Gadis Kecil Milik Mr. Mafia

Gadis Kecil Milik Mr. Mafia
EPS 54 # Kebangkitan Kegelapan


__ADS_3

Universitas S, 10.00 AM.


Di pelataran area kedatangan di salah satu universitas terkenal di kota S, Keenan dan rombongan anak buahnya sudah berada disana. Dengan limousin penanda keluarga besar Kaviandra membuat orang-orang yang melihat kedatangan mereka terpaku sejenak. Sam membukakan pintu untuk tuannya, Keenan keluar dengan aura yang kurang bersahabat.


Keenan berjalan tegap dengan angkuh dan pandangan lurus kedepan. Sam berdiri di belakangnya persis, disusul oleh kedua rekan Sam yaitu Ben dan Ken di belakang. Beberapa orang sudah saling melempar bisikan mereka. Apalagi para gadis belia yang melihat Keenan bak idol bias mereka.


"Aaark, siapa pria tampan itu?!" pekik salah satu mahasiswa yang kebetulan baru keluar dari ruang kelas. Matanya berbinar saat pria tampan dengan pakaian serba hitam berjalan bak penguasa. "Duh, vibesnya udah ngalahin oppa korea!!" timpal yang lain sama berbinarnya mengagumi sosok Keenan.


"T-tuan Keenan... Anda─"


Keenan menaikan sudut bibirnya, ternyata respon dari petinggi kampus cukup cepat dengan kedatangannya yang tanpa ada angin dan hujan. Pria paruh baya itu menyeka keringat dinginnya, dengan hati-hati dia harus menyambut salah satu penyumbang dana terbesar di Universitas S.


"Sungguh kehormatan besar kampus kami kedatangan orang besar seperti anda. M-maafkan kami kurang sopan dalam menyambut kedatangan anda!" Petinggi kampus menundukkan tubuhnya sopan menyapa Keenan.


"Sudah tahu tidak sopan kamu menghentikan langkahku!" Keenan melewati dekan yang mencoba menyambutnya. Bertambah berkeringatlah pria paruhbaya di depannya saat Keenan dengan arogan melewatinya.


"M-maafkan ketidaksopanan saya, Tuan!" Dengan membungkukkan tubuhnya pria itu mengekor di belakang Keenan.


Kebetulan sekali kelas Farah telah selesai belajar mengajar yang hanya berisi satu mata kuliah itu. Ceillyn dan Meishya bersiap untuk mengisi perut mereka sebelum kelas lain di mulai dua jam kedepan.


"Rame apaan ini?" Ceillyn memperhatikan beberapa kerumunan orang yang begitu penasaran pada sosok pria misterius yang begitu disegani dekan kampus.


"Wiih, siapa tuh?" Meishya mendelik dan memperhatikan kedatangan Keenan. "Kek pernah lihat dimana ya?" Gadis itu seolah tengah berpikir, rasanya wajah pria itu tidak asing.


"Keenan Kaviandra!" Kedua gadis itu memekik lirih berbarengan.


Keduanya kembali dibuat takjub saat Axcel melewati mereka datar. Pria itu tahu bahwa gadisnya tidak masuk, dia tidak ingin berlama-lama di kampus jika Farah tidak bersamanya.


"Hei Cel!" pekik Ceillyn memanggil rekannya.


Axcel mengabaikan panggilan gadis satu gengnya, begitulah jika tidak ada Farah dia mana mau peduli.


"Oi!" Meishya memekik sekaligus menahan bahu pria arogan di depannya. "You ini bikin rusuh aja!"


"Gue mau tanya, apa berita di SNet itu beneran elu ama Farah?" Meishya kembali menodong pertanyaan pada pria yang hanya bertingkah jika ada sahabatnya saja. "Farah absen sakit gara-gara you!"


DEG!


"Apa kamu bilang?!" Axcel membulatkan matanya.


"Jangan bilang kamu gak baca berita kampus? Berita heboh kasus asusila kamu dan Farah!"


Wajah Axcel berubah pucat, dia memang tidak peduli pada hal seperti itu. Dia segera merogoh saku celana dan memeriksa ponselnya. Benar saja, ada orang lain lagi yang ingin mencelakai gadisnya. "Shiiit!"

__ADS_1


Axcel mencengkram erat ponselnya, kedua temannya saling pandang. "Sepertinya kalian ada something, sampe kita gak dilibatin gini! Gue pikir kita beneran sahabatan!!" Meishya merasa kesal, sepertinya eksistensinya tidak pernah dianggap seperti teman bagi keduanya.


Axcel menyeringai, sejujurnya dia senang dengan berita mengenai dirinya dan Farah. Dengan begitu, orang akan mengetahui dia dan Farah memiliki hubungan yang sangat dekat. Hanya saja, cara ini jelas salah. Axcel kembali tertarik dengan berita lainnya yang tak kalah menggemparkan. "Sugar Baby?!"


Mata Axcel membulat, darahnya mendidih saat melihat Farah dalam pelukan seorang pria dewasa. Axcel memperhatikan lekat foto yang diambil oleh pihak anonim penyebar fitnah itu. Hatinya semakin panas saat melihat jaketnya terhempas di rumput berganti dengan jas si pria. Axcel semakin mendelik menatap tampilan si pria yang sudah begitu berani menggendong gadisnya. "Jam tangan ini..."


"Lu tau siapa cowok ini?" Ceillyn menanggapi gumaman lirih temannya.


"Logo ini hanya dimiliki oleh satu-satunya perusahaan teknologi di Negara kita!" Axcel menutup portal berita dan menaruhnya kembali di saku celananya. "Dah lah, gue balik aja... Aku yakin itu keluarga Kaviandra..."


Ceillyn dan Meishya menelan ludah saling pandang, sepertinya akan ada kejadian buruk saat ini.


Sedangkan di tempat Keenan, dirinya sudah berada di lorong penghubung menuju ruangan rektor. Beberapa mahasiswa dan mahasiswi berkerumun ingin ikut menyaksikan siapa gerangan. Belum pernah mereka melihat ada orang yang datang ke kampus dengan protokol keamanan seketat saat ini. Para anak buah Keenan menjaga area agar tidak ada seorang pun yang menghalangi jalan tuannya.


"Tuan Keenan!" Rektor kampus yang memang sudah mendengar kedatangan Keenan segera menyambut di depan lorong sebelum ruangannya.


Setelah mengetahui nama yang di sebutkan oleh rektor kampus, beberapa mahasiswa dan mahasiswi saling bertatapan dengan raut wajah kebingungan. "Maksudnya Keenan Kaviandra?"


"Ada berapa nama Keenan yang sampai Rektor kita tunduk menyambut kedatangannya?"


Semua bisikan itu membuat Keenan semakin besar kepala. Dengan dingin Keenan menyambut uluran tangan sang rektor. Rektor besar itu mempersilahkan Keenan berjalan lebih dulu menuju ruangannya. 'Ada masalah apa sampai kampus kedatangan orang paling berpengaruh ini? Aku merasakan aura tidak enak sekarang!'


"Silahkan, Tuan!"


Beberapa anak buah Keenan kembali memastikan ruangan aman, setelahnya Keenan kembali berjalan angkuh menuju kursi kebesaran milik sang rektor. Anak buah lain membersihkan kursi dan mempersilahkannya untuk tuannya gunakan.


Sam menghidupkan rokok yang ada di sudut bibir Keenan, pria angkuh itu benar-benar terlihat bak raja, tepatnya raja iblis!


"Pppuuffh!" Keenan menghembuskan kepulan asap rokoknya dengan seringai mengejeknya. "Aku tidak percaya jika seorang Rektor salah satu kampus ternama di Negara ini, tidak mengetahui isu yang terjadi di dalam kampusnya sendiri!" Keenan kembali menyesap rokoknya dan menatap tajam kedua pria paruh baya yang sudah bergetar ketakutan.


Keenan bangkit, dia berjalan mendekat kearah keduanya. Keenan kembali menyesap kuat rokoknya dan menghembuskan kepulan asap tebal tepat di wajah pria yang patutnya di hormati disana.


"Uuhhuuukk!" Keduanya batuk bersama, aroma khas tembakau milik Keenan tentu bukan sembarang rokok.


"Kemarin pagi, adikku mengalami insiden yang memalukan!" Keenan berujar dengan masih menatap tajam ke arah pria yang sudah pucat pasi. "Pagi ini, aku sendiri yang membaca rumor buruknya! Heh..." Keenan terkekeh lirih dan kembali menuju kursinya.


Wajah kedua orang yang jadi petinggi kampus semakin memucat, tubuh mereka bergetar tidak karuan. Rasanya, tulang mereka sudah rapuh tidak lagi mampu menopang tubuh masing-masing. Apa yang dikatakan Keenan, sudah jelas mereka semua menyinggung keluarga besar yang tidak boleh disinggung sama sekali. Keduanya kesulitan mengeluarkan suara, esofagus mereka seolah dijejal bola besi dingin yang membekukan tenggorokan.


"Apa kalian lupa, kampus ini bisa sebesar sekarang ada jasa KTech dan KGroup di dalamnya." Keenan baru memulai permainannya. "Anda juga jangan pura-pura hilang ingatan, siapa yang memberikan ide untuk memilih anda sebagai rektor selama dua periode berturut-turut!"


"Lalu, ini kah balasannya? Adikku menangis dan tidak ingin pergi kuliah!"


"Dia bahkan hampir di lecehkan! Kampus macam apa ini!!"

__ADS_1


Braaak!


Dengan dorongan magnetik di tangan Keenan, pria itu meruntuhkan seluruh lukisan yang ada di dinding ruangan. Keenan sudah begitu lama menahan emosinya, dia kembali mengingat tampilan adiknya yang berantakan dengan pakaian yang robek dan bekas tanda cinta yang Leo sematkan di leher gadisnya. Ingin rasanya dia menghancurkan Universitas S saat ini juga.


Semua orang terdiam, bahkan kedua orang yang di maki oleh Keenan sudah luruh sepenuhnya di lantai. Mereka begitu ketakutan luar biasa. Bagaimana bisa seluruh lukisan terjatuh hanya dengan satu gerakan tangan seseorang yang sedang duduk di kursinya.


"A-ampun Tuan, kami sungguh teledor!" Keduanya bersimpuh memohon ampun di lantai.


"Ck, nyawa kalian saja tidak akan pernah bisa menggantikan hancurnya mental adik kesayanganku!"


Braaak! Bruuuk!


Tak lama Ben dan Ken sudah berhasil membawa siapa yang bertugas mengirimkan rumor di jagat media sosial.


"Aarrghh!"


Kedua pria paruh baya itu terkejut dan bangkit menatap apa yang sedang terjadi di hadapan mereka saat ini.


"Lapor Tuan, mereka adalah pengurus divisi sosial media di kampus ini!" Ben melapor dan menundukkan tubuhnya. Keenan menyeringai, dan bangkit dari kursinya.


"Mereka mengaku, bahwa mereka yang memposting rumor buruk Nona Muda!"


Seluruh ruangan sudah mengeluarkan aura kegelapan yang pekat. Para pelaku semakin tercekat, mereka tidak pernah berpikir bahwa masalah yang mereka ciptakan akan sebesar ini.


"Ck, anak babi seperti kalian ini, apa pantas menyandang gelar mahasiswa!"


"Aaaarrrkk!"


Salah satu pelaku menjerit kencang saat Keenan menyulut keningnya dengan rokok yang menyala terang. Rektor dan ketiga lainnya meringis, wajah mereka semakin pucat. Cepat atau lambat mungkin saja tiba giliran mereka yang akan mendapatkan siksaan dari Mr. K, orang yang paling kejam dan di takuti di negara S.


"Kamu sungguh berani memprovokasi keluarga besar Kaviandra!"


"Aaarrkkk!"


Keenan mencekik si pria dengan beringas, wajah Keenan berubah sepenuhnya. Tak lama Keenan menghempas tubuh si pria di lantai begitu keras sampai terdengar beberapa tulang yang patah serentak.


Kraaak!


"Aarrk!"


Tik!


Keenan menjentikkan jarinya, seluruh anak buahnya mengerti. Mereka menyeret kedua pelaku ketengah lapangan. "Jika kalian tidak aku beri pelajaran hari ini, apa mungkin kalian masih meragukan Farah Lee menjadi bagian dari keluarga Kaviandra?"

__ADS_1


Rektor dan dekan terhenyak, tak berapa lama keduanya pingsan di tempat. "Cih, mengapa aku percayakan uangku pada pria lemah seperti mereka!"


--- to be continue ---


__ADS_2