
Kantor pusat KTech.
Keenan dan Farah sudah berada wilayah gedung KTech, kali ini Keenan lebih leluasa membawa gadisnya meski mereka menebar kemesraan dimana saja, dia tidak perlu lagi khawatir. Keenan membukakan pintu mobil, menggenggam erat jemari Farah, semua hal yang manis saat ini benar-benar membuat perasaan Farah membuncah luar biasa.
Seluruh anak buah serta para pegawai KTech menunduk menyambut kedatangan tuan mereka. Farah yang biasa tengil justru terlihat malu-malu saat ini. Dia semakin mengeratkan rangkulan tangannya di tangan kekasihnya. Keenan mengulumkan senyuman dengan respon menggemaskan gadisnya. Pria itu kembali usil, dia mencium kening Farah sebelum keduanya menghilang dari penglihatan seluruh orang yang ada disana.
‘Aaaarrrkkk!’ pekik Farah merasa mendapatkan jackpot di pagi bahagianya.
Farah bahkan sudah memasang telinganya saat beberapa bisikan sampai di indra pendengarannya.
“Ya Tuhan!! Semakin kesini Tuan semakin terlihat romantis, sungguh iri!!” pekik salah satu wanita yang mengatasnamakan barisan penggemar tuan muda Keenan Kaviandra.
“Beneeer banget! Beruntungnya Farah Lee yang bisa naik tingkat menjadi istrinya sekarang!”
Keenan menaikan sudut bibirnya, hidungnya berubah memanjang saat beberapa orang menyanjung sikapnya yang tidak pernah cacat di mata penggemarnya.
Tring!
Lift sudah membawa kedua pasangan berbahagia itu ke ruangan teratas. Keduanya sudah disambut hangat oleh anak buah kepercayaan. “Selamat pagi Tuan dan Nona…”
Sandra dan Sam kompak menunduk hormat bahkan menyapa serentak.
“Tumben bisa akur begitu!” cibir Keenan membuat Sam terbelalak, terkadang dia sendiri tidak mengerti maksud perkataan tuannya saat ini.
Sandra dan Sam mendadak salah tingkah, tak lama tuannya sudah menghilang kembali memasuki ruangan bersama calon istrinya.
“Semenjak Farah mendominasi kepala Si Bos, semenjak itu juga posisiku terancam…” rutuk Sam membuat Sandra cekikikan di kursi kerjanya.
“Inget, lu cuma bawahan!” cibir Sandra sudah mulai sibuk dengan pekerjaannya.
“Seneng lu ya!” sungut Sam tidak terima dengan candaan rekan kerja dua langkahnya itu.
“Emang! Hahaha…” Sandra terbahak mengejek Sam yang semakin terlihat kesal.
“Dasar Mak Lampir, pantes aja lu jomblo!” Sam balik mengejek rekan kerjanya, rasanya dia perlu pengalihan untuk mengeluarkan emosinya saat ini.
“Wei!” Sandra menyanggah dengan wajah kesalnya. “Lu gak punya kaca?! Lu juga jomblo bangsaaat!” Sandra mulai menghina Sam menggebu, dia tidak ingin kalah dalam saling menjelekkan satu sama lain.
Tut!
Tiba-tiba telpon di meja Sam berdering. Sam merasa bingung dan menjawab segera. “Iya Tuan?”
“Kalian berdua pergi ke Samudra Hindia Sana!!”
Keduanya terbelalak dengan ancaman tuannya yang terdengar begitu nyaring. Sudah dipastikan, tuan mereka dalam suasana hati yang buruk saat ini.
Sedangkan di ruang Presdir, Farah sudah cekikikan bahagia melihat betapa kesal suaminya itu. Farah kembali beranjak menuju meja kerjanya yang berjarak tidak terlalu jauh dari posisi suaminya itu.
“Sayang!” seru Keenan menghentikan langkah kaki Farah.
“Ya?” Farah berbalik dengan wajah menggemaskannya, Keenan sempat tertegun dan terpesona dalam waktu singkat.
“Mau kemana?”
“Duduk di meja kerjaku?” Farah mengernyit dengan wajah annoyingnya.
"Sini!" Keenan menyeringai, menunjukan jari telunjuknya mengisyaratkan Farah untuk mendatanginya segera.
__ADS_1
“Kak… Kita baru saja sampai!” Farah merasa sudah bisa mengira apa yang diinginkan kekasihnya saat ini.
“Heh,” kekeh Keenan menatap tajam adik sepupu yang menjadi calon istrinya dalam beberapa bulan saja setelah mereka bersama. “Kamu tidak berhak protes Sayang… Ingat, aku adalah atasanmu, kamu sebagai bawahan harus menuruti semua perintahku!”
Farah membuka mulutnya lebar dengan keangkuhan prianya, dengan langkah gontai Farah mendekati kekasihnya.
Farah sudah kembali duduk di pangkuan kekasihnya. Tanpa menunggu lama, Keenan sudah memagut bibir tipis mungil kekasihnya. Tidak hanya menciumi bibir calon istrinya, tangan pria itu sudah mulai menggerayangi tubuh gadis kecilnya.
Bunyi suara telepon membuyarkan kesenangan keduanya, Keenan melepaskan Farah lebih dulu. Dia menjawab panggilan yang berasal dari asisten khususnya.
“Apa?!!” bentak Keenan emosioanal.
“M-maaf Tuan, Tuan Besar sedang menuju kemari!” sahut Sam cepat dengan gagap.
Keenan menutup panggilan sepihak, Farah yang ikut mendengar kembali bangkit perlahan dari pangkuan prianya.
Brakk…
Pintu terbuka cepat setelah Keenan menutup telponnya.
“Pah!” Keenan bangkit bersiap menyambut orang tuanya.
“Lah? Kamu kok di ruangan Kakakmu?” Tuan Kaviandra mengabaikan panggilan putranya, dia justru tertarik dengan keberadaan Farah.
“Itu…” Raut wajah Farah berubah pucat, dia menatap sekilas kekasihnya.
“Agar aku lebih leluasa menyuruhnya!” sahut Keenan membantu menjawab.
Tuan Kaviandra menggeleng dan terkekeh perlahan. Dia tidak menyangka Keenan akan memperlakukan Farah seperti itu. Selama ini tuan besar sangat mengetahui sifat dan kinerja putranya dalam bekerja. Putra sulungnya itu tidak menyukai ada siapapun yang mengganggu konsentrasinya. Sebelum kedatangan Sandra, Keenan hanya mau Sam yang mengurusi segala keperluannya. Semakin lama perusahaan semakin berkembang, pekerjaan juga semakin banyak, pada akhirnya Keenan mau memperkerjakan Sandra menjadi sekretarisnya.
“Farah, Paman ingin berbincang empat mata dengan Kakakmu…” Tuan besar menatap lembut ke arah Farah. Gadis itu menganggukkan kepala mengerti dan segera melangkahkan kakinya keluar ruangan.
Sandra telah menyiapkan sebelumnya, Farah merasa beruntung. Dia kembali memiliki ide untuk mengantarkannya. ‘Paman pasti berpikir aku tidak berguna disini!’
“Tapi Nona… Biar saya saja ya, saya takut Tuan marah!” Sandra merasa tidak enak saat Farah mengutarakan niatnya.
“Tenang saja, aku pastikan tidak akan ada yang memarahi anda!” Dengan senyum sumringahnya Farah sudah mengambil alih nampan dengan dua minuman di atasnya.
Sandra membantu Farah membukakan pintu, dengan senyuman manisnya Farah mengantarkan minuman pada dua pria besar yang jadi bagian penting dalam bisnis Kaviandra Group.
“Kamu terlihat seperti pelayan!” sindir Keenan tidak senang.
“Ck, Paman… Lihatlah Kakak, dia selalu menindasku!” Farah menjulurkan lidahnya di depan Keenan.
“Kau!” Ingin rasanya Keenan menjewer telinga kekasihnya itu.
“Sudah-sudah… Kalian sebentar lagi akan jadi suami istri… Jangan keseringan ribut karena hal kecil!” Tuan Kaviandra mengacak rambut Farah lembut.
“Kakak yang mulai…” Farah berlindung di belakang tubuh calon mertuanya. Tuan Kaviandra terkekeh dengan tingkah kekanak-kanakan Farah.
Keenan mengeraskan rahangnya, dia tersenyum dingin membuat tengkuk leher Farah meremang.
“Farah, Paman masih belum berbincang dengan Kakakmu…”
“Baik Paman…”
Farah dengan cepat kembali keluar ruangan, tuan Kaviandra bisa dengan jelas melihat putranya yang terus memandangi gadisnya yang sudah menghilang setelah pintu tertutup rapat.
__ADS_1
“Waktu berjalan sangat cepat bukan?” Pertanyaan tuan besar menyadarkan kembali lamunan putranya. Keenan kembali berbalik menatap ayahnya yang sudah sedikit menyesap minuman yang tersaji.
“Dulu, dia masih sangat kecil saat kamu membawanya dari Negara B!”
Keenan mengulumkan senyuman tipis menundukkan wajahnya menyembunyikan semburat rona merah di wajahnya.
Jelas Keenan tidak akan melupakan masa itu, masa dimana kehadiran Farah merubah seluruh kehidupan Kaviandra, terlebih Keenan.
“Huh… Kamu tidak bercanda bukan mengatakan mencintainya?” Tuan Kaviandra menatap serius ke arah Keenan yang termangu.
“Aku tidak pernah ingin bermain-main dengan pernikahan… Aku jelas mencintainya, itu juga bukan hal yang patut dipermainkan!” Keenan menjawab lantang pertanyaan ayahnya.
Tuan Kaviandra lekas mengembangkan senyuman di wajahnya yang sudah menua. Ada rasa bangga terus mengalir dalam benaknya untuk prestasi yang diberikan Keenan. Tidak hanya persoalan karirnya yang melejit, melainkan mengenai perasaan saja pria itu tidak mengecewakan keluarga Kaviandra.
“Papa dan Mama memang tidak meragukan rasa sayangmu yang besar pada Farah selama ini…” Tuan Kaviandra bangkit, dia berjalan perlahan menuju jendela besar dan menatap pemandangan kota S saat ini.
“Saking cintanya kamu dengan penerus Lee, kamu membantu keuangan Leeshen sampai delapan puluh persen!”
Keenan menelan ludahnya, ternyata benar. Di balik pertanyaan yang mudah dimuka, terselip pertanyaan penting yang sedang tuan Kaviandra persiapkan untuknya.
Keenan tidak bergeming dari tempatnya, bibirnya pun ikut kelu tidak berani menjawab ataupun membantah apa yang dikatakan ayahnya.
"Leeshen sudah tidak bisa diharapkan. Jangankan mendapatkan keuntungan, bisa berdiri saja sudah tidak memungkinkan. Benar demikian?" Tuan Kaviandra berbalik menatap Keenan dengan sorot matanya yang tajam.
“Seperti yang kita ketahui bersama, perusahaan itu akan menjadi miliknya!” Keenan akhirnya membuka suaranya, itu pun tidak menjelaskan alasan utamanya.
"Apa kamu pernah mendengar? Sikapmu pada Leeshen kita umpamakan seperti kita merawat sebuah tanaman.” Tuan Kaviandra sedang memberikan pandangannya pada putra sulung yang terkenal keras kepala. “Agar tanaman kita bisa tumbuh berkembang dan memberikan manfaat, kita akan merawatnya dengan berbagai cara… Memastikan tanah yang digunakan jenis yang subur, kita juga memastikan pemakaian pupuk, menyiraminya dan lain sebagainya!”
Keenan menundukkan wajahnya, dia tidak ingin membantah saat ini. Tidak seperti saat Sam dan sekretarisnya menyatakan keadaan yang sebenarnya mengenai Leeshen.
“Tidak hanya itu, merawat tanaman juga harus mampu membuang daun dan akar yang busuk. Hal itu akan berpengaruh terhadap tumbuh kembang si tanaman! Jangan sampai, akar dan daun busuk itu mengganggu tumbuh kembang tanaman sehat lain yang berada satu tempat yang sama!”
"Ingat pepatah mengatakan karena nila setitik rusak susu sebelanga…” Tuan Kaviandra mendekat dan mencengkram bahu kokoh putranya. “Jangan memaksakan semua berjalan seperti yang kamu pikirkan. Jangan mengorbankan yang lain hanya karena tanaman yang sudah membusuk dan hampir mati…”
Sejujurnya, hal yang jadi landasan kuat Keenan mempertahankannya tentu karena perusahaan itu milik kekasih hatinya, satu-satunya warisan yang ditinggalkan oleh tetua Lee sebelum meninggal.
“Farah akan mengerti, bahkan… Papa berani bertaruh… Dia tidak mengetahui bahwa perusahaan ayahnya masih berdiri sampai saat ini!” Tuan Kaviandra kembali duduk di sofa seperti awal kedatangannya.
"Aku─" Keenan tercekat, dia masih tidak berani menatap tetua Kaviandra. “Aku hanya ingin Farah mendapatkan apa yang jadi bagiannya.”
“Lepaskanlah Nak, semua tidak ada manfaatnya… Lebih baik kamu bagun lagi dari awal satu perusahaan untuk gadismu!” Tuan Kaviandra tetap ngotot dengan pendapatnya.
“Pah, percayalah padaku… Aku akan bereaksi jika sudah waktunya… Semua parasit yang ada disana, aku akan mencabutnya satu per satu tanpa terkecuali!” Keenan mendongak berujar serius di depan tuan Kaviandra.
“Haissh… Wajar saja Sam sudah menyerah padamu yang begitu keras kepala sampai sejauh ini!!” Tuan Besar menghidupkan cerutunya. Keenan hanya menaikan sudut bibirnya tanpa ingin kembali mempermasalahkannya kembali.
“Keenan… Bagaimana jika Farah mengetahui kenyataan pembunuhan delapan tahun lalu?” Tuan Kaviandra kembali melucuti nyali putra sulungnya.
Raut wajah Keenan berubah pucat dengan cepat, sikap pria arogan itu juga berubah gelisah saat ayahnya kembali membahas mimpi buruknya.
“Aku tidak yakin… Tapi, sepandai-pandainya kita menyembunyikan bangkai, kelak baunya akan tercium juga!” Keenan berujar sendu. “Sangat normal jika dia membenciku!”
“Keenan… Papa yakin, Farah bukan anak yang tidak tahu diri…”
“Pah!”
Keenan segera menyela. “Selama ini kita membawanya bukan karena alasan menutupi kesalahanku… Kita hanya mencoba mengganti kerugian yang mereka alami setelah kepergian Paman Lee!”
__ADS_1
Tuan Kaviandra tidak melanjutkan kalimatnya, dia kembali menyesap dalam cerutunya. Tak lama, kepulan asap tebal memenuhi ruangan. Keenan menunduk pasrah dengan keadaannya, hal ini juga yang membuat Keenan menjaga jarak dengan Farah lima tahun sebelumnya.
--- To be continue ---