Gadis Kecil Milik Mr. Mafia

Gadis Kecil Milik Mr. Mafia
EPS 64 # Pembahasan Berat


__ADS_3

Farah mengatupkan bibirnya erat, kakak sepupunya dengan sadar terus menyentuh tubuhnya. Walaupun Farah menggunakan piyama panjangnya, tetap saja dia merasakan gelenyar aneh yang membangkitkan hasratnya. Farah menunduk memegang erat kedua tangan di peralatan makannya. Dalam hati Keenan tengah bersorak atas respon Farah saat ini. Pria itu sendiri menyuap makanannya tanpa berdosa dan tanpa ekspresi.


'Terkutuklah kamu Keenan Kaviandra!' batin Farah kembali merutuki aksi kekasih hatinya. Farah sudah tidak bisa menahan pergerakan tangan kakaknya. Jika dibiarkan maka, Farah tidak bisa menahan diri untuk tidak mengeluarkan suara lenguhannya.


Tring!


"Aku sudah selesai!" Farah bangkit segera, mendadak Keenan tidak menyukai atas kelakuan Farah yang mulai membangkang.


"Loh? Tumben... Makananmu belum habis loh?" Nyonya Lyn memperhatikan Farah lekat, makanan di piring Farah memang lumayan masih tersisa. Tidak seperti biasanya, Farah selalu menghabiskan makanannya baru dia pamit kembali ke kamarnya.


"Maafkan Farah Bi, aku benar-benar kenyang... Sebelum pulang aku makan di kampus." Farah terlihat gugup menanggapi pertanyaan bibinya.


"Owh, ya sudah... Istirahat yang cukup ya!" ucap nyonya Lyn memaklumi.


Farah melebarkan senyuman, dia tidak lupa memberikan kecupan selamat malam pada kedua orang tua angkatnya itu. Farah sempat berhenti, senyum smirknya terbit dengan pikiran yang tiba-tiba hadir demi membalaskan perlakuan Keenan sebelumnya.


"Selamat malam Kakak!" Farah kembali mendekati kursi Keenan, gadis kecil itu memeluk mesra pria yang selama ini tidak pernah tersentuh olehnya.


Tidak hanya Keenan yang termangu, begitu pula dengan kedua orang tuannya. Sudah beberapa tahun kebelakang, kedua makhluk itu jarang berinteraksi dengan intens. Hal ini menjadi gebrakan besar, Keenan sampai menghentikan seluruh aktivitas menyuap makan malamnya.


"Tumben dia pamit sama kamu?" tanya nyonya Lyn tersenyum senang.


Keenan hanya menanggapi acuh dengan menaikan bahunya. Tuan Kaviandra menatap punggung Farah yang sudah menghilang di balik pilar besar. Sedangkan Farah, berlarian kecil menuju kamarnya. Senyumnya terus mengembang, dia berpikir kakaknya tengah kesal saat ini.


Bruuk!


"Huh, lega rasanya!" Farah menjatuhkan dirinya di ranjang besar dan tumpukan bantalnya. Dia benar-benar lelah, seharian beraktivitas, tidak hanya pergi kuliah, dia juga lelah di gagahi kekasihnya.


Mata Farah kembali terjaga, dia bisa merasakan tubuh seseorang tengah memeluk tubuhnya. "Kakak?!"


Farah berusaha berbalik badan dan memeriksa kebenarannya. Benar saja, senyuman tampan Keenan membuat angannya kembali melayang. "Apa kamar Kakak benar-benar pindah kemari?"


Farah menggoda mengapit wajah tampan kekasihnya. "Hm!"


"Aaarghh, Sayaaang... Nanti Bibi curiga..." Farah melenguh saat wajah Keenan kembali tenggelam dalam ceruk lehernya.


"Kamu begitu takut kita ketahuan, bukankah kamu ingin hubungan kita ini terekspos?" Keenan menggoda adik sepupunya. Dia ingin mengetahui respon Farah, seandainya hubungan mereka benar-benar rilis di publik.


"Apa?" Farah terdiam, kapasitas otaknya sudah digunakan seharian ini. Perlu waktu lama gadis itu mencerna kalimat kekasihnya. Walau kalimat itu sederhana. Namun, bagi Farah mendapatkan pengakuan atas hubungan mereka, seolah mimpi yang datang menjadi nyata.


"Kamu sungguh bodoh!" Keenan sangat gemas dengan respon Farah yang lambat. Dalam sekali hentakan Keenan sudah merobek piyama kekasihnya.


"Aaargh, kenapa dirobek?!" protes Farah tidak terima.

__ADS_1


"Karena aku tidak tahan!"


Keenan segera melancarkan serangan menghujam milik kekasihnya yang membuat dirinya candu luar biasa. Keenan menutup mulut Farah dengan bibirnya, gadis itu tengah menjerit, akan sangat berbahaya jika suaranya sampai terdengar keluar. Meskipun, dinding ruangan kedap suara, tetap saja jeritan Farah cukup keras untuk membangunkan seisi kediaman.


Farah mengatupkan bibirnya erat, jemari tangannya mencengkram erat jemari besar kekasihnya, di posisinya saat ini, Farah bisa melihat ekspresi Keenan yang tersenyum bahagia melesakkan jutaan lahar panas ke dalam rahimnya.


"I love you, Farah Lee..." Keenan menunduk, berbisik tepat di samping telinga kekasihnya.


"Love you too, My Keenan..." sahut Farah terengah menunjukan senyuman tulusnya.


Keenan menutup mata bahagia, dia memeluk erat gadisnya, tak lama keduanya terbelalak bersama.


Tok... Tok... Tok...


Keduanya terkejut, Keenan segera melepaskan dirinya. Dia mengisyaratkan sesuatu dalam sorot matanya yang tajam pada Farah. Antara mengerti dan tidak Farah segera merapikan ranjangnya yang ah sudahlah...


Keenan bergegas membawa pakaiannya dan bersembunyi di area wardrobe Farah. Sedangkan gadisnya menyambar piyama lain menggunakannya dengan secepat kilat. Keenan sungguh merasa dia seperti penjahat wanita yang kedapatan keciduk oleh petugas keamanan. 'Sungguh memalukan, siapa yang datang ke kamar Farah selarut ini!'


"Farah!" seru nyonya Lyn dari luar. "Apa kamu sudah tidur? Tumben pintu kamu kunci Sayang?"


Farah menutup kedua wajahnya dengan tangan, dia berhenti sejenak. Farah menatap kesal pada kakaknya, Keenan hanya menunjukkan senyuman menggodanya. "I-iya, Bi... Farah belum tidur!"


Ceklek!


Dengan masih berdebar hebat Farah membuka pintunya perlahan. Dia tidak menyangka bibinya akan berkunjung ke kamar walau sejujurnya sudah tidak asing lagi hal itu sering dilakukan nyonya Lyn untuk memeriksa dirinya atau sekedar bertanya hal yang tengah terjadi dalam kesehariannya.


'Mengapa bau kamar Farah sedikit aneh? Bahkan─, sejak kapan anak ini tidur dalam kekacauan seperti ini?' Nyonya Lyn membatin dengan terus menyelidik ruangan anak angkatnya. Memang sudah sangat lama nyonya Lyn tidak mengunjungi kamar Farah. Wanita paruh baya itu berusaha berpikiran positif saat ini.


Farah gelisah, dia berdiri dengan terus memainkan kedua jemarinya. "Kok tumben Bibi kemari?"


"Owh iya, Bibi kepikiran Keenan keterlaluan belum juga memberikanmu sebuah mansion!" Nyonya Lyn duduk di tepian ranjang.


Farah bergegas ikut duduk di ranjangnya. Dia kembali mengatupkan bibirnya erat, ranjangnya barusan digunakan bercinta, bahkan buktinya masih tertinggal disana.


"Kamu kok keringetan? Kamar kamu juga tumben berantakan begini!" selidik nyonya Lyn, kembali merasa curiga.


"Aargghh itu Bi, tadi Farah coba yoga sebentar," ungkap Farah segera.


"Yoga malam begini?" Nyonya Lyn menatap tajam Farah.


"I-iyaa bener Bi, aku harus fit besok!" Rasanya Farah mendadak bego dan tidak bisa mencari alasan pembenaran yang jauh lebih rasional lagi. Keenan yang mendengarkan di belakang tengah menahan tawanya.


"Owh, Bibi baru tahu kamu mau yoga selarut ini!" ucap nyonya Lyn sedikit menunjukan rasa curiganya. Farah tersadar, dia kembali berusaha menghindari pembahasan yang akan memojokkannya.

__ADS_1


"Aku tidak masalah sih Bi, disini juga gak apa-apa. Cuma, aku tidak enak jika harus keluar masuk kediaman. Kegiatanku lumayan banyak, aku juga sudah mulai ikut bekerja di KTech terhitung besok. Aku juga masih ada beberapa keperluan di kampus."


"Nah itu dia!" Nyonya Lyn kembali pada topik yang membawanya mengunjungi Farah saat ini. "Bagaimana jika kamu tinggal di Condo bersama Kakakmu... Lagian, kamu kan udah kerja di KTech, bagusnya kamu ikut kakakmu saja jika dia tidak sibuk."


"Ehm, aku mau saja... Tapi, Bibi kan tahu sendiri Kakak sama aku gimana..." Farah merasa bingung, sejujurnya Keenan yang menginginkan gadisnya keluar dari kediaman agar mereka memiliki waktu berdua bersama.


"Loh, Bibi lihat kalian berdua sudah kembali akrab! Pengurus Tang juga bilang kamu seminggu disana, berarti Keenan tidak mempermasalahkannya."


Farah merasa dadanya sedikit sesak, entah apa yang di ucapkan paman Tang pada bibinya. Keenan seperti kecolongan, ternyata pengurus kediamannya sering berkomunikasi dengan ibunya. Sudah bukan rahasia sebenarnya, ibunya memang masih terus memantau seluruh anak-anaknya.


"Lagian, Kakakmu itu kadang ada tugas keluar negara, mansion dia juga kan gak cuma di Condo! Kalau kamu di Condo, Bibi tenang... Soalnya ada Paman Tang, jadi Bibi juga bisa tahu keadaan kamu..."


"Bibi belum tenang juga buat kasih kamu hidup sendiri seperti Karen. Di Condo, setidaknya ada banyak pelayan yang akan mengurusmu disana." Nyonya Lyn mengusap lembut rambut Farah yang terlihat lepek.


Farah terdiam, bukan main memang perhatian kedua orang tua angkatnya itu. "Terima kasih, Bi! Bibi sudah seperti ibu kandungku sendiri!"


Nyonya Lyn tersenyum, dia menyambut pelukan anak angkatnya. "Farah Sayang, kamu kan memang sudah Bibi anggap putri sendiri! Papa dan Ibumu adalah kerabat jauh Paman, Bibi sudah sangat mengenal mereka, bahkan Bibi hadir saat kamu lahir!"


'Maafkan aku Bi, aku sungguh tidak memiliki muka seandainya Bibi tahu apa yang terjadi antara aku dan Kakak sejauh ini.' batin Farah merasa bersalah. Sekuat tenaga Farah tidak meneteskan air matanya.


"Tenang saja, Bibi akan bicarakan dengan Keenan. Lagian Bibi juga tidak mungkin melepas kamu keluar kediaman kalau tidak ada yang menjagamu disana. Setidaknya di Condo akan ada saudaramu yang menjagamu selama kamu disana menggantikan Bibi dan Paman."


Deg!


Lagi-lagi perasaan Keenan dan Farah kembali sehati. Pernyataan nyonya Lyn benar-benar menghujam jantung keduanya. Bagaimana jika wanita yang di panggil ibu dan bibi itu mengetahui kenyataannya bahwa keduanya sudah lebih dari sekedar adik dan kakak. Mereka bahkan sudah melakukan aktivitas layaknya pasangan suami dan istri sah.


Farah menatap nanar kedepan, 'Seharusnya, Kakak seharusnya menjagaku... Bukan menjadikanku penghangat kasurnya!'


"Ehm, aku tunggu Kakak yang putuskan saja ya Bi!"


"Lah? Hehehe... Kamu segitu takutnya sama Keenan, padahal kamu satu-satunya gadis kecil yang selalu menempel dengan Kakakmu dulu selain Karen. Karen saja tidak sedekat kamu! Hahaha..."


Wajah Farah merona seketika, dia mendadak salah tingkah. Bukannya menentang, Bibinya semakin menjadi menggoda dirinya.


"Bibi tahu sendiri bagaimana Kak Keenan berubah padaku setelah aku beranjak remaja..." ujar Farah sendu.


Nyonya Lyn mengulumkan senyuman, mengusap wajah cantik Farah dan merangkulnya sejenak. "Mungkin karena kamu sudah besar, dia ingin mengajarkanmu kemandirian, sama seperti Karen! Aslinya dia sangat peduli padamu, Bibi yakin dia sangat menyayangimu seperti dia menyayangi Karen!"


"Nanti Bibi carikan dia istri agar dia sedikit memiliki perasaan!! Bibi sungguh lelah, Kakakmu itu senang sekali bertahan dalam kesendirian. Jika sudah begitu, kapan Bibi bisa menggendong cucu jika terus begini?!"


Duaaar!!


Tidak habis nyonya Lyn membuat perasaan Farah dan Keenan terombang-ambing seperti saat ini. Farah sedang berjuang agar tidak hanya sekedar disayangi seperti adiknya. Dia ingin memiliki Keenan seutuhnya, menjadikan pria itu satu-satunya orang yang akan menua bersamanya kelak. Bagaimana bisa Farah menerima kenyataan Keenan akan dijodohkan dengan wanita lain dan bukan dirinya.

__ADS_1


'Maafkan Keenan Ma, aku benar-benar sudah sejauh ini dengan Farah. Aku tidak tahu sampai kapan aku menyembunyikan semua ini dari kalian. Aku sungguh lebih dari sekedar menyayangi Farah seperti menyayangi Karen. Aku jatuh cinta pada Farah, mungkin aku akan menjadikannya istriku kelak, aku tidak ingin wanita yang lain. Hanya Farah yang aku inginkan! Tapi, untuk mengatakannya di depan kalian... Aku sungguh tidak mempunyai nyali yang besar!'


--- To be continue ---


__ADS_2