
Keenan terpaku dengan keadaan mereka yang berubah drastis, belum ada hitungan jam dia merasakan kebahagian. Hatinya kembali di tampar keadaan, mereka belum sepenuhnya bahagia. Melihat bagaimana Keano mencoba membuat Ibunya keluar dari keadaan terburuknya.
Tubuh Farah bergetar hebat, kakek Akeno menyuntikan zat serupa dengan dopamin dalam jumlah besar justru mengacaukan hormon adrenalinnya. Tiba-tiba Farah menangis, sekian detik kemudian tertawa terbahak jelas seperti orang gila. Keenan sempat ragu, mungkin wanitanya hanya tengah berakting. Hanya saja saat melihat pangeran kecilnya begitu hebat dan sabar menerima perlakuan impulsif ibunya membuat Keenan berpikir ulang.
'Aku sungguh malu pada putraku, aku tidak ada disamping mereka saat mereka membutuhkanku!' batin Keenan berkecamuk hebat.
Hal ini juga merupakan tujuan dari kakek Akeno untuk menyerang mental Keenan. Mereka tidak bisa bertarung dengan kekuatan dan strategi perang melawan Mr. K, Si Raja Jaringan Hitam. Namun, kelemahan terbesar pria itu berada di tangan mereka.
"Ibu butuh obatnya Papa..." cicit Keano lirih menatap ayahnya yang menyeka kedua pelupuk mata yang basah.
DEG!
"Heh!" Keenan menunduk terkekeh. "Jadi inilah tujuannya? Menggunakan Ibumu untuk kembali pada mereka" cerca Keenan langsung pada intinya.
Keano tersenyum takjum, memang bukan sembarang gelar tersemat di nama besar ayahnya.
"Mau bagaimanapun, Ibu harus kembali kesana. Ibu membutuhkan pengobatan Klan Naga. Jika tidak─" Keano menggantung kalimatnya.
"Jika tidak kenapa, hah?" Keenan mulai berdebat. "Apa merenga mengancam kalian?" Keenan menatap nanar ke arah putranya. "Dengar Nak, Papa sudah katakan... Kalian hanya boleh tinggal bersama Papa, kalian milik Papa selamanya!"
"Aaarrghhh!! Lepaskaaaan... Pergiii...." Farah yang sebelumnya menutup mata, kembali dengan tindakan impulsifnya.
"Lakukan Pa, saat Ibu terlambat dengan obatnya dia akan kembali koma." tukas Keano datar menguji ketangguhan ayahnya.
DEG!
"Aku akan membawakan obatnya," lirih Keenan lemas. Tubuhnya seperti tidak memiliki tenaga sama sekali, jiwanya seolah terhempas dan terlempar kesana-kemari. Hatinya gamang, inikah akhir dari kisah mereka?
"Pah, kamu mungkin pandai melakukan strategi perang. Tapi, kamu lemah dalam mental!" cerca Keano. "Sejujurnya, aku tahu rencana besar mereka... Sebelumnya aku memang tidak berniat mengampuni Papa. Tapi─" Keano kembali melihat Ibunya yang mulai tertidur karena jarum bius yang sudah Keano tancapkan di ceruk leher ibunya.
"Kebahagian Ibu adalah kebahagiaanku... Aku tahu perjuangan Ibu melahirkan dan membesarkanku... Bagaimana dia keluar dari masa sulit hidupnya untuk membesarkanku tanpa bantuanmu? Semua dia lakukan dan bertahan hanya demi aku hidup. Aku akan melakukan apapun untuk Ibu." Keano menghirup oksigen dalam, dan menghembuskannya perlahan.
__ADS_1
"Setelah melihat senyum Ibu barusan, aku tahu kebahagiannya adalah hidup bersama Papa." Keano berujar denagn wajah sendu.
Keenan sudah membanjiri wajahnya dengan air mata. Dia tidak peduli jika putranya menganggap dia cengeng.
"Papa tentu akan melakukan hal yang sama denganmu," Keenan mencengkram bahu Keano meyakinkan putranya. "Kebahagian kalian adalah kebahagianku. Ijinkan aku melakukan tugasku kali ini, ya?" Tubuh Keenan bergetar, dia sungguh seperti tengah dilucuti di medan perang.
"Maafkan Papa," Keenan kembali tegak. "Papa bersumpah, di sisa hidup dan usia Papa, kalian adalah prioritas utama."
"Baiklah, aku memberikan kesempatan untuk Papa membuktikan segala sumpah yang Papa sebutkan barusan."
Keenan tersenyum dan mengucapkan berkali-kali rasa terima kasihnya.
"Kita sepakat, aku yang akan membujuk Kakek. Percayakan semuanya padaku, apa kamu sanggup?" Keano seolah tengah memberi perintah pada bawahannya, Keenan terkekeh lirih.
"Iya Sayang, Papa akan megikuti semua apa yang kamu katakan."
Keenan kembali melajukan kendaraannya dan menepi memasuki salah satu hotel berbintang milik KGroup. Sesuai instruksi Keano, Keenan membawa Farah yang masih tidak sadarkan diri di salah satu kamar disana. Keano di antar oleh Sam menuju kediaman Luciano.
Ben menemui tuannya, Keenan mencium sekilas kening istrinya dan keluar menemui anak buahnya.
"Hm..." Keenan kembali menunjukan wajah dingin dan penuh amarahnya.
"Markas kita─" Ben menggantung kalimatnya, tepat seperti dugaan tuannya sebelumnya.
Keenan menaikan sudut bibirnya. "Apa yang sebenarnya mereka cari?"
"Virus X dan Y tahap pertama." sahut Ben berhati-hati.
"Apa mereka mendapatkannya?" tanya Keenan dingin duduk di kursi, memberikan gerakan tangan pada Ben.
Anak buahnya mengerti, dia bergegas menuang wine yang baru saja di berikan oleh room service hotel.
__ADS_1
"Mereka sudah membawanya." Ben menjawab di samping tubuh Keenan dan melayani tuannya, kali ini dia menghidupkan cerutu untuk tuan besarnya.
Keenan tampak berpikir sejenak. "Kalian berharap bisa mengelabuiku menggunakan Farah? Heh..."
Terdengar tawa culas Keenan kembali menggema di ruangan. Selama lima tahun dia memimpin Jaringan Hitam dengan kegelapan tentu saja bukan hal yang sulit untuk mengetahui apa keinginan musuhnya. Sejujurnya, tanpa otorisasi dari Keenan laboratoriumnya tentu tidak akan ada yang bisa memasukinya. Keenan hanya ingin tahu apa tujuan mereka sebenarnya.
"Hancurkan EYES milikku, perintahkan Mr. Huang memproduksi cangkangnya kembali untukku. Selebihnya akan aku urus sendiri." titah Keenan dengan mengepulkan asap tebal dari cerutunya. "Kamu sudah mengembalikan sistem keamanan kesemula?"
"Sudah Tuan, setelah mereka bubar semua sudah kembali seperti semula. Hanya saja─" Ben menggantung kalimatnya.
"Why?" Keenan menatap tajam kearah Ben.
"Dari IP yang digunakan mereka, kami mendapatkan jejak history penggunaan sebelumnya." Ben ragu apa perlu mengatakannya atau tidak.
"BENNY!"
"Hacker yang beraksi semalam adalah Tuan Muda Keano."
Keenan menyeringai senang, putranya memang pantas dia banggakan. "I'm so proud of him..."
"Biarkan saja, toh dia melakukannya karena dia membenciku sebelumnya." sambung Keenan kemudian menyerahkan satu tube kecil sample darah Farah.
"Aku kembali mandatkan kamu untuk melakukan observasi pada darah Farah." Keenan menyerahkan sample darah Farah pada anak buat kepercayaannya. "Suruh Ken merekrut kembali alkemis terbaik di seluruh penjuru dunia. Berapapun yang mereka inginkan aku akan kabulkan asal istriku lepas dari virus XY!" Keenan mengepalkan kedua tangannya erat.
Dia kembali di bawa mengingat bagaimana dia melenyapkan satu Klan besar di negaranya. Apa yang di prediksi Wei Long terjadi juga. Farah menjadi rebutan antar klan penguasa lain di Jaringan Hitam. Darahnya merupakan jawaban dari virus XY.
Ben mengerti dan keluar dari ruangan dengan sopan. Keenan mematikan cerutunya, tak lama kembali menuju kamar dimana istrinya terbaring lemah disana.
"Sayang..." Keenan menggenggam tangan Farah dan menciumnya. "Maafkan aku... Aku memang tidak pantas menerima maafmu... Jika saja aku bisa menyerahkan nyawaku untuk melenyapkan semua rasa sakit yang selama ini kamu tanggung, aku ingin melakukannya saat ini juga." Keenan menutup kedua matanya di iringi bulir bening yang kembali menyeruak.
"Sadarlah Baby, aku akan melakukan apapun untukmu." Keenan mencium erat punggung tangan Farah yang putih bersih bak pualam.
__ADS_1
---To be continued---