
Sebenarnya aku ingin dekatmu, namun kusadari, ku tak bisa... Tak boleh ku di sini, bahaya, ku makin cinta...
Plaaak!
Farah bangkit mendekat dan menampar Axcel tanpa disadari olehnya.
"Heh!" Axcel terkekeh saat mendapatkan tamparan keras mendarat di pipi mulusnya. "Jadi semua benar bukan?"
"Bukan urusanmu! Berhenti mencoba ikut campur dengan hidupku!!" Farah menjerit berang di hadapan Axcel.
"Farah Lee!!" Axcel menangkap tangan Farah dan menggenggamnya erat, emosi pria itu semakin dijejal batas kesabarannya oleh Farah.
"Aku minta maaf menamparmu, tapi bukan hak mu untuk ikut campur atas apa yang terjadi denganku!!"
"Kenapa? Dia Kakakmu Farah!!" Axcel membalas memekik nyaring. "Sadarlah Farah!!"
"Bukan!!"
Ku tak ingin jauh, tak ingin berpisah. Mengapa semua selalu indah, saat denganmu? Sayang untuk diakhiri...
Dengan cepat Farah menepis cengkraman tangan Axcel. Gadis itu juga beringsut mundur dari tempat Axcel berdiri saat ini. "Apa kamu lupa? Dia bukan Kakak kandungku!!"
"Aku hanya anak angkat Kaviandra!" Farah sudah berderai air mata, dia meluapkan semua emosi yang sudah tertahan selama ini. "Kamu benar, aku mencintai Kakak Angkatku sendiri!! Kau puas, hah?!!"
Axcel tertegun, tanpa Farah bisa mengerti. Hati pria itu ikut tercabik saat mendengar kenyataan dari mulut gadis yang dicintainya.
"Apa aku salah mencintai pria yang berhasil membuatku menggantungkan segala harapan dan hidupku padanya?"
"Apa aku tidak pantas?"
"Kamu tidak akan pernah tahu, kamu tidak akan pernah mengerti keadaanku!!"
Farah mencerca Axcel menggebu, dia juga menunjuk berang ke arah pria yang sudah bersama menjadi sahabat selama dua tahun kebelakang.
Andai engkau bisa mengerti, betapa beratnya aku... Harus aku tetap tersenyum, padahal hatiku terluka...
"Aku memang tidak tahu Farah! Aku tidak tahu apa yang sudah terjadi dengan kalian." Axcel mendongak ikut menahan emosi sebelum bertambah meluap. "Tapi, jika dia pria baik-baik... Dia tidak akan pernah menyembunyikanmu dari publik!! Bahkan dengan status adik angkatmu, dia tidak pantas menciummu di depan umum!!"
"Kamu tak lebih dari wanita simpanannya, apa kamu tidak mengerti, hah?!!"
Adakah arti cinta ini, bila ku tak jadi denganmu? Jika memang ku harus pergi... Yakinlah, hatiku kamu!
Plaaak!
Farah kembali menampar wajah Axcel dengan keras. "Dengarkan aku Axcel, aku tidak peduli. Aku bisa menjadi simpanannya saja aku sangat bahagia!"
__ADS_1
"Farah Lee!!"
Axcel menahan tangannya saat sejengkal lagi mendarat di wajah Farah. Pria itu bisa menerima Farah menamparnya keras berkali-kali. Bahkan Axcel menerima saat Farah menyakitinya terus bertubi-tubi. Namun, dia tidak bisa menerima gadisnya merendahkan diri seperti sekarang ini.
Farah terkekeh dengan terus membanjiri wajahnya dengan air mata. Dia tidak menyangka, Axcel tetaplah menjaganya tanpa ingin berbuat kasar meskipun dia sangat bisa melakukannya.
Bukankah semesta yang pertemukan kita? Haruskah ku sampaikan pada bintang? Mengapa bukan kamu, yang memiliki aku?
"Heh, dengar Axcel... Aku memang simpanannya... Apa kamu sudah jijik dan membenciku? Hahaha..."
"Aku tidak ingin menyakitimu..." Salah satu tangan Axcel melepaskan tangan gadisnya yang sudah memerah. "Kamu berhak mendapatkan lebih. Seseorang yang bisa menghargai dan menjagamu dengan segenap cintanya! Seseorang yang tidak akan pernah menyakitimu..."
Bruuuk!!
Farah luruh di tanah, dia menutup wajah dengan kedua tangannya. Dia menangis sejadi-jadinya, dia sungguh malu dengan perkataan Axcel barusan.
*Andai engkau bisa mengerti, betapa beratnya aku... Harus aku tetap tersenyum, padahal hatiku terluka... *Adakah arti cinta ini, bila ku tak jadi denganmu? Jika memang ku harus pergi... Yakinlah, hatiku kamu!
"Farah..." Axcel mendekat dan berusaha menenangkannya.
"Pergi... Jangan dekati aku!! Pergi... Huhu..."
Axcel mengepalkan erat kedua tangannya, dia begitu sedih melihat kondisi Farah saat ini.
Mengapa cinta pertemukan, Bila akhirnya dipisahkan? Dan mengapa ku jatuh cinta, pada cinta yang tak jatuh padaku?
Harus aku tetap tersenyum, padahal hatiku terluka...
"Huhuhu..."
Farah menerima saat sahabatnya merangkul tubuh ringkihnya yang sudah bergetar hebat. "Lepaskan dia Farah, aku tahu kamu terpaksa bukan?"
Farah menghentikan isak tangisnya dan mendongak menatap nyalang Axcel. "Heh, aku tidak akan pernah melepaskannya. Besar harapanku untuk terus bisa berada di sampingnya di sisa usiaku!"
Sudah tidak bisa dijelaskan oleh kata bagaimana hancurnya hati Axcel saat ini. Dia menatap nanar gadisnya, Farah mengatur nafasnya. "Maafkan aku Cel, aku sempat mencoba menerima keberadaanmu... Sayangnya, hatiku menginginkannya... Hatiku terus kembali padanya!"
Adakah arti cinta ini, bila ku tak jadi denganmu? Jika memang ku harus pergi, yakinlah, hatiku kamu, kamu... Harus aku tetap tersenyum, padahal hatiku terluka... Adakah arti cinta ini, bila ku tak jadi denganmu? Jika memang ku harus pergi, yakinlah, hatiku kamu... yakinlah, cinta untukmu...
"Hehe... Sungguh naas hatiku!" Axcel terduduk di samping Farah. Dia menatap langit jingga mencoba melepaskan rasa sakit di dadanya. "Apa kamu tidak bisa melihat ada cinta di mataku, cinta yang tulus... Cinta yang tidak pernah bisa memiliki."
"Kamu sendiri lucu, sudah punya tunangan cantik tapi mengabaikannya!"
"Seperti yang kamu katakan," Axcel berbalik menatap Farah. "Hatiku terus mengatakan untuk kembali padamu!"
"Hehe... Semesta memainkan perannya, kita senasib sepenanggungan!" Farah mengambil softdrink dan menenggaknya habis.
"Hehe!" Axcel menunduk tertawa pilu. Dia kembali menatap kecantikan wanitanya, langit sebentar lagi gelap. Perlahan Axcel mendekati Farah.
__ADS_1
"Cel!" Farah beringsut mundur, wajahnya mendadak gelisah.
"Berjanjilah padaku... Kamu tidak akan pernah menghindariku!"
Farah terdiam, dia mengangguk dengan kembali meneteskan air matanya. 'Bagaimana bisa aku benar-benar melewatkannya...'
Axcel semakin mendekat, kedua tangannya menyeka air mata yang membasahi wajah Farah. "Aku sungguh mencintaimu, bolehkah aku meminta untuk terakhir kalinya!"
Farah terbelalak, pria di depannya sudah memagut mesra bibirnya. Dengan cepat Farah berontak mencoba menyudahinya. Sialnya, ciuman lembut Axcel sungguh membuainya. Farah kembali ingat, beberapa kali pria itu sudah mencuri sebuah ciuman terlarang dengannya.
"Aarghh..." Farah terengah, Axcel melepaskan bibirnya. Gadisnya butuh pasokan oksigen, bibir Axcel semakin turun mencium ceruk leher Farah.
"Axcel!!" Farah mendorong tubuh sahabatnya. Hasrat Farah tiba-tiba bangkit, sungguh mengerikan. "Aku akan membencimu jika kamu berani melecehkanku sekarang!!"
"Hehe, tidak mengapa sayang... Jarak kebencian dan cinta itu begitu tipis... Mereka akan bertukar tempat sesukanya. Kali ini kamu membenciku, mungkin suatu saat nanti justru berubah menjadi rasa suka yang akan membawamu mencintaiku!"
Farah begitu takut dengan ucapan serius Axcel. "Cel, saat Keenan mengetahui apa yang sudah kita lakukan... Aku pastikan nyawa kita akan melayang!"
"Jadi, kamu takut hanya karena gertakan kakak sepupumu itu?"
"Cel!! Kamu tidak mengenalnya... Please... Don't..."
"Aku tahu Sayang, selama kamu yang memintanya... Aku akan mematuhimu..." Axcel kembali mendekat dan menundukkan wajahnya. Memagut bibir tipis Farah yang memabukkannya. Farah menutup matanya perlahan, dia merutuki respon tubuhnya yang membiarkan Axcel menyesap bibirnya sekali lagi.
Farah sungguh mengacungi ribuan jempol bagi kemampuan Axcel memperlakukannya. Keenan memang seperti bajingan cabul. Pria di depannya justru memperlakukannya jauh lebih baik. Farah tidak merasa kehabisan oksigen walau mereka sudah bertautan cukup lama.
"Aku mencintaimu Sayang... I'm sorry, but I love you..."
Farah jatuh dalam dekapan Axcel. "Antarkan aku pulang ya..."
"Iya, Sayang... Terima kasih, aku tidak akan mandi selama sebulan penuh!!"
Tubuh Farah bergetar karena kekehan, tiba-tiba saja kakinya kram. Dengan senang hati Axcel menggendong gadisnya menuju kursi penumpang. Axcel juga tak lupa mengecup sekilas kening Farah lembut. "Bisakah aku mengucapkan mantraku?"
Farah mendongak menatap lekat wajah Axcel. "Aku bisa membuatmu jatuh cinta kepadaku, meski kau tak cinta kepadaku..."
Farah tahu lirik yang tengah Axcel baca, dia menahan tawa dan justru ikut meneruskan bersenandung membuat Axcel tersipu malu. "Beri sedikit waktu, biar cinta datang karena telah terbiasa..."
"Ah Ayaaang..." rengek Axcel dibuat-buat, keduanya kembali terlibat tawa, dan bersiap kembali menuju rumah masing-masing.
Simpan mawar yang kuberi, mungkin wanginya mengilhami... Sudikah dirimu untuk, kenali aku dulu... Sebelum kau ludahi aku... Sebelum kau robek hatiku... Aku bisa membuatmu jatuh cinta kepadaku, meski kau tak cinta kepadaku... Beri sedikit waktu, biar cinta datang karena telah terbiasa....
Hidupku tanpa cintamu... Bagai malam tanpa bintang... Cintaku tanpa sambutmu... Bagai panas tanpa hujan...
--- To be continue ---
Credit of song : Bahaya by Tiara feat Arshi Widianto, Risalah Hati by Dewa 19.
__ADS_1