
Melihat Farah yang berubah pucat dengan air mata yang semakin deras keluar dari sarangnya, tuan Wei semakin menyeringai puas. Dia memiliki hal lain yang bisa membuat kondisi saat ini lebih menyenangkan.
"Apa kamu tidak mengetahui kebenarannya? Atau─ Pernahkah kamu mengira, mengapa keluarga Kaviandra mau membantu keluarga Lee sampai seperti ini?" Terlihat senyum culas semakin membuat wajah tuan Wei memancarkan kebahagiannya.
"Anggap saja kamu sedang mendapatkan keberuntunganmu saat ini!" Tuan Wei merilekskan dirinya menatap Farah dengan wajah sumringah karena gadis itu semakin menegang di tempat duduknya. "Aku beritahukan padamu, mengapa selama ini tim penyidik tidak bisa mengusut kasus kematian Ayahmu?" Tuan besar menatap penuh seringai jahat di wajahnya saat pandangan mereka beradu.
"Karena─" Tuan Wei sungguh senang menyiksa batin lawannya. Jantung Farah memang dalam keadaan tidak baik-baik saja. Gadis itu mengepalkan erat kedua tangannya. "Karena, pembunuh Ayahmu adalah Kekasihmu sendiri!"
Deg!
Benar saja apa yang ditakutkan Farah terjadi detik ini juga. Dia merasakan jantungnya berhenti berdetak sepersekian detik. Namun, detik berikutnya denyut jantungnya berdebar tidak karuan melebihi kecepatan normal. Farah juga lupa bagaimana caranya bernafas, air matanya terhenti sejenak. Rasanya dia ingin menjerit sejadi-jadinya saat ini juga.
"Kaviandra begitu tidak perhitungan dengan Lee tentu untuk menutupi betapa busuknya kelakuan putra sulung mereka!" Tuan Wei tidak ingin berhenti mengoyak perasaan Farah saat ini. Justru, dalam keadaan seperti inilah, dia juga memiliki senjata baru yang lebih baik dalam menyiksa Keenan kelak.
"Haha!" Gelak tawa tuan Wei tidak bisa lagi ia tahan. Seluruh anak buahnya ikut menertawakan Farah saat ini. Gadis itu termangu di tempat dengan jiwa dan raga yang remuk redam.
"Kamu tahu bagian terbaiknya adalah─ kita sekutu selama ini!" Tuan Wei menyeringai puas, menggunakan musuh menjadi kawan dan menusuk musuhnya dari belakang adalah hal terbaik dari sekedar membunuh dengan senjata seperti biasa mereka lakukan.
"Hal yang tidak kamu ketahui adalah Ayahmu berada dipihakku!"
Bertubi-tubi Farah mendapatkan kenyataan yang selama ini selalu samar dan tertutup rapat. Dia pikir semua kejadian naas itu hanya mimpi buruk yang selalu mampir di setiap malam-malam beratnya. Nyatanya semua itu adalah memori yang berusaha Farah kecil lupakan agar bisa terlepas dari trauma yang menggerogoti dirinya.
"Tidak..." Farah berujar lirih di sela isak tangisnya, menggelengkan kepala perlahan mencoba tidak ingin mempercayai apa yang diucapkan musuhnya.
"Dengar Farah, tidak ada untungnya bagiku membohongimu!" bujuk tuan Wei. "Apa kamu tidak ingin membalaskan dendam kematian ayahmu,hm? Aku dengan senang hati membantumu tanpa perlu kompensasi apapun!" Inilah yang justru diincar tuan Wei untuk membunuh Keenan melalui tangan lain.
"Kamu pasti tidak mengetahui bahwa perusahaan Ayahmu, Leeshan Group! Selain menggeluti bidang farmasi,Lee Choi juga menggeluti bidang pemasok persenjataan perang!"
"Tidaaak! Kamu pasti berbohong!!" Farah menjerit sekencang-kencangnya. Dia tidak peduli lagi jika hal itu mengundang musuh untuk menamparnya kembali. Hal ini sungguh di luar kuasanya untuk terus menahan rasa sakit yang mendera dirinya.
"Haha!" Tuan Wei terus menertawakan kondisi Farah. "Kamu tahu? Ayahmu adalah pemasok persenjataan untuk kelompokmu. Dia membunuh Ayahmu tentu karena kalian adalah musuhnya!" Tuan Wei semakin menyeringai puas dengan aksinya kali ini.
Tanpa perlu melakukan kontak fisik, dia sudah menghancurkan Farah sehancur-hancurnya. Farah meronta tidak terima, dia bersumpah serapah mengutuk dan mencaci tuan Wei. Baginya, Keenan tetap pahlawan keluarga besar Lee.
"Ck!" Ternyata, tuan Wei terlalu meremehkan keyakinan Farah. "Kamu sungguh membuang waktuku!" Tuan Wei kembali menunjukan perangai aslinya kembali. "Lee! Injeksi dia sekarang juga, aku tidak peduli hasil rekam medisnya, aku ingin dia jadi bonekaku sekarang juga!!" Tuan Wei terlihat berang, membuat seluruh anak buahnya kompak menunjukan senyuman miring pada wanita musuh mereka.
Farah pikir kesakitannya akan berhenti sekarang, nyatanya... Semua baru permulaannya saja!
"Lepaskan aku!! Aku sekutumu bukan?" Farah berpikir cepat, dia harus hidup! Dia membawa serta anak dalam kandungannya sekarang yang harus dipertaruhkan hidup matinya.
"Tcuih! Aku sudah tidak berminat denganmu! Aku tidak akan berpikir dua kali, aku tidak akan menjilat ludahku kembali!!" Tuan Wei mengepulkan kembali asap cerutu yang semakin pekat membumbung menguar di ruangan yang sudah terasa pengap.
"M-maaf, Tuan!" Asisten Lee mendekat dan menunjukan raut wajah yang penuh tanda tanya di benak tuannya.
"Jangan katakan kamu berbelas kasih padanya!" umpat tuan Wei geram pada satu-satunya anak buahnya yang memiliki hati bak malaikat itu.
Azlan sedikit berdecak kesal pada rekannya yang memang terlihat dari wajahnya penuh belas kasih. Tuan Wei menatap berang dengan sorot mata tajam memerah menahan amarah pada asistennya.
__ADS_1
Farah sempat bernafas lega, ada orang yang mungkin berbaik hati padanya. Namun, sedetik kemudian jantungnya kembali seperti diremas kencang oleh keadaanya.
"Gadis ini sedang mengandung!"
Semua mata tercengang, tapi sedetik kemudian tuan Wei kembali tergelak dengan penuturan asistennya. "Haha! Sungguh tidak diduga sama sekali olehku!!"
Tuan Wei bangkit dan mendekati dimana Farah tengah dipertontonkan di hadapan seluruh anak buah Black Shadow. Pria itu datang mengapit wajah cantik Farah yang terlihat lelah disana. "Aku tidak menyangka, ternyata Keenan tak lebih dari pria mesum... Hahaha!!"
Pria separuh baya itu kembali menghentak wajah Farah dengan kasar. Farah meringis sekilas, wajahnya terasa perih jika kembali disentuh paksa seperti barusan. Farah sudah tidak memiliki tenaga saat ini, dia kembali memikirkan bayinya. 'Maafkan Ibu, Nak! Ibu membuat kita berada dalam bahaya seperti ini... Harusnya─ huhu..."
"Lakukan injeksi saat ini juga!" kembali tuan Wei memberikan titah pada asistennya.
"T-api─" Asisten Lee kembali menyela, dia memang paling tahu seluruh rangkaian vaksin yang diproduksi tuannya. "Kita tidak tahu hasil akhirnya. Selama ini, kita tidak pernah menggunakan vaksin untuk ibu hamil!"
"Justru itu!" Tuan Wei menatap asistennya dengan raut wajah yang berbinar. "Aku mendapatkan sampel cuma-cuma untuk aku gunakan pertama kali pada ibu hamil," timpal tuan Wei seolah mengisyaratkan terobosan baru yang akan mereka capai saat ini. "Kita akan mengetahui bagian mana saja yang perlu kita kembangkan di virus tahap penyempurnaan selanjutnya! Bahkan, bisa sampai menggunakan wanita hamil... Semua jelas melebihi ekspektasiku!"
Tuan Wei menoleh pada Farah dengan seringai jahatnya. Farah mengatupkan bibirnya erat dan menggeleng kepala berulang kali meminta pengampunan pada musuhnya.
Terlihat asisten Lee menyerah dan menghembuskan nafasnya berat. Dia mulai berjalan mendekati Farah dengan vaksin yang ada di tangannya. Azlan ikut menyeringai puas, akhirnya dendamnya akan segera terbayarkan lunas!
'Mata dibalas mata, kamu menghilangkan nyawa Adikku, maka aku rampas kehidupan Istri dan Anakmu! Hahaha...' batin Azlan tengah bersorak riang dengan keberuntungan yang akhirnya berpihak padanya.
Farah terus menggelengkan kepala perlahan meminta belas kasih di hadapan asisten Lee yang memang terlihat bak malaikat dengan wajah teduh rupawannya. berharap mendapatkan belas kasih dari Asisten Lee.
"Maafkan aku, ini akan terasa sakit!" izin asisten Lee langsung menancapkan jarum di lengan korban kelompoknya.
Deg!
Debar jantung Farah mendadak berdetak tidak terkendali, dadanya berdebar tidak beraturan disertai rasa berat di bagian kepala kemudian berganti menjadi nyeri yang terasa seolah ditusuk ribuan jarum dalam waktu bersamaan. Farah tidak sanggup menahannya dan menjerit keras melengking membuat seluruh orang disana tersenyum dengan kesenangan itu.
"Bagaimana rasanya maha karyaku?" Tuan Wei mendekat, tongkatnya mengangkat wajah letih Farah yang sudah basah oleh peluh juga air matanya. "Apa kamu sudah melihat malaikat pencabut nyawa disini?"
Pandangan Farah memudar saat ini, dia sepertinya akan jatuh pingsan. Hanya saja sebuah ledakan di gedung, sontak membuat dia kembali terjaga.
Duaaar!
Semua orang telah siaga dengan senjata mereka. Tuan Wei kembali duduk di kursinya dengan tenang. Farah memekik lirih berusaha mengeluarkan suaranya. Tubuhnya terasa lemah saat ini, bahkan untuk mengeluarkan suara dia harus berusaha keras.
Setelah kepulan asap memudar sudah terlihat bayangan seorang pria dengan sorot mata tajam dan merah dengan revolver di tangannya bersiap melesatkan timah panasnya.
"Welcome Mr. K, kamu sedikit terlambat dari biasanya?" seringai mengejek jelas terpetakan di wajah tuan Wei membuat emosi Keenan memuncak. "Kamu selalu memberikan aku sambutan yang panas Mr. K!"
Keenan menyelidik ruangan sekitar, hatinya sakit saat menemukan sosok kekasihnya tengah terikat di kursi usang dengan kesadaran yang melemah.
'Baby, aku datang.... Sebentar lagi kita pulang sayang... Aku akan menjebloskan mereka ke dalam Neraka sebentar lagi... Bertahanlah, Sayang!' batin Keenan sudah sangat ingin memeluk gadis kecilnya yang tidak berdaya.
"Kak..." Farah berucap lirih berusaha memanggil kekasihnya saat kedua netra mereka beradu pandang.
__ADS_1
"Apa penawarannya?" tanya Keenan tanpa basa-basi dengan wajah dinginnya.
Dia berada di sarang musuhnya seorang diri, seluruh anak buah tuan Wei tengah menodongkan glock milik mereka ke arah Keenan dari berbagai penjuru.
"Haha!" Hari ini tuan Wei begitu mendapatkan kejutan yang membahagiakan rasanya. "Aku sungguh sangat menyukai sifat Mr. K yang selalu to the point pada intinya!"
"Berhenti menarik ulur waktu!" tukas Keenan kembali mengintimidasi musuhnya. "Aku akan bertukar tempat dengan gadis itu!" tutur Keenan lantang membuat kedua bola mata Farah seolah lepas dari tempatnya saat bisa mendengar suara Keenan membuatnya kembali terjaga.
"Tidaaak!!" secepat yang bisa Farah lakukan, dia menjerit menolak apa yang direncanakan Keenan.
"Ini jebakan, pergilah dari sini!!" Farah berusaha keras agar Keenan tidak perlu peduli lagi pada keadaannya.
Keenan tidak ingin membuat dirinya semakin lemah di hadapan musuhnya. Wajahnya tetap terlihat dingin, dia bahkan tidak ingin menatap lama ke arah gadisnya yang sudah sangat terlihat menyedihkan.
"Huh, aku pikir ini hari baikku." Tuan Wei menyeka sudut matanya yang berair karena tawanya yang begitu membahagiakan. "Aku tidak menyangka gadis ini memiliki nilai yang cukup membuat seorang Mr. K mau bertukar posisi dengannya!" Tuan Wei kembali mengejek santai di kursinya. "Cinta itu buta bukan? And I love it..."
Krak!
Keenan menodongkan senjata revolvernya tepat di jalur lurus mengenai wajah tuan Wei tanpa keraguan sedikitpun. Meskipun saat ini keadaannya tidak menguntungkan. Selain Farah masih di sana, puluhan anak buah musuh sudah menargetkannya dengan senapan mereka masing-masing yang mengelilingi dirinya.
"Berhenti, Kak! Cukuuup!! Pergilah..." Farah terus berusaha keras menghentikan kekasihnya. Ini tidak akan pernah menguntungkan mereka.
"Diam, kamu Tengil!" Keenan memekik kesal, semua orang terlebih tuan Wei tentu senang dengan drama ini. "Kau tak lebih dari sekedar beban Kaviandra!" pekik Keenan menoreh kembali luka di hati Farah.
Farah terdiam tidak lagi menggubris pernyataan kekasihnya, sejujurnya hati Keenan juga sama teririsnya dengan kalimat sarkas yang dilontarkan barusan.
"Ingat ini Farah Lee, kau milikku! Bahkan mayatmu sekalipun tetap akan menjadi milikku!" tukas Keenan lantang membuat Farah menjatuhkan air matanya kembali.
"Well... Well... Well..." hardik tuan Wei kembali waktunya terbuang percuma. "Kalian sungguh membuatku terharu..."
"Dengar Keenan, bukankah seharusnya sedari dulu dia bagian dari Huateng Group? Apa kamu lupa? Ayahnya berada dipihakku,hm?!"
Deg!
Akhirnya yang selama ini ditutupinya terbongkar juga, Keenan hanya menunjukan senyum culasnya di hadapan tuan Wei. Nafasnya tersenggal dengan dada yang sudah kembang kempis menahan gemuruh besar yang menyerangnya sekarang. Hal serupa dirasakan Farah, lebih dari itu. Gadis yang tengah mengandung itu merasakan kembali nyeri di perut bagian bawahnya.
"Aarghh!" jerit Farah lirih. Namun, mampu membuat konsentrasi Keenan terpecah.
"Faraaah!" pekik Keenan mengkhawatirkan keadaan kekasihnya. "Apa yang sudah kalian lakukan padanya, bedebah!" Keenan memaki penuh emosi dan siap membidik musuhnya. "Kalian sungguh menjejal batas kesabaranku!"
Farah mencoba mengatur pernafasan, debaran jantungnya sungguh terasa abnormal. Tanpa dia mengerti bahwa vaksin sudah mulai bekerja di tubuhnya. 'Nak, Sayangnya Ibu... Lihat Papamu, dia sudah datang... Bertahanlah...' Farah mencoba berkomunikasi dengan bayi yang sedang dipertahankannya agar tidak terus mengalami kontraksi.
"Kamu boleh saja menembakku," sahut tuan Wei menatap Keenan mengejek. "Tapi apa kamu tidak bisa melihat, dibelakang tali pengikat wanitamu terdapat chip peledak yang bisa aku kendalikan dalam genggamanku!" Seringai tuan Weu semakin terpetakan jelas di wajahnya yang rupawan tapi tidak dengan perangainya yang buruk.
Trak...
"Baiklah, aku menyerah... Aku bertukar tempat dengan wanitaku." Spontan Keenan menjatuhkah senjatanya dan menyerah.
__ADS_1
---To be continued---