
[ Halo reader tersayang aku gak, othor harap semua dalam keadaan bahagia dan lancar dalam menjalankan seluruh aktifitasnya. BTW, menurut othor di mulai dari part ini hingga kedepan kalian siapkan tissue, siapkan mental hahaha lebih bagus lagi buka aplikasi spotify cari lagu SAD TEARS by Lee Ji Yong (Ost drakor - Grand Price) setelah siapkan lagu bikin repeat one baru buka bab ini kemudia selamat kita akan menangis berjamaah bersama othor HAHAHA ]
---------------------------
Keenan mencium kening Farah, mengenakan kembali pakaian gadisnya setelah beberapa menit berlalu dia menggagahi gadisnya tanpa ampun dengan energi yang tersisa. Benar saja, Keenan dengan mudah mendapatkan energinya kembali setelah melakukan penyatuan dengan calon istrinya.
"Aku selalu tidak habis pikir dengan tubuhmu Baby," cicit Keenan memperhatikan lekat gadisnya dan mulai mengaktifkan sistem EYES yang ada di mata sebelah kanannya. "Tidak hanya terasa seperti Opium, tapi tubuhmu memiliki daya sembuh yang luar biasa untuk tubuhku." Keenan menunduk mencium bibir mungil Farah kemudian turun mencium calon penerusnya yang masih berada di perut istrinya.
Tuuut!
"Akhirnya saya bisa menghubungi anda!" seru Sam segera saat Keenan menghubunginya via EYES.
"Kau sungguh LAMBAN!" cerca Keenan pada bawahannya.
"Sistem EYES mati saya bisa apa Tuanku," hardik Sam membela dirinya.
"Apa sampai detik ini kamu tidak mengetahui keberadaanku hah?" tanya Keenan arogan.
"Sudah Tuan, anda mengapung di Samudra Hindia. Semoga anda tidak Hipotermia di Kutub Utara." canda Sam menyalin lirik salah satu lagu populer pada masanya.
"Bangsat SAMUEL!" berang Keenan kesal dengan kelakuan asisten lucknutnya.
"Lalu kamu tidak melakukan apapun hah?"
"Baiklah, mari saya jelaskan seluruh kondisi kita saat ini tuan."
Tuuut!
Sebuah hologram muncul di depan pandangan Keenan, merefleksikan keadaan di luar kontainer mereka. Sam tengah mengirimkan data pada atasannya mengenai keadaan mereka saat ini.
"Di luar kontainer sudah terpasang rangkaian bom di masing-masing sudut dengan kekuatan yang cukup digunakan untuk membelah bukit. Bom itu di kendalikan oleh radar. Siapapun yang mendekat akan mengaktifkan bom tersebut." terang Sam perlahan. "Kami sudah berada di radius jarak aman di 500 meter sekitar lokasi anda." sambung Sam sendu.
"Ck, lalu fungsinya teknologiku apa SAMUEL PARK!" pekik Keenan emosi anak buahnya seperti tidak bisa berguna saat seperti ini.
"Setelah melakukan perhitungan menggunakan EYES, keberhasilannya hanya 50% saja. Hanya satu orang saja yang bisa kami keluarkan dari sana. Karena konsekuensi ledakan yang─" perkataan Sam tercekat di tenggorokannya. Posisi mereka dalam keadaan tidak beruntung kali ini.
Keduanya hening sejenak kemudian tanpa ragu Keenan memberikan titahnya. "Selamatkan Farah sekarang juga, aku yang akan mengendalikan bom di dalam kontainer ini!"
"T-uan..." sahut Sam enggan.
"Memang kamu punya alternatif lain hah?" Keenan menatap gadisnya yang masih terlelap. "Kadar oksigen disini sudah menurun, aku tidak mau mengambil resiko pada istriku."
"Tapi Tu-an..."
"No excuse!"
Sam mengepalkan kedua tangannya, dia tengah menatap kontainer dari tempatnya. Dia sungguh memiliki firasat tidak enak saat ini. Apa yang di khawatirkannya terjadi, di saat seluruh dunia tahu kelemahan Keenan maka hal seperti ini akan sering terjadi kedepannya.
"Aku sudah mengirimkan data keadaan dalam kontainer, lakukan perhitungan. Energiku terbatas!" titah Keenan.
"Ta-pi..."
Sam masih tidak rela, apalagi saat Keenan mengatakan energinya terbatas. Itu artinya Keenan sedang memaksakan dirinya.
"Jangan jadi idiot SAMUEL!" pekik Keenan kembali kesal.
"Baiklah Tuanku, saya tidak akan bertanya-tanya lagi jika anda nanya..." Sam masih bisa bercanda melontarkan gaya bahasa ala cepmek pada bos angkuhnya.
"Kau menjijikan Samuel!" maki Keenan semakin emosi dengan tingkah asisten rasa saudara itu.
__ADS_1
Beberapa saat setelah sambungan Sam dan Keenan terputus, Farah menggeliat dan terbangun. Dalam keadaan baru di gagahi prianya kali ini kondisi tubuhnya sedikit kurang sehat. Farah merasakan nyeri di beberapa persendian, pusat tubuh, bahkan mual yang kini mendera perutnya. Keenan tersadar dan menghampiri gadisnya.
"Kamu sudah bangun Baby? Are you okay?" Keenan merengkuh tubuh Farah.
Mata Keenan terbelalak saat merasakan tubuh wanitanya terasa panas. Tak lama kemudian Farah tidak bisa menahan rasa ingin muntahnya.
"Hoooeekk!"
Keenan sempat tidak tahu harus melakukan apa, dengan cepat dia melakukan pemeriksaan menggunakan EYES-nya.
"Aarghh, aku minta maaf... Aku tidak bisa menahannya! Huhu..."
Tidak selesai di situ, lonjakan emosi dalam diri Farah mulai terganggu. Dia kini merasa ingin terus menangis dan merasakan sesak. Sesekali dia menjerit, menjambak rambutnya terlihat seperti orang dalam gangguan kejiwaan.
Tubuh Keenan bergetar. "Virusnya sudah bereaksi..." gumam Keenan lirih menggepalkan kedua tangannya menahan emosi.
"Baby..." Keenan memeluk erat wanitanya yang meraung menangis tanpa sebab.
Di ketahui bahwa vaksin terbaru XY memiliki pengaruh yang cukup signifikan pada kejiwaan seseorang. Kandungan yang terdapat pada vaksin itu adalah obat-obatan narkotika golongan pertama dengan campuran Zat Adiktif lainnya yang memiliki hasil akhir si penderita mengalami kecemasan berlebih dan menginginkan obat itu lagi dan lagi. Keenan telah menjatuhkan air matanya dengan kondisi Farah saat ini.
"Tenang Sayang, sebentar lagi Sam akan mengeluarkanmu." bisik Keenan di belakang kepala Farah yang terus menangis.
Farah terdiam, dia mendorong tubuh Keenan dengan cepat. "Kita akan keluar dari sini bersama?"
Senyum Farah mengembang, tapi tidak dengan prianya. Dia hanya menampilkan segaris senyum culasnya agar kekasihnya tenang. Farah seolah menyadarinya, dia menggelengkan kepala secara cepat dengan kembali menumpahkan air matanya.
"Tidak Keenan," lirih Farah mengancam. "Aku hanya akan keluar dari sini bersamamu!"
Keenan membuang wajahnya sejenak. "Aku akan menyusulmu Sayang, I Promise..."
Keduanya kembali berpelukan erat, seolah merasakan firasat buruk akan menghampiri mereka dan mereka tidak ingin terpisah satu sama lain.
Hologram Sam kembali menampilkan dirinya di hadapan Keenan. "Perisapan keselamatan Farah sudah 90% Tuan."
"Ya, Farah sudah siap." sahut Keenan segera pada kenyataannya Farah terpaku tidak ingin melepaskan genggaman tangannya yang masih bertaut dengan kekasihnya.
"Tuan, anda hanya punya waktu sepuluh menit untuk segera keluar dari dalam sana setelah Farah kami keluarkan. Lebih dari itu─" Saat ini pertama kalinya keduanya mengalami ketakutan berlebih saat menjalankan misi. "Lebih dari itu seluruh rangkaian bom akan meledak dalam waktu bersamaan."
Farah kembali menggelengkan kepalanya, tidak ingin keluar lebih dulu dari prianya. Keenan memberikan senyuman penyemangat pada Farah seperti mengatakan Everything is gonna be alright.
"Aku mengerti, saat aku bilang mulai. Maka kalian segera kirim robot IMPh.01 untuk membawa Farah keluar dari sini!" titah Keenan tegas.
"Baik Tuan..." sahut Sam lirih.
Hologram itu kembali menghilang, dan Farah langsung memeluk erat Keenan tak ingin terlepas dari tubuh prianya. Dia kembali terisak pilu dalam dekapan kekasihnya.
"Kak... Aku sudah di injeksi virus, kemungkinan aku hidup sangat sedikit." tutur Farah sesak saat mengucapkannya.
"Baby, kamu tenang saja. KTech sudah memiliki penawarnya." Keenan berusaha menenangkan kekasihnya.
Walau sejujurnya masih ada kemungkinan terburuk jika saja darah Farah bukan O dia tidak memiliki obat penawarnya.
"Kamu tidak perlu berpikir macam-macam, hal yang harus kamu lakukan sekarang adalah keluar dari sini terlebih dahulu. Setelahnya Sam akan mengurusi prosedur pengobatanmu." Keenan menyapu bulir bening di wajah cantik kekasihnya.
"Mengapa ini terdengar seperti perpisahan?! AKU TIDAK MAU!!" hardik Farah menolak untuk melakukan evakuasi lebih dulu.
"Aku akan keluar jika kakak ikut serta bersamaku!!" Farah ngotot dengan keputusannya.
"Ayolah sayang... Waktu kita tidak banyak. Kita akan kehabisan oksigen disini!" ujar Keenan kembali meyakinkan kekasihnya. "Ingat bayi kita... Dia harus segera ditangani sayang..." Keenan mengusap lembut perut istrinya.
__ADS_1
Farah terdiam dan berpikir ulang, Keenan menyeringai. Akhirnya ada yang bisa membuat Farah melunak dengan keras kepalanya. 'Setiap orang memang memiliki kelemahannya masing-masing.'
"Kakak janji akan menyusulku segera?" tanya Farah memastikan.
"Tentu saja Sayang," sahut Keenan cepat.
Farah masih terus mengalirkan air matanya tanpa bisa ia kontrol. Perasaannya justru berkata lain, dia seolah akan berpisah dengan kekasihnya.
"I can't..." lirih Farah kembali menolak menggelengkan kepalanya. "Bagaimana jika bom meledak sebelum kakak keluar? AKU TIDAK MAU... AKU LEBIH MEMILIH MATI BERSAMA KAK AKU MOHOOON..." jerit Farah memelas di hadapan prianya.
Emosi Keenan sudah tidak bisa dia bendung lagi, air matanya terjatuh begitu saja dengan keadaan mereka saat ini.
"Kamu jangan bodoh FARAH LEE!!" pekik Keenan. "Bukankah selama ini kamu memutuskan untuk mempertahankan bayi kita? Jika kamu memilih mati disini lantas kamu membuat semua sia-sia HAH?!"
"Kamu tidak mempercayai kemampuanku?" lirih Keenan menekan kedua bahu Farah, menundukan wajahnya dan mengalirkan air mata kesedihannya.
"M-maafkan aku Kak..." Farah kembali memeluk kekasihnya. "Aku tidak bermaksud meragukan kemampuan kakak. Aku hanya takut─"
Keenan memeluk erat Farah, bohong jika dia juga tidak merasakan ketakutan yang sama dengan wanitanya. Ini pertama kalinya dia di hadapkan pada kondisi sulit seperti ini.
"Sayang..." seru Keenan mengusap lembut punggung kekasihnya. "Ketakutan hanya akan menjadikan kita lemah, kita bertaruh segalanya saat ini. Kau harus selamat sayang..."
Farah kembali menggelengkan kepalanya, seolah semua perkataan Keenan menegaskan dia tidak akan ikut serta didalamnya. Keenan kembali melonggarkan pelukannya, dia menatap manik kekasihnya menegaskan wajahnya memberikan senyuman tebaiknya, walau tidak bisa di pungkiri garis kesedihan jelas terbaca disana.
"Sayang, aku tidak sanggup kehilanganmu... Kamu segalanya untukku."
"Hiduplah dengan baik, jauh lebih baik lagi dari sebelumnya. Maafkan aku, menyeretmu dalam permainan kotor ini. Aku tidak seharusnya─" Keenan tidak bisa menyelesaikan kalimatnya, tenggorokannya tercekat sulit mengeluarkan kata.
Farah menggelengkan kepalanya cepat. "Aku tidak pernah sekalipun menyesali hidupku saat ini, aku justru beruntung Kakak bisa melihatku sekarang!"
"Sedari dulu, cita-citaku hanya satu! Hidup bersama dengan kakak adalah hal yang akan selalu aku perjuangkan. Aku ingin menjadi seseorang yang selalu ada di hidup kakak hingga akhir usiaku!"
Keenan menarik tengkuk leher Farah dan mencium bibir gadisnya mesra. Dengan diselingi air mata keduanya, mereka berpagutan sampai keduanya benar-benar kekurangan pasokan udara ke dalam paru-paru mereka.
"Sayangku, jika aku tidak menepati janjiku hidup bersamamu selamanya, maafkan aku..."
"Setidaknya ini adalah usaha terakhirku menyelamatkanmu dan memastikan kehidupanmu selanjutnya dengan putra kita. Kamu harus berjanji hidup bahagia setelah ini..."
"TIDAAAK!! AKU TIDAK MAU!!"
BRAAAAAK!
Keenan dan Farah terkejut bersamaan, kontainer itu seolah di hantam benda keras membuat kondisi mereka seperti terkena deburan ombak besar.
"Aaaarggghhh!" pekik Farah ketakutan, dengan sigap Keenan memeluk erat wanitanya.
"SAM, LAPORKAN KONDISI DI LUAR!"
"M-maaf Tuan, ada kapal lain mendekat... Barusan adalah sinyal pemberitahuan bahaya!"
Dengan panik Sam mengatakan kondisi di luar, dengan cepat juga dia sudah mengkoordinasi anak buahnya untuk memeriksa speedboat yang tiba-tiba saja menuju ke arah mereka dan menghalau menjauhkan jaraknya. Jika tidak maka mereka akan mengaktifkan bom waktu tanpa persiapan apapun.
"Aarghh Kaaak..." pekik Farah ketakutan.
Dalam kondisi tertekan dan terkejut dalam waktu bersamaan membuat Farah kembali merasakan kontraksi pada perutnya. Dia menundukan wajahnya menatap area pangkal pahanya yang seolah tengah mengalirkan cairan pekat. Di rabanya cairan itu dan dia menatap tanpa berkedip saat yang menempel di permukaan tangannya adalah darah pekat.
"Aaaarggghh!!" Farah kembali memekik histeris saat melihat darah segar di depan matanya, Keenan tersentak dan segera memperhatikan kekasihnya. Jantung Keenan seperti berhenti berdetak saat melihat kondisi kekasihnya saat ini. "FARAAAAH!"
--- To be continued ---
__ADS_1