
"Gua yakin lu pake acara kotor dengan jalan inseminasi nyuri sper*ma Mr. K!!" rutuk Daniel tanpa filter.
"BABII DANIEEEEL!!" pekik Farah tidak terima.
"Kaliaan berduaa BERHENTI!!" Nyonya Lee tak kalah bersuara tinggi menghentikan adu mulut kedua anaknya.
"Lah emang bener, gimana ceritanya lu bisa punya anak dari Kak Keenan?! Semua orang juga tahu lu ngebeet ama cowok perfect all kill itu, terus lu diam-diam nyuri sper*ma terus tekdung!" Daniel terus mengoceh tanpa berpikir panjang. "Abis itu Kak Keenan dengan jelas menolak bertanggung jawab."
Farah terbelalak menelan salivanya, Keano sempat terlihat muram. Hari pertama dia bersama keluarga ibunya telinganya terasa panas rasanya.
"Kau..." Farah menahan gejolak rasa emosi di dalam dadanya membuat Daniel yang awalnya hanya bercanda menjadi merasa bersalah.
"Kaak... Aku becandaa... Apa dia benar putra Kak Keenan?" Daniel mendekat dengan wajah sendu.
Farah membuang wajah menyeka air mata dengan cepat. "Ajak Keano ke kamarmu ya... Kakak ingin berbicara serius dengan ibu."
Bruuk!!
"Maafkan aku Kak!! Aku tidak bermaksud berkata demikian... Aku bercanda... Kakak tidak mungkinkan melakukan hal demikian?!" Daniel bersimpuh di bawah kaki Farah.
"Sudahlah... Kelak kamu akan tahu kebenarannya." Farah menjatuhkan dirinya mengacak rambut adik yang disayanginya.
Bruk!!
"Aku sangat merindukanmu Kaaaak!!" Daniel memeluk Farah erat. "Syukurlaah... Tuhan mendengar seluruh doaku!!" bisik Daniel mulai menangis.
Farah kembali menjatuhkan air matanya membalas pelukan Daniel. "Kakak juga rindu!"
"Maafkan aku Kak... Sebagai satu-satunya saudaramu aku tidak bisa melindungimu." ucap Daniel di sela isak tangisnya.
"Hehe... Tidak perlu pikirkan Kakak, sudah sepatutnya aku sebagai Kakak selalu berusaha melindungi kamu dan ibu."
Nyonya Lee mendekat dan memeluk kedua putra putrinya erat. "Syukurlah... Kita kembali bersama sekarang..."
Keano terenyuh dan ikut serta memeluk keluarga barunya. Nyonya Lee tersenyum bahagia memeluk erat Keano.
"Hei bocil... Panggil aku Uncle alright!!" Daniel mengacak rambut Keano.
"Aku bukan bocil Uncle! I'm young man..." rutuk Keano tidak terima di perlakukan bak bayi.
"Hi ilih badan you masih B O C I L!!"
__ADS_1
Pletaak!!
"Baek-baek ama anak gue!!"
"Sakiit Kaak!!" protes Daniel memegang kepalanya yang di perkirakan sudah benjol sekarang.
"Kuy, uncle bawa kamu ke kamar Uncle... Kamu suka maen game?!" ajak Daniel pade keponakan kecilnya.
"Hm.." sahut Keano datar.
'Rada serem juga ni bibit Kak Keenan... Aku harus baek-baek sama Keano...' batin Daniel merutuk.
"Alah, paling fruit ninja kan? Ama apa itu candy crush..." ejek Daniel di depan Keano yang sudah kembali ke-settingan pabrik, dingin dan datar.
"Game apa itu?" Kening Keano berkerut.
"Hah?" Daniel tak kalah mengernyit. Farah tengah menahan tawanya. Dia ingin membagi kekesalan untuk di alami adiknya. Selama ini dialah yang selalu di tindas oleh putranya yang memiliki IQ dan EQ di atas rata-rata anak seusianya.
"Emang you maen game apa?!" tanya Daniel menguji keponakannya.
"Banyak sih, semua game online..." Keano seolah tengah berpikir. "Aku belajar Point Blank, PuBg, sometimes Mobile Legends, GTA, Roblox juga... Semalam aku dan Papa membuat simulator game baru di sana, uncle bisa mencobanya dan kita bisa join memainkannya."
"Nama simulatornya You better Run-run : Larilah aku akan membunuhmu!" Dengan singkat Keano menjelaskan pada Daniel yang sudah membuka mulut lebar dengan mata yang seolah akan keluar dari sarangnya.
"Ngeri waaak~" lirih Daniel takjub.
"Siapa dulu doong... Anak gue tuh!!" puji Farah membanggakan putranya.
"Tapi kan Kakak gak pinter? Ini sih fix DNA Kak Keenan mendominasi!"
"BANG**KEEE DANIEL LEE!!" Farah sudah hilang kesabaran di permalukan adiknya.
"Faraaah... Jaga omongan kamu tih di depan putra kamu!" rutuk Nyonya Lee memijit keningnya.
"Aku sudah terbiasa Oma, Ibu memang out of control!" sahut Keano datar membuat Daniel semakin menjadi mengejek kakaknya.
***
Ruang keluarga, kediaman Lee.
Setelah sesi bercengkrama bersama sebelumnya, sekarang Farah dan ibunya telah bersiap untuk melakukan pembahasan serius.
__ADS_1
"Apa benar yang Ibu ucapkan sebelumnya Nak?!" tanya nyonya Lee memulai diskusi mereka.
"Tidak sepenuhnya Bu, semua terjadi tiba-tiba..." Farah menundukan wajahnya. Air matanya kembali menyeruak.
"Aku mencintai Kak Keenan... Tidak─" Farah menjelaskan terbata, ibunya menggenggam erat tangan Farah memberikannya kekuatan.
"Kami saling mencintai..." sambung Farah menatap ibunya yang menutup mulutnya segera dengan tangan.
"Lalu bagaimana biaa kamu hamil dan menghilang? Apa ini ulah mereka menutupi kehamilan dan menolaknya?!"
"Tidak!"
Dengan cepat Farah menghardik asusmi negatif ibunya. Memang benar selama ini ibunya selalu memperingatinya agar bisa menjaga diri dan bersikap baik selama di bawa ke kediaman Kavianda. Menjaga nama baik adalah segalanya, kehamilan ini tentu aib bagi mereka.
"Aku di culik dan di celakai oleh musuh Kakak... Bahkan─" Farah kembali menjatuhkan air matanya dia kembali di bawa mengingat kejadian naas lima tahun yang telah lalu.
"Orang yang mencelakaiku adalah orang yang sama yang membunuh Papa." tutur Farah menahan emosinya.
Tanpa waktu lama nyonya Lee kembali meraung, Farah sudah memperkirakan hal ini akan terjadi. Ibunya masih begitu trauma dengan kematian suaminya.
Farah sedikit membelokkan cerita, dia tidak mungkin mengatakan bahwa Keenan lah yang membunuh ayahnya.
"Huhu... Bagaimanaa bisaaa... Huhu!" Nyonya Lee terus terisak pilu.
Farah menghirup oksigen dalam, dan menghembuskannya perlahan. "Bu, satu hal yang selalu sama... Kakak lah yang melindungiku... Dia juga mengorbankan nyawanya... Setelah kecelakaan itu, aku di tolong seseorang. Beruntungnya Kakak juga masih terselamatkan walau dia mengalami koma selama beberapa minggu."
"Aku pergi bukan karena keluarga Kavianda menolakku, aku pergi semata untuk melindungi Kakak dan bayiku... Aku adalah kelemahan Kakak..."
Nyonya Lee tidak berkomentar, tubuhnya bergetar hebat, dia tidak bisa membayangkan bagaimana jika menjadi putrinya.
"Awalnya ibu tidak ingin berpikir jauh, tapi Tuan Keenan─" Nyonya Lee sudah bisa mengendalikan dirinya. "Semenjak mengabarkan kematianmu, dia selalu datang tiap bulan. Bahkan dia baru kemari dua minggu yang lalu." Nyonya Lee kembali menggenggam tangan Farah.
"Dia selalu mengunjungi pemakamanmu, dia bahkan menyuruh seseorang selalu mengganti bunga yang terpajang dengan bunga yang baru dan senantiasa membersihkan tempatmu."
"Ibu tidak pernah berpikir kalian memiliki hubungan seperti ini..." Nyonya Lee menatap Farah melengkungkan senyuman.
"Kalian memang saling mencintai..."
Farah sendiri tidak merasa senang atas pernyataan ibunya. "Ini sudah lima tahun berlalu Ibu... Siapa yang tahu apa yang terjadi sekarang dengan mereka. Untuk hal yang ibu katakan, tentu saja dia akan merasa bersalah atas hilangnya aku. Jadi sangat wajar jika─"
Farah tidak ingin berharap terlalu tinggi sebelum nanti dia kembali terjatuh. Siapa yang tahu kehidupan Keenan saat ini? Apalagi saat tuan Akeno mengatakan bahwa di Kaviandra tengah terjadi keributan pewaris berikutnya. Itu artinya───
__ADS_1
--- To be continue ---