Gadis Kecil Milik Mr. Mafia

Gadis Kecil Milik Mr. Mafia
EPS 66 # Dan terjadi lagi...


__ADS_3

Farah segera tersadar, dia bergegas menghapus semua histori pesan singkat di aplikasi chat atau apapun yang berhubungan dengan pria lain, terlebih pria yang bernama Axcel Luciano adalah orang yang memiliki track record buruk di mata Keenan.


Farah mengulum senyuman pahitnya, selalu saja seperti ini. Disaat terpuruk, Axcel lah yang selalu tiba-tiba datang membuat mood Farah kembali seperti sediakala. Farah bangkit menyelesaikan membersihkan dirinya, akan sangat berbahaya jika Keenan mengetahui dirinya berendam terlalu lama. Baru saja dia memikirkan prianya, Farah dikejutkan dengan keberadaan Keenan yang sudah berada tepat di hadapannya. Wajah Farah sedikit pucat saat melihat Keenan. "S-sayaang?"


Farah menelan saliva dengan tubuh yang mendadak kaku, dia takut Keenan sudah mengetahui apa yang dilakukannya selama hampir satu jam di kamar mandi. Farah harus berfikir cepat agar dia tidak membangunkan raja alam baka saat sekarang.


"Apa aku membangunkan Kakak?" Farah segera mengambil sikap. Dia menggelayut manja di tangan kekasihnya. Raut wajah Keenan sudah seperti ekspresi algojo yang bersiap mengeksekusi targetnya.


"Tidak biasanya kamu mandi setelah kita bercinta, Baby?" Keenan menyusupkan salah satu tangan di belakang leher Farah.


Tanpa menunggu lama Keenan menyesap leher jenjang Farah. Pria itu tergoda dengan harum semerbak yang keluar dari tubuh molek kekasihnya.


"Aarrgghh, ssshh... Sayaaang!" Farah melenguh pelan, dia segera menekan kedua tangannya di bahu Keenan. "Badanku lengkeeet, aku gak bisa ti-duur... Arrghh!" Dengan susah payah disela gairahnya yang mulai dipermainkan Keenan, Farah mencoba menghentikan kekasihnya.


"Sayaaang... Sudah yaaa..." Farah kembali merengek saat tangan Keenan kembali melakukan operasi gerilya di seluruh permukaan tubuhnya. Apalagi di wilayah bukit kembarnya yang kembali menantang.


"Sudah katamu? Apa kamu sudah tidak menginginkanku lagi Baby?!"


Ingin rasanya Farah bisa melawan Keenan saat ini juga. Tapi, tetap saja dia tak ubahnya budak yang harus menuruti apa kata tuannya. "Apa belum cukup yang tadi?" Farah tidak ingin menyerah, dia mencoba mendorong tubuh Keenan. "Aku lelah Sayaaang!"


Farah menunjukan raut wajah memelasnya, sayangnya suasana hati Keenan sedang tidak senang. Bisa-bisanya pria itu terbangun hanya karena mendengar tawa kekasihnya yang berada di kamar mandi bukan di samping dirinya.


Keenan yang memiliki sifat posesif sudah berpikiran negatif, inginnya dia langsung menghukum kekasihnya. Namun, sejenak dia memiliki ide gila lainnya. "Jadi, kamu sudah menyerah secepat itu?"


Keenan kembali memojokkan tubuh gadisnya hingga batas pintu kamar mandi. Sorot mata tajamnya membuat hati Farah mencelos. "Ini adalah hukuman karena kamu tidak mau melayaniku! Ingat janjimu Farah, kamu akan selalu memenuhi hak biologisku, kapanpun!" Keenan mengancam gadisnya berang.


"Kamu pikir mudah menjadi wanitaku? Heh..." Keenan mencengkram wajah Farah.


Hati gadis kecil itu kembali tersayat nyeri, bagi Keenan dirinya tak ubahnya sekedar mainan penghangat ranjang. Farah terbelalak, dia menjerit namun dengan sigap Keenan membungkam mulut gadisnya dengan bibirnya. Keenan menggagahi wanitanya dengan posisi berdiri, salah satu kaki Farah sudah di angkat dan diletakkan di bahunya. Farah yang tengah kecewa semakin tidak karuan rasanya. Tak hanya perih di dalam hatinya, fisiknya juga mengalami kenaasan yang serupa.


Keesokan harinya...


"Uughhh..." Farah terbangun dengan tubuh yang lemah, bahkan dia berharap pagi tidak pernah datang membuyarkan istirahatnya. "Sayaaang..."


Farah mencoba memanggil pria brengseknya. Farah menyapu ranjang besar dengan tangan, hasilnya nihil. Dia tersenyum getir, prianya sudah tidak ada disana. Tentu saja, jika tidak maka seluruh keluarga besar Kaviandra bisa saja mengetahui skandal mereka.


Dengan segala upaya Farah bangkit dari tidurnya, tubuhnya terasa kembali seperti kejatuhan asteroid berukuran raksasa kali ini. Tidak hanya diarea pusat tubuhnya dia merasakan nyeri. Tapi, secara keseluruhan!


"Tidak ada lagi pria yang brutal di ranjang selain Si Brengsek Keenan sepertinya!!" maki Farah sarkas tidak peduli jika Keenan melihat kamera pengawas kamarnya. Dengan susah payah dan langkah yang tertatih Farah menuju kamar mandi dan membersihkan diri.


Farah menatap pantulan dirinya di hadapan cermin kamar mandi. Senyum culasnya jelas terpetakan di wajah sayunya. Keenan meninggalkan banyak jejak cinta serta kebrutalannya. Tak hanya itu, monster itu bahkan membuat luka gigitan di area bukit kembarnya. Sekilas Farah sempat berpikir. "Jangan-jangan Keenan adalah Raja Iblis yang turun ke Bumi!"

__ADS_1


"Hey, youuu!" Farah menunjuk dirinya sendiri. "Mengapa kamu begitu mencintai pria seperti monster itu!" Farah menutup matanya erat, air matanya kembali mengalir begitu saja. "Yah, aku tahu... Cinta ama bego itu jaraknya tiviiis banget!"


Farah membenamkan diri sebelum menyelesaikan ritual membersihkan dirinya. Dia lupa waktu, akan sangat berbahaya jika bibinya sampai memanggil dirinya di kamar sekarang ini.


Buru-buru Farah mengenakan pakaian tertutupnya. Meskipun Farah sudah menggunakan sweater turtleneck, tanda merah itu masih terlihat. Dengan cepat Farah mengoleskan foundation dan membuatnya terlihat tidak ada. "Dah siap!"


Farah mengembangkan senyuman, walau harinya semakin suram, dia tidak boleh menyerah. Dia bergegas menuju meja makan dengan sisa tenaga yang ia punya. Menggerakkan kedua kakinya membuat area pusat tubuhnya terasa menyakitkan.


"Pagiii!"


Kedua orang tua angkat Farah membalikkan wajah menatap asal suara dengan sambutan yang tak kalah semangat.


"Pagi Sayaaang... Kok tumben kamu siang... Semalam kamu begadang ya?" sapa nyonya Lyn menyambut kedatangan anak angkatnya.


"Enggak sih Bi, cuma aku tadi siapin apa-apa saja yang aku butuhin buat hari terakhir di kampus!" Farah menarik kursinya, sepertinya dia tidak melihat batang hidung kakak sepupunya. "Loh, dimana Kakak?"


"Ya, kamu kan tahu Kakakmu kadang kalau ada urusan mendadak buru-buru pergi!" Giliran tuan Kaviandra menjawab pertanyaan putri sahabat dekatnya.


"Owh..." Farah berubah sendu membuat nyonya Lyn mengerutkan keningnya.


"Owh iya, Bibi udah tanya sebelum Kakak mu itu pergi tadi. Dia bilang, kamu boleh kok tinggal di Condo seperti sebelumnya!"


"Benar Farah, lagi pula disana ada Paman Tang. Jadi, Paman serta Bibi merasa tenang meninggalkan kamu keluar dari kediaman ini." Tuan Kaviandra segera memberikan penjelasan mendahului istrinya.


"Kok kamu kayak gak suka gitu, Sayang?" Nyonya Lyn mendadak tidak nyaman.


Farah terdiam sejenak. 'Seandainya kalian tahu, lebih berbahaya menaruhku didekat putra kebanggaan kalian dibanding disini...'


"Huh..." Farah mendengus sejenak. "Kenapa harus sama Kakak, nanti aku jadi kayak wajib militer kalau tinggal disanaaa... Huaaa..." Farah berpura-pura tidak setuju dengan rengekan yang dibuat-buat. Kedua orang tua angkatnya justru terbahak dengan respon menggemaskan putri angkat mereka.


Mereka bersikukuh membuat Farah tinggal di Condo, alasan utamanya adalah membuat hubungan Keenan dan Farah kembali membaik setelah sebelumnya Keenan menjaga jarak dengan Farah selama hampir enam tahun kebelakang.


***


Universitas S, ruang kelas Farah.


Farah sudah berada di kelasnya. Dia diantar oleh pengurus Chen, kembali seperti biasanya. Gadis itu mendadak tidak bersemangat. Hari ini sesuai jadwal pembelajaran sebelumnya, kelas Farah akan menerima ujian terakhir sebelum makasiswa/i akan disibukan dengan proses magang mereka.


"Lu muka kusut amat? Lupa ngapalin ya?" Ceilllyn mendekati meja keduanya. Gadis itu hampir saja telat.


"Entahlah..." Sahut Farah masih tidak berselera.

__ADS_1


Tak berselang lama disusul Meishya yang menghampiri sahabatnya. "Huh, untung gak telat!"


Dosen Victor masuk ke ruangan secara tiba-tiba dan di susul Axcel di belakangnya. Wajahnya berseri segera mendekati Farah.


"Morniiing Ayangnya akuuu~" sapa Axcel duduk di samping meja Farah seperti biasanya.


"Tumben lu siang? Gadang kan?!" Farah seolah peduli membuat perasaan Axcel semakin melambung tinggi.


'Farah perhatian padaku?'


"Ini salah Ayang Farah yang ninggalin gak balas chat gue lagi semalam!"


Farah membulatkan matanya, kedua temannya saling pandang. "Shut up!"


"Yang di belakang jika kalian terus ribut bisa keluar dan tidak perlu melakukan ujian!!" tukas dosen Victor membuat Farah berbalik dengan wajah pucatnya.


"Awaaas ya Axcel!!" umpat Farah kesal, dan kembali ke posisinya.


"Hihi... Makin sayaaang aja ama Ayang deeeh!"


Bruuuk!


"Berisiiik!" Farah dan kedua temannya kompak memukul tubuh Axcel dengan buku mereka. Tapi, Axcel justru tengah berbunga-bunga. Dosen Victor menghela nafas berat, dia begitu pasrah akan kelakuan anak muridnya yang memang terkesan tidak bisa diatur itu. Tak lama, dia segera membagikan kertas ujian. Semua auto mengheningkan cipta.


Waktu seperti ini yang digunakan dosen Victor memperhatikan gadis kecil pujaan hatinya. Dia kembali bermonolog dalam benaknya. 'Farah, aku tahu kemungkinan aku bisa mendapatkanmu nyaris nol persen. Namun, hati ini sulit sekali berpaling darimu...'


Axcel tidak sengaja memperhatikan sekilas tingkah dosennya. Tiba-tiba saja jiwa cemburunya keluar begitu saja. Axcel berbalik menatap gadisnya yang tengah serius mengerjakan soal.


"Sssttt, Ayang!"


Farah menoleh dan mendelik, dia mengisyaratkan Axcel untuk tidak macam-macam sekarang. Axcel menahan tawa melihat respon gadisnya.


"Nanti pulang aku antar ya?" bisik Axcel bertanya di waktu yang tidak tepat.


Farah mengerutkan kening dengan pertanyaan Axcel yang ya sudahlah... Giliran dosen Victor tidak senang dengan kelakuan Axcel. Bukan dia tidak tahu rumor kedekatan keduanya. Dosen itu cemburu dan kembali mempersulit keduanya.


"Ehm, yang belakang jika masih ribut keluar sekarang juga! Saya akan mengambil kertas ujian kalian..."


Farah menatap dosen Victor dengan membuka mulut perlahan, dia bergantian menatap Axcel dan menunjukkan jari tengah pada sahabatnya. Axcel cekikikan melihat ekspresi ketakutan Farah, setelahnya kelas kembali hening.


--- to be continued ---

__ADS_1


__ADS_2