
Tap... Tap... Tap...
Suara derap langkah kaki yang berasal dari sepasang sepatu membuyarkan tangis Farah. Gadis itu mendongak kemudian semakin terisak saat mengetahui siapa yang mendatanginya. Farah tidak bergeming dari tempatnya, tenaganya benar-benar seolah dilenyapkan oleh kejadian satu jam sebelumnya.
Suara sepatu itu berhenti tepat di hadapan Farah. Pria itu turun bersimpuh dan menaikan wajah gadis kecil yang seperti anak hilang. "S-siapa yang sudah berani melakukan hal ini padamu, Baby?"
Farah menelan salivanya, ada ketenangan di dalam dadanya. Seketika Farah menangis dengan begitu kencang. "Huaaa!"
"Mengapa Kakak begitu lama!!"
Dengan cepat Keenan memeluk erat gadisnya. "Maafkan aku, Sayang!"
Dia tidak pernah menduga akan ada orang yang berani menyentuh gadisnya walau hubungan mereka belum terekspos ke luar. Farah tidak mengetahui bagaimana keadaan Keenan saat Sam menerima kabar dari Ron. Pria itu mengamuk di dalam kantor. Keenan sedang melakukan rapat koordinasi saat Ron mengabarkan keadaan Farah yang keluar dari kawasan gedung sebelum waktunya. Terlebih, tampilah Farah sudah menjelaskan dia tidak baik-baik saja. Ron sendiri tidak berani mengambil keputusan, itulah alasan dia menghubungi Sam. Sedangkan Sam menunggu Keenan menyelesaikan rapat pentingnya.
"Maafkan aku terlambat!" Keenan melonggarkan pelukan dan menyeka air mata gadisnya. Gemuruh dadanya begitu hebat saat melihat wajah gadisnya membengkak dengan sudut bibir yang berdarah. "Apa yang sudah mereka lakukan padamu, hm?"
Keenan bertanya begitu lirih, dia sedang berusaha menstabilkan emosinya. Dia tidak ingin membayangkan apa yang sudah Farah lalui sebelumnya. "Jaket siapa ini?!"
Keenan menyadari bau pria lain di jaket yang sedang Farah kenakan. "Teman yang menolongku!"
Sraaak!
Dengan kasar Keenan menarik pengaitnya, darahnya semakin memanas saat pakaian Farah sudah tidak berbentuk memperlihatkan tubuh polosnya. Keenan segera mengganti jaket pria lain dengan jasnya. Farah hanya terdiam dengan posisinya yang masih berjongkok di taman.
"Mereka tidak sempat menyentuhku, Kak!" Farah gelisah, dia takut kekasihnya mengira dirinya kotor sekarang. "Temanku datang tepat waktu, dia yang─"
"Shut up!" Keenan memaki Farah, dia bangkit dengan penuh emosi merogoh ponselnya.
"Jika sampai lima menit lagi aku datang kalian tidak membawa mereka, persiapkan peti mati kalian semua!!" Keenan menutup kasar ponselnya. "Aaarghh!" Keenan begitu emosi, tanpa dia sadari, sikapnya sudah bisa menunjukan kepedulian dan perhatian berlebihannya pada Farah.
"Ayo!" Keenan menarik paksa tangan Farah. Tanpa dia ketahui bahwa kaki Farah sedang mati rasa.
"Aaarrghh!"
"Faraaah!"
Dengan sigap Keenan menahan tubuh gadisnya agar tidak terjerembab. "Maaf!"
Keenan segera menggendong tubuh ringkih gadis kesayangannya. Farah sedikit tersipu, sudah berkali-kali Farah mendengar pria angkuh itu mengucapkan kata maaf dengan tulus. Farah membenamkan dirinya dalam pelukan Keenan. Selain mencium lekat harum parfum dan bau tubuh Keenan, Farah juga menyembunyikan wajahnya dari pemberitaan yang bisa di goreng oleh SNet.
Dengan lembut Keenan mendudukkan Farah di kursinya. "Sayang, thank you..." Farah berbisik di depan wajah Keenan.
"Aku tidak butuh sekedar kata terima kasih!"
Farah menunduk sejenak menyembunyikan tawa lirihnya.
Cup~
"Apapun yang Sayang inginkan, bahkan nyawaku sekalipun... Aku akan memberikannya!"
"Shut up Farah Lee!" Wajah Keenan memerah sempurna, dia seperti merasakan double kill serangan yang dilakukan oleh Queen Farah. Setelah mencium bibirnya lembut, gadis itu menggombal luar biasa!
__ADS_1
***
Kantor pusat KTech, 11.00 AM.
Keenan sudah berada di pelataran basement khusus yang hanya bisa diakses dia dan para anak buahnya yang berkenaan dengan jaringan hitam. "Tunggu!"
Farah terpana dengan ucapan Keenan, pria itu keluar lebih dulu, sudut mata Farah terus menatap gerak-gerik apa yang akan Keenan lakukan. Keenan membuka pintu dan kembali mengangkat tubuh adik sepupunya. Perasaan Farah membuncah dengan perlakuan manis prianya, dengan cepat dia mencium pipi Keenan mengulas senyum manisnya.
"Percayalah, jika kamu terus menggodaku. Jangan harap aku akan melepaskanmu dengan cepat, Baby!"
Farah cekikikan, ternyata mudah sekali menyulutkan gairah prianya. Dia kembali tersipu malu dan segera merangkulkan kedua tangannya di bahu Keenan. "Nanti ada yang lihat, gimana?"
"Maka sembunyikan wajahmu, Sayang!" bisik Keenan senang.
Farah menenggelamkan wajahnya di dalam dekapan Keenan. Perasaan gundah Farah melebur setelah menghirup lekat harum tubuh Keenan yang bercampur dengan parfum khasnya yang sungguh memabukkan bagi Farah.
Tak jauh dari tempat mereka, seluruh anak buah Keenan atau Mr. K sudah bersiap menyambut dan menghormat.
"Selamat datang Tuan dan Nona!"
"Silahkan Tuan, saya sudah menyiapkan pakaian untuk Nona beserta oba-obatan yang Nona butuhkan!" Sam segera menyenangkan hati tuannya. Ini ulahnya membuat Keenan tertahan lebih lama untuk menolong gadisnya. Namun, tanpa Keenan ketahui Sam memang sudah memperhitungkannya. Sam tidak ingin tuannya melakukan pergerakan yang gegabah.
Keenan mengabaikan Sam dan mereka langsung melesat ke lantai paling atas. Tempat dimana ruangan orang nomor satu di KTech berada. Farah merasa malu, ini pertama kalinya Farah di ajak mengunjungi KTech lewat jalur dalam.
Tring!
Pintu lift terbuka, dengan sigap Sandra menyambut dan membukakan pintu ruangan tuannya.
Sam dan Sandra menundukkan tubuh mereka mengerti, pintu kembali tertutup rapat. Perlahan Keenan menaruh gadisnya di sofa ruangan.
"Jadi ini ruang Presdir KTech?" Farah menggoda kakak sepupunya.
"Hm!" Keenan memagut bibir Farah segera. Dia sudah tidak bisa menahan gelojak yang semakin lama semakin menjadi jika dia berdekatan dengan wanitanya.
"Seharusnya aku memperhatikan keselamatanmu di luar." Keenan melepaskan pagutan dan berkata lirih di depan wajah Farah.
Dengan cepat Keenan membasuh wajah Farah dengan waslap yang tersedia, dia juga menyuruh Farah mengompres bengkak dengan balok esnya. Keenan turun kembali melihat pakaian koyak gadisnya. Dia bersumpah tidak akan membiarkan pelakunya bebas dan hidup tenang.
Keenan melepaskan jas dan pakaian Farah dengan perlahan. Dia juga membasuhnya sekilas, sejenak Keenan tersenyum simpul. Tanda yang disematkan masih berada disana. 'Tubuhmu sungguh membuatku candu!'
Farah tengah menerima perlakuan manis Keenan dengan perasaan yang masih sulit untuk mempercayainya. Farah merasakan ada jutaan kupu-kupu yang sedang mengepakkan sayapnya di sekujur tubuhnya. "Terima kasih Kak," ucap Farah sendu.
"Seharusnya aku bisa lebih kuat lagi menjaga diriku sendiri!" Farah mengatupkan bibirnya erat. KEdua tangannya mengepal menahan emosi yang kembali mencuat.
"Ssstt!" Keenan menaruh jari telunjuknya di bibir Farah. "Kamu tidak perlu merisaukan kekuatanmu. Aku lah yang bertugas menjagamu, Sayang!"
Deg!
"Apa aku boleh menyimpulkan Kakak mencintaiku pada akhirnya?"
Keenan terpaku, dia memang sudah tidak tahan terus berpura-pura di depan Farah. Tapi, egonya sungguh melebihi ambang batas normal manusia pada umumnya. "Sayang, apa kamu lupa? Kamu sedang membawa nama baik Kaviandra!"
__ADS_1
"Semua ini aku lakukan hanya karena kamu adalah bagian dari keluarga Kaviandra. Mereka yang tidak memandang klan kita, sungguh akan tamat riwayatnya!"
"Apa kamu dikit-dikit merasa aku jatuh cinta padamu? Oh come on!"
Farah terdiam, dia menunduk dengan kekehan pilu. "Heh, mari kita lihat... Sampai kapan Kakak bertahan dengan membohongi perasaan Kakak padaku!"
"Heh!" Sejujurnya Keenan sangat gelisah. Hanya saja, dia tidak ingin menyerah lebih cepat.
"Gantilah pakaianmu, kita akan ke suatu tempat!"
Keenan membawakan paper bag besar yang berisi pakaian baru gadisnya. Dengan tanpa ada rasa malu seperti sebelumnya Farah melepaskan seluruh pakaiannya. Keenan memperhatikan tanpa berkedip, jakunnya bahkan sudah naik dan turun. Sungguh berat beban bujang lapuk ini, dia menjadi sangat mesum setelah tahu rasanya melayang menuju surganya dunia.
"Kamu sungguh senang menggoda imanku, hm?!" cibir Keenan kesal.
"Hihi, cabul!" olok Farah lirih.
"Heh! Persiapkan saja dirimu, aku tidak akan melepaskanmu malam ini!"
Farah menjulurkan lidahnya semakin menjadi, Keenan sungguh dilanda migrain jika gadis tengilnya berada disampingnya.
"Ayo, apa kamu sudah bisa berjalan kembali?"
"Hm!" Farah mengangguk antusias.
Keenan menggenggam tangan Farah dengan begitu erat, dia membuka pintu ruangan kemudian dengan kecepatan super asistennya sudah menyambutnya. Sam mengerti tuannya akan menuju kemana. Hanya saja─
'Mengapa harus membawa Farah? Haish!'
Tring!
Pintu lift terbuka, Keenan berjalan tegap di susul oleh gadisnya dan asisten khususnya.
"Kita mau kemana emangnya?"
"Kamu akan mengetahuinya saat sudah sampai."
Farah merasa tidak enak perasaan, batinnya seolah mengisyaratkan akan ada kejadian besar yang mungkin terjadi berkenaan dengan musibahnya. Farah berdoa, semoga semuanya hanya perasaan cemas berlebihannya saja. Farah menyadari bahwa setelah basement, ada lantai bawah tersembunyi yang tentu saja hanya bisa di akses oleh tuannya dan anak buah khususnya.
Tring!
Pintu lift terbuka, seketika bau disinfektan menguar bercampur dengan bau amis darah membuat tengkuk leher Farah meremang seketika. Farah merasa ragu untuk mengikuti kekasihnya, dia berhenti sejenak membuat Keenan menyadarinya. "Apa kamu tidak bisa berjalan lagi, Baby?"
"Hm, bi-sa..." Farah kembali melangkahkan kakinya sama-sama berjalan beriringan dengan kekasihnya.
Farah terus mengamati sekitar, dia bisa melihat beberapa ruangan seperti di bangun layaknya ruang perawatan rumah sakit. 'Apa Kakak juga mengurusi bidang kesehatan di bawah KTech?'
Setiap ruangan memiliki penjaganya masing-masing. Kesemuanya menunduk menghormat pada kedatangan tuannya. Farah kembali bergidik ngeri, dia tidak bisa membayangkan tempat apa yang sedang ia pijaki sekarang.
Tepat di ruangan paling ujung langkah kaki Farah seperti tidak kuat lagi untuk berjalan. Refleks Farah menutup mulut dengan tangannya. Dia melihat kelima pria yang berusaha melecehkannya sudah dalam kondisi mengenaskan berlumur darah.
"Apa benar kelima ini orang yang sudah berani menyentuhmu, Baby?!"
__ADS_1
--- To be continue ---