Gadis Kecil Milik Mr. Mafia

Gadis Kecil Milik Mr. Mafia
EPS 121 # Mengakui Dosa


__ADS_3

Tap... Tap... Tap...


"Shiiit! Kita terlambat..."


Seluruh anak buah Keenan telah berada di gedung yang baru saja di tinggalkan oleh kelompok musuh. Ben memekik kesal saat mereka kembali terlambat membantu tuannya. Sam tengah menyelidik ruangan yang masih terasa hangat bekas pertempuran merasakan darah yang masih terasa segar yang diciptakan oleh tuannya. Sam menggunakan EYES menampilkan kembali kejadian sebelumnya.


Beberapa hologram tengah merefleksikan kejadian disana, semua anak buah Keenan bergerak cepat membersihkan area pertempuran demi membuang bukti kejahatan tuannya.


Sam menelan salivanya, EYES Keenan mati setelahnya tuannya tidak sadarkan diri. "Aku sudah menanamkan chip di dalam tengkuk leher Keenan. Kita masih bisa melacaknya, bagi pasukan menjadi dua. Sisanya ikut denganku!"


Semua anak buah mengangguk mengerti, Ken dan Kai dalam mobil yang sama sedangkan Ben dengan Sam. Sam tengah mengirimkan koordinat yang bisa dijadikan acuan dimana tuannya berada sekarang.


"Mereka bergerak ke selatan... Sepertinya mereka akan menuju dermaga." tutur Ben mengotak-atik layar pintarnya.


Sam tengah mengemudikan Pagani Huayra kesayangan yang sudah ia modifikasi sedemikian rupa dengan sistem milik KTech.


"Apa menurutmu Tuan Besar akan mengambil alih jika Tuan─" tanya Ben menatap Sam yang berwajah serius.


"Jangan sembarangan berucap, apa kamu meragukan kemampuan Tuanmu Hah?!" sahut Sam emosi. "Tuan Kaviandra memiliki dukungan dari aparat negara, bahkan seluruh tentara negara bisa dia kendalikan. Jika Mr. Wei pintar dia tidak akan mungkin menyulutkan perang besar antar keluarga besar." sambung Sam.


"Tapi bukankah itu lebih baik? Tuan besar mengambil alih maka semua masalah ini berakhir." Ben kembali bertanya sesuatu yang terdengar konyol di telinga Sam.


"Kau sungguh bodoh!!" maki Sam menatap Ben kesal. "Jika Tuan Besar tahu masalah ini, dengan begitu beliau juga tahu pekerjaan underground kita selama ini!" cicit Sam tak lupa mendorong kepala Ben.


"Hehehe..." kekeh Ben garing.


"HEHE...HEHE saja bisamu!" umpat Sam kesal.


"Habisnya ya, aku bingung dengan Tuan Muda kita... Jujurly dia kan sangat mudah menghabisi Tuan Wei, ngapain juga masih biarin selama ini bahkan rela ikut terjebak dalam permainan kotor mereka!" Ben masih tidak mau menghentikan obrolan mereka. Bisa berbincang di waktu sekarang sudah menjadi keberkahan baginya.


"Bodohmu mengalir seperti pipa air BENNY!" olok Sam dengan seringai mengejek di hadapan orangnya langsung.


"Tentu saja BISNIS BODOH!"


Plaak!


Sam kembali memukul kepala Ben kesal, Ben hanya menunjukan raut wajah cengengesannya.


"Apa kamu tidak tahu apa itu politik simbiosis mutualisme?" Sam menerawang jauh kedepan dengan terus menekan pedal gasnya.


"KTech tidak akan mungkin memiliki bisnis besar antisera tanpa vaksin XY!" Sam kembali menjelaskan pada rekannya yang terkadang pintar dan terkadang lola.


"Jika Huateng habis berarti tidak ada lagi kejahatan Vaksin XY, jika Vaksin XY mati maka Antisera kita tidak bisa kita jual-belikan!"


"Begitu saja KAMU BODOH!!"


Ben kembali terlihat cengengesan dengan menggaruk tengkuk lehernya yang jelas tidak gatal sama sekali.


"Padahal, Tuan tidak akan kekurangan harta bukan? Penjualan produk KTech sendiri sudah membuat Tuan kaya tujuh turunan. Sampai kapan Tuan berkecimpung di Jaringan Hitam?" ucapan Ben membuat Sam membuang nafasnya dengan sedikit kekehan.


"Sudah tau punya kelemahan sekarang, masih saja tidak mau melepaskannya." sambung Benny menatap serius Sam.


"Kau memang tidak mengerti Tuanmu, Keenan memiliki alasan khusus mengapa dia masih menggeluti jaringan hitamnya." tukas Sam dingin.


"Ye laaah~ Si Paling Tahu Tuannya..." cicit Ben mengejek Sam.


Plaaaak!!

__ADS_1


"SAMUEEEL!" pekik Ben tidak terima terus di pukul Sam.


***


Pelabuhan Bongkar Muat Kargo Negara S bagian Selatan.


Tubuh Keenan dan Farah dimasukan ke dalam sebuah kontainer berukuran sedang, setelahnya tuan Wei memerintahkan untuk membuang kontainer ke perairan laut lepas Samudera Hindia.


Di dalam sana Keenan dan Farah masih dalam kondisi tidak sadarkan diri, tak lama setelah kontainer terjatuh dari kapal Farah terjaga.


"Ugghh!" lenguh Farah merasakan kepalanya berputar menyebabkan dia pusing dan mual bersamaan.


"Kakaaak!" pekik Farah kembali ingat apa yang sedang terjadi pada mereka saat ini.


Keduanya masih dalam keadaan terikat di tangan dan kaki dengan jarak mereka juga yang di buat berjauhan.


"Banguuunn Kaaakk!!" seru Farah berharap Keenan bisa membuka matanya.


Farah kembali terisak pilu saat ini, untuk pertama kalinya Farah melihat kondisi prianya yang terlihat mengenaskan. Biasanya Keenan yang melakukan hal ini pada musuh-musuhnya seperti yang sudah dialami Farah setelah menjadi wanitanya. Tubuh Keenan terikat sepenuhnya dengan lumurah darah segar.


"Apa yang harus aku lakukan? Berfikir FARAAAH LEE!!" Farah mengeratkan kedua matanya dia tengah berpikir apa yang bisa membangunkan kekasihnya dengan cepat tanpa menyentuhnya.


"KAK, BANGUUUN!! JIKA KAKAK TIDAK BANGUN AKU AKAN TIDUR DENGAN PRIA LAIN!!" pekik Farah lantang berharap Keenan mendengarnya.


"Uhuuukk!!"


"Puja kerang ajaib!" pekik Farah lirih tidak menyangka otak Keenan juga berisi hal cabul.


"FARAAAH!"


Setelah terbangun Keenan langsung memekik memanggil kekasihnya, Farah tersenyum senang akhirnya prianya bisa tersadar saat ini juga. Dia tidak tahu jika Keenan tidak bisa lagi membuka matanya maka dia akan memilih mati menemani kekasihnya.


Dengan sisa tenaga yang ia punya dia mengendalikan benda tajam untuk mendekat ke arahnya. Kebetulan sekali di dalam kontainer itu terdapat besi yang bisa di gunakan Keenan melepaskan ikatan yang membelenggu pergerakan tubuhnya.


Keenan sudah memprediksi sebelumnya, saat dia menyerahkan diri maka pihak musuh akan melucuti teknologi yang melekat di tubuhnya. Oleh karenanya, sebelum mendekati gedung dia meminta Sam menginjeksikan teknologi terbaru mereka ke dalam tubuhnya langsung. Chips itu terpasang di tengkuk lehernya, dia juga membuat lensa kontak EYES tidak bisa melepaskan dirinya sendiri tanpa kode dari si pengguna.


Jadi saat ini Keenan masih memiliki senjata unggul, bahkan masih bisa mengendalikan apapun di dalam ruangan itu. Hanya saja energinya yang sudah hilang dia tidak bisa menggunakan bahkan mengaktifkan kembali EYES miliknya.


"Woow..." terlihat raut takjub dari wajah Farah membuat Keenan gemas dengan gadisnya.


Keenan sudah terlepas sepenuhnya dari ikatan yang membatasi pergerakannya. Keenan mendekat ke arah Farah.


Tiik!


Farah menutup kedua matanya, Keenan menjentikan jari di kening kekasihnya. Tak lama pria itu merangkul tubuh Farah dan mencium mesra keningnya.


"Kau pikir aku adalah orang bodoh sepertimu hmm?" ujar Keenan kembali terdengar sarkas.


"Aku memiliki jutaan taktik mengeluarkan diri dari sini, yang mereka lakukan sekarang belum seberapa!" ujarnya kembali terdengar angkuh.


"Ya... Ya... Ya..." cibir Farah menggoda.


"Kau!"


Keenan menarik tengkuk leher Farah dan memagut bibir wanita pujaannya. Keduanya menutup mata perlahan dan merasakan kembali sentuhan yang selalu berhasil membuat mereka tenang bahkan berakhir panas. Keduanya saling menyesap bibir dan menggerakkan kepala keduanya mencari kenyamanan dari pagutan yang tengah mereka ciptakan.


Tangan Keenan melepaskan ikatan yang terpasang di tangan Farah dengan masih memagut bibir wanitanya. Setelah terlepas Farah langsung merangkulkan kedua tangannya di bahu prianya.

__ADS_1


Bruuk!


Keenan menjatuhkan tubuh Farah di alas dan kembali berciuman mesra yang berawal perlahan kini berubah menuntut. Sentuhan bibir Keenan turun menuju leher jenjang kekasihnya dan mengabsen seluruh permukaan kulitnya.


"Aaarghh... Ssshh... Sayaang..." lenguh Farah merasakan adanya kejutan arus pendek dalam tubuhnya.


Keenan memang mudah sekali tersulutkan hasratnya jika berdekatan dengan wanitanya. Hanya saja Keenan menghentikan sejenak dan menatap sendu wanitanya.


"Maafkan aku..." tutur Keenan sendu mengusap lembut wajah kekasihnya.


Hati Farah kembali hangat, dia merasa tenang sekarang. "Kak, aku yang harusnya minta maaf tidak bisa menjaga diriku dengan baik..."


"Kenapa baru nyadar sekaraaang!" gemas Keenan menunjuk kening Farah dengan jari telunjuknya.


"Hehehe..." Farah hanya bisa terkekeh dengan sikap kekasihnya saat ini.


Keduanya kembali terduduk, Keenan menyelidik tempatnya. Dia sudah tahu bahwa itu adalah sebuah kontainer. Hanya saja mereka seperti tengah terombang-ambing saat ini. Bahkan Farah mulai kembali merasakan mual mendera dirinya.


"Hooeeekkk!" tanpa bisa di tahan Farah membalikkan tubuhnya dan merasa ingin mengeluarkan seluruh isi perutnya.


"Shiiitt Baby!!" Keenan tersadar dan menghampiri Farah menekan pergelangan tangan di titik tertentu yang bisa meredakan mual kekasihnya. Teknik yang sama seperti akupuntur yang menekan titik syaraf pada telapak tangan Farah.


Tubuh Farah bergetar hebat, selain rasa tidak nyaman dari dalam tubuhnya dia juga gelisah. Pasalnya Keenan mengetahui kebenaran akan kandungannya. Keenan menatap lekat perut Farah ada jutaan rasa yang menggelayut di dalam dirinya yang membuat tenggorokannya tercekat sulit berucap saat ini.


Farah terdiam sejenak merasakan pandangan Keenan. "Aku minta maaf Kak, aku berbohong selama ini..."


Keenan masih tidak bergeming di tempatnya, Farah menundukan wajahnya sejenak kemudian mendongak dan berujar tenang. "Karena aku sudah mengingkari kesepakatan kita, kakak boleh membunuhku sekarang..."


"Heh!" secepatnya Keenan merespon dengan kekehan lirih. "Kamu sungguh konyol Baby, untuk apa aku melakukan semua hal ini jika pada akhirnya aku harus membunuhmu hm?"


Keenan menekan dagu kekasihnya, terlihat jelas oleh Farah ada keraguan dalam kedua netra Keenan. "Karena aku milikmu, tentu saja mati dan hidupku ada pada keputusanmu..."


Bruuuk!!


Keenan memeluk Farah erat. "Jangan pernah mengatakan hal itu lagi ya... Aku tidak akan pernah membiarkan kamu mati!" bisik Keenan.


"Jikapun kamu mati, dengan teknologiku aku akan kembali menghidupkanmu!"


Farah bergidig saat mendengarnya, Keenan terasa memiliki obesesi berlebihan atas dirinya.


"Aku sangat merindukanmu Baby..." Keenan melonggarkan pelukannya, "Sehari tanpamu seperti sewindu rasanya..."


"Cieee gombaal..." sahut Farah kurang ajar.


"Aku makan kamu sekarang ya!" cicit Keenan kesal.


"Hihi!" kekeh Farah merangkulkan kembali kedua tangan di bahu prianya.


"Terima kasih Kak," ucap Farah di depan wajah kekasihnya. "Kamu selalu menjadi orang pertama yang selalu ada saat aku dalam keadaan bahaya!" imbuhnya.


Keenan menundukkan wajahnya, pria itu sudah menjatuhkan air matanya. "Maafkan aku Farah..."


Farah mengerti kemana arah pembicaraan mereka, hanya saja dia selalu berusaha untuk tidak membahasnya.


"Untuk apa?" tanya Farah balik dengan tenggorokan yang tercekat.


"Untuk semua kebohongan yang selama ini aku dan keluargaku simpan." tutur Keenan bergetar. "Apa kamu akan mengampuniku? Benar... Aku lah yang membunuh ayahmu..."

__ADS_1


Sistem syaraf tubuh Farah seolah mati saat mendengar apa yang di katakan kekasihnya. Tanpa perlu lama air mata Farah terjatuh dengan raut wajah datar dan tubuh bergetar menahan isak tangisnya.


--- To be continued ---


__ADS_2