Gadis Kecil Milik Mr. Mafia

Gadis Kecil Milik Mr. Mafia
EPS 172 # Random


__ADS_3

Resto Sushi terkenal, kota S.


Sandra tengah makan dengan lahapnya, dia menggerakkan kepala kiri dan kanan saat makanan sudah berada dimulutnya. Sam memindai kelakuan Sandra tanpa ingin menyela wanita mandiri di hadapannya. Dia tampak tengah berpikir dengan terus memperhatikan Sandra yang asik dengan makanannya.


'Gak kerasa, gue udah barengan ama Nek Lampir ini selama sepuluh tahun. Makin kesini dia makin rese, dan─' batin Sam merutuk namun ada sesuatu dalam jiwanya yang sukar dia cerna saat ini.


"Apa lu liat-liat?" sungut Sandra mendadak bad mood. "Kalau mau ngomongin gue, gak usah di belakang, di depan gue sini gak usah jadi pengecut!" cibir Sandra tetap memasukan makanan kedalam mulutnya.


"Dih najis," umpat Sam membuang wajah namun sudut matanya masih jelas melihat apa yang dilakukan Sandra.


"Sekarang bilangnya najis tar lu malah diam-diam ada rasa, bahaya tau gak!"


"Dih, narsis sekali anda... Siapa yang mau ama Nenek Lampir macem lu!"


Walau merutuk, tapi rona wajah Sam tidak bisa dihindarinya. Sam segera membuang wajahnya, jangan sampai Sandra menyadarinya. Sandra tertawa lirih mengejek ke arah rekan dua langkahnya.


Dddrrttt... Dddrrttt...


Ponsel Sam tiba-tiba bergetar, dia segera merogoh saku celana. Dia khawatir tuannya yang tengah mencari keberadaannya.


"Kenapa gak di angkat?" tanya Sandra mendelik.


"Kepo!" Setelah tahu siapa yang menghubunginya, Sam justru mematikan ponselnya segera.


"Dih gak jelas!" sungut Sandra tidak ingin peduli.


Tak berapa lama keduanya dikejutkan kedatangan dua orang yang mereka kenal.


"Cieeee, berdua-duaan malam mingguaaan!" pekik Ken membuat kedua pasangan di hadapannya terlonjak terkejut.


"Uuhuuuk!" Sam langsung terbatuk dengan perkataan Ken, sedangkan Sandra berwajah datar walau sempat terkejut sebelumnya.


"San, bagi dong gue lapar..." Ben menghampiri dan duduk langsung di sebelah Sandra tanpa basa-basi langsung mencomot makanan di piring Sandra.


"Makanlah, pesan lagi sana... Hari ini Sam ultah dia yang bayarin kita sampe kenyang mampuuus!" sungut Sandra menggebu, baginya mengerjai Sam adalah bakat terpendamnya!


"Bang-sat kalian semua!" umpat Sam emosi tapi tidak juga menghardik.


"Cihuuuy!" Ken bergegas menarik kursi di samping Sam, dan menunjuk salah satu pelayan untuk menghampiri mereka.


"Huh!" Sam mendengus sebal, ternyata rasanya tidak enak. Acara makan berduanya di ganggu oleh duo kunyuk teman lucknutnya.


"Kenapa hela nafas kek gitu? Gak punya duid ya?" Sandra terus memprovokasi emosi Sam.


"Untung sabar gue seluas samudra buat lo pada!"

__ADS_1


"Haseeek, sabar udah, traktir udah, nikahnya aja yang belom!" celetuk Ken menyuap milik Sam.


"UUHHHUUUKK!!" Keduanya kompak tersedak saat ini.


"Ciieee... Mulai ada kesamaan tindakan dan respon dari masing-masing pihak. Silahkan yang mau check in dipersilahkan~" sambung Ken tidak pernah kapok menyulut pertikaian.


"Cocoteee~" Sam menyumpal sushi secara paksa pada mulut Ken.


Keempatnya menghabiskan waktu bersama seperti yang sudah-sudah.


***


Keesokan harinya, kediaman Kaviandra.


"Sayaaang cepat!" seru Keenan memanggil Farah.


"Kakak duluan aja, aku masih touch up!" bual Farah.


"Sejak kapan kamu Touch Up?" kening Keenan berkerut dengan jawaban Farah.


"Duluan aja kenapa sih!!" pekik Farah marah membuat Keenan akhirnya menurutinya.


Keenan keluar dari kamar Farah dan berencana menuju ruang makan lebih dulu, hanya saja diperjalanan dia tidak sengaja berpapasan dengan Carol. Wanita itu bertabrakan dengan Keenan sehingga tubuhnya hampir terperosok di hadapannya.


"Aargh!" pekik Carol di buat senatural mungkin.


"Kakak?" panggil Farah membuat Keenan menyadari apa yang tengah dia lakukan.


Bruuk!


Dengan cepat Keenan melepaskan tubuh Carol, sehingga wanita itu terjatuh tepat di depan tubuhnya.


"Jalan tuh pake mata!" pekik Keenan dingin dan kasar.


Farah tersenyum tipis menghampiri bakal calon suaminya. Keenan memasang wajah lembut dan hangat saat wanitanya mendekat. Farah dengan sengaja bersikap manja dan menunjukan kemesraan di hadapan Carol. Gadis itu semakin tidak menyukai keberadaan Farah sekarang.


"Cih, apa bagusnya dia? Cuma bisa merengek manja aja disayang seluruh keluarga Kaviandra. Apalagi Kak Keenan... Huh!" gumam Carol bangkit memperbaiki pakaiannya.


Carol berpikir keras bagaimana caranya agar dia masih bisa membuat Keenan menyadari keberadaannya. Carol meyakini dirinya sebanding dengan Farah Lee. Bahkan, dia merasa jauh lebih baik dari pada Farah. 'Aku harus lebih cepat lagi menjebak Kak Keenan sebelum mereka melangsungkan pernikahan.'


Di ruang makan keluarga Keenan segera menarik kursi untuk istrinya.


"Cie... Mendadak bucin!" ejek Karen pada kakak dan kakak iparnya.


"Syirik bilang bosquuee~" seru Farah seperti biasa.

__ADS_1


Keenan tidak peduli, dia malah semakin menjadi mencium kening istrinya mesra. Karen mendadak mual melihat kemesraan keduanya yang terlihat dipaksakan itu.


"Bahagianya Mama, keluarga kita lengkap utuh sekarang!"


Nyonya Lyn masih tidak percaya, dia menyeka sudut matanya yang berembun. Tuan Kaviandra melebarkan senyuman menggenggam erat jemari istrinya.


"Oh iya, Mama sampai lupa mengenalkanmu pada Caroline,"


Carol yang menunduk, segera mendongak menunjukan senyum palsunya.


"Dia adalah sekertaris Karen di Suho. Dia juga yang mengasuh Jimmy selama ini." terang nyonya Lyn singkat memperkenalkan Carol pada Farah.


Farah hanya mengulum senyum tipis tanpa ingin menunjukan keramahan seperti biasanya. Keenan menaikan sudut bibirnya mengerti, wanitanya dalam mode cemburu.


"Kate aku yang bakalan jadi sekretarismu," cibir Farah menatap Karen kesal.


"Suruh siapa ngilang!" sahut Karen datar.


"Kamu tidak perlu jadi sekretaris adikmu, aku akan bangunkan kamu perusahan. Kamu CEO-nya!" timpal Keenan datar.


"Dih, anak emas," olok Karen.


Walau terdengar seperti mengolok Farah, tapi sesungguhnya itu adalah komunikasi wajar keduanya.


"Aku tidak butuh perusahaan sih sebenarnya. Suamiku kaya sealam semesta aku tidak perlu kerja keras bagai quda, sampai lufa orang tuaa~" cicit Farah membuat semua orang terbahak termasuk Keenan.


'Ya Tuhaaan, tawa pria di depan sungguh menerbangkan jiwaku!' batin Carol mencuri pandang pada pria pujaannya.


"Farah, Farah," kekeh tuan Kaviandra senang. "Walau begitu, Papa ada hal serius yang harus kita bahas mengenai perusahaanmu."


Semua mendadak mengheningkan cipta, termasuk Keenan.


Farah mengernyit tidak mengerti kemana arah perbincangan pamannya.


"Setelah ini kita akan berbincang empat mata," tukas tuan Kaviandra serius.


"Aku bersamanya." Keenan menggenggam tangan Farah menenangkan. "Dia istriku, aku bertanggung-jawab atas dirinya."


Tuan Kaviandra menyetujui, tak lama mereka langsung menyantap sarapan pagi dengan khidmat.


Tiba waktunya Farah dan Keenan berada di ruang baca tuan Kaviandra. Farah merasa tegang saat ini.


"Kita langsung saja ya," ucap tuan Kaviandra memulai.


Farah sedikit gelisah, Keenan bisa merasakannya. Tanpa waktu lama Keenan menggenggam erat jemari Farah dan menunjukan senyuman menyemangati wanitanya. Semakin jelas di indra penglihatan tuan Kaviandra, putranya memang teramat mencintai putri angkat mereka.

__ADS_1


--- To be continue ---


__ADS_2