Gadis Kecil Milik Mr. Mafia

Gadis Kecil Milik Mr. Mafia
EPS 67 # Terlalu mencurigakan


__ADS_3

"Huuuh, finally!" Farah merentangkan kedua tangan keatas, dia sudah menyelesaikan sesi perkuliahan terakhirnya. Kedepannya, dia dan kedua temannya mulai mengerjakan progress magang mereka selama tiga bulan kedepan di salah satu perusahaan terbesar di kota dan negara S.


Farah bangkit setelah merapikan barang bawaannya. "Aargh!"


"Ayaaang!"


Axcel segera memekik khawatir saat Farah tiba-tiba merintih di sampingnya. Kedua temannya yang lain ikut khawatir dengan keadaan temannya. Selain wajah Farah yang memucat, cara berjalan gadis itu pun sungguh mencurigakan.


"Kamu kenapa Ay? Kamu sakit?" Axcel memindai tubuh gadisnya dari atas hingga bawah. Dia bisa melihat kedua kaki Farah yang bergetar dan berusaha menyembunyikannya.


"Aku antar kamu pulang!" Axcel segera menarik tasnya dan memaksa Farah menggenggam tangan gadis itu.


"Cel!" Farah berusaha menghardik dengan wajah sayunya. "Aku gak apa-apa, aku hanya kurang tidur gara-gara ngapalin. Gue juga lapeeer~" Farah berpura-pura merengek manja menutupi kebenarannya.


Dia tidak mungkin mengatakan bahwa pusat tubuhnya begitu nyeri dikarenakan kebrutalan kakak sepupunya yang melahapnya semalam bahkan sampai waktu subuh baru melepaskannya.


"Kita udah pernah bilang kan ama lu, jangan tutupin keadaan lu!" rutuk Meishya ikut melingkar mengerumuni Farah yang mulai gelisah.


"Bener, semenjak dua menjak, kok lu sering banget sakit! Padahal sebelumnya lu gak pernah tuh ngidap penyakit aneh-aneh kalo bukan lagi period!"


Farah semakin mengatupkan bibirnya erat saat Ceillyn ikut menimpali rekannya yang lain. "Bener loh, gue baek-baek aja, cuma lapar..."


"Hellooo..." Meishya kembali berulah mengejek dan bersedekap tangan di depan temannya. "Lu meriang kan? Ada siang terik begini make sweater plus turtleneck?! Oh come on!!" Meishya menggelengkan kepalanya. Ketiganya fashion iconic, tidak mungkin mereka saltum di kampus. Hanya, akhir-akhir ini Farah sering sekali memakai pakaian tertutupnya.


"Suka-suka gue kenapa emangnya? Salah?" Farah membalas merutuki sahabatnya yang mulai rusuh mempertanyakan keadaannya. Satu sisi dia begitu terharu, ternyata ketiga sahabatnya benar-benar dikatakan sahabat. Kepedulian mereka membuat Farah ingin menangis saat ini juga. Hanya saja, sekuat tenaga dia menahannya.


Tidak seperti kekasihnya, bukan Farah ingin berusaha bodo amat. Namun, lagi-lagi dia bisa apa? Selama proses ujian sesekali pikiran Farah melayang mempertanyakan sikap kakak sepupu yang sudah menjadi kekasih gelapnya. Pria itu benar-benar raja tega, sudah membuat Farah babak belur tapi satu kata maaf saja sampai detik ini Farah tidak menerima dari kekasihnya. Ironisnya, pria itu justru menghilang bak ditelan bumi.


Axcel menatap iba kekasihnya, dia kembali berusaha membujuk gadisnya. "Bener Ay, kamu kok sekarang dikit-dikit sakit. Kita ke dokter ya?"


"Gak perlu Cel, ya?" Farah memelas di depan pria yang mencintainya. Axcel begitu terenyuh, dia sungguh tidak bisa berkata tidak pada gadisnya. "Kalau gitu ijinin aku anterin kamu ya..."


"Sorry Cel, gue ama mereka kudu setor muka dulu ke KTech, Bibi aku udah nyuruh Paman Chen buat urus semuanya... Kamu ngertikan?"


Sakit rasanya mendengar penolakan Farah, terlebih Farah langsung menggunakan nama besar keluarga angkatnya. Axcel tentu tidak akan tega membuat gadisnya mengalami kesulitan hanya karena permintaan ngototnya.


"Aku antar kamu ke depan aja! No excuse!!" Axcel segera memapah gadisnya perlahan penuh kesabaran.


Kedua temannya menggelengkan kepala, mereka turut berduka cita pada presiden sad boy kampus yang tidak akan pernah mungkin mendapatkan balasan cinta dari sahabatnya.


Axcel menatap nanar kepergian Maybach hitam pekat milik kediaman besar Kaviandra. "Aku sungguh terus diliputi kecurigaan besar pada keluarga besarmu Farah... Apa mungkin mereka yang membuatmu seperti ini sekarang?"


Axcel membuang nafas berat, dia berpikir untuk membantu gadisnya. Dia tidak tenang melihat perubahan Farah yang cukup signifikan. Walau sejujurnya, butuh effort lebih untuk mengakses data keluarga yang tidak bisa disentuh sembarang orang di negara S.


"Cel!"


Axcel terpaku saat melihat sosok wanita yang selalu mengganggunya. Dia berusaha abai dan segera menuju Aston Martin kesayangannya. "Minggir!"


Arneth sungguh tidak habis pikir dengan tunangannya. Pria itu begitu kasar padanya, dengan biasa Axcel mendorong Arneth tanpa memandangnya. "Papaku mengatakan dia akan berkunjung ke kediaman Lucifer!"


Axcel terdiam sejenak, sudut bibirnya terangkat menunjukkan senyum culasnya. "Bukan urusanku!"


Arneth mengepalkan kedua tangannya erat, dia segera berbalik dan kembali menghentikan langkah kaki tunangannya. "Cel, Papaku bisa saja membatalkan kerja sama bisnisnya dengan Lucifer Group!"


"Heh, kamu mengancamku?" Axcel mendekat dan menatap tajam tepat di kedua manik indah Arnetha. Gadis itu terpaku dengan debar jantung yang berpacu semakin cepat dari sebelumnya. "I don't care... Sekali lagi, urusan bisnis kalian, bukan urusanku!!"


Axcel mendorong tubuh Arneth, tapi gadis itu memiliki ide yang datang dengan cepat. Arneth menjatuhkan dirinya seolah tengah kesakitan. "Aarrghh!"


Mau tak mau Axcel menahan tubuh gadis di depannya agar tidak terjatuh di lantai parkiran. "Sorry Cel, gue..."

__ADS_1


"Heh! Nyusahin..." pekik Axcel kesal. Namun, kepeduliannya jelas tidak bisa dihindari. Arneth menunduk menunjukkan senyum culasnya.


"Makasi Cel," ucap Arneth mencoba berdiri dengan tetap berlaku lemah.


Bruk!


"Arrhh!" pekik Arneth lirih kembali terjatuh.


Dengan membuang nafas kasar, Axcel membantu Arneth. Dia masih memiliki hati untuk peduli walau otaknya sedikit tidak menerimanya. Hati Arneth bersorak-sorai saat dengan tanpa diminta Axcel menggendongnya menuju mobil tunangannya.


"Boleh aku juga sekalian ikut di mobilmu? Papa sedang ke tempatmu, jadi..." Arneth sangat berhati-hati, dia tidak ingin pria disampingnya menolak dengan cepat.


"Beban!"


Arneth tersipu malu saat rutukan Axcel tidak sejalan dengan tindakannya. Pria itu benar-benar membiarkan Arneth berada satu mobil dengannya. Tanpa menunggu lama, Axcel menghidupkan kuda besinya dan melaju meninggalkan pelataran kampus.


***


Kantor pusat KTech, 11.00 AM.


Tanpa ada angin dan hujan, kedatangan tuannya di pagi hari buta membuat seluruh anak buahnya babak belur saat ini. Keenan datang mengatasnamakan sidak uji kompetensi kekuatan anak buahnya. Kenyataannya Keenan tengah kecewa dan marah pada dirinya sendiri.


Tanpa Farah ketahui, Keenan sendiri sangat membenci tindakan spontannya saat melakukan kebrutalannya di ranjang semalam. Selain emosi karena tindakan Farah yang diam-diam meninggalkannya dan tertawa entah karena apa. Keenan juga begitu haus saat mencium aroma darah Farah yang tidak sengaja terhi-sap saat dia menyesap kuat permukaan tipis kulit gadisnya.


Keenan baru menyadari kebrutalannya saat gadisnya pingsan. Keenan tertegun dan lekas menyelesaikan bagiannya. Dia terlalu pengecut untuk mengatakan permintaan maafnya. Keenan memilih meninggalkan kediaman dan melampiaskan seluruh emosi pada anak buahnya.


"Huh..." Nafas Keenan masih memburu, dadanya kembang kempis. Dia menatap seluruh anak buahnya yang terkapar babak belur di markas bawah tanah KTech. "Kalian sungguh payah dan memalukan!!"


"Bagaimana bisa Sam meloloskan kalian menjadi bagian dari organisasiku, hah?!!" Keenan memekik berang menatap satu per satu anak buah yang sudah babak belur.


Tidak ada yang berani menyela tuannya, mereka sudah pasrah sekalipun nyawa mereka mungkin melayang saat ini. Bagi anak buah Keenan, konsekuensi hidup mereka terasa sama saja. Hidup atau mati, terserah tuannya.


"Sam!!"


"Saya Tuan..."


"Ajarkan mereka kembali!! Aku tidak ingin memiliki anak buah sekalipun itu pion, kekuatan mereka harus yang teratas!!" Keenan meluluhkan senjata yang ada di tangannya. Senjata itu berbentuk pisau yang dikenakan di setiap sela jarinya. "Tidak masalah kita kalah jumlah, tapi kemampuan kita... Harus melampaui semuanya!"


"Noted!" Sam menganggukkan tubuhnya dan diikuti oleh semua anak buah Keenan yang berusaha bangkit dan menghormat padanya.


"Berikan kompensasi atas latihan hari ini!"


Keenan bergegas keluar dari markasnya, dia ingin membersihkan dirinya. Bau amis darah begitu melekat di tubuhnya, bercampur dengan keringat juga penyesalan terdalam. "Farah..."


Sam mengekor mengikuti tuannya, meskipun dia sama lelahnya. Namun, melayani tuannya adalah tugasnya. "Saya bantu Tuan!"


"Dimana Farah?" tanya Keenan membuat Sam terpaku sejenak.


"Saya tanya Ron sejenak..." Sam bergegas meraih ponsel dan menghubungi anak buahnya.


Keenan masuk dalam bak mandi yang sudah siap digunakan. Sam kembali masuk dan melaporkan hasil penelusurannya.


"Ron mengatakan Nona Farah sedang menuju kemari bersama kedua temannya."


Keenan menaikan sudut bibirnya, dia tidak mengatakan apapun lagi. Keenan luluh dalam bak mandinya. Rasa sesak sebelumnya memudar hanya karena mendengar gadisnya sedang menuju ke tempatnya. 'Aku merindukanmu, maafkan aku Farah... Aku sangat bersalah, tapi aku sungguh merindukanmu...'


Sam memperhatikan tingkah tuannya, dia tersenyum tipis dan beringsut mundur mempersiapkan kebutuhan tuannya. Dia tak lupa mengingatkan Sandra untuk menyambut gadis tuannya di depan.


Farah dan kedua temannya sudah berada di lobby KTech, sebelumnya Farah mengatakan pada Paman Chen untuk tidak perlu menjemputnya. Dia berkata akan pulang bersama dengan kakak sepupunya yang tak lain CEO dari KTech itu sendiri.

__ADS_1


Berbeda dengan hari pertama ketiganya menginjakkan kaki di KTech, kali ini mereka disambut hangat bahkan seluruh staf menunduk menyambut Farah.


"Seumur-umur gak ada yang nyambut gue kalo bukan maid di rumah!" Ceillyn memekik lirih serta takjub dengan perlakuan staf perusahaan ternama dalam menyambut mereka.


"Hi ilih, mereka nyambut Farah, bukan elo!" sungut Meishya meruntuhkan angan Ceillyn.


Farah menahan tawanya melihat kelakuan temannya. Dia mengedarkan pandangan, hatinya masih terasa sakit jika harus kembali ingat bagaimana semalam Keenan memperlakukannya. 'Apa Kakak benar ada di kantor sekarang?'


"Selamat Siang Nona Farah!" sapa resepsionis menundukkan tubuh menyambut kedatangan Farah. "Miss Sandra mengatakan agar anda menunggu sebentar, dia sedang menuju kemari!"


"Hm!" Farah hanya menunduk dengan menunjukkan senyum tipisnya.


'Ck, tiba-tiba Farah terasa lebih dingin dan cuek dari biasanya.' Meishya terus mengamati sahabatnya.


"Selamat siang Nona Farah!"


Farah dan ketiga orang lainnya berbalik menatap ke arah asal suara. Terdengar suara tegas dari seorang perempuan cantik dengan gaya elegannya menghampiri ke tempat dimana mereka masih berdiri saat ini.


"Maaf saya terlambat menyambut anda!" Sandra melebarkan senyuman di depan kekasih tuannya. "Mari saya antar kalian melakukan pengenalan lingkungan kerja. Setelah itu kalian bisa mengetahui dimana kalian akan bekerja selama magang disini!"


Ketiganya tidak ada yang bergeming, tidak juga bersuara. Mereka terlalu terpesona dengan sikap dan tampilan Sandra saat ini.


"Mengapa anda begitu cantik, pintar, lugas dan aku ingin seperti anda!" lirih Farah menatap Sandra berusaha tidak berkedip.


"Benar!" sahut kedua temannya membenarkan bersamaan.


"Pppfftt!" Sandra menahan tawanya, auranya semakin terpancar membuat Farah dan kedua rekannya seolah transgender mengagumi kecantikan Sandra. "Anda bisa saja Nona, mari!"


Ketiganya membuyarkan khayalan mereka dan mengekor di belakang tubuh Sandra. Selama mereka berjalan, Sandra terus memberikan informasi pada ketiganya. "Presdir sudah memberikan kalian tugas yang akan di ambil di KTech. Walau terkesan berlebihan, sejujurnya KTech tidak pernah menerima mahasiswa magang. Jika bukan karena Nona Farah adik dari Tuan Muda. Kalian tentu tidak akan pernah diterima."


Mendadak suasana terasa lebih dingin dari sebelumnya, Farah sendiri sudah menundukkan wajahnya. Sandra merasakan kegelisahan semua gadis bau kencur yang sedang dia bawa. Sandra melengkungkan senyuman dan gelengan kepala. "Itu alasannya, Tuan sendiri yang menempatkan kalian ada di bagian mana."


"Untuk kedua teman Nona, kalian akan bekerja di bagian Human Capital," ucap Sandra kembali menjelaskan. "Sedangkan Nona Farah, kamu akan berada satu section dengan saya dan di bawah perintah Tuan langsung!"


Farah terdiam, dia sudah tahu. Keenan tidak akan melepaskan gadisnya begitu saja, wajar jika kedua temannya juga memahami kondisi mereka saat ini. Bagi keluarga Kaviandra, tanpa bersusah payah sekalipun Farah sudah mendapatkan bagiannya sendiri.


Sandra sudah membawa ketiganya mengenal seluruh gedung KTech, tentu saja mana-mana saja area yang boleh mereka singgahi dan mana yang tidak boleh sama sekali. Tour singkat mereka berakhir di area kantin perusahaan. "Nah, ini adalah kantin perusahaan. Kalian boleh mengambil sepuasnya namun tidak berlebihan. Disini semua self service, just enjoy yourself!"


"Hajiguuur! Semua makanan dan minuman kesukaan gue ada dimari!" Lagi-lagi Ceillyn memekik lebay saat melihat kondisi kantin perusahaan yang akan mereka tempati selama tiga bulan kedepan.


"Benaaar Bestie, it's the best choice. Faraaah, you dewi fortuna kito rang!" Kali ini Meishya tak kalah berujar antusias.


"Biasa aja wei!" rutuk Farah lirih menggoda.


Sandra merasakan ada hal lain di diri Farah, tidak seberisik sebelumnya. Namun, siapa dia dimata tuannya?


"Lu yang biasa, kita kan kagak!" sungut keduanya membalas pernyataan Farah.


"Hehe... Disini kalian akan mendapatkan tiga kali waktu break!" Sandra kembali mengajak ketiganya mengitari kantin mereka yang tiga kali lebih luas dan beragam dari kantin kampus. "Coffee break di pukul sembilan, lunch jam dua belas, serta tea time di pukul empat sore!"


"Semua ketentuan akan kalian terima dalam modul buku saku yang akan dibagikan oleh team resource." Sandra mengakhiri sesi menemani peserta magang pertama dan terakhir mereka. "Bagaimana? Ada yang ingin kalian tanyakan?"


"Tidak Miss!" ketiganya kompak menjawab pertanyaan Sandra.


"Baiklah, ingat... Kalian pasti sudah tahu sifat dan perangai Tuan Muda bukan?" Sandra merubah intonasi suaranya. Ketiganya kembali dibuat tegang. "Tuan Muda sangat disiplin dan keras, jadi patuhi segala peraturan yang sudah tertulis. Jauhi yang akan membuat kalian mendapatkan masalah."


Ketiganya mengangguk kompak tanpa bisa berucap. Sandra menunjukan senyuman manisnya. "Kalian tentu harus ingat, jika bukan Nona Farah yang membawa kalian. Kalian tidak akan pernah diijinkan jadi bagian dari KTech!"


--- To be continue ---

__ADS_1


__ADS_2