Gadis Kecil Milik Mr. Mafia

Gadis Kecil Milik Mr. Mafia
EPS 80 # Pertanda


__ADS_3

Keenan mengerjapkan kelopak matanya dengan berat, rasanya begitu lemas dan enggan untuk terbangun saat ini. Namun, seketika matanya terbuka lebar saat tangannya tidak merasakan tubuh Farah.


"Baby!"


Hoek... Hoek... 


Disaat yang bersamaan, Keenan mendengar suara dari arah kamar mandi. Bergegas Keenan bangkit dengan kecemasannya. "Baby, are you okay?"


Di dalam kamar mandi, Farah tentu saja terkejut dengan pekikan kakak sepupu rasa kekasih itu. Dia segera bangkit dan merapikan tampilan kusutnya. Tanpa perlu menunggu Farah membuka pintu, Keenan sudah membukanya dan segera merengkuh tubuh kekasihnya yang hanya berbalut selimut tipis. Senyum Keenan mengembang saat melihat penampilan mereka saat ini. Segurat rona merah hadir menghiasi wajah polos mereka menyambut pagi yang kesiangan.


"Aku baik-baik saja..." ucap Farah memeluk erat kekasihnya.


"Apa kamu sakit?" tanya Keenan menyelidik mengangkat dagu Farah.


Farah menelan ludah, seharusnya kalimat perhatian itu membuat angannya senang. Sialnya, dia justru merasa ketakutan. "Tidak," ucap Farah terbata.


Sorot mata Keenan berubah tajam menatap bagian tertentu dari tubuh Farah. "Kamu tidak melupakan obat kontrasepsimu, bukan?"


"Ya..."


"Mengapa kamu muntah di pagi hari, hm?"


Pertanyaan biasa dengan intonasi suara yang biasa juga biasa, justru membuat Farah ketakutan luar biasa. Dia mengerti kemana arah pertanyaannya. Farah juga bukan wanita yang tidak tahu bagaimana seorang wanita saat mengetahui kehamilannya. Ya, Farah dan Keenan tengah begitu takut akan satu hal. “Ini pasti karena aku masuk angin!”


Gegas Farah merutuki Keenan dengan merubah raut wajahnya cepat. “Semalaman Kakak terus menyelesaikanku. Aku sampai kedinginan tanpa sehelai baju!”


“Mana gak dikasih makan malam!” gerutu Farah masih menunjukan rasa kesalnya dan menyembunyikan rasa gelisah yang ikut serta dalam dirinya.


“Hehe, sorry Baby… Aku tidak bertemu selama sepekan, membuat aku sungguh melepaskan semua rasa yang aku pendam selama jauh darimu.”


Keenan mengecup kening Farah lembut, setelahnya menyuruh Farah segera membersihkan dirinya. Pria itu tidak ikut mandi bersama, Farah sedikit mengernyitkan keningnya. ‘Tidak biasanya Kakak melepaskanku… Apa mungkin dia masih mencurigaiku? Jangankan dia, aku saja curiga…’


Farah mengulas senyum manis di hadapan kekasihnya sebelum Keenan menghilang dibalik pintu. Farah sendiri sudah begitu menahan diri untuk tidak memuntahkan kembali isi perutnya saat ini. ‘Apa mungkin?’


Farah mengaduh dengan menekan perutnya yang seolah melilit tidak karuan. Di bilik lainnya, Keenan menghubungi asistennya dengan perasaan tidak tenang.


Tuut!


“Pagi Tuan, mohon maaf saya terjebak macet!” seru Sam segera di balik gawai Keenan.


“Apa kamu sudah memastikan obat kontrasepsi Farah?”


Deg!


Tiba-tiba saja keheningan menyapa mereka. “Saya sudah memberikannya seminggu yang lalu, sebelum kita berangkat ke HK.”


“Belikan aku sarapan, berikut alat tes kehamilan!”


Sam sontak membelalakan matanya, inginnya dia menjatuhkan ponsel agar terasa seperti dalam adegan drama yang bersifat melebih-lebihkan. “Apa Farah?”


“Tidak perlu banyak bertanya, lakukan saja!” sanggah Keenan menekan. Hatinya sungguh berkecamuk hebat saat ini. “Jika sampai Farah hamil, segera lakukan proses ab-orsi!”


“Keenan!” Mendengar kalimat menjijikan keluar dari mulut tuannya, refleks Sam seketika memaki.


Tut!


Keenan mengakhiri percakapan, dia menatap pintu kamar mandi mereka. Dia kembali memasuki kamar mandi, dia butuh meredamkan emosinya. Farah yang sedang berendam terkejut saat prianya tiba-tiba berada di sampingnya dan melepaskan satu per satu pakaiannya.


“Kaaak…” lirih Farah merasa mau melihatnya, Keenan hanya menyeringai tanpa ingin mengucapkan kata apapun.


Farah ternyata salah, dia pikir Keenan akan melepaskannya, ternyata tidak semudah itu marimar~


“Sini, aku gosok badanmu…” tawar Keenan datar pada kekasihnya.

__ADS_1


Farah sempat tertegun, dia bisa melihat dari sorot mata Keenan bahwa pria itu tidak dalam keadaan baik-baik saja.


“Apa Kakak sakit?”


“Hm?” Keenan mendongak menatap Farah, tanpa ingin menjawab dia lekas membalikkan tubuh Farah tanpa perlu persetujuannya.


‘Semakin kesini, Kakak semakin horor… Apa jika aku hamil dia akan membunuhku?’ Bohong jika Farah tidak merasa ketakutan seperti sekarang. Keenan selalu mengancamnya agar dia tidak pernah mengandung dari benih yang selalu diberikan dikala mereka memadu kasih.


Farah merasa rileks, tubuhnya selain digosok oleh spons mandi, juga dipijat perlahan oleh kedua tangan Keenan. Tanpa Farah ketahui, Keenan sedang menarik benang kusut, sialnya benang itu bukannya terurai malah semakin berantakan. ‘Apa jadinya jika kamu benar-benar hamil Farah? Apa yang akan aku katakan pada keluargaku!’


Keenan terus memijat tubuh Farah dengan pikiran yang kosong tidak di tempatnya. Sampai dia meraskan gairahnya ikut terbawa suasana ketika dia memegang dua bukit kembar kekasihnya. “Sayang, aku merasa ini jauh lebih besar dari sebelumnya?”


“Aaarrrkk, Kakak cabul!!”


Sejenak Keenan terkekeh dengan melihat respon Farah yang melepaskan diri menjauh dari tubuhnya. “Aku memang cabul, bohong jika kamu tidak menikmatinya!”


Farah menggerutu tidak jelas dengan memajukan bibirnya membuat Keenan gemas. “Gantian, aku yang bersihkan badan Kakak. Mau ya?”


“Hm!”


Farah tersenyum, dia segera memulai mengambil botol shampo, menuangkannya sedikit di telapak tangan dan menggosokkan di atas rambut tebal kekasihnya. Farah juga memijat kepala Keenan perlahan. Pria itu merasa lebih nyaman dan tenang, beban pikiran sebelumnya dia pindahkan entah kemana. Farah begitu tahu membuat Keenan menikmati servis yang dilakukan kekasihnya.


Farah asik membuat gelembung sabun semakin tumpah di bak mandi mereka. Sesekali tawa keduanya pecah, Farah yang usil membuat Keenan tergelak dengan tingkahnya yang pada dasarnya masih labil sesuai dengan umurnya.


“Love you, Keenan…”


Keduanya telah membasuh tubuh mereka. Farah dinaikan di atas wastafel, gadis itu mengapit wajah tampan kekasihnya dengan kedua tangan. Tak lama, Farah sudah mendaratkan ciuman sekilas yang cukup membuat debar rasa di dada Keenan semakin tidak karuan.


“Love you too, Baby…” 


Keenan membalas dengan mencium kening Farah lembut. “Sepertinya, Sam sudah datang… Kamu lapar bukan?”


Farah terlihat murung, Keenan mengerutkan keningnya. “Aku ingin makan di luar? Boleh tidak?”


Keenan mencubit hidung kekasihnya. “Anything for you!”


***


Street Food, kota S.


Lokasi tempat dimana Farah menginginkan sarapan paginya tidak begitu jauh dengan kantor KTech. Keenan begitu pasrah melakukan apapun yang kekasih kecilnya inginkan. Dia hanya terus mengamati kekasihnya dengan perasaan yang berbeda dari sebelumnya. Dia sudah menyangka yang bukan-bukan hanya karena Farah ingin makan di luar. Pria itu mengira bahwa Farah mungkin sedang mengidam. Dia sungguh takut, takut seandainya Farah benar-benar hamil.


Menu yang diinginkan Farah adalah nasi hainan. Makanan khas dari Pulau Hainan ini adalah salah satu makanan nasional negara S. Setelah terhidang, Farah yang sebelumnya antusias mendadak terdiam. Keenan kembali menyelidik curiga. “Kamu kenapa, Sayang?”


“Aku kebelet pipis!” rengek Farah bergegas bangkit dan mencari toilet umum.


Gadis itu kembali merasakan mual yang teramat sangat saat mencium aroma masakan yang menguar di indra penciumannya. “Hoeek… Hoeeek!”


“Ada apa dengan tubuhku?” Farah menyeka embun di pelupuk matanya. Rasanya begitu nyeri di area ulu hatinya.


Farah kembali menatap pantulan dirinya di cermin. Satu hal yang sudah ia lewatkan. “Aku belum mendapatkan menstruasiku!”


Gemuruh dalam dada Farah semakin tidak menentu, dia bergegas mencuci wajahnya dan cepat kembali sebelum Keenan mencurigainya.


“Are you okay?” Keenan kembali bertanya setelah Farah mendaratkan tubuhnya di kursi.


“Hm? Aku kan pipis?” Farah berharap aktingnya memuaskan kali ini.


“Lama!”


“Ngantri Sayaaang…” Farah terkekeh dengan tingkah Keenan, dia menggelayut manja sebelum memaksakan diri memasukan makanan ke mulutnya.


Mereka mulai menyantap menu makanan yang sudah terhidang beberapa menit yang lalu.

__ADS_1


“Kak, kok Kakak melamun?”


Farah membuyarkan lamunan Keenan yang merasa hal yang aneh dalam dirinya. Dia sungguh menyukai nasi hainan yang ia makan. Padahal, seumur-umur Keenan tidak pernah mau menyentuhnya.


“Ah, tidak… Kita harus cepat, sebentar lagi kawasan ini ramai!” Keenan segera menyudahi dan menyeka mulut dengan serbet. “Bukankah kamu menginginkan makanan ini? Kenapa?” Keenan merasa sedikit jengkel. Tidak biasanya adiknya yang kuat makan itu tiba-tiba begitu lamban dalam mengunyah.


“Aku sakit perut…” Farah kembali membual, kenyataanya memang perutnya menolak untuk diisi sesuatu.


“Huh!” Keenan menghela nafas berat, dia bangkit dan menegaskan jasnya. “Ayo, tinggalkan saja… Sam yang akan mengurusi pembayaran. Tante Vero akan datang ke kantor!”


“Tidaaak perlu Kak!” Farah menghardik segera. “Sepertinya asam lambungku kambuh, ini salah Kakak aku tidak diberi makan semalam!!” sungut Farah kembali mencari alibi.


Keenan menegaskan rahang, dia tidak ingin emosi saat ini. “Kita pergi!”


Farah mendadak pucat dengan sikap Keenan yang dingin dan mengabaikan kemauannya. ‘Apa Tante Vero bisa mengetahui kehamilan seseorang?’


Keenan menarik tangan Farah dan menggenggamnya erat melangkah menuju mobil yang mereka parkit di area depan. Tanpa mereka ketahui, bahwasanya kedua teman Farah ternyata tengah sarapan di tempat yang sama.


“Farah?” seru Ceillyn saat netranya menangkap sahabatnya.


“Kamu liat siapa?” tanya Meishya penasaran.


“Itu Farah, sama cowok…” sahut Ceillyn menunjukan dimana keberadaan sahabatnya.


“Bener!” Meishya terlihat syok.


Tepatnya keduanya syok, mereka menangkap basah sahabatnya karena melakukan tindakan yang tidak pernah mereka lihat selama ini. Farah menggelayut manja di lengan si pria yang misterius menggunakan topi yang menutupi sebagian paras tampannya. Keduanya terlihat bahagia, si pria bahkan terus menciumi tangan Farah mesra dan terpancar rona bahagia. Keduanya terus menatap tanpa ingin mengabaikan sedetikpun apa yang mereka lihat saat ini. Pria yang tidak diketahui identitasnya oleh teman Farah semakin membuat kedua mata dan mulut mereka terbuka lebar. Si pria mencium bibir wanitanya setelah membukakan pintu dan Farah memasukinya.


“Apa itu pacarnya?” tanya Ceillyn dengan keadaan syok.


“Bisa jadi, mereka ciuman gitu gak mungkin sekedar sahabatan…” sahut Meishya ikut syok.


“Kok, mirip Kak Keenan kan ya?” sambung Ceillyn masih penasaran.


“Eh, iya! Plat mobil mereka sama!!”


“Jangan-jangan…”


Keduanya memekik dengan berhadapan menunjukan raut wajah gusar. Keduanya ikut bergegas menuju kantor sebelum terlambat. Di area lobby, Keenan dan Farah sudah di sambut kedatangannya oleh seluruh staf KTech.


“Farah!”


Tanpa di duga, kedua temannya yang terlalu kepo memanggil kekasih presdir KTech. Farah refleks menurunkan tangannya dari tangan Keenan. Pria disampingnya menyeringai perlahan, sejujurnya seluruh staf sudah merasa janggal akan sikap adik sepupu tuan mereka yang terkesan seperti kekasih dibanding seorang adik.


“Ehm, Kak… Aku ijin bertemu mereka…” tanya Farah gugup.


“Lain kali, ajari sopan santun pada sahabatmu… Ini KTech, bukan kampus!” Keenan berlalu dingin diikuti beberapa anak buah inti yang terdiri dari Sam, Ken, serta Ben.


“Astoge, itu cogan bukan main melimpahnya!” pekik Meishya tidak tahu malu pada kedua temannya dengan binar mata yang sudah tidak bisa dikondisikan.


“Malu-maluin ih!” rutuk Farah menyadari gelagat temannya yang genit pada pria tampan. “Ada apa? Kakak hampir menghukumku karena kamu teriak di kantornya!”


“Ups!” Kedua teman Farah langsung memasang wajah pucat mereka. “Sorry, kita kelepasan…”


“Jadi ngapain manggil gue?” Farah bersedekap tangan.


“Ya manggil aja!”


“Anjg!”


Farah merutuk menoyor kepala Meishya. “Sia-sia gue berenti!”


“Gih absensi, sebelum kena denda…” goda Farah berlalu lebih dulu.

__ADS_1


“Ah iya, lupa anjiiir!!” Keduanya kompak memekik dan ikut berlari mendahului Farah. Gadis itu seperti mendapatkan hiburan setelah sebelumnya hatinya begitu tegang tak berkesudahan.


--- To be continue ---


__ADS_2