
Axcel berencana mencari keberadaan Keano dengan bantuan satelit di rumahnya, siapa sangka Axcel mendengar percakapan Keenan dan kakeknya saat dia memasuki ruang tengah. Bahkan dia melihat Farah telah berada di sana yang sedang terisak, tanpa berpikir panjang Axcel langsung mengambil alih berbincang dengan seseorang yang dia sebut pria brengsek.
"Kamu jangan kurang ajar Keenan. Kamu pikir Farah dan Keano bisa hidup sampai detik ini atas jasa siapa, hah?!" cerca Axcel membuat Keenan sedikit terpaku karenanya.
"Kamu dan seluruh keluarga Kaviandra juga Lee, seharusnya berterima kasih padaku terlebih pada Klan leluhurku!" Axcel tidak ingin membuang kesempatannya. "Jika bukan karena aku tepat waktu, saat Farah menceburkan dirinya ke laut dan segera menarik dirinya kepermukaan. Mungkin Farah telah mati lima tahun yang lalu karena ulahmu meledakkan bom di tengah Samudera!"
DEEEG!!
Hati Keenan mencelos dengan pernyataan Axcel yang tepat menusuk jantungnya.
"Kamu hanya memberikannya masalah, kamu selalu membuat dia terjebak dalam masalah bahkan selalu berdampingan dengan kematian yang kapan saja bisa merenggut nyawanya!" Axcel semakin gencar memaki pria dalam sambungan telepon.
Farah sudah menutup wajah dengan kedua tangannya, dia terisak membuat tubuhnya bergetar hebat.
"Jika aku jadi kamu, aku akan melepaskannya sebagai bentuk rasa cinta yang sesungguhnya." Axcel mencoba peruntungan dengan mempermainkan mental lawannya. "Kamu bisa lihat sendiri, selama lima tahun Farah dan putranya bersamaku. Mereka hidup damai, aman dan bahagia!"
Mendengar kenyataan yang bisa jadi seratus persen benar membuat tubuh Keenan kembali merasa tak bertulang. Nyalinya entah lari dan menghilang kemana saat ini. Dia menatap putranya yang justru tengah mengoloknya. Keenan mengatus deru nafasnya perlahan. "Berikan ponsel itu pada Farah."
Farah tercengang, Axcel menatap Farah dan menggelengkan kepalanya. Keenan tidak ingin menunggu, dia langsung memanggil istrinya lembut. "Sayang... Kembalilah pulang... Aku sungguh gila tanpamu... Kau tahu, putra kitalah yang menuntunku menemukanmu sekarang."
DEG!
Axcel mendengus kesal dia bersiap memaki Keenan namun secepat kilat Farah merampas ponselnya dan mematikan sambungan sepihak. Farah menatap nanar kearah Axcel, di saat hatinya bimbang tentang keputusan akhir dia menerima cinta sahabatnya. Keenan datang tepat pada waktunya.
"Sayaaaang!" pekik Axcel di depan wajah sayu Farah.
"Maafkan aku..." sahut Farah parau. "Ijinkan aku menyelesaikan masalah pribadiku dengannya." Tatap Farah penuh harap pada Axcel dan Kakek Akeno.
Axcel mengepalkan kedua tangannya begitu erat, dia ingin memukul sesuatu saat ini.
"Kamu sangat tahu sendiri bukan, sampai detik ini... Hatiku tidak bisa berbohong." Farah menarik salah satu tangan Axcel dan menggenggamnya. "Maafkan aku, mungkin ini keinginan Keano... Dia tidak puas atas pertemuannya, aku selalu merasa curiga semenjak dia mencoba menghilangkan dirinya dari pandanganku."
Farah menunduk menyeka air matanya. "Axcel, Keenan adalah ayah biologis putraku... Sejauh apapun aku bersembunyi, Tuhan ternyata menginginkan dia mengetahui keberadaan kami."
"Sayang... Kamu sudah─"
"Axcel!" Tuan Akeno memekik nyaring menyudahi pertikaian keduanya. "Biarkan Farah pergi,"
"KAKEK!!" Axcel tidak terima, setelah kesabarannya selama ini...
"Axcel, kamu tenang saja..." Farah terkekeh sejenak. "Aku hanya akan membawa pulang anakku... Bukan ingin meninggalkanmu."
Wajah Axcel memerah mendengar kalimat godaan wanitanya. "Cepatlah pulang..."
Farah tersenyum lantas meminta ijin pada tetua Akeno.
"Pergilah, dan bawa beberapa pengawal bersamamu..."
Farah menganggukan kepalanya mengerti, tak lama dia bergegas menuju keluar kediaman dan menjemput putranya. Bohong jika dadanya tidak bergemuruh hebat, Farah mencoba untuk tenang namun rasanya tidak bisa. Dia akan menggila kembali. "Not yet..." lirih Farah menekan dadanya.
"Sayaaaang!" pekik Axcel mengetahui kondisi Farah yang tidak stabil, dengan cepat Axcel menggotong Farah menuju kamarnya.
***
"Aku turut berduka cita..." ejek Keano menyeringai saat melihat ekspresi kekecewaan di wajah ayahnya.
Keenan menatap Keano, mulut putranya sungguh begitu berbisa baginya. "Apa kamu benar-benar tidak ingin hidup bersama Papa?" tanya Keenan sendu.
__ADS_1
Rasanya dia ingin mengalah, perkataan Axcel sukses menumbuhkan rasa bimbang di hatinya. Benar, selama ini Farah selalu dalam keadaan tidak aman jika terus berdekatan dengannya. Lantas, bagaimana keyakinan dan cintanya yang terus bertahan dan mengajaknya berjuang?
"Ya─" Keano kembali mempermainkan perasaan ayahnya.
"Heh..." Keenan mendekat dan terkekeh di depan putra kebanggaannya. "Maafkan Papa Nak, Papa bisa mengalah untuk apapapun sekarang... Tapi tidak dengan kalian, selamanya kalian milik Papa!" Keenan menatap dengan angkuh putranya.
Keano tersenyum lebar, perasaannya juga membuncah. Kata-kata singkat ayahnya barusan adalah kata paling manis yang ingin ia dengar dari pria yang dia anggap brengsek sebelumnya.
"Yeaah... Not bad... Ganbatte Papaaa..." Keano memanggil Keenan dengan sebutan yang Keenan tunggu selama lima tahun kebelakang. Bahkan Keano tengah mengerlingkan matanya memberi semangat pada ayahnya tak lupa senyuman yang begitu lebar menghias wajah tampan Keano Lee.
"Aaarrkkk Kawaaiii!!" pekik seluruh anak buah Keenan bersamaan setelah melihat tingkah Keano yang menggemaskan.
Ingin rasanya Keenan meledak saat ini juga melihat begitu manisnya Keano mengingatkan dia pada istrinya Farah Lee. Secepatnya Keenan memeluk erat Keano dan mengangkat tubuh pria kecil ke atas dan memutarnya perlahan.
"Papa sungguh bahagia..." lirihnya menutup mata.
"Ahahahaa..." Keano merasa geli dan tertapa dalam dekapan ayahnya.
"Huhuhu, ini terlalu manis... Ini adalah akhir yang tidak bisa di prediksi BMKG negara sebelah. Di luar Nurul, tidak habis Fikri dan tidak masuk di Haikal. Aku sungguh Herman, seharusnya mereka baku hantam seperti sebelumnya... Huhu" ujar Ken berpura-pura terisak namun tidak bisa mereka pungkiri kebahagian itu mereka juga bisa merasakannya.
Keenan dan Keano berhenti menatap kearah dimana sedari tadi anak buahnya tengah melakukan hal nista dengan rekaman yang terus berjalan.
'MAMPUUUSS!!' Kesemuanya memasukkan ponsel mereka segera.
'Ken lu pembawa sial ajg!' maki Ben dalam hati menatap nyalang Ken dari tempatnya.
"Siapa di antara kalian yang berani mengikat putraku seperti sebelumnya?" tanya Keenan dingin.
Semua orang menunjuk kearah Sam, pria itu tersenyum lebar dengan wajah pucat pasinya. 'AWAS KALIAN SEMUA!!'
"Kamu sungguh berani pada Tuan Muda, hah?" tanya Keenan dingin menusuk kedua netra Sam.'
'Dasar Samuel bodoh, padahal dia kan punya rekaman. Gak berani dia! Hoho' batin Ken mengolok senang.
"Persiapkan pasukan, kita akan mengunjungi kediaman Luciano." titah Keenan dingin.
Semua orang mengerti dan menunduk patuh. Hanya saja, ternyata Farah sudah berada di kantor KTech tanpa di ketahui Keenan.
Sam merasakan ponselnya bergetar, secepatnya dia menerima panggilan dari resepsionis di depan.
"Mm... Tuan─" Sam menghentikan langkah kaki tuannya dengan berhati-hati. "Nyonya Farah sudah berada di depan."
Keenan langsung berhenti dengan mata terbelalak dan jantung yang lagi-lagi berdebar kencang.
Meanwhile...
As long as you love me...
We could be starving, we could be homeless, we could be broke...
As long as you love me...
I'll be your platinum, I'll be your silver, I'll be your gold...
As long as you love me─
As long as you love me, love me─
__ADS_1
[As long as you love me : Justin Bieber]
Farah kembali menginjakan kakinya di KTech setelah sebelumnya dia di buat kecewa oleh prianya. Dengan anggun dan tanpa rasa takut dia melangkahkan kakinya percaya diri. Dia juga muncul tanpa mengenakan penutup menyembunyikan identitasnya seperti sebelumnya.
Justru sebaliknya dia mengenakan pakaian terbaik, dengan polesan make up yang membuat semua orang akan terpesona dengan kecantikannya saat ini. Farah melepas kacamata hitamnya, berjalan menuju resepsionis seperti sebelumnya saat pertama kali dia datang di KTech.
'Kamu bisa Farah!!'
Seringai tipis Farah terpetakan di wajah cantiknya saat seluruh karyawan KTech melihat kedatanagnnya. Dari tempatnya Farah bisa mendengar bisikan para staff yang ketakutan mengatakan bahwa rohnya tengah bangkit menuntut balas.
"Katakan pada Tuanmu, aku datang menjemput putraku!" tukas Farah dingin pada resepsionis yang terlihat bergetar setelah melihat kedatangannya.
Tanpa waktu lama, Farah mendengar bunyi lift terbuka. Debar jantungnya mulai tak beraturan, dia sungguh takut...
Keenan menggandeng putranya, tepat di belakangnya di ikuti oleh ketiga anak buah setianya. Mereka berjalan tegap menghampiri seseorang yang selama ini mereka cari di setiap harinya selama lima tahun kebelakang.
Keenan sudah bisa melihat siluet wanitanya, jantungnya bertalu-talu bahkan dia meremas kencang tangan mungil putranya. Dia sungguh gugup saat ini.
'Papa, akhirnya kelemahan terbesarmu di depan mata... Bersiaplah pertunjukan selanjutnya... Hahaha'
Keenan menghentikan langkahnya di radius dua meter, air matanya sudah tidak bisa lagi dia tahan saat melihat raut wajah Farah jelas di refleksikan di kedua netranya. "Baby..."
"Ya Tuhan, binik orang bening banget daaaah..." seru Ken lirih.
Sam langsung melotot kearah Ken. Ben sendiri menggelengkan kepalanya takjub dengan keberanian Ken akhir-akhir ini. "Lu gak pernah kapok kena hukuman, Herman gua!" cibir Ben lirih di samping Ken.
"Ck, gue takjub lah liat binik orang makin hari makin bening, makin bucin lah Tuan kita!" bisik Ken lirih di samping Ben.
"Shut up!" hardik Sam geram.
'Kakaaak... Akhirnya kita bertemu lagi... Di waktu yang salah...' batin Farah sendu.
"Ibuuuuuu!!" Keano melepaskan diri dari genggaman Keenan dan menghambur kearah ibunya.
Farah tersenyum dan segera merentangkan kedua tangannya. Secepatnya Keano meminta di gendong oleh ibunya. 'Kamu bisa manja begini padaku, aku rasa merinding!'
"Ibuuu, pria tua itu jahat padaku. Dia mengikatku sampai seperti ini!!" Keano menunjuk Keenan dan menunjukan pergelangan tangannya. Tak lama kemudian Keano menangis bombay, Keenan membulat dengan mulut terbuka lebar, anaknya sungguh harus di berikan piala grammy award!
"Daebaaak!" seru ketiga anak buah Keenan lirih di belakang.
'Sepertinya aku harus menulis buku yang berjudul anakku meruntuhkan harga diriku berkali-kali!' batin Keenan menahan tawanya dengan kelakuan putranya.
Farah memutar matanya malas, dia tahu akal bulus putranya. Namun, seketika raut wajahnya berubah. Dia kembali menurunkan Keano dan bersiap pergi.
"Terima kasih, sudah mau mengembalikan putraku!" Farah segera berbalik badan dan bersiap meninggalkan KTech.
Keenan bagai patung sekarang, hari ini perasaannya sudah seperti di aduk cepat membuat air yang bening menjadi begitu keruh. Keano berbalik badan menjulurkan lidahnya pada Keenan. Dengan cepat Keenan berlari dan menarik tangan Farah.
"Honeeey!" Keenan merengkuh tubuh Farah, membuat genggaman tangan Keano terlepas dari tangannya.
"Aaarghh, Kakaaak!!" pekik Farah tidak terima dan berontak.
"Kamu sungguh tega padaku Baby!" Keenan menangis di hadapan Farah.
Seperti biasa tanpa meminta persetujuan siapapun bahkan Farah sendiri, pria itu menarik tengkuk leher Farah dan meminta sebuah ciuman. Mata Farah terbelalak, pinggang rampingnya di rengkuh erat semakin mendekatkan jarak mereka. Farah meronta menolak, bibirnya ia katupkan rapat. Namun, Keenan tidak habis akal. Dia meremas bukit indah Farah sampai gadisnya melenguh dan melesakan lidah bersiap mengabsen tiap inci rongga mulut wanitanya.
__ADS_1
'Aku sungguh merindukanmu, aku tidak akan pernah lagi melepaskanmu sampai kapanpun Farah Lee!!'
---To be continued---