Gadis Kecil Milik Mr. Mafia

Gadis Kecil Milik Mr. Mafia
EPS 154 # Sedikit Lagi!!


__ADS_3

Keenan berjalan dengan langkah gontai keluar dari ruangan bersiap pulang.


"Tuan..." Sam menunduk menyambut kedatangan Tuannya.


"Undur keberangkatan menjadi siang," titah Keenan pada Sam dingin lalu beranjak.


Tapi belum ada beberapa langkah Keenan berhenti dan kembali memberikan perintah lanjutan. "Aku ingin kamu meretas seluruh sistem keamanan Mall S tadi siang, temukan identitas anak kecil itu. Aku ingin tahu siapa namanya, orang tuanya, usianya dan dimana rumahnya. Aku ingin data semua hal tentang anak ini!"


DEG!


Sam terpaku sejenak, dia seperti telah salah mengira tuannya menjadi gila saat ini. "Apa kamu mulai brhalusinasi dia putramu?" tanya Sam menyelidik.


Keenan tidak menjawab tidak juga menghardik, dia kembali melangkahkan kaki lebar keluar dari kantornya. Dia benar-benar tidak habis pikir, tidak pernah dia merasa penasaran seperti dia bertemu pria kecil sebelumnya di Mall. Keenan menerobos jalanan ibu kota dengan tatapan menerawang serta kembali mengingat bagaimana genggaman tangan mungil yang cukup tegas untuk sukuran anak kecil. Jika di bandingkan Jimmy, tentu pria kecil itu terasa berbeda. Keenan merasa tengah menggenggam dirinya sewaktu kecil. Keenan kembali ingat di bawa berkeliling tidak jelas oleh Keano, bukan Keenan tidak tahu bahwa dia sedang di usili, tapi ada perasaan lain saat pria kecil itu di sampingnya.


"Sstt... Paman, aku selalu merasa ingin menguji Papaku!" celoteh Keano kala itu pura-pura berbisik pada Keenan aar Sam tidak bisa mendengar percakapan mereka.


"Oh ya?" Ada rasa tidak nyaman saat Keano membahas keluarganya di hadapan Keenan yang kehilangan keluarga kecilnya sekarang.


"Hmm..." Keano mengangguk antusias menunjukan tatapan mata yang menyenangkan untuk di lihat siapapun saat ini. "Apa mungkin dia akan datang dan membantu Mommy menemukanku sekarang?" goda Keano langsung membuat dada Keenan nyeri seolah dia tengah di curangi pria kecil yang tidak di kenalnya itu.


"Jika dia benar Papamu tentu saja dia akan berusaha keras mencarimu." ujar Keenan mencoba untuk ramah pada seseorang yang tidak di kenalinya.


Keano berhenti sejenak, rasanya sungguh konyol. Pria tua di sampingnya itu benar-benar tengah menjatuhkan harga dirinya sendiri. Mengatakan orang tua akan berusaha keras mencari keberadaan keluarganya, lantas dia sendiri bagaimana terhadap keluarganya?


Keenan telah berada di kediaman besar Kaviandra, seperti biasa dia di sambut oleh ibunya di ruang depan.


"Ma..." Keenan memeluk sejenak ibunya, lalu berencana bergegas menuju kamar istrinya.


"Kamu makan dulu Nak, ini sudah sangat larut loh..." seru nyonya Lyn mengingatka putranya.


"Hm..." Seperti biasa Keenan akan mengabaikannya, sudah menjadi kebiasaan baru untuk mengacak jadwal makannya.


"Huh..." Nyonya Lyn menghembuskan nafas berat, putranya benar-benar belum bisa berdamai dengan kenyataan.


"Tante..." Carol mendekati nyonya Lyn. "Bagaimana kalau aku yang antar makanan ke tempat Kakak." tawar Carol mencari perhatian di tengah keluarga Kaviandra.


Semenjak Carol menjad perhatian khusus Jimmy, gadis cantik itu di perbolehkan tinggal di kediaaman. Terlebih Jimmy terkadang meminta Carol menemaninya untuk melakukan story time di menjelang tidur malamnya.


"Tante sih mau aja, cuma kamu tahu sendiri gimana kerasnya Keenan. Salah-salah kamu nanti─" sahut nyonya Lyn setengah hati.


"Aku akan berhati-hati Tante, lagi pula hanya sekedar mengantarkan makan. Kakak juga tidak begitu kasar padaku selama ini." Carol berujar dengan tersipu dan berharap kali ini usahanya berhasil menaklukan hari pria dingin yang di idamkannya.


"Baiklah..." Nyonya Lyn memberikan ijin pada Carol untuk mengantarkan makanan pada putranya.


Carol senang bukan kepalang, dia harus baik-baik menerima kesempatan baik ini. 'Aku ingin kamu melihatku Keenan Kaviandra, secepatnya kamu akan jadi milikku seorang.'


Ceklek...


"Kak, aku membawakan makan malam..." seru Carol tanpa meminta ijin mengetuk pintu kamar.


Keenan memang tidak pernah mengunci pintunya, dia beranggapan tidak ada yang berani masuk tanpa seijinnya kecuali ibu dan adiknya yang bebas sesuka hati mencarinya.


Keenan telah selesai membersihkan dirinya, keluar hanya dengan mengenakan handuk yang menutupi area sensitifnya. Dia bergegas menuju area wardrobe mencari pakaian untuk dia kenakan. Sekilas Keenan melihat siluet seseorang berada di sana.


"Baby?" gumam Keenan berbinar.


Dengan cepat Keenan berjalan menuju tempat di mana bayangan itu berada.


Bruk!!


Keenan memeluk erat wanita yang tengah mempertaruhkan segalanya di hadapan utusan alam baka. "Sayaaang akhirnya kamu pulang!" tutur Keenan pilu.


Jangan di tanya bagaimana debar jantung Carol saat ini, ini di luar ekspektasinya. Keenan benar-benar memeluk dirinya, wajah Carol memerah deru nafasnya memburu cepat, rasanya dia seolah akan meledak. Sampai──

__ADS_1


"Aarrghh!!" pekik Carol tertahan menekan lengan Keenan.


"KAU SUNGGUH BERANI MEMASUKI KAWASAN PRIBADIKU!" Keenan langsung tersadar saat bau wanita yang ia peluk tidak sama seperti bau tubuh Farah yang sangat dia hafal selama ini.


Caroline mencoba berontak melepaskan cengkraman tangan Keenan yang mencekik lehernya kuat. Gadis itu sebentar lagi akan kehabisan pasokan oksigen dalam tubuhnya.


Braak!!


Keenan melepaskan tubuh Carol dengan menghempaskan di lantai begitu keras. "Aku mengampunimu kali ini hanya karena aku tidak ingin membunuh seseorang di kamar gadisku!"


"ENYAHLAAH!!" pekik Keenan menunjuk wajah Carol dengan penuh emosi.


Carol tengah mengatur pernafasan yang sempat terganggu sebelumnya, dia juga sedikit tersentak membuat sistem motoriknya sedikit lambat merespon keinginan Keenan.


"KAU BELUM INGIN PERGI DARI PENGLIHATANKU HAH!" Dengan emosi memuncak Keenan menyeret Carolin dengan cara menarik rambut panjang gadis itu yang tergerai indah tapi sedikitpun tidak menggoda di mata Keenan.


"A-aampuun Tuaan..." Carol menjerit, merasakan perih di kepalanya saat rambutnya seperti di paksa di rontokan dari kepalanya. "Aku akan pergi sekaraang..." rintih Carol meminta pengampunan.


PRAAAANG!


Keenan juga membanting nampan makanan yang di bawa Carol untuknya. "AKU TIDAK BUTUH SEMUA INI!"


"KEENAAN!!"


Nyonya Lyn segera mendatangi kamar Farah, di ikuti pengurus Chen di belakangnya.


"BERHENTI MENJODOHKAN KEENAN DENGAN SIAPAPUN MA!! ISTRIKU HANYA FARAH LEE!!"


"KELUAAR KALIAN DARI SINI SEKARANG JUGA, JIKA TIDAK AKU AKAN MENEMBAK MATI WANITA SIALAN INI!!"


"CUKUP KEENAN!!" bentak nyonya Lyn tak kalah keras dari putranya. "Chen, suruh orang bersihkan kamar Tuan, dan bawa Carol keluar sekarang."


Carol terisak, dia memang mendengar desas-desus kengerian dari seorang Keenan Kaviandra. Tapi sampai mengalaminya sendiri, sepertinya ini hari sialnya.


"Maafkan Mama Keenan..." lirih nyonya Lyn mencoba menenangkan putranya.


PRAAAANG!!


Nyonya Lyn kembali meneteskan air matanya melihat kondisi putranya yang tidak ada perubahan dari sebelumnya. 'Farah, di mana kamu Nak... Kami rindu... Kami benar-benar tidak bisa mengikhlaskanmu pergi...'


***


Keesokan harinya di Zoo Taman Kota S.


"Jimmyy.... Jangan jauh-jauh nak!" pekik Nyonya Lyn mengingatkan pada cucu kesayangannya.


"Iyaaa omaaaa..." sahut Jimmy berlarian kesana kemari riang.


Hari ini dia tiba-tiba merengek meminta untuk pergi ke Zoo pagi sekali. Dia kesal karena papa besarnya tidak pamit pergi padanya seperti biasa. Dia sempat merengek dan tantrum mengawali pagi di kediaman, sampai akhirnya dia meminta untuk melihat-lihat hewan di Zoo.


Sedangkan di kediaman Luciano, Kakek Akeno baru saja tiba di kediaman. Dia terkekeh saat mengetahui Farah dan Keano berubah pikiran dengan cepat. Farah berbincang serius sejenak dengan tetua Luciano sebelum mereka pamit kembali menuju negara kelahirannya.


"Apa yang terjadi sampai kamu bisa mengubah pemikiran yang sebelumnya mati-matian kamu jaga?" tanya Tuan Akeno serius pada Farah.


Wanita itu seperti biasa mengeratkan genggaman tangan di pinggiran terusannya. "Aku hanya berfikir, bahwa kisah kemarin adalah sejarah, Axcel membuka mataku untuk bergerak ke depan." terang Farah ragu.


"Heh..." Tuan Akeno terkekeh, dia sudah tahu pasal apa yang di alami cucu angkatnya. "Kamu tidak mencintai Axcel, selain membohongi cucuku kamu juga membohongi diri sendiri."


"It's time... Axcel sudah berusaha membahagiakanku dan Keano selama ini. Kini giliranku membahagiakannya... Walau mungkin hatiku masih menyimpan nama pria lain, tapi Axcel... Dia memiliki tempat tersendiri di hatiku... Dia sama specialnya dengan orang-orang yang aku sayangi di dunia ini."


Tuan Akeno terpaku dengan jawaban serius Farah, dia hanya bisa mengulas senyum tipis kemudian mempersilahkan Farah keluar dan berganti dengan Keano yang di minta Kakek Akeno menghadap dirinya.


"Apa kamu cukup puas?" tanya Kakek Akeno menyeringai pada cicit kesayangannya.

__ADS_1


"Not really..." lirih Keano mengepalkan kedua tangan. Kebenciannya mulai mendominasi raga dan pikiran pria kecil yang seharusnya hanya ada kebahagian di tumbuh kembangnya saat ini.


"Hah," Tuan Akeno terkekeh lirih. "Kebencian benar-benar membuat orang mengeluarkan kemampuan maksimalnya. Kakek tidak menyangka kamu bisa memasuki portal KTech." Tuan Akeno menatap penuh kebanggaan pada penerusnya kelak.


Keano terdiam, tidak tahu harus berkata apa. Jelas semalam dia begitu membenci Keenan sampai-sampai dia tidak menyadari bahwa dia begitu mudah memasuki sistem keamanan KTech dan mengubah algoritmanya agar memiliki celah.


"Seperti kesepakatan kita sebelumnya Keano, walaupun ayahmu bisa memilikimu sekalipun. Keano Lee hanya bisa menjadi penerus Klan Naga. Jika tidak─"


"Aku mengerti Kek, tanpa Kakek ingatkan aku sendiri akan memilih berada di Klan Naga yang sudah mendidikku seperti sekarang."


Tuan Akeno mengembangkan senyuman lebarnya, dia begitu puas dengan hasil akhirnya. Klan Naga memiliki harta tersimpan yang akan jadi bahan rebutan di Jaringan Hitam kedepan.


"Serahkan data yang aku inginkan." Tuan Akeno memutar laptopnya menunggu Keano menancapkan USB yang dia gunakan menyimpan sesuatu saat meretas sistem KTech semalam. "Ayahmu sudah terlalu arogan di Pasar Gelap, kelak kamu yang akan menggulingkannya dan membuat Pasar Gelap kembali stabil seperti sebelumnya."


"Kakek belum bisa berharap banyak pada pria kecil berusia lima tahun ini." celetuk Keano menatap sinis Kakeknya. "Tapi aku pastikan, Klan Naga tidak akan pernah rugi memilikiku justru Kaviandra yang akan merugi kali ini." tukas Keano terdengar seperti pria dewasa yang memiliki pengaruh kuat.


DEG!


Tuan Akeno terkesima sejenak dengan perubahan cepat Keano setelah melihat ayahnya. 'Keano adalah harta terakhir yang sangat berbahaya. Jika dia jatuh di tangan yang salah maka dunia bisa dia porak-porandakan dengan semaunya. Keenan, sampai kapanpun kamu tidak akan bisa mengendalikan putramu sendiri, aku bahkan bisa pastikan bisa mengendalikanmu lewat putramu.'


Tuan Akeno merasa cukup puas, walau cucunya tidak bisa memiliki pengaruh kuat di dunia bisnis untuk bersaing dengan Keenan. Tapi dia memiliki hal yang jauh lebih berpengaruh dari darah dagingnya sendiri. 'Inilah akibatnya kamu terlalu sombong Mr. K, kamu sudah menyia-nyiakan apa yang kamu punya dan aku memungut serta memolesnya. Sungguh keberkahan di sisa usiaku memiliki Keano Lee yang kelak akan mengemban tahta Raja Klan Naga dan Raja Jaringan Hitam.'


Keano dan keluarga kecilnya sudah berada di Zoo, dia berusaha menikmati liburannya kali ini. Dia menatap haru sekitar, Papa kecil menuju kearahnya untuk memasangkan gelang tiket di pergelangan tangannya.


"Oke, everybody kita siap menjelajah sekarang." seru Axcel antusias.


Ini memang bukan karya wisata yang pertama, hanya saja Farah merasa was-was. Dia tidak memakai perlengkapan menutup dirinya. Berharap tidak ada yang mengetahui identitas dia dan putranya.


"Pap, aku mau berkeliling!" seru Keano meminta ijin.


"Okay," Axcel menggenggam erat putranya dan berjalan memasuki lebih dalam kawasan kebun binatang.


Farah melengkungkan senyuman, dia bergegas mendekati keduanya. Ada rasa berbeda kali ini menyeruak di dada Keano. Rasanya dia seolah membayangkan bawa yang menggenggam tangannya adalah ayahnya sendiri. Keano merindukan saat jalan bersama dengan Keenan seperti kemarin saat dia pura-pura hilang dan di bantu oleh Keenan yang sanagt sabar menemaninya.


'Aku pikir semakin membenci akan semakin melupakannya, ternyata sebaliknya! Sebaaaal~' rutuk Keano mendengus pasrah.


"Ibu, aku mau ke toilet!" pekik Keano merasa ingin buang air kecil.


"Apa?" Farah kembali mengingat kejadian kemarin dan bertingkah posesif kali ini. "Tidak biasanya kamu selalu meminta ke toilet umum sekarang?!" ketus Farah curiga akan tingkah putranya.


"Aku benar-benar mau ke toilet Ibu!!" Keano tidak tahan dia berlari mencari di mana tempat itu berada.


"HEII!!" pekik Farah tidak terima namun di tahan pria di sebelahnya.


"Kamu ini kenapa Sayang? Dia kan kebelet pipis masa kamu gak bolehin. Dia ngompol tar gimana hayo?" tukas Axcel selalu menjadi penolong bagi Keano.


"Hiiss!" keluh Farah menghentakan kakinya dan beranjak untuk menyusul putranya.


Sedangkan di tempat Jimmy, dia terlalu asik berlarian kesana-kemari dan hilang dari pengawasan anak buah Keenan juga neneknya.


Brukk!!


"Aaw.." pekik Jimmy terjatuh setelah bertabrakan dengan seseorang.


"HEH!" Langkah Keano terhenti di saat dia tengah begitu menahan hajatnya.


"M-Maaf Kaaak..." Jimmy bangkit sendiri denagn wajah yang meringis sakit.


"MAKANYA JALAN TUH PAKE MATA!" pekik Keano kesal dan mencoba menghardik anak kecil yang menghalangi jalannya.


'Eh, tunggu─' Keano menyadari dia mengenali anak kecil barusan. Sudut bibirnya terangkat sejenak, dia berpikir sejenak dan setelahnya bergegas menuju kamar mandi tidak peduli pada anak kecil yang sudah menunjukkan ekspresi merengeknya.


Di sudut lainnya tak jauh dari Jimmy...

__ADS_1


"Aku menemukan putra Mr. K Tuan, menunggu perintah selanjutnya..."


---To be continued---


__ADS_2