
Farah cepat-cepat menyingkir dan berusaha memuntahkan kembali sesuatu yang dipaksakan kekasihnya untuk ia minum.
Hoekkk... Hoekkk...
"Hehe!" Keenan terkekeh senang dan lemas bersamaan. Dia terduduk dengan mengatur nafas di sofa. "Aku sangat menyukai gadis penurut yang mudah memahami dan cepat belajar apa yang perlu kamu kuasai sekarang, Baby!"
Ingin rasanya Farah meninju bertubi-tubi wajah menyebalkan kekasih hatinya, dia sungguh tidak habis pikir. Selama ini Farah sudah salah mengira mengenai pria yang selalu menjadi sosok yang dia kagumi dari ujung rambut hingga ujung kaki. 'Aku lupa siapa pria ini, tapi aku tidak menyangka dia yang terlihat seolah begitu dingin dengan lawan jenisnya, ternyata aslinya sebusuk ini!'
Farah merasa mual luar biasa, dia bergegas meminum air mineral yang terletak di atas nakas. Dia menatap Keenan dengan penuh kekesalan yang luar biasa. Keenan hanya menunjukan seringai penuh maknanya.
"Kenapa? Kamu tidak suka, hm?" Keenan balik menatap Farah dan menekannya.
"Kakak jorok!" umpat Farah terlihat menunjukan wajah yang kesal.
Keenan hanya tersenyum sekilas, kemudian kembali menunjukan jari telunjuknya mengisyaratkan Farah untuk mendekatinya. Farah kembali menelan salivanya. 'Apa hukuman sebelumnya belum cukup?'
Farah berjalan perlahan dan kembali menghadap pada pria utusan alam baka yang tidak bisa ditebak bagaimana perasaannya saat ini. Keenan semakin menunjukkan untuk Farah mendekatkan wajahnya.
Cup~
Farah tersipu saat bibir Keenan mencium lembut bibirnya. "Jangan membuatku kembali emosi, kamu mengerti?"
"Ya..." Farah berujar menatap sendu ke arah pandangan Keenan yang kembali memindainya.
"Kamu sudah siap? Karena aku ingin memakan hidangan utamaku!"
Farah mengepalkan tangan kesal, rasanya dia hanya dijadikan mainan oleh pria paling dia cintai.
'Sudah terlambat menyesal, dia tidak mungkin tidak memiliki perasaan apapun padaku. Lambat laun aku sangat yakin. Keenan Kaviandra akan aku dapatkan seutuhnya, walau jalannya harus menjadi penghangat kasurnya yang ilegal lebih dulu!'
Tubuh Farah terkulai lemas, terdengar suara erangan prianya yang menandakan dia telah mencapai puncak permainan panas keduanya. Keenan mencium Farah sekilas sebelum tubuhnya ambruk di samping gadis kecilnya. "I love you, Baby..."
Farah mengulum senyum getirnya, walau kalimat yang ia dengar adalah kalimat cinta. Namun, di hatinya Farah merasa nyeri. "Kakak berjanji padaku bukan? Hanya ada aku satu-satunya wanita yang menghangatkan ranjang Kakak?!"
"Heh, bisa diatur, Sayang!" Keenan berbalik memeluk tubuh Farah. "Apa kamu begitu takut aku memiliki wanita lain, hm?" Keenan mencium lekat kepala gadisnya.
"Apa Kakak tidak punya hati untuk melakukan dengan wanita lainnya setelah melakukannya denganku?"
Keenan terdiam, sepertinya wanitanya dalam mode merajuk. "Sayang, aku sudah bilang... Jangan berharap lebih padaku!"
Farah tersenyum getir, dia berpura-pura mengakhiri perbincangan dengan menutup matanya. Keenan menatap sendu dan terdengar menghela nafas berat. "Dengar Farah!"
Keenan memaksa Farah terbangun dan mengapit wajah gadisnya, sorot mata tajamnya membuat gemuruh hebat kembali mendatangi Farah. "Kamu wanitaku mulai saat ini, kamu harus tahu posisi dan statusmu!"
"Tubuhmu milikku!" Keenan mengusap lembut kepala Farah dan menggenggam sebagian helaian rambut yang dia kecup perlahan.
"Hatimu milikku!" Keenan beralih mengusap perlahan wajah Farah.
Farah seperti kembali melakukan teleportasi ke bulan, dia meninggalkan seperangkat peralatan astronotnya dan melepas tabung oksigennya. Dia merasa sesak dan kesulitan bernafas.
"Semua hal tentang Farah Lee, adalah kepunyaanku! Keenan Kaviandra..."
Deg!
"Jadi jangan harap, ada sesiapapun yang mencoba mendekati bahkan menyentuhmu! Kamu, milikku seorang... Orang yang berani menyentuhmu, aku akan menghancurkannya dan mengirimnya ke Neraka walau belum waktunya!"
Farah menjatuhkan air matanya, di banding terharu, gadis itu justru ketakutan dengan kalimat yang terasa seperti ancaman. Semakin membuktikan, kelak Farah adalah burung pipit yang berada di sangkar emas tuannya. Dia tidak akan bisa lagi bergerak bebas seperti sebelumnya. "Apa ini sudah mewakilkan pernyataan cinta Kakak?"
"Terlalu awal untuk kamu menyimpulkan, bukan? Kita baru sedekat ini dalam waktu dua hari... Apa yang kamu harapkan?"
__ADS_1
Keenan memang tidak bisa di tebak, tapi satu hal yang diketahui Farah. Keenan adalah pria yang egois dan angkuh. Menjadi penurut dan tidak berisik adalah cara terbaik untuk menyambung nyawa. "Ya, aku memang terburu-buru menyimpulkannya. Namun... Ini awal yang baik bukan? Aku menyukainya!"
Farah menunjukan senyuman terbaiknya, dia sudah terlatih membohongi diri dan hatinya. Dulu, dia memendam perasaannya. Sekarang, tentu bukan hal sulit untuk memendam perasaan yang sebenarnya.
"Kamu menyebalkan Farah!" Keenan kembali memagut bibir Farah dan melanjutkan memakan gadisnya yang sudah menggoda gairahnya kembali menyala.
***
"Aaarrghh!"
Keenan menjerit frustasi dan membenamkan dirinya dalam bak mandi besar yang sudah merendam tubuhnya selama satu jam sebelumnya. Setelah pergumulan panas keduanya, Keenan meninggalkan Farah yang tertidur kelelahan. Dia beranjak menuju kamar mandi dan membersihkan diri.
"Oh Keenan, kamu sedang menyusahkan dirimu sendiri!" Monolognya kembali mendongak.
"Apa jadinya jika Karen tahu aku melakukan hal ini pada adik kesayangannya! Huh..."
"Kakak minta maaf Karen, Ma, Pah... Aku sudah sangat berusaha selama ini... Tapi─"
Keenan kembali membenamkan dirinya dalam limpahan air hangatnya. Dia kembali keluar saat sebuah pesan dari asistennya terhubung dengan EYES miliknya.
"Tuan, maaf mengganggu... Saya sudah di luar!"
Keenan tidak menjawab, dia hanya menerima dan otomatis Sam bisa melihat dengan matanya apa yang dilakukan tuannya sekarang. Keenan bergegas menggunakan pakaiannya dan keluar dari kamar. Sebelum benar-benar keluar Keenan berbelok dan mendekati gadis kecilnya.
"Hey Degil!" Keenan mengurungkan diri untuk menyambung katanya, dia menatap lekat dan mencium kening gadisnya. "I love you... Sleep well... Bangun jika kamu ingin terbangun..."
Keenan kembali bangkit dan keluar kamarnya segera. Di depan kamar Sam sudah menyambut membungkukkan tubuhnya. "Selamat pagi Tuan..."
"Hm, apa kamu membawakan makanan untuk Farah?"
"Sudah saya persiapkan, semua ada di meja makan. Apa anda akan melakukan sarapan pagi sekarang?"
Sam segera melayani dan mempersiapkan kebutuhan tuannya. Biasanya ada paman Tang yang melakukan tugas seperti ini. Tapi, disini tentu saja Sam menjadi multifungsi. 'Harusnya aku minta ekstra tambahan bonus dan gaji. Huhu!'
"Jika kamu gentlemen, tidak perlu mengutukku di belakang!"
Sam menunjukan wajah masamnya. "M-mana mungkin, anda terlalu banyak berpikir!" sanggah Sam segera setelah selesai dengan urusannya.
"Apa kamu tidak lupa dengan obat kontrasepsi Farah?" Keenan kembali bertanya.
Sam mengerutkan keningnya, untuk apa tuannya terus bertanya mengenai kontrasepsi Farah setiap hari? 'Apa mungkin dia selalu melakukannya setiap malam? Bagaimana rasanya bisa melakukan hal itu pada gadis yang diurus sendiri dari kecil? Aku sungguh Herman, ini sungguh di luar prediksi BMKG. Mau heran tapi dia Tuanku~'
"Jawab!"
"Eh, iya... Kemarin siang aku sudah memberikannya pada Nona Muda!" Sam terkejut, dia lupa jangan pernah menjeda pertanyaan tuannya.
"Apa itu aman jika dikonsumsi setiap hari? Apa kamu memeriksa kandungan di dalamnya? Aman untuk gadis seperti Farah?" Keenan terus mencerca anak buahnya yang mulai kebingungan.
"Apa anda selalu melakukannya dengan Farah?" selidik Sam, bagai disambut apa yang jadi pengganjal pikirannya. Keenan sendiri yang menyinggungya lebih dulu.
"Ck, bukan urusanmu!" hardik Keenan membuang wajahnya malu.
"Tadi anda bertanya bukan? Jika tidak berhubungan untuk apa mengkonsumsinya?"
Bagai ditusuk dari belakang, Keenan seperti tengah dipermalukan oleh Sam sekarang. Keenan menahan emosinya agar tidak memuncak, Sam menyadarinya dan kembali mengambil alih keadaan sebelum kebangkitan utusan alam baka menunjukan dirinya.
"Seperti yang saya jelaskan sebelumnya, obat yang saya berikan aman untuk segala usia. Tim farmasi kita juga sudah memeriksanya lebih dulu. Hanya saja, saya tidak tahu efek dari pemakaian yang terlalu sering dalam jangka panjang!"
Jleb!
__ADS_1
Keenan kembali merasakan sakit tak berdarah, Sam begitu puas menusuk perasaan Keenan. Anak buahnya itu sudah benar untuk mengingatkan Keenan agar tidak selalu menyiksa adik sepupunya. Sam berharap kewarasan tuannya kembali seperti sedia kala. 'Wanita akan menjadi penghalang dan penghancur seorang pria!'
"Abaikan!" Keenan mengakhiri diskusi mereka sebelum Sam tambah menjadi mengatainya. "Kapan Papa dan Mama pulang?"
"Dalam agenda pengurus Chen mengatakan bahwa besok Tuan dan Nyonya besar kembali pulang!"
Keenan menggenggam tangannya erat, kegelisahan jelas terbaca di rona wajahnya. "Lalu Karen? Bagaimana kondisinya di NY?"
Sudah tidak heran memang bagi Sam pada pertanyaan remeh tuannya seperti saat ini. Bagi Keenan keluarga adalah prioritas. Dengan pria itu terjun di dunia jaringan hitam, otomatis segala hal harus diperhatikan dan diperhitungkan, termasuk keselamatan orang sekitarnya! Musuhnya akan mencari kelemahan dirinya, itu alasannya Keenan harus menjauh dari orang yang sangat dia cintai sebelum menjadikannya beban di dalam pekerjaan utamanya menjadi pembunuh bayaran dan pencari validasi atas kekuatan dan kekuasaannya.
"Hal yang aku minta mengenai Farah, apa kamu membawanya sekarang?"
Sam terkekeh sejenak, dia meletakkan beberapa berkas mengenai Farah dan aktivitasnya beberapa hari terakhir. "Ini Tuan!"
Deg!
"Ck... Ini nilai akademik Si Tengil?!" Sorot mata Keenan menatap tajam ke arah berkas nilai ujian tempo hari.
"Ppft! Itu yang saya dapat dari data yang disimpan wali dosennya." Sam kembali menjelaskan dengan menahan tawanya.
Semuanya memang sudah sangat tahu kapasitas kepintaran anak angkat Kaviandra satu itu. Hanya saja, sampai mendapatkan nilai merah dan melakukan jadwal perbaikan nilai, ini pertama kalinya dalam sejarah!
"Hiish!" Keenan menyandarkan tubuhnya kesal. "Apa ini?" Mata Keenan semakin mendelik awas menatap layar gadgetnya yang menunjukkan kamera pengawas hotel emperor pada waktu itu.
"Kami sudah mencari tahu kebenaran mengapa Nona muda berada di Hotel malam itu!" Sam berubah menjadi serius.
Keenan kembali mengepalkan tangannya emosi. "Katakan!"
"Kami meretas satelit dan mendapatkan ini!" Sam menunjukan bagian dimana Farah bertemu dosennya.
"Dia berbohong!" Keenan semakin emosi dibuatnya. 'Pantas saja dia memakai pakaian terbuka seperti itu, heh! Bagaimana aku harus menghukummu, Baby!'
"Victor Xiao?"
"Menurut penyelidikan lanjutan, dia menjadikan Farah sebagai alasan untuk menolak perjodohan yang direncanakan keluarga besarnya!"
Braaak!
"Berani sekali dia menggunakan orangku!" Keenan menggebrak meja tidak menyukai apa yang diucapkan asistennya.
'Hohoho, anda cemburu Tuan? Ckck... Ternyata berhubungan badan bisa membuat seseorang yang berhati batu melunak seperti sekarang!'
"Kamu tahu bukan apa yang aku inginkan, berikan dia hukuman kecil. Dia harus paham, jangan pernah menyentuh keluarga Kaviandra bahkan berani memanfaatkannya!"
"Di mengerti Tuan!"
"Lalu ini apa?" Keenan kembali membuka berkas lainnya. "Siapa yang berani mondar-mandir di pintu masuk kediaman?!"
"Pria itu adalah rekan kampus Nona!" Sam kembali menjelaskan. "Semenjak Nona absen di hari kemarin, penerus keluarga Luciano mencari keberadaan Nona!"
Deg!
'Aku tidak menyangka banyak sekali pria di sampingmu Farah Lee!'
"Cari tahu ada hubungan apa mereka berdua!"
'Haseeeek! CEO Bucin Oteweee pemirsaaa...'
Sam begitu senang mengejek tuannya yang semakin menunjukkan gelagat mencurigakan setelah mengetahui bagaimana Farah Lee begitu memiliki banyak penggemar. 'Sudah tahu gadis kecilnya begitu cantik, dia sok-sokan jual mahal! Tau rasa kan sekarang... Hahaha...'
__ADS_1
--- To be continue ---