Gadis Kecil Milik Mr. Mafia

Gadis Kecil Milik Mr. Mafia
EPS 99 # Seberapa Pantas?


__ADS_3

Farah merintih, melenguh dan mencengkram bahu kekasihnya yang sedang menikmati tubuhnya. Ekspresi Keenan sungguh begitu liar di netra Farah, wajahnya tersipu dan mengembangkan senyuman kepuasan.


“Tubuhmu, canduku Sayang! Aarrghh…” Keenan mengerang, dia terus menggempur kekasihnya sampai sebuah ketukan yang tidak manusiawi membuyarkan kesenangan mereka.


“Faraaah Lee?!! Sejak kapan kamu mengunci kamarmu, hah?!!” Karen mengunjungi kamar adik sepupu tengilnya dengan ekspresi geram.


Suara knop pintu yang dipaksakan terbuka terus terngiang membuat kedua insan yang sedang menyatu itu menatap pintu dengan wajah syok mereka.


“Kak…” lirih Farah berharap pria itu menyudahi aksinya.


“Sstt… Jangan bersuara… Biarkan Karen di luar, dia akan mengira kamu tertidur…”


“Tumben banget Farah mengunci pintunya? Apa lagi yang terjadi di rumah ini?” Karen menghentikan tingkah implusifnya bergumam lirih menatap nanar pintu kamar adik kesayangannya. “Jangan sampai aku mengetahuinya, habis kau Farah! Hiissh…” Karen kembali berbalik menuju kamarnya dengan perasaan dongkol.


Saat ini gadis itu membutuhkan dukungan satu-satunya tempat pelarian Karennina selama ini. Sayangnya, semenjak keduanya dimabuk asmara merenggangkan kedekatan mereka.


“Karen sudah pergi, Sayang!” Keenan kembali mengecup bibir Farah lembut.


Farah tersipu dan bersiap menggoda kekasihnya. “Kakak jahat padanya, bukankah dia adik kesayanganmu?”


“Ya, dia adik kesayanganku… Tapi, kamu segalanya bagiku! Aaarghh!” Keenan kembali menghentakan senjata tumpulnya yang masih berada di hole enak milik kekasihnya.


“Aaarghh, aku sungguh tersanjung!” Farah membalas menautkan kembali kedua tangan di belakang kepala kekasihnya merintih keenakan. Mereka terus melakukan penyatuan sampai hampir pagi menjelang.


Keenan mengerjapkan kedua matanya, dia berbalik menatap gadisnya yang tertidur pulas dalam dekapannya. “I love you…”


Keenan terus menatap lekat wajah polos Farah, jemari tangannya mengusap lembut wajah yang membuatnya mabuk kepayang itu. “Heh,” Keenan terkekeh sejenak.


“Aku sungguh seperti maniak, Sayang!” Keenan mendekatkan wajahnya dan mencium bibir Farah.


Gadisnya menggeliat, dia terbangun oleh perlakuan kekasihnya. “Morning, Baby!”


Farah tersenyum lebar. “Aku sungguh seperti bermimpi…”


“Hm?” Keenan menaikan kedua alisnya bingung dengan yang diucapkan kekasihnya. “Kamu bermimpi apa?”


“Kakak masih memelukku erat… Biasanya, Kakak akan pergi meninggalkanku begitu saja seperti wanita penghangat ranjang Kakak yang ilegal!”


Keenan mencubit hidung Farah gemas.


“Kamu sedang merutukku?” Keenan mencium kepala gadisnya lembut.


“Aaah, aku malas bangun!” Farah mengabaikan pertanyaan kekasihnya dan kembali memeluk erat tubuh yang selalu berhasil memuaskannya.


“Ya sudah, kamu tidur saja!” Perlahan Keenan melonggarkan pelukan dan bangkit menuju kamar mandi.


“Uuuwww, calon suamiku seksih sekalih…” Farah bersiul dan memuji Keenan dengan berlebihan. Keenan berbalik menatap gadisnya nakal.


“You want me?” Keenan menunjukkan miliknya menggoda Farah menaikkan kedua alisnya berkali-kali dengan cepat. Gadis itu terbelalak tidak percaya. Secepatnya dia kembali menutup wajah dengan selimut tebalnya. Keenan terbahak dan kembali masuk membersihkan dirinya.


Keenan segera keluar kamar Farah begitu saja, Farah berdecak kagum dengan keberanian kekasihnya itu. Tak berapa lama pintu kamarnya kembali mendapatkan serangan brutal. Karen kembali menuju kamar dengan mengetuk pintu tanpa merasa kasihan pada pintu kamar adiknya.


“Farah Lee sialaaan, bangun anak manjaaa!!”


“Mampus gua!”


Secepat kilatan cahaya, Farah kembali mengenakan pakaiannya dan merapikan kasur sebisanya. Farah memperbaiki tampilannya, dengan menghirup udara dan membuangnya perlahan Farah bersiap melakukan akting terbaiknya.


“Berisik!!” Farah membuka pintu dengan wajah sayu khas bangun tidurnya.


Karen segera mendorong tubuh Farah dengan kasar.


“Wey!!” Farah menghardik tidak senang.


‘Benar dugaanku, kamar Si Degil ini bau Si Brengsek Keenan!!’ batin Karen merasa tidak nyaman. Dia segera menyelidik kamar sepupunya berharap bisa memergoki kelakuan bejat kakaknya.


“Jujur ama gue? Ngapain lu semalam, hah?!!”


Farah membulatkan mata dengan ekspresi tidak mengertinya. “Maksudmu? Aku tidurlah!!”


‘Ditiduri Kakakmu tepatnya!!’ batin Farah meneruskan kalimatnya.


Karen mendekati Farah dengan bersedekap tangan, sorot mata tajamnya jelas seperti menguliti sepupunya tanpa perlu berkata atau tindakan kasar. Jari telunjuknya mengangkat dagu Farah. “You ada affair ya ama Keenan Kaviandra, Si Brengsek Es Batu itu?”


“Ppfftt!” Awalnya jantung Farah seperti copot dari tempatnya. Namun, akhir kalimat sepupunya itu membuat Farah ingin terbahak. Jelas sudah Farah bisa melihat sorot mata Karen yang mulai membenci kakaknya sendiri.

__ADS_1


“Pagi-pagi sudah ribut! Biarkan adikmu mandi…” Keenan masuk begitu saja bagai hantu tak diundang pulang menghilang.


“Kakak?” Karen kembali pada posisinya, Farah menelan saliva, sungguh berat menjadi dirinya.


“Huh, kalian jujur deh… Kalian pasti punya hubungan terlarang!”


“Sembarangan!!” Keenan menyela langsung dan menoyor kepala adiknya.


“Firasatku gak pernah salaaah!!” Karen membalas memukul bahu kakaknya.


“Lalu, kenapa bisa salah pilih pacar seorang playboy?” balas Keenan datar.


“Aaarkk, shibaaal… I hate youuu!!” Karen terus memukuli kakaknya tanpa ampun.


Farah kembali merasa seperti obat nyamuk bakar premium. Dia mendengus perlahan kemudian bersiap berbalik badan menuju kamar mandinya.


“Woi!” Karen menghentikan langkah kaki adiknya. “Maen kabur aja, lu!!”


Farah berbalik badan dengan wajah datarnya. “Sebagai obat nyamuk bakar, saya mohon undur diri… Silahkan kalian para nyamuk, anggap saja kamarku rumah sendiri! Bye~”


Karen membuka mulutnya lebar, Farah membanting pintu dengan cepat. Keenan menahan tawanya dan menggeleng bersiap keluar kamar. Rasanya sudah sangat lama, dia tidak merasakan kedekatan ketiganya seperti lima tahun kebelakang saat dia dan kedua gadisnya masih begitu akrab.


“Kak!!” Karen berbalik kembali menghentikan langkah kaki Keenan.


“Apalagi Sayang?” Keenan menunjukkan wajah teduhnya, Karen sempat tersentak dengan perubahan raut wajah kakaknya. Pria di depannya itu terlihat seperti Keenan lima tahun yang lalu sebelum dirinya pergi menempuh pendidikan ke NY.


“Kak…” lirih Karen kembali memanggil kakaknya dengan perasaan haru.


“Huh… Aku akan merestui kalian dengan syarat…” Keenan mencoba menerka apa yang ingin dibicarakan adiknya.


Karen terdiam sejenak. “Jika sampai aku tahu Kakak menyakiti atau memaksa Farah, aku akan membencimu seumur hidupku!!”


Deg!


Degup jantung Keenan berpacu seribu kali lebih cepat dari sebelumnya. Apa yang dikhawatirkannya terjadi juga.


“Farah adik kesayanganku yang polos, dia mencintaimu apa adanya. Tapi, aku tahu Kakak manusia seperti apa? Kamu tidak akan pantas untuknya yang lembut dan ceria…”


Keenan tidak berkutik dengan ucapan Karen, karena pada kenyataannya, memang seperti yang diperkirakan Karen.


Keenan tidak menjawab ataupun menghardik ucapan adiknya. Dia berbalik badan meninggalkan Karen begitu saja. Jiwanya sudah meronta ingin sekali memaki seseorang.


“Apa?” Karen bergumam perlahan. “Dia tidak menyela, itu artinya…”


Karen menatap pintu kamar mandi adiknya, dia begitu takut telah terjadi sesuatu pada adiknya. “Huh!”


Di balik pintu kamar mandi, Farah sejujurnya sedang menguping pembicaraan kakak dan adik itu. Ternyata, jalan kisah cintanya tidak semulus drama korea atau komik romansa kesukaannya. “Heh, Nak… Apa kamu tidak mau membantu Ibu berpikir? Kedepannya akan jauh lebih sulit dari ini…”


***


Farah telah selesai membersihkan dirinya, dia bergegas menuju ruang makan. Sepertinya dia kesiangan kali ini. “Pagiii!!”


“Siang wei…” celetuk Karen masih terlihat kesal pada adiknya yang berani menyembunyikan sesuatu darinya.


“Hehe…” Farah cengengesan dan langsung memilih tempat duduknya.


Keenan menatapnya tanpa berkedip, semua netra menatap perubahan sikap pria paling arogan di kediaman.


Farah merutuk dalam dirinya, mengapa sekarang atmosfer ruangan terasa seperti hampa udara di setiap waktunya. “Pagi Kakakku Zyeyeeeng~”


Keenan menahan diri untuk tidak menoyor kepala kekasihnya, dia menunduk terkekeh. Kedua orang tua Keenan sudah cekikikan dengan kelakuan anak angkat mereka.


“Cie~ Mo go public ya…” cibir Karen kesal.


Keenan menatap Karen dan menggelengkan kepalanya.


“Kamu syirik? Iya~ Kamu kesyal? Iya~” goda Farah tidak berkesudahan, gadis itu tambah jadi menggelayut manja di tangan kekasihnya.


“Sini pala kau, ku pukul tahu rasa!!” Karen bangkit bersiap baku hantam dengan sepupunya.


“Wleee~” Farah semakin berulah membuat Keenan bahagia luar biasa, kehangatan seperti ini sudah begitu lama dia tidak merasakannya lagi.


“Ups, sorry Kak… Aku lupa diri!” Farah menyeret kembali tangannya dengan wajah menggemaskannya. Keenan menegaskan rahangnya, kesabarannya setipis tissue, ingin rasanya dia mencium Farah saat ini juga.


“Dih pura-pura aja teruuus… Padahal lu keenakan kan?”

__ADS_1


“Emang! Hahaha…” Balas Farah kembali menyulutkan peperangan.


Semuanya kembali terbahak termasuk Keenan, tom and jerry di rumah kembali membawa keceriaan di sepanjang hari mereka.


Karen menarik kursi dan menjauhkan Keenan dan Farah.


“Ngapain sih lu?” cicit Farah sewot.


“Kenapa? Masyalah? Dia Kakaaakku~” Karen memeluk erat Keenan seperti biasa. Kelakuan mereka saat ini seolah merefleksikan kejadian delapan tahun yang lalu.


“Cih!” Farah mencibir tidak senang. “Lu terus, gua dong gantian!! Bukannya lu dah punya laki, sana sosor!!” Farah menunjuk pada Erick kesal.


“Lu juga kan sama!!” maki Karen tidak mau kalah dia mencium pipi Keenan lama membuat Farah ingin menjambak rambut Karen sekarang juga.


Karen sangat menyukai respon Farah yang selalu cemburu buta padanya. Sejujurnya, Karen tengah merindu… Merindukan masa itu… ‘Aku sungguh senang, kita kembali seperti dulu… Farah Lee, Kakaaak, rasanya baru kemarin kami seperti ini… Semenjak Kakak berubah dingin. Kita─’


“Sudah-sudah, kalian ini… Perut Mama sakit loh ketawa terus…” Nyonya Lyn menyudahi ulah anak-anaknya.


“Tapi, jujur… Papa rindu sekali dengan kebersamaan kita seperti ini… Keenan, Karen, Farah… Akur terus ya…” timpal tuan Kaviandra menyeka sudut matanya.


“Ya… Kalian harta Mama paling berharga… Tidak terbayang jika kalian pergi dari rumah dan hidup dengan pasangan kalian masing-masing! Hiks…” sambung nyonya Lyn sendu.


Ketiganya mendadak terdiam, beberapa detik kemudian mereka kembali menikmati sarapan pagi yang kesiangan karena ulah duo keong racun Kaviandra kembali berulah. Erick sungguh seperti bagian tidak dianggap disana. Hanya saja, dia ikut merasakan perasaan senang seolah sudah menjadi bagian dari keluarga kekasihnya.


***


Farah berlalu lebih dulu, setelah sarapan selesai dia memilih kembali menuju kamarnya. Hari ini KTech libur karena beberapa jam lagi akan dilangsungkan acara anniversary KGroup. Di pertengahan jalan, seperti biasa Farah kembali di kejutkan dengan kedatangan kekasihnya.


“Kak…” lirih Farah tersipu. “Lama-lama kita bakal ketahuan…” sambungnya mencolek hidung bangir kekasihnya.


“Heh, kenapa? Apa sekarang kamu tidak menginginkannya lagi?” Keenan mencium ceruk leher kekekasihnya.


“Aargh… Kaaak…”


“Apa kamu berharap memilih penerus Luciano, hm?”


“Mulai lagi~”


Keenan terkekeh, dia kembali menggendong Farah ala bridal dan memasuki kamar kekasihnya. Pelayan telah merapikan kamar Farah yang sebelumnya terlihat seperti kapal karam. Kali ini, mereka akan membuatnya seperti kapal pecah.


Farah menjerit lirih, menjambak, dan juga menyesap permukaan kulit kekasihnya yang putih bersih menggoda.


“Aargh, sudah ya Sayaaang… Perih…” rengek Farah mencoba menghentikan aksi kekasihnya yang sudah menggarapnya selama setengah jam.


“Bukankah enak?” Keenan menyeringai dan terus melakukan kegilaannya dengan tubuh Farah. “Oh, Baby… You’re so delicious!!”


Farah kembali merintih, selama Keenan belum puas selama itu juga mulut Farah terus mengeluarkan suaranya.


Keenan sudah selesai membersihkan diri dan sekaligus membersihkan Farah. Dia memiliki kesenangan lain memanjakan gadisnya sekarang ini. Pria itu menyisir rambut Farah lembut. “Sam membawakan pakaian yang akan kamu pakai malam ini…”


Keenan melangkah mengambil paper bag yang sudah disiapkan Sam pagi buta tadi. Disana terdapat gaun juga tuxedo yang akan dikenakan kedua sejoli itu untuk malam puncak acara perayaan hari jadi KGroup yang ke-dua puluh tahun.


Farah mendekat dan memeluk Keenan dari belakang. “Aku sungguh bahagia!”


Keenan tersenyum, dia membalikkan badan mencium bibir Farah perlahan. “Me too…”


“Mau aku pakai kan?” Keenan menunjukan gaun indah berwarna gelap namun bertabur kristal Swarovski mewah dan berkelas. Farah mengangguk antusias, perlahan Keenan membantu Farah menaikan resleting gaunnya. Bibirnya kembali mencium bahu polos sang pujaan hati.


“Apa aku terlihat cantik?” Farah memutar tubuhnya seperti cinderella dengan gaun pestanya.


Keenan begitu terpana dengan kecantikan gadis kecil yang kini menjelma menjadi bidadari hatinya.


“Tidak!” sahut Keenan datar.


Farah menghentikan aksinya, wajahnya cemberut membuat Keenan gemas ingin menggigitnya. “Kamu tidak cantik, kamu lebih dari sekedar cantik!” Keenan memeluk Farah mencium keningnya lembut.


Perasaan Farah semakin bersorak-sorai. “Tuhan, aku sungguh ingin menghentikan waktu… Aku tidak ingin melewati kebahagian ini… Aku sungguh tidak pernah bermimpi berlebihan seperti ini… Aku mohon, beri aku waktu untuk bisa lebih lama bersama pria yang sangat aku cintai seumur hidupku… Pria yang sudah membuat aku bisa menyandang gelar terhormat dalam hidupku… Aku akan menjadi seorang Ibu dari benih pria yang sangat aku cintai…’


“Kenapa?” Keenan merasakan Farah terdiam tanpa bersuara.


“Aku hanya tidak ingin saat seperti ini berlalu begitu saja…” Farah menunduk sendu.


“Sayang…” Keenan menggenggam kedua tangan Farah dan menciumnya mesra. “Tunggu sebentar ya… Aku pastikan, sebentar lagi kamu akan jadi Nyonya Kaviandra Kedua… Apa kamu sudah siap menjadi Nyonya Keenan?”


--- To be continued ---

__ADS_1


__ADS_2