
[ Btw entah mengapa othor pengen skip bab ini, ada yang narok bawang soalnya... Yang ikut merasa sedih tulis di komentaaar ya... Othor di sangka gila ama ayang nangis gak jelas 𤣠]
"Apa kamu senang bertemu dengan Papa Kandungmu?"
"Hmm..."
Tuan Akeno mengajak Keano berbincang di halaman belakang setelah kepergian papa kecilnya. Keano menundukan kepalanya dan memainkan kedua kaki di bawah sana.
"Ternyata aku dan Ibu salah mengira." timpal Keano cepat. "Anak kecil dan wanita yang kami lihat sebelumnya bukan keluarga barunya, melainkan keponakan dan pengasuhnya." terang Keano malu.
"Haha..." Tuan Akeno tertawa melihat tingkah cicitnya.
"Akuā" Keano menjeda kalimatnya menatap nanar kedepan. "Aku tidak tahu, ada perasaan lain saat aku bersamanya. Perasaan yang tidak sama saat aku bersama Papa Kecil." Keano berbalik menatap kakeknya sendu.
"Jadi kamu ingin bersamanya?"
Keano kembali membuang wajahnya, dia sendiri bingung atas hasil akhir yang tidak seperti prediksi sebelumnya. Mereka berniat memulai kehidupan baru di negara B, hanya saja pertemuannya dengan Keenan membuat Keano menjadi ragu.
"Apa kamu akan berpikir Kakek jahat pada kalian?" tanya tuan Akeno membuyarkan lamunan Keano.
"Mengapa Kakek berpikir demikian?" hardik Keano tidak suka dengan pertanyaan itu. "Kakek sangat mengenal aku dan Ibu, bukan?" Keano menatap dengan mata berkaca-kaca. "Kami tidak sampai hati memiliki pemikiran sempit seperti itu. Jika bukan Kakek dan Papa Kecil mungkin kami tidak akan hidup sampai detik ini... Hiks" Keano kecil mengusap air mata dengan lengannya. Walau bagaimanapun dia tetap anak kecil yang akan bersikap seperti anak kecil pada umumnya.
"Maafkan Kakek..." Tuan Akeno segera merangkul cicit kesayangannya. "Kakek hanya tidak ingin membuat hubungan kita menjadi tidak nyaman. Kamu tahu sendiri bagaimana sifat ayahmu, hmm?"
Keano tidak bisa berkata-kata, emosi dan air matanya tumpah setelah dia berusaha mati-matian menahannya selama ini.
"Aku sayang Kakek, aku sayang Papa Kecil, aku bahagia tinggal bersama kalian...," ucap Keano di sela tangisnya. "Tapi, aku juga ingin merasakan hidup bersama Papa Kandungku... Apakah aku diperbolehkan melakukannya, Kek?" tanya Keano parau.
Tuan Akeno sendiri tidak rela jika cicitnya meninggalkan dirinya setelah ini. Pria tua itu sudah sangat menyayangi Keano seperti bagian dari keluarga inti. "Bagaimana jika kita lihat kesungguhan Papamu, hmm?"
***
__ADS_1
Axcel telah kembali ke kediaman Luciano, dia datang dengan tangan kosong sekaligus nyeri didadanya.
"Papaa!!" Keano memekik girang.
Kesedihan di raut wajah Axcel menguap setelah melihat putra sambungnya. Axcel bersimpuh dan memeluk Keano erat setelah dengan cepat Keano menghambur kearahnya.
"Mana Ibu, Pah?" Keano menyelidik sekitar.
"Ibumu...," Axcel tercekat, kata dalam tenggorokannya tidak bisa ia keluarkan.
Keano berubah sendu, dia mengerti apa yang tengah terjadi.
"Apa kamu ingin menyusul Ibumu?" tanya Axcel sesak.
Keano masih menggenggam tangan papa kecilnya. Hatinya ikut tidak nyaman, selama ini mereka hidup bertiga. Apalagi Axcel, pria itu lah yang berperan sebagai suami dan ayah pengganti selama ini.
Axcel lah yang ada di samping Farah saat wanita itu melahirkan putranya. Axcel juga yang membantu Farah membesarkan Keano. Axcel menemani tumbuh kembang pria kecilnya. Axcel juga yang mengajari berbagai hal di hidup Keano. Axcel ingat bagaimana hatinya begitu membuncah saat Keano kecil pertama kali bisa mengeluarkan kata "Papa" memanggil dirinya seolah nyata di tujukan sebagai ayah kandungnya.
Tubuh Axcel bergetar, dia kembali memeluk Keano dengan eratnya. "Bolehkah Papa merasa tidak rela kehilangan kalian?" tutur Axcel serak.
Keano ikut larut dan terisak bersama, tuan Akeno memperhatikan keduanya. Beliau sendiri ikut merasakan takut kehilangan. Suara pria kecil yang akan memnuhi ruangan kediamannya, suara pekikan dan tangisan Farah yang sudah terbiasa di telinga seluruh keluarga Lunciano. Kini mereka bersiap untuk kehilangan semua hal yang sudah mereka lewati selama lima tahun lamanya.
"Kea no ti dak ma u Pa pa tinggalkan Ke ano," tutur Keano terbata dihadapan Axcel yang sudah menangis dengan derasnya.
Axcel menggelengkan kepala, tidak sanggup rasanya. 'Aku tidak bisa... Jika aku terus di samping kalian. Aku takut... Aku takut untuk bersikap egois dan memiliki kalian seutuhnya...'
"Ti dak... Pa pa ha rus jan ji... Pa pa ma sih ma u me li hat Kea no... Huhu"
Keduanya kembali saling berpelukan erat, selain karena alasan pribadinya. Hal yang paling utama adalah belum tentu Keenan akan mengijinkan mereka saling bertemu kedepannya.
"Dengar Keano, Pangeran Kecil Papa..," Axcel melonggarkan pelukan keduanya. Dia berusaha kuat menerima kenyataan, bahwa sejatinya dia selalu berperan menjadi Sang Pengganti bagi orang yang sangat ia cintai di dunia ini.
__ADS_1
"Rumahku akan selalu terbuka untuk kalian." Bulir bening itu kembali menyeruak. Tidak ada kata yang bisa menjelaskan betapa hancur perasaannya selain air mata yang sedari tadi tidak bisa ia tahan.
"Terima kasih Papa," Keano kembali memeluk erat papa kecilnya. Pria pertama yang dia sayangi seperti ayah kandungnya. Dia bahkan pernah marah pada Tuhannya, mengapa bukan papa kecil yang benar-benar menjadi ayah kandungnya.
"Papa, Ibu pernah berkata padaku... Semakin lama kamu hidup, semakin kamu menyadari bahwa kenyataan hanya penuh dengan rasa sakit dan penderitaan." Keano menghela nafas menjeda kalimat yang terdengar seperti kalimat yang berasal dari pemikiran seseorang yang jauh lebih dewasa dari ukuran tubuhnya.
"Tetapi mengetahui bahwa rasa sakit juga memungkinkan orang untuk menjadi baik. Rasa sakitĀ itu juga memungkinkan orang untuk tumbuh... Bagaimana kita tumbuh tentu tergantung dari jalan yang kita pilih. Semua selalu tentang dua pilihan," Keano menatap sendu papa kecilnya dan mengusap air mata yang kembali membasahi wajah Axcel.
"Ibu bilang, kehidupan tidak akan pernah mudah. Namun, kita bisa memilih mana yang mau kita perjuangkan."
"Jodoh bukankah berasal dari tulang rusuk kita? Mungkin saja Ibu memang bukan berasal dari tulang rusuk Papa."
"Ppfft!" Axcel tiba-tiba menahan tawanya. Di tengah kesedihan atmosfer mereka saat ini, putra kecilnya menyelipkan kata yang terdengar seperti lawakan di telinga Axcel. "Kau ini!" Axcel mengacak rambut Keano dan ajaibnya air mata itu berhenti keluar.
"Pah, aku selalu berdoa... Bahwa jodoh Papa adalah wanita yang jauh lebih baik dari Ibu, because you deserve it." puji Keano menenangkan hati papa kecilnya.
"Haha," Axcel tertawa sejenak. "Seperti yang kamu ketahui Nak, Ibumu adalah satu-satunya wanita yang akan selalu aku cintai seumur hidupku." Axcel mengusap wajah Keano berusah tidak lagi menangis di depan pria kecilnya. "Dia bahagia, aku pun demikian..."
Axcel tidak menyukai keadaan canggung serta sedih ini tak berkesudahan. Dia berinisiatif menggelitik pinggang Keano. Seketika tawa Keano pecah, kembali memenuhi ruangan dengan tawa kecerian Keano membuat kesedihan sebelumnya lenyap begitu saja.
"Baiklah Pangeran Kecilku, mumpung Ibumu tidak di rumah kita bebas Push Rank sampai dini hari!!" ajak Axcel dengan semangat mengepalkan tangan ke atas.
"LET'S GOO!!" Keano tak kalah semangat mengangkat kedua tangannya.
Dengan cepat Axcel mengangkat tubuh Keano dan memutarnya dengan raut wajah bahagianya.
"Aahahahahha... Papaaa... Turunkan akuu... Pusingg!"
Di sisi lain tuan Akeno melebarkan senyumannya. "Aku sungguh beruntung, bisa mengarahkan orang untuk berbuat kebaikan."
---To be continued---
__ADS_1