Gadis Kecil Milik Mr. Mafia

Gadis Kecil Milik Mr. Mafia
EPS 180 # Reason Scars to Leave


__ADS_3


Keduanya menikmati makan siang dengan sukacita. Mereka benar-benar terlihat seperti sepasang kekasih yang baru jadian. Mereka selalu melempar tatapan dengan tersipu malu setelahnya.


"Sudah selesai? Kita bisa kembali ke kantor sekarang?" Sandra merapikan dirinya, bersiap meninggalkan resto.


Daniel menatap sejenak dan memberanikan diri bertanya sesuatu. "Nona Sandra─"


"Jangan panggil aku Nona." Sandra segera menghardik panggilan Daniel yang kaku dan begitu formal. "Panggil aku dengan sebutan Sandra saja."


"Owh, aku pikir bisa memanggilmu Sayang."


DEG!


Sudah berkali-kali Daniel membuat kinerja jantung Sandra tidak beres sekarang, kadang berdebar cepat, kadang normal dan kadang juga merasa seperti ditemani jutaan kupu-kupu yang sayapnya saling mengepak.


'Aku tidak mungkin sedang jatuh cinta pada pesona seorang Daniel Lee?' Sandra sungguh gelisah luar biasa, dia sendiri tidak pernah mengalami hal ini sebelumnya.


"Kamu ni bercandanya bikin orang jantungan aja!" lirih Sandra memalingkan wajahnya yang sudah sangat merona. "Nanti kalau ketahuan pacar kamu gimana manggil Sayang sembarangan?!"


"Aku tidak punya pacar," ujar Daniel serius segera membuat Sandra menelan ludah dan kembali salah tingkah.


"Bagaimana kalau akhir pekan ini aku mengajakmu jalan?" Daniel segera mengutarakan keinginannya untuk segera melakukan pendekatan.


"Apa?" Sandra pura-pura bingung, padahal jantungnya seperti akan meledak. Ini menandakan ada seseorang yang mengajaknya berkencan!


"Aku baru datang ke Kota S, Kakak dan Kakak Ipar terlalu sibuk dengan persiapan pesta pernikahan mereka, jadi untuk sekedar mengajakku berkeliling aku tidak berani memintanya. Aku harap kamu mau menemani dan membantuku mengenal kota ini." Daniel memang pandai bermain kata membuat Sandra sulit untuk mengelak.


"Jika kamu tidak mau, aku bisa adukan pada Kakak Ipar loh!" Daniel melontarkan dark joke yang membuat sandra berkerut tidak senang.


"Hahaha, kidding! Jangankan kamu, aku saja takut setengah mampus sama Kakak Ipar... Huhu" Daniel kembali bermanuver bertingkah kekanak-kanakan membuat Sandra terkekeh setelahnya.


"Ssstt!" Daniel mendekat berbisik di telinga Sandra. "Hanya Kakakku pawang Tuan Keenan!"


Keduanya kembali terdengar terbahak, setelahnya mereka bangkit dan keluar resto. Daniel merasakan ini pengalaman pertama yang sangat menyenangkan dan berkesan. Dia akhirnya bisa merasakan mentraktir lawan jenis, bercengkrama hangat dan menyenangkan, berbagi tawa dan juga senyuman yang sulit diterka apa maksudnya. Daniel berbelok menuju florist, sebelum benar-benar memasuki gedung K-Tech.


"Apa ini?" Sandra terharu, matanya berkaca. Daniel memberikan satu buket mawar segar sebelum mereka kembali bekerja.


"Kamu boleh memanggilnya bunga penyemangat!" Daniel harus paripurna dalam bertransformasi menjadi buaya. "Aku harap, keberadaannya akan memberikanmu kekuatan dan semangat saat kamu lelah dengan pekerjaan beratmu."


"Thank you!" Sandra tersentuh dengan apa yang sudah Daniel lakukan di hari pertama mereka berteman, ini berlebihan!


"Apa selama ini ada orang yang mengatakan padamu?" Ternyata Daniel belum selesai dengan bunganya. Sandra sudah bersiap apa yang akan mungkin Daniel katakan padanya.


"Hm?" Sandra mendongak dengan wajah yang kebingungan. "Bilang apa?"

__ADS_1


"Seseorang yang mungkin mengatakan kalau kamu adalah─" Daniel sedikit menjeda kalimat panjangnya. Dia sendiri harus berpikir untuk merangkai kata yang tepat dan pas agar Sandra mudah memahami maksudnya. "Kamu adalah bunga yang paling indah yang tidak perlu menunggu musim berbunga untuk melihat merekah bak mawar ini."


Sandra mematung di tempat, dia juga menunjukan wajah syoknya. 'Fix, Daniel benar-benar buaya darat dan aku terjerat sekarang juga!'


"Bye Sandra!" Daniel tersenyum puas, dia segera melambai meninggalkan wanita yang berhasil dia gempur dengan perlakuan manisnya.


"Oh Tuhan, apa mungkin dia mau dengan perawan tua sepertiku?" gumam Sandra menggelengkan kepala tidak percaya apa yang dialaminya sekarang.


Dia bergegas menuju ruangan sebelum semua orang memperhatikannya. Dengan mencium kelopak mawar yang beraneka ragam warna dan wangi yang menguar kuat memberikan semangat dan ketenangan di diri Sandra sekarang. 'Daniel Lee, sebagai permulaan kamu sudah memenangkan menjadi pria idaman para wanita. Termasuk aku!'


Tring!


Pintu lift terbuka, Sandra melangkah dengan sukacita, sesekali kembali mencium mawar miliknya. Dia melihat Sam masih berada ditempatnya. Dia tidak menghiraukannya, Sandra mencari sesuatu yang bisa digunakan untuk menaruh bunga hidupnya. Sandra menemukan wadah yang cocok, dia mengisi wadah yang cukup besar dengan air dan langsung memindahkan mawar miliknya. Dengan senyuman dan wajah yang kasmaran, kelakuan Sandra cukup mengganggu penglihatan Sam sekarang.


"Dapat bunga dari siapa?" Selidik Sam.


"Kepo!" sungut Sandra menjawab acuh.


Sam yang terus dicerca tidak manusiawi itu berbalik badan dan menyelidik tampilan Sandra saat ini. Sejurus kemudian dia baru menyadari bahwa rekan kerja senasib sepenanggungan itu terlihat manis bahkan terlalu cantik. "Inget umur oy!"


Sandra menoleh menghentikan senandung lirihnya. "Kamu iri? Kamu syirik? Kamu dengki?" celoteh Sandra membuat emosi Sam muncul ke permukaan. "Oh iya, gue saranin you cari pasangan sana sebelum andropause dini dan bikin pusing gue yang selalu jadi pelampiasan emosi you!" Sandra kembali berbalik menatap bunganya dengan wajah ceria.


Sam membuka mulut lebar, dia tidak menyangka Daniel benar-benar bisa membuat Sandra berubah 180 derajat sekarang.


"Hey!" Sam bangkit mendekat dan menarik tangan Sandra, dia tidak boleh kalah di tindas oleh nenek lampir di kantor.


"Sam, kemari!"


Sam segera melepaskan cengkraman tangannya, Sandra juga bangkit dan menunduk seketikan. Tuannya sudah berada kembali ke kantor dan menuju ruangan dengan tergesa. Sam mendengus sebal, aksinya di hentikan Keenan. Sandra menjulurkan lidah, dia memenangkan harinya sekarang.


***


Mansion Beverly, 07.00 PM.


Farah menjemput adiknya beserta Keano yang meminta ikut serta. Bagi Keano bisa sebentar saja lepas dari kejaran Jimmy adalah hari terindahnya. Hari ini Keenan meminta maaf tidak bisa menemani mereka karena ada pekerjaan yang mendesak yang harus dia selesaikan segera. Farah mengerti dan membawa pulang Daniel langsung menuju mansionnya.


"Wuah!" Pertama kali memasuki rumah Daniel sudah memekik takjub. "Jadi selama ini Kakak tinggal disini?" Wajah Daniel menatap lekat kakaknya yang sudah berjalan lebih dulu. "Patutlah, Kakak bisa sampai hamil di luar nikah seperti ini."


Farah menghentikan langkah kakinya, dia menatap ke sekeliling ruangan. Tempat yang memiliki kenangan baik dan buruk hubungannya dengan Keenan. "Orang luar tidak akan pernah mengerti bagaimana kami bisa sampai sejauh ini."


Daniel memeluk erat kakak satu-satunya. Alasan dia harus bertahan, hanya untuk membanggakan keluarganya.


Farah menyuruh Keano dan Daniel membersihkan sekilas, walau kenyataannya Keenan sudah menyuruh jasa binatu untuk membersihkan rumah mereka. Farah segera bersiap menyiapkan makan malam ketiganya. Mereka melewati makan malam dengan kembali bersukacita. Setiap orang menceritakan harinya, semua tertawa dan bahkan saling ejek. Apalagi Keano yang menggebu menceritakan dia ingin terlepas dari keberadaan Jimmy pada ibunya.


Tak mau kehilangan, tapi lelah berjuang.

__ADS_1


Bukankah rumah tempatku bersandar...


Sendiri ku tak bisa, bersama ku tersiksa...


Ini kenyataannya kita tak baik saja...


[Tertawan Hati - Awdella]


Farah telah selesai menemani Keano melakukan extra story telling dan memastikan putranya tertidur lelap di kamarnya. Farah melengkungkan senyuman saat melihat adik kesayangannya tengah duduk di balkon rumah. Perlahan Farah mendekat dan menepuk bahu adiknya. Daniel tengah menatap keindahan malam kota S, dia tidak menyangka bisa menjalani hidupnya sampai di titik ini.


"Aku tidak tahu harus berterima kasih berapa kali lagi untuk menunjukan bahwa aku sangat bersyukur terlahir di tengah kalian."


Farah segera memeluk erat adiknya, sudah sangat lama dia tidak berbincang hangat dengan Daniel. Biasanya, dia akan berkunjung ke kediamannya di negara B setiap tiga bulan sekali. Farah merasa gagal menjadi kakak yang baik untuk menjaga dan menemani tumbuh kembang Daniel.


"Apa ini?" Farah menunjukan sebuah botol yang diperkirakan berisi obat.


"Owh itu, ini─" Daniel menunjuk dadanya setelah mereka melonggarkan pelukan.


"Apa masih terasa sakit?" Farah menatap sendu kali ini.


"Sometimes." Daniel berbalik badan menatap gemerlap lampu kota yang menghiasi malam kelam.


"Aku mendengar bahwa operasi cangkok jantungmu berhasil." Farah ikut menatap nanar pada pemandangan di hadapannya.


Daniel menghirup oksigen dalam dan menghembuskannya perlahan. "Ya, aku sungguh sangat bersyukur, Tuhan masih memberikanku waktu tambahan untuk terus hidup." Daniel menatap kakaknya yang sudah mulai berkaca-kaca.


"Aku sungguh tidak tahu lagi, bagaimana aku harus menghadapi Ibu. Jutaan ton air matanya terbuang untukku, tenaga, pikiran, segalanya diperuntukkan untuk keberlangsungan hidupku selama ini." Daniel berusaha tegar, dia juga sudah lelah menyerah.


"Kak," Daniel menarik salah satu tangan Farah. "Aku tidak tahu bagaimana aku berterima kasih pada Tuan Keenan."


"Jika bukan karena Kakak Ipar yang mengusahakan mencari pendonor jantung untukku, aku mungkin sudah di kubur dalam tanah atau di bakar di kuil untuk di sebar di lautan."


Tubuh Farah bergetar hebat, dia tidak sanggup mengungkapkan kata. Semua tertahan di esofagusnya.


"Ibu benar, jika bersujud di kaki Kak Keenan adalah harga yang pantas. Maka aku akan bersujud sepanjang waktu di kakinya." Daniel membiarkan air matanya turun.


"Huh!" Daniel kembali berbalik badan, menyeka air matanya. "Proses transplantasi ini sedikit rumit. Tapi Tuan Keenan mengusahakan segalanya, dia menciptakan teknologi untuk menjamin semua bekerja sebagaimana mestinya."


"Aku tidak tahu sudah berapa banyak dana yang Kak Keenan lungsurkan hanya untuk membuat aku kembali hidup!"


Daniel segera memeluk kakaknya erat. "Dia berkata, cukup dia merasakan hukuman kehilangan Kakak. Tapi janjinya padamu menjagaku dia akan usahakan semampu dan sebisanya!"


'Tampilan di luar memang selalu menipu, itu alasan mengapa kita tidak bisa menarik kesimpulan hanya dari sampulnya saja. Jika dilihat lebih dekat, Kakak lah yang jauh banyak berkorban untukku selama ini. Apa yang aku lakukan, jelas tidak sebanding apa yang sudah Kakak lakukan untukku, untuk keluargaku... How I can't love you so much, Keenan Kaviandra.'


Keberkahan apa yang membuat hidup Farah bisa sesempurna ini mendapatkan pria yang tidak akan ada yang bisa menandinginya.

__ADS_1


--- To be continued ---


__ADS_2