Gadis Kecil Milik Mr. Mafia

Gadis Kecil Milik Mr. Mafia
EPS 143 # Pillow Talk


__ADS_3

"So?" Tuan Akeno kembali menatap tajam ke arah Farah.


Wanita itu menelan salivanya, akhirnya apa yang dia takutkan selama ini terjadi sekarang.


"Aku akan membahasnya lebih dulu dengan Keano. Jika benar dia ingin bertemu dengan ayahnya maka aku tidak punya pilihan lain." jawab Farah serius kali ini.


"Oke, Kakek akan mempersiapkan segala sesuatunya..." sahut tuan Akeno mencoba menenangkan anak asuhnya.


"Ehm─" Farah terlihat gelisah, ada sesuatu yang ingin dia sampaikan yang jauh lebih penting. "Sebelum itu ada yang aku inginkan terlebih dahulu." timpal Farah cepat.


Tuan Akeno mendelik dengan tatapan kebingungannya. "Apa itu?"


"Aku ingin bertemu keluargaku di Negara B." sahut Farah yakin.


"Oke... Kamu tinggal tentukan waktunya Kakek akan mengkoordinasikan dengan anak buah kakek."


"Terima kasih kek!" Farah menundukkan setengah badannya menghormat pada Tetua Luciano.


"Tapi apa kamu yakin dengan reaksi mereka saat melihatmu?!" goda tuan Akeno membuat Farah menggaruk pelipisnya yang tidak gatal.


"Aku kurang yakin, tapi aku pastikan mereka justru akan senang mengetahui aku masih hidup." papar Farah sendu menundukan kepalanya.


Terdengar hembusan kasar tuan Akeno merasa iba pada wanita di hadapannya. "Apa kamu perlu di temani?!"


"Aku rasa tidak perlu... Aku takut memperkeruh suasana mengingat aku─"


"Baiklah... Kakek mengerti..."


Tak lama keduanya keluar dari ruang kerja tuan Akeno, Farah pamit menemui putra dan juga papa sambungnya.


Ceklek...


"Kick dia papa!!" pekik Keano bersemangat dengan gadget pintarnya.


"Siaap jendraaal... Awaaas kamu sembunyi di pilar!" sahut Axcel tak kalah bersemangat.


Farah melengkungkan senyuman bahagia melihat keduanya begitu akur. Pikirannya melayang membayangkan jika yang di samping putranya adalah pria yang paling dia cintai di dunia ini. Pria itu juga tak lain dan tak bukan ayah biologis dari putranya.


"Apa kalian belum selesai?! Ini sudah waktunya makan malam!" Farah berujar mendekati keduanya dan bersiap menarik kesenangan dua pria yang memiliki hobi yang sama.


"Tanggung ibuu... Dikiit lagi!" pekik Keano dengan tangan yang masih lihat bergerak cepat.


"Iya Sayaaang lima menit lagi ya!!" sahut Axcel mendukung putra sambungnya.


"Ck!!" Farah berdecak kesal, dia segera memposisikan dirinya di tengah-tengah para pria kesayangan memeluk pinggang Axcel dan berbisik manja.


"Aku lapaaar loh sayaaang..."


DEEEEG!!


Wajah Axcel memerah seketika saat wajah kekasih hatinya berada di samping wajahnya. Bahkan hembusan nafas Farah serta harum tubuhnya langsung menguar dan membuyarkan konsentrasi pria tampan itu.


"Iya Sayaaaang~" Axcel berbalik menatap wajah Farah patuh.


"Aaarrhhh Papaaa kita kalaaaah!!" pekik Keano sebal karena ayah sambungnya memiliki kelemahan jika sudah di sentuh ibunya, pria itu akan patuh 100% di bawah kendali Farah.


"Hihi!" Farah cekikikan dengan kondisi mereka sekarang.

__ADS_1


Axcel memeluk Farah erat dan mencium ceruk leher wanitanya. "Kamu tanggung jawab kalau Keano merajuk yaaa~" bisik Axcel dengan senyuman bahagianya.


Dia tidak peduli lagi dengan status atau pengakuan. Seperti itu saja membuat dia melayang, walau Farah selalu saja menggantungkan perasaannya Axcel tidak peduli. Selama dia bisa bersama Farah selamanya dia tidak masalah dengan yang lainnya yang bisa melukai dirinya.


***


Setelah makan malam, seperti biasa wanita itu akan story telling dengan anaknya.


"Papa ada kerjaan bentar ya... Ibu akan menceritakan dongeng sendirian apa tidak masalah?" Axcel bersimpuh mensejajarkan dirinya dengan putra Farah.


"Iya Papa..."


Keduanya saling memeluk sebelum Keano pamit menuju kamar miliknya. Axcel mendekati Farah dan meminta ciuman malamnya.


'Aku sungguh kasihan dengan cucumu, cintanya sungguh terlalu besar pada Farah sampai dia bosa bertahan sejauh ini. Aku tidak mungkin memaksa Farah selama hatinya masih berharap pada prianya.' batin tuan Akeno menatap iba cucunya.


"Amu kerja sebentar ya sayang, agar bisa membelikanmu sebuah berlian~" goda Axcel mencium pipi Farah lembut.


Plaak!!


Farah menepuk perlahan bahu Axcel dengan kekehan. "Aku tidak butuh berlian..." tutur Farah lirih.


"Oh ya? Haiishh... Ya, harusnya si cewe minta kepastian ini kebalik!! Lakinya yang suruh nunggu ampe lumutan rasanya!!"


"Axcel..." panggil Farah sendu.


"Okey... Okey... I'm Axcel I'm okay!!"


Farah memeluk erat pria terbaiknya. "Fighting Papa Kecil!"


Farah berlalu menuju kamar Keano sedangkan Axcel berencana menuju ruang kerjanya.


"Huh... Susah payah aku menyembuhkannya lalu pria itu merebutnya dengan tangan terbuka tanpa susah payah? Apa kakek benar-benar di pihakku?!" berang Axcel menahan emosinya.


"Kita lihat saja, mungkin realita tak seperti yang kamu bayangkan. Ingat kita masih perlu barang yang di miliki KTech!"


"Semua demi Farah..." Tuan Akeno mendekat menepuk bahu cucunya membesarkan hatinya.


Axcel mengepalkan tangannya, dia tidak bisa melakukan apapun saat ini. Kesehatan Farah beberapa bulan terakhir sedikit terganggu. Wanita itu menjadi lebih sering melupakan sesuatu. Bahkan Farah sempat terus mengalami pingsan walau dia tidak sedang dalam keadaan sakit.


"Satu langkah lagi untuk pengobatan Farah, jika kamu ingin dia hidup lebih lama maka─"


"Aku mengerti!!"


Axcel menepis dan berlalu meninggalkan kakeknya. Tuan Akeno juga tidak bisa melakukan apapun pada percintaan dua insan itu. Baginya, dia sudah menemukan penerus Klan Naga walau bukan berasal dari darah dagingnya.


Kamar Keano, 9.00 PM.


"Kamu ingin ibu bercerita tentang apa Sayang?!" Farah duduk di samping ranjang putranya.


Farah tidak ingin terburu-buru mengintrogasi putranya. Dia tidak ingin membuat Keano merasa tertekan.


"Hmm..." Keano tampak berpikir lalu tanpa di duga ibunya dia berkata dengan sendu. "Bagaimana jika aku ingin tahu bagaimana aku tercipta?!"


Deg!!


Bola mata Farah hampir keluar sepenuhnya dengan pertanyaan di luar prediksi bmkg itu!

__ADS_1


"Heh..." Farah terkekeh, ternyata otak putranya juga bisa berisi hal konyol seperti isi kepalanya.


"Seperti yang kamu ketahui, bapak cebong mengeluarkan anak cebongnya yang berenang menghampiri tempurung dan tadaaaaa~"


"He.. He.. He.." Farah mengeluarkan tawa garingnya di sambut tatapan kecewa putranya yang dingin bak di tatap oleh Keenan kecil.


"Haiish..." Farah bangkit menarik selimut dan ikut masuk ke dalam.


Dia memeluk putranya dan merangkulnya. "Apa yang kamu ingin tanyakan bagaimana ibu bertemu ayahmu dan bisa hamil benihnya? Lalu dia meninggalkan kita disini─"


Sekuat tenaga Farah tidak menjatuhka air matanya agar tidak membuat putranya kecewa.


"Jika ibu tidak ingin menceritakannya aku tidak akan memaksa." sahut Keano sendu memeluk ibunya dan berusaha memejamkan matanya.


Farah mengusap lembut rambut putranya, air matanya sudah tidak bisa lagi dia kendalikan. "Ibu bertemu dengannya saat ibu berusia tak jauh berbeda dengan usiamu saat ini. Ya, kala itu ibu berusia tujuh tahun dan ayahmu baru berusia delapan belas tahun jika tidak salah."


"Ibu jatuh cinta pada pandangan pertama, dan sampai saat ini tidak ada yang bisa menggeser posisinya di hati ibu. Bahkan Papa kecil sekalipun─"


"Kami terlibat hubungan rumit dan akhirnya ibu mengandung benihnya!"


"Jadi dia memperkosa ibu?!"


Jleeeeb!!


Farah merasa perkataan anaknya cukup menusuk.


"Apa bagusnya pria seperti itu!" keluh Keano terdengar tidak menyukainya.


"Sayang... Ayahmu mencintaimu, baginya kamu kebanggaannya!!" protes Farah menghardik putranya.


"Cih... Jika dia sayang dia akan berusaha keras mencari kita!"


Farah mengeratkan kepalan tangannya, sepertinya ucapan Kakek Akeno benar putranya kecewa pada ayahnya.


"Ada alasan tertentu mengapa ayahmu tidak bisa menemukan kita."


"Pertama, ibu yang menginginkan kita seperti sekarang. Jika kamu kecewa, kecewalah pada ibu!!"


"Kedua, jika dia menemukan kita maka alan ada banyak bahaya yang mengintai papamu dan bahkan kamu sendiri─"


"Cukup bu!"


Farah tersentak, ini adalah pertama kalinya Keano menghardik dirinya.


"Aku mengerti..." lirihnya.


Farah meneteskan air matanya, dengan sigap Keano mengusapnya perlahan. "Apa ibu tidak ingin menemuinya?"


Farah terpaku, dia merasa seluruh sistem syarafnya berhenti serentak. Dia tidak tahu harus bilang apa. Bahkan dia lupa caranya bernafas.


"Apa Keano ingin melihatnya?" tanya Farah balik.


Keano tidak menjawab namun dia menganggukkan kepala perlahan. Farah tersenyum dan memeluk Keano. "Kita akan menemuinya akhir pekan ini."


Senyum Keano mengembang dengan tatapan yang sulit diartikan seolah dia sudah mengetahui sebelumnya.


'Akhirnya kita akan bertemu Mr. K atau mungkin aku akan memanggilmu Papa? Ah... Itupun jika kamu layak aku panggil Papa!!'

__ADS_1


--- To be continue ---


__ADS_2