan ibunya.
"Ah iya..." Farah kembali tersadar dari lamunannya.
Akhirnya dia sudah berada di tempat dia dilahirkan, Farah menekan dadanya kuat. Kaki dan tubuhnya seolah lemah seketika. Dia seperti tidak sanggup untuk keluar dari kendaraan dan mengunjungi keluarganya.
"Apa Ibu tidak ingin keluar? Jika iya, kita kembali saja ya Ibu..." seru Keano sendu menundukan wajahnya.
"T-Tidaak sayaang... Maafkan Ibu, Ibu baik-baik saja..." Farah menyadari kesalahannya.
Farah mengusap kepala putranya lembut. "Ibu hanya tengah berpikir bagaimana bagusnya agar mereka tidak terkejut berlebihan saat melihat keberadaan Ibu yang mereka anggap sudah mati. Terlebih Uncle Kecilmu memiliki penyakit jantung bawaan..."
Keano menggenggam tangan ibunya. "Tenang Ibu, Keano selalu di samping Ibu!"
DEG!!
Farah mengembangkan senyum haru dan bahagianya putranya adalah tersegalanya. Tak lama dia kembali menyelidik ke arah bangunan yang cukup di katakan besar di sebuah lahan yang cukup luas. Di negaranya, keluarga Lee adalah salah satu keluarga besar yang cukup berpengaruh sebelum kasus pembunuhan tuan Lee tentu saja. Farah menghirup banyak oksigen dan membuangnya perlahan.
"Ayo Sayang, kita temui Oma..." Farah membuka pintu limousin dan keluar menggandeng tangan mungil Keano.
Keano mengembangkan senyuman dan bersikap lebih manis saat ini di banding biasanya yang hampir mirip Keenan dingin.
"M-Maaf Nyo-nyaa..." Salah satu pelayan di kediaman segera mendatangi Nyonya Lee atau ibu Farah yang tengah duduk di tengah rumah dengan terus memandangi potret keluarganya yang masih lengkap berisikan suami dan putri tercintanya.
Pelayan itu mendatangi dengan raut wajah pucat bahkan tergagap saat mengutarakan kalimatnya. Hal itu langsung membuat nyonya Lee mengerutkan kening kebingungannya. "Ada apa bik?"
"A-anu Nyonya... Di depan ada tamu!" ujar si pelayan dengan wajah pucat dan suara yang terdengar sedikit ketakutan.
"Siapa?" Nyonya Lee bangkit, dan bersiap menuju ruang depan di mana tamu itu tertahan atau memang sengaja tidak langsung mendatanginya.
Si pelayan mengekor di belakang tubuh majikannya dengan takut-takut. Dengan segera nyonya Lee menuju ruang tamu dan─
Farah membalikkan tubuhnya perlahan dengan wajah yang sudah tidak bisa lagi menahan air matanya. "Ibuu..."
PRAAAAANG!!
Nyonya Lee menjatuhkan figura yang masih berada di tangannya. "F-farah..."
Bruukk!!
"IBUUU!!"
Farah segera berlari dan mendekati orang tua satu-satunya yang masih hidup di dunia ini.
"Faraah..." Nyonya Lee menjatuhkan air matanya segera dan mencoba menangkup wajah putrinya yang memang sudah lebih terlihat dewasa di banding terakhir kali mereka bertemu enam tahun yang lalu.
"Ibuu..."
Keduanya berpelukan erat dengan tubuh yang bergetar, tak lupa air mata kebahagiaan juga mengiringi pertemuan peratama mereka setelah beberapa tahun terpisah.
Drap... Drap... Drap...
"Ibuuuu ada apaa?!" terdengar suara pria yang berasal dari lantai atas dengan langkah terburu-buru menghampiri mereka.
"AAARRRGHHH HANTUUU!!" pekiknya langsung saat melihat Farah yang menatapnya saat ini.
Farah memutar kedua bola matanya kesal melihat tingkah adik semata wayangnya Daniel Lee.
__ADS_1
"HANTU BAJU MERAH!! FARAH LEE BANGKIT DARI KUBURR... IBU TENANG AKU AKAN MENGUSIRNYA DENGAN SHENFU!!"
Shenfu adalah kertas jimat berwarna kuning dengan tulisan dan gambar tertentu yang di percaya untuk mengusir hantu.
Keano tengah menutup mulut menahan tawanya, sedangkan ibunya hanya menggeleng kepala.
"BANGSAT KAU ADIK KURANG AJAR!!" pekik Farah berang menatap tajam Daniel. "Kau bilang aku hantu?" Farah bangkit dari tempatnya memapah ibunya untuk bangkit dan menyingkir dari pecahan figura.
"AARRGHH DIA MENGEJARKU IBU TOLOOONG!!"
PLEETAAAKK!!
"Aaarrrgghh!" pekik Daniel memegang kepalanya yang di jitak oleh tangan kakaknya.
"APA HANTU BISA MEMUKUL KEPALA BODOHMU INI HAH? Rasakaaan..." Farah mengunci leher kepala adiknya dan kembali menjitak kepalanya.
Nyonya Lee kembali mendekat memeluk keduanya. "Ibuu tahu, ibu sangat yakin kamu tidak mungkin mati!"
Keduanya menghentikan tingkah impulsif mereka, keduanya berubah dia.
"Ibu yakin, selama jasadmu tidak di temukan. Kamu pasti belum mati... Huhuu"
"Kakaaak?" Daniel menatap arah berkaca. "Kakaaaaaa... Akhirnya kamu tahu jalan pulang huaaaaa!!"
Daniel memeluk Farah dengan erat, ketiganya menangis berjamaah.
Keano masih berdiri disana memperhatikan kebersamaan keluarga kandung ibunya. Tak lama dia berusaha menyadarkan ketiganya akan keberadaannya. "EEHMM!"
"Eh?" Daniel menyadari ada anak kecil di sana. "HEH ANAK TUYUL SIAPA ITU?!" pekiknya terkejut dengan keberadan Keano.
PLEETAAAKK!!
"Aaarrghhh KAKAAAK SAKIT!!" Protes Daniel kembali memegang kepalanya.
"Farah? Siapa dia?" Nyonya Lee menatap serius ke arah Keano kemudian beralih menatap Farah tajam.
"Keano, sini sayang... Beri salam sama oma dan unclemu." Farah menjulurkan tangan mengisyaratkan Keano untuk mendekatinya.
"OMA? UNCLE? LU HAMIL GAK ADA BAPAKNYA KOK MAGIC?!" pekik Daniel tidak pernah kapok mengusili kakaknya.
"DANIEL LEE BASTARD!!" Farah tak mau kalah mengumpat adiknya yang ber-Akhlaq minus itu.
"Keano?" Nyonya Lee bersimpuh saat Keano mendekatinya. "Kamu cucu oma?" tanya nyonya Lee bergetar.
"Iya Oma... Aku putra dari Ibu Farah Lee, namaku Keano Lee..." sapa Keano ramah dan menggemaskan yang membuatnya geli sendiri.
Dengan cepat nyonya Lee memeluk erat Keano sebagai sambutan pertemuan pertama mereka.
"Wait a minute... Mengapa aku merasa tidak asing dengan wajahnya?" Daniel tengah seperti seorang detektif yang menyelidiki Keano.
"Ya, kamu terlihat seperti Tuan Keenan saat masih bocil!" serunya yakin membuat wajah nyonya Lee pucat berbalik menatap Farah.
Farah menjadi gugup dan berusaha menyangkal. "Lu sotoy bener dah, Kakak pas bocil lu mana pernah liat."
"Ya dia lah itu, muka dingin datar beserta songong tiada duanya!"
Farah menutup matanya erat, memang benar 90% wajah putranya copy paste bapaknya. Keano justru tidak senang atas pernyataan uncle kecilnya.
"Farah? Jawab ibu dengan jujur apa kamu pergi dan menghilang karena hamil putra dari Tuan Keenan?"
__ADS_1
DEEG!!
---To be continued---