Gadis Kecil Milik Mr. Mafia

Gadis Kecil Milik Mr. Mafia
EPS 153 # Memeras!!


__ADS_3

Farah mendekati Keano dan langsung duduk di samping putranya. "Apa yang sedang kamu lakukan Keano?"


"Ah, ini... Tadi Papa mengajariku cara menghasilkan uang dengan cepat." bual Keano tenang menatap ibunya.


"Hah? Really? Ngapain? Ngepet online apa judi online?" canda Farah mencoba mengusir kegelisahan hatinya.


Keano termangu dengan bola mata yang di putar kesal. "Mengapa Ibu kemari? Apa Ibu belum ingin beristirahat?"


"Oh itu─" Farah mulah gelisah, dia mengatur pernafasan agar tenang. "Em... Tadi Papa Axcel berbincang dengan Ibu. Dia bilang besok pagi kita akan pergi ke Zoo sebelum kita meninggalkan Kota S." tutur Farah sendu mengusap lembut rambut lebat Keano.


Paras Keano sungguh selalu mengingatkan Farah pada pria yang sangat di cintainya. "Setelah itu, Ibu juga meminta Papa Axcel agar kita tinggal di Negara B dekat dengan Nenek dan juga Uncle kecilmu."


"Ibu ingin menghabiskan waktu lebih lama bersama Nenek dan Uncle kecilmu setelah beberapa tahun Ibu selalunya tidak memiliki waktu bersama mereka." Farah menatap nanar ke depan sejenak kemudian kembali menatap Keano. "Ibu akan mulai bekerja, Ibu tidak mau terus mengandalkan Papa Axcel dan Kakekmu."


Keano terdiam sejenak, hidup mereka memang serba kecukupan dengan adanya Papa Axcel dan Kakek Akeno mereka seharusnya tidak perlu khawatir akan kebutuhan bahkan untuk sekedar mengupdate gaya hidup, mereka sangat mampu.


"Ibu mau kerja apa? Kuliah aja gak lulus..." celetuk Keano menusuk perasaan Farah.


Jleb!!


Farah menekan dadanya, putranya paling tahu menyiksanya tanpa bisa memarahi atau sekedar menghardik ucapan kebenaran dari putranya yang dingin. 'Resiko punya anak dari pria paling arogan, angkuh dan juga jenius seperti Kakak. Rasanya aku tidak memiliki harga diri sebagai Ibu. Huhuhu...'


"Ya apa gitu─" Farah menghardik cepat dengan kesal.


Suasana sendu berubah sedikit lawak saat ini, Keano terkekeh lirih. Pokoknya mengusuli pria dan wanita polos di kediaman mereka adalah kesenangannya. Dia lebih memilih seperti itu di banding harus terus merasakan kesedihan yang mendalam karena takdir mereka yang tidak mudah di jalani sampai saat ini.


"Ibu udah putusin mau buka toko bunga." Farah menatap serius Keano dan menekan kedua bahu putranya agar pria kecil itu tidak lagi menganggap ibunya tidak berpendirian. "Tidak perlu keahlian khusus dan tidak perlu sertifikat kelulusan universitas!" Jari telunjuk Farah terangkat dengan semangat dan antusias, keduanya harus bisa menyongsong masa depan yang akan mereka mulai sebentar lagi.


"Ck, aku yakin yang memberikan modal Papa Kecil bukan?" olok Keano membuka laptopnya.


Farah menekan kepala dengan kedua tangannya kesal, selalu saja putranya tidak berbelas kasih dalam hal mengejek dirinya. Sama persis seperti ayah cebongnya!!


"Ibu tidak perlu khawatir, anakmu ini banyak uang. Ibu ingin apa aku bisa kabulkan saat ini juga." Keano tengah kembali memasuki server miliknya dan bersiap-siap melakukan permainan yang menyenangkan bersama ibunya.


"Hi ilih... Kamu pikir Ibu tidak tahu apa? Itu juga pasti karena blackcard dari Kakek dan Papa Axcel bukan?" cibir Farah mendelik kearah Keano yang tengah sibuk dengan jemari kecilnya.


Farah tidak perlu terlalu curiga pada keahlian putranya. Bagi Farah Keano memang sangat menggeluti di bidang teknologi. Dia dan Axcel adalah patner mabar game online mereka. Jadi, Farah menganggap Keano sedang memainkan gamenya.


"Ibu tidak perlu bekerja, semua serahkan padaku putra kebanggaanmu. Keano Lee!!" Keano menepuk dadanya angkuh dengan wajah berseri dan bersemangat di hadapan wanita yang paling dia cintai dan hormati di dunia ini.


Ada perasaan sesak saat Keano berujar demikian. Farah mengusap kedua pelupuk matanya cepat, dia tidak ingin Keano menyadari dirinya tengah menangis saat ini. 'Maafkan Ibu Nak, kamu terpaksa harus berpikri dewasa sebelum waktunya.'

__ADS_1


"Jadi, apa yang Ibu inginkan sekarang? Mumpung Keano baru memenangkan perlombaan. Hadiahnya unlimited!!" seru Keano memanasi ibunya.


"Waah?!" Raut wajah Farah berubah tidak percaya. "Beneran gak tuh? Hari gini mana ada yang mau kasih cuma-cuma unlimited pula!" ketus Farah sangsi.


"Ck..." Keano berdecak kesal ibunya meremehkannya. "Mari kita buktikan saja Ibu, Ibu kemarin ingin membeli mobil bukan?" Keano mulai melakukan aksinya, semakin cepat maka semakin baik.


"Aku bahkan bisa membeli saham perusahan manapun. Jika ibu ingin saham KTech aku juga bisa dapatkan cuma-cuma."


Farah semakin membuka lebar mulut dan matanya. Beginilah jika hamil di usia muda, jiwanya berasa bukan emak-emak, tidak ada namanya gengsi dan menjaga image!


"Kalau begitu, belikan ibu Bugatti la voiture noire, salah satu mobil termahal. Mampu gak kisanak?" Farah menyeringai menantang putranya.


"Haish... Aku pikir mobil apa... Kacang!" Keano membuka aplikasi pembelian otomotif online di Negara S, jemarinya begitu lincah memesan apa yang ibunya inginkan.


Triing!!


"Beres... Ini invoicenya, Ibu tunggu mobilnya datang minggu depan di rumah Nenek!" Keano menunjukan tampilan laptop di hadapan Farah.


Farah menutup mulut dengan kedua tangannya takjub. "Daebaaak... Bagaimana jika Ibu minta Penthouse?"


Farah mulai dengan otak nistanya, dia menolak mengakui selama ini keusilan Keano itu diturunkan tentu saja dari sifatnya yang begitulah adanya.


"Sure... Ibu mau pilih di lokasi mana?" Keano semakin bersemangat. Ini permainan yang sangat menyenangkan.


"Meluncuuurr!!" Keano kembali menjentikan jari mengetik sesuatu dan──


Triing!!


Notifikasi persetujuan pembelian telah di kantongi Keano. Wajah Farah semakin berbinar, dia ikut semangat terus menyebutkan apa saja yang ingin dia beli saat ini tanpa mempermasalahkan dari mana uang Keano berasal.


Meanwhile masih di kantor KTech.


Triing!


Triing!


Triing!


Triing!


Bunyi dering notifikasi yang mengganggu membuat Keenan semakin geram rasanya.

__ADS_1


"BUNYI APA ITU?!!" pekik Keenan emosi menatap nyalang asistennya.


"Hmm.. Sepertinya itu bunyi dari ponsel anda Tuan." Dengan hati-hati Sam menjawab pertanyaan Tuannya.


"Whats?!" Wajah Keenan di tekuk, dia mengaktifkan EYES dan mensinkronkan sistem ponselnya ke dalam laboratorium KTech.


Terbuka sudah notifikasi pesan masuk yang berasal dari layanan kartu blackcard miliknya.


"Waah..." Sam dan seluruh jajaran staff di sana takjub berjamaah.


"Anda berbelanja di saat situasi seperti ini? Buat apa beli Bugatti dua kali?" Sam mengernyit.


"Orang kaya gabut begini banget dah!" lirih Ken takjub.


"Wah, kenapa anda beli saham Mall S? Bukankah itu milik anda Tuan?" Ken kembali menimpali dengan sumbu pendeknya. "Wah, penthouse juga. Anda sungguh hebat bisa membeli tanpa menekan aplikasinya bisa langsung berbelanja dengan sekali kedipan mata!" sambung Ken asal dengan semangat tidak menyadari bahwa tindakannya membangunkan singa tidur.


Plaak!


"Dasar bodoh!" umpat Ben memukul bahu sahabatnya. "Ini namanya pembobolan kamfret!!" seloroh Ben menekan lirih.


"Mati aku!" Wajah Ken pucat pasi menatap tuannya yang sudah berwajah merah padam.


"LACAK BAJINGAN INI, BAWA MAYATNYA KEHADAPANKU!!" pekik Keenan berang. Dia keluar dari laboratorium menuju ruangannya.


Di sisi lain di kediaman Luciano, Keano tengah memperhatikan ayahnya yang sedang emosi yang telah mencapai batas maksimal. Keano mengangkat sudut bibir, mirip sekali dengan Keenan saat mengejek musuhnya.


"Baru seperti ini saja anda sudah kepanasan menginginkan nyawaku. Haha..." Keano sudah meretas sistem keamanan KTech, dia bisa melihat gerak-gerik seluruh orang di setiap bagian gedung KTech tanpa terkecuali.


Deg!!


Keano tengah melihat ayahnya di dalam ruangan pribadi CEO KTech. Pria yang awalnya begitu emosi sebelumnya, kini tengah menatap potret ibunya lekat dan mengusapnya perlahan.


"Heh! Apa kamu menyesal membuang kami? It's too late jerk..."


Di ruangan Keenan merebahkan diri di kursi kebesarannya seperti biasa. Dia mengambil pigura kecil yang harus ada di meja kerjanya.


"Sayang... Sebentar lagi kita bertemu..." Keenan meneteskan air matanya mengusap pigura kesayangannya. "Kau tahu, entah mengapa aku merasa seolah tengah bertemu putra kita di Mall tadi siang. Aku harap anak kita selamat, mata anak itu sangat mirip denganmu Baby..."


Sejujurnya Keenan tidak peduli sama sekali atas pembobolan yang di lakukan oleh oknum yang tidak bertanggung-jawab pada blackcard miliknya. Dia hanya marah, waktunya tersita dan pertemuan dengan wanitanya kembali tertunda.


"Tunggu aku ya Sayang, aku akan menjemput kamu kembali pulang ke rumah!"

__ADS_1


--- To be continue ---


__ADS_2