Gadis Kecil Milik Mr. Mafia

Gadis Kecil Milik Mr. Mafia
EPS 32 # Isyarat Cinta


__ADS_3


────────────────────────


Keenan menyeringai setelah merasa mendengar mantra cinta yang di lontarkan Farah sebelumnya. Wajahnya mendekati wajah Farah, keduanya bisa merasakan hembusan nafas masing-masing. Degub jantung keduanya seolah berdetak seirama. "Kamu paling bisa menekanku, Sayang!"


"Tidak ada orang yang berani menentang dan memerintahku, hanya kamu seorang, Baby!" Keenan mencium kembali bibir gadisnya. Dia begitu penasaran, dia sendiri ingin mengetahui sejauh mana mereka bisa bertahan dalam mahligai yang tanpa jelas arah masa depannya hanya karena status Farah adalah adik angkatnya.


Farah begitu terbuai dengan kata dan sikap kakak sepupunya. Gadis itu menutup mata perlahan, merasakan kecupan Keenan yang lembut menyalakan kembali gelora asmara dalam dirinya. 'Oh Tuhan, apa sikapku tidak bisa lebih tidak konsisten dari ini!'


Seolah mendapat sambutan hangat dari gadisnya, Keenan menyeringai menang. Ternyata semudah ini dia bisa kembali mengendalikan gadisnya. Keenan perlahan merengkuh tubuh Farah, memeluknya erat tanpa melukai bagian yang terluka dari gadisnya. Farah ikut memberikan jalan, melingkarkan kedua tangan di belakang kepala Keenan. Pria itu semakin menjadi, hasratnya kembali bergejolak hebat. Dia bergerak teratur, membenarkan posisi mereka senyaman mungkin. Farah sudah berpindah posisi berhadapan dengan Keenan dan tetap dalam pangkuan prianya.


"Baby, kamu menyiksaku!" bisik Keenan di ceruk leher Farah.


"Benarkah? Bukannya sebaliknya?" Farah mengapit wajah Keenan dengan kedua tangannya. Dahi mereka masih beradu membuat atmosfer ruangan semakin syahdu. "Jika begitu kita impas!"


"Mulutmu selain manis ternyata bisa mengeluarkan bisa!' Keenan menelengkan wajahnya memagut bibir Farah perlahan. Farah menolak beringsut mundur perlahan.


"Aku sendiri tidak tahu, apa bisa yang aku keluarkan ini bisa meracunimu?!" Farah menggigit bibir bawah Keenan dengan gigi rapinya tanpa melukai prianya.


'Shiiit da-mn!'


Keenan semakin berhasrat, dia bangkit menggendong gadisnya tanpa melepaskan tautan mereka.


'Ternyata aku bisa bersikap murahan! Ck...' Farah membatin, dia sadar yang dia lakukan tak ubahnya wanita ja-lang yang tidak berpendirian. Mendapat perlakuan baik sedikit seolah diberikan pengharapan lebih.


'Tidak masalah bukan? Selalu ada harga yang pantas untuk mendapatkan apa yang diperjuangkan. Bersiaplah Keenan, aku tidak akan pernah gentar membuatmu kembali merasakan cinta tulusku. Aku tidak akan berhenti sampai kamu mengakui, kamu jatuh hati padaku!'


Bruk!


Keenan kembali menjatuhkan gadisnya di atas ranjang terkutuk mereka yang masih seperti kapal karam. Keenan menerbitkan senyum terbaiknya, dia menggoda adik sepupu paling tengil yang selalu membuat kepalanya terasa pecah.


"You're mine!" bisik Keenan menatap tajam mengunci kedua netra Farah.


"Jika aku milikmu, apa aku juga boleh memilikimu seutuhnya?" Farah menautkan kedua tangan di bahu Keenan, wajahnya dibuat begitu menggoda, terlihat jakun pria itu naik dan turun.


"Jangan terburu-buru, Baby! Aku ingin lihat setangguh apa kamu bisa bertahan di sampingku?!" Keenan menanggalkan kancing kemejanya perlahan.


Farah yang berpura-pura tangguh mendadak mengingat kembali bagaimana rupa polos kakak sepupunya. 'Fu-ck, aku belum siap!'


"Monday, Tuesday, Wednesday, Thursday, Friday, Saturday, Sunday... A week!" Farah bersenandung dalam ketegangannya. Keenan menghentikan pergerakan tangannya, dia mengerutkan kening kebingungan. Farah sudah bisa melihat garis cetakan roti sobek hidup di depan matanya, rasanya dia lapar seketika. "Every hour, every minute, every second, you know night after night, I'll be fu-ckin' you right... Seven days a week!" Farah melanjutkan bersenandung di depan kakak sepupunya.

__ADS_1


Keenan menegaskan rahang, ingin rasanya ia mencekik sepupu tengilnya. Farah terkekeh menjulurkan lidah. 'Ini baru permulaannya Keenan, terimalah, aku akan membuatmu tidak bisa bernafas tenang! Hoho~"


"Da-mn!" Keenan memekik dengan wajah memerah. "Sini kamu!"


"Aarrrgh! Hahaha..."


Farah menghindari tubuh Keenan yang ingin merengkuhnya. "Perih, Kak!"


"Aku tidak melakukan apapun, Baby? Apa kamu berharap aku melakukan apa?" Keenan menyeringai menggoda. Farah bisa mempermainkan perasaannya, maka dia juga bisa!


Farah terbelalak, dia lupa berhadapan dengan manusia setengah serigala. "Sebelum itu terjadi, aku sudah memperingati Kakak!" Farah mengerling nakal.


"Shiiit!" Keenan mengumpat dan kembali mencium bibir gadis kesayangannya mulai sekarang.


Dddrrrrttt... Dddrrrrttt...


Bunyi getar ponsel Farah membuat keduanya saling pandang dalam keheningan. Farah menunjukan deretan gigi rapinya, dengan cepat gadis itu mencari ponselnya. "Halo?"


"Lu dimana? Bentar lagi masuk oy!" Di sebrang sana Meishya sudah sewot mencari keberadaan temannya.


"Ehm, aku bolos!"


"What's?"


Seketika Keenan merasa cemburu, bahkan untuk sahabat wanita gadisnya dia tidak senang mendengar Farah meminta orang lain tidak merindukannya. Sedangkan, di sebrang sana Meishya tidak terima dengan alasan Farah.


"Lu sakit kenapa? Kemaren lu baek-baek aja!" rutuk Meishya memikirkan yang bukan-bukan. "Abis ngapain sih lu semalam?!"


DEG!


Jantung Farah berpacu lebih cepat secara tiba-tiba, bukan karena pertanyaan Meishya, melainkan tubuh prianya yang sudah kembali merengkuh tubuhnya dengan erat. Tak hanya itu, Keenan menciumi tengkuk leher Farah dengan terus menerus seolah menegaskan dia tengah mengganggu dan tidak ingin Farah menerima panggilannya.


'What the fu-ck! Ada apa dengan Keenan Kaviandra!!' Farah mengumpat kesal, sekuat tenaga dia tidak mengeluarkan suara lenguhan saat Keenan menyesap kuat bahunya.


"Orang sakit butuh penjelasan kah?" Farah berusaha menjawab pertanyaan temannya dan menghardik tubuh kakak sepupunya.


Meishya merasa janggal, terdengar bunyi sedikit berisik di panggilan sahabatnya. "Lu kenapa anjir?!"


Tuuutt!


Dengan cepat Farah menekan tombol merah menutup sambungan sepihak. "Kaaak!"

__ADS_1


"Kamu sungguh berani mengabaikanku!" Keenan membalikkan tubuh Farah cepat. "Aku tidak mengizinkan kamu menerima panggilan dari siapapun!"


"Hah?" Farah membuka mulutnya lebar. 'Ini diluar Nurul dan tidak habis Fikri!'


"Kakak sakit?" tanya Farah tidak percaya atas perlakuan Keenan barusan.


"Ya, aku sakit Farah! Aku sungguh sakit bisa berhubungan denganmu seperti ini!"


DEG!


***


Universitas S, 09.00 AM.


Meishya tidak percaya Farah menutup panggilannya, dia semakin berpikir buruk terhadap Farah. "Hish!"


"Kenapa oy? Farah bilang apa? Dia gak pernah terlambat kayak elu? Kok bisa sekarang belum nampak itu batang hidungnya!" Ceillyn merocos cepat membuat kepala Meishya semakin berasap.


"Gak jelas dia ini!" sungut Meishya bersedekap tangan. "Sejak kapan Farah bisa gak enak badan?" Meishya kembali mencecar Farah di hadapan Ceillyn.


Braaak!


"Pagi anak-anak! Sekarang kita─" Dosen Victor langsung memasuki ruangan dengan semangat. Namun, kalimatnya tertahan. Dia tidak melihat keberadaan Farah.


Axcel yang berada di belakang dosennya dengan santai menuju mejanya. Dia memang tidak merasa takut pada siapapun, kecuali gadis incarannya tentu saja!


Dosen Victor menyadari kelakuan Axcel barusan yang tidak sopan melewatinya. "Axcel!"


"Ck!" Axcel tidak peduli, dia kembali berjalan menuju kursinya dengan santai. Seluruh murid sudah mengetahui perangai asli Axcel. Hanya jika Farah ada bersama mereka si Axcel berubah jadi banci perempatan.


"Dimana Ayang gue?!" Axcel menyadari gadis pujaannya tidak ada disana.


Dosen Victor semakin geram melihat kelakuan anak didiknya sebiji yang tidak sopan seperti Axcel itu. "Hei Axcel! Kamu─"


Semua murid mendengus, mereka harus melihat murid dan guru berselisih di awal hari mereka. Tidak di sangka dosen Victor menerima panggilan yang tidak di ketahui nomornya. "Kalian duduk rapi, Bapak ada panggilan! Dan kamu Axcel, urusan kita belum selesai!"


"Cih!" Axcel tidak peduli, dia menatap kedua temannya yang lain. "Dimana Farah?!"


"Doi bilangnya sakit!" sahut Ceillyn cepat.


Di luar ruangan dosen Victor menjawab panggilan dengan sopan. "Ya, saya sendiri..."

__ADS_1


"Owh!" Raut wajah dosen Victor tiba-tiba berubah sendu. Dia menutup panggilan setelah pihak penelpon menyelesaikan kalimat singkat, jelas dan padatnya. "Farah sakit? Bagaimana bisa? Semalam dia masih baik-baik saja. Apa mungkin terjadi sesuatu setelah pertemuan semalam?"


--- To be continue ---


__ADS_2