
-----------------------------------
Hotel Emperor, 08.00 PM.
Satu jam sebelum pelelangan ricuh...
Farah sudah berada di hotel yang sama dengan keberadaan kakak sepupunya. Dosen Victor memberikannya lokasi di sebuah restoran mewah di dalam hotel Emperor. "Besar juga modal keluarga dosen gue itu!"
Farah bergegas memasuki area lobby kemudian menuju salah satu restoran yang ada disana. Tanpa dia sadari, salah satu temannya juga sedang berada disana.
"Farah?" gumam Meishya mendelik ke arah kedatangan sahabatnya. "Sedang apa dia di sini?!" Meishya bergegas mengikuti langkah kaki Farah dan bertanya langsung adalah jalan ninjanya, dibanding menerka-nerka iya gak?
Hari ini keluarga Gu mendapatkan jamuan makan bersama Huateng Group dalam proses penggabungan salah satu perusahan mereka. Mau tak mau Meishya yang merupakan putri tunggal keluarga Gu menemani kedua orang tuanya yang memiliki maksud tertentu itu. Perjamuan makan telah selesai, Meishya sekeluarga kembali pulang. Tanpa diduga dia malah melihat sosok yang ia kenali saat berada di lobby hotel.
"Far─" lirih Meishya berusaha memanggil sahabatnya namun urung saat dia melihat sosok lain yang dia kenali juga sedang menyambut kedatangan temannya dengan raut wajah yang ceria.
"Sialaaan!" Meishya mengeratkan kepalan tangannya, dia merasa cemburu saat pria yang jadi incarannya sedang bersama sahabatnya sendiri. "Kau munafik Farah!" sungut Meishya menarik kesimpulan yang salah.
Meishya merasa tidak perlu lagi mencari tahu, dia bergegas berbalik badan dan kembali mengejar keluarganya. Dia juga tidak mungkin pergi tanpa meminta izin pada kedua orang tuanya. 'Kamu berbohong padaku Farah, kamu juga menyukai Dosen Victor, hah?'
Meishya sudah berada dilimosin keluarganya. Tanpa kedua orang tuanya ketahui, putri mereka tengah bermonolog di dalam benaknya, merutuki sahabatnya. 'Apa yang akan kalian lakukan di hotel berduaan? Aarrghh!'
Ingin rasanya Meishya berteriak kencang dan menjambak rambutnya saat ini juga. Dia sungguh sangat emosi dan cemburu melihat Farah dengan gaun malam indahnya bersama dengan pria yang dia sukai yang tak kalah berpenampilan sangat tampan disana. 'Awas kamu Farah! Aku tidak terima!!'
Sedangkan di tempat Farah, dia sudah di sambut oleh dosennya. Farah sedikit berdebar, selain ini adalah pertemuan terlarang dengan beradu peran sebagai pasangan bersama dosennya sendiri, dia juga berbohong pada pengurus Tang.
Farah membual pada paman Tang, dia berujar kembali ke kediaman besar. Farah semakin waspada, jika sampai kakak sepupunya mengetahui tindakannya sekarang, bisa mati di bunuh Keenan sekarang juga.
"Kamu sangat cantik!" puji dosen Victor dengan wajah tampannya.
Deg!
Farah menelan ludahnya, dia memindai penampilan luar biasa dosennya. Walau wajahnya dia bingkai dengan kaca mata, tapi penampilan kali ini seolah terlihat seperti tengah melakukan cosplay seperti CEO nyasar!
Hal serupa dirasakan dosennya sendiri. Victor Xiao yang berasal dari keluarga yang cukup berada itu tengah berdebar melihat tampilan wanita pujaan hatinya. Dia tidak pernah menduga bisa mengajak Farah keluar berdua, bermimpi pun tidak.
"Bapak juga agak lain!" sahut Farah terkekeh.
"Hehe..." Keduanya tertawa bersama menguar perasaan canggung yang mendera.
"Kamu jangan panggil aku dengan sebutan Bapak, bisa ketahuan kita hanya pura-pura!" Dosen Victor berujar sangat lembut di samping Farah.
Keduanya berjalan menuju meja yang sudah dipesan oleh keluarga Xiao yang tak lain dan tak bukan nyonya Xiao sendiri.
__ADS_1
"Terus aku harus panggil apa?" Farah berbalik menatap dosennya dengan seringai menggoda. "Apa Bapak harap aku memanggil dengan panggilan Sayang?"
Deg!
Langkah kaki dosen Victor terhenti saat Farah mengatakan sayang di hadapannya. Rasanya dia tidak ingin terbangun dari mimpinya kali ini.
Farah terkekeh melihat respon dosennya, dia berpikir bahwa dosennya pasti tengah syok memiliki anak didik tengil seperti dirinya.
"Aku panggil Kakak saja ya, bisa berabe jika Bapak baper!"
Dosen Victor tersipu malu dengan penuturan Farah yang seolah tengah mencibir kebenarannya. "Terserah kamu, asal jangan panggil Bapak. Oke?"
Dengan sigap dosen Victor menarik kursi mempersilahkan untuk wanitanya. Farah tersipu dengan perlakuan dosen atau pacar pura-puranya sekarang. "Thanks!" Farah mendongak dengan senyuman terbingkai indah di wajah cantiknya.
'Astaga Farah Lee, aku sungguh ingin memilikimu!!' batin dosen Victor tambah gelisah.
Sejenak Farah terkagum dengan sikap dosennya yang jauh lebih baik memperlakukannya dibanding kakak sepupunya. Biasanya Keenan hanya tahu merutuk dengan beringas membuat jantung Farah melompat setiap kali bersamanya.
Dosen Victor telah duduk di tempatnya, tepatnya di hadapan Farah. Dia sungguh menginginkan waktu terasa lambat saja, bahkan berharap wanita yang dijodohkan dengannya agar tidak datang hari ini. Dengan begitu, lengkap sudah kebahagiaannya bersama dengan Farah.
"Apa yang kamu inginkan?" Dosen Victor menarik buku menu, menatap sekilas dan bertanya pada Farah.
"Hm, tunggu wanita Bapak saja lah dulu..." cicit Farah menutup kembali buku menu. Dia tidak ada waktu sejujurnya untuk menikmati malam ini. Berbanding terbalik dengan dosennya, Farah berharap wanita yang dimaksudkan segera datang dan kepura-puraan ini cepat selesai.
Deg!
Lagi-lagi Farah tidak menyangka, dosennya bisa menebak apa makanan kesukaannya. 'Jangan baper Farah, bisa jadi dia asal sebut. Toh, Axcel juga sering malah kasih kamu kayak gini!'
Diamnya Farah seolah memberikan jawaban yang diinginkan dosennya. Pria itu menyeringai, dia memang mengetahui apa makanan dan minuman favorit gadisnya. Dengan cepat dia melambaikan tangan memesan menu yang terbaik pada pramusaji disana.
Setelah kepergian pramusaji Farah menghela nafas berat, tak lama wanita yang di maksud dosennya datang tergesa.
"Permisi, maaf, apa anda benar Victor Xiao?" sapa wanita cantik yang sudah berada tepat di meja Farah dan dosen Victor.
Keduanya langsung berbalik menatap kedatangan seseorang yang memang tengah mereka tunggu saat ini juga. Dosen Victor menelan salivanya, gagal sudah berduaan dengan wanitanya. Pria itu menyahut dengan wajah masamnya. "Iya benar!"
"Oh, syukurlah... Aku Sessilia!" Wanita yang berparas cantik dengan riasan gold-nya menjulurkan tangan di depan dosen Victor.
"Ya!" Dosen Victor bangkit, dia menyambut berjabat tangan. "Victor Xiao!"
"Oh iya, kenalkan juga, dia..." Dosen Victor berbalik memandangi Farah. "Aku mengajak pacarku!"
Deg!
Baik Farah ataupun wanita di hadapannya, keduanya sama-sama tersentak dengan pernyataan dosen Victor. 'Bisa-bisanya beliau dengan enteng bilang aku pacarnya!'
__ADS_1
Dengan profesional Farah bangkit, dia menjulurkan tangannya. "Kim Jiyeon!"
"Ppfft!" Dosen Victor ingin tertawa saat Farah mengenalkan diri dengan menyebut asal namanya.
Dengan tatapan sinis tidak sukanya si wanita menjabat tangan Farah. "Sessil!"
'Duh, aura sesembak panas membara.. Aku jadi atut... Hihi' Farah mengolok wanita yang dianggap tante-tante olehnya. Wanita itu menunjukan sikap tidak ramahnya sedari awal.
"Silahkan!" Dosen Victor mempersilahkan wanita itu untuk bergabung walau sebenarnya enggan. Hanya demi kesopanan saja dosen Victor bersikap ramah pada wanita pilihan ibunya itu.
'Bagaimana bisa Ibu memberikanku wanita begini modelnya! Huh...' rutuk dosen Victor di dalam benaknya.
Tanpa di duga oleh dosen Victor dan Farah, wanita itu mendekat lebih berani di samping pria yang sudah dijodohkan dengannya. Farah menunduk menyembunyikan tawanya, ternyata wanita di depannya sedikit gatal!
Sessil menatap tajam ke arah Farah, dia benar-benar tidak suka keberadaan anak didik prianya. 'Bagaimana bisa Victor membawa pacarnya, sedangkan Ibunya menginginkan aku menjadi menantunya?! Heh, menarik!'
Pelayan sudah datang membawa pesanan sebelumnya. Dosen Victor menyeret buku menu dan menunjukkan di hadapan Sessil. "Kamu mau memesan makanan apa?"
"Hmm!" Sessill terlihat tengah berpikir, Farah tidak peduli dia menarik kue kesukaannya dan menyuapnya dengan suka cita. "Actually, aku sedang diet! Tapi, aku tidak akan menolak jika kamu menyuapi makanan milikmu!"
"Uhhuukk!!" Tiba-tiba Farah tersedak, dia tidak pernah tahu ada wanita tidak tahu malu seperti wanita di hadapannya.
Dosen Victor menyadarinya, dengan cepar dia beralih memperhatikan Farah. "Kamu kenapa Sayang?"
Farah mendelik dengan mata yang membulat sempurna. "Owh, uhhuuk, aku tersedak... Hauss!!" Bukannya mempermasalahkan panggilan sayang dosennya, Farah justru semakin menjadi mengusili calon wanita dosennya.
"Kamu kok bisa tersedak, ini minumnya..." Dosen Victor begitu senang, Farah ternyata bisa diajak kerja sama. Rasanya ini seperti nyata!
"Makasi sayangnya akuuu!"
Deg!
Ingin rasanya dosen Victor melompat tinggi mendengar ucapan Farah. "With pleasure, Honey!"
Sessill semakin murka dengan apa yang dia lihat sekarang. Farah bisa melihat jelas dari sudut matanya. Dia cekikikkan dalam benaknya, tidak menyangka beradu peran seperti ini sungguh menyenangkan.
Dosen Victor tersenyum senang, dia kembali berbalik menatap Sessil dan menyudahi kesalahan pahaman mereka.
"Begini Sessil, aku menerima kencan buta ini semata-mata menghargai keputusan Ibuku!" Dosen Victor merubah raut wajahnya menjadi lebih serius dari sebelumnya. "Ini salahku, aku tidak jujur sudah memiliki pasangan. Aku hanya sedang menunggu waktu yang tepat untuk mengatakannya. Jadi kamu sudah faham bukan? Aku harap kedepannya tidak akan ada lagi kesalahpahaman diantara kita!"
Bagai di permalukan di hadapan umum, Sessil merasa kesal mendengar kalimat yang di lontarkan dosen Victor. Dia tersenyum culas, rasanya dia tidak ingin terima. Tidak ada yang berani menolaknya selama ini. 'Dia pikir dia siapa? Jika bukan karena aku melihat dia tampan dan kaya, aku juga mana mau! Tapi, kita lihat saja bagaimana aku merusak hubungan kalian... Aku akan membalaskan rasa malu hari ini Kim Jiyeon!'
Farah menatap tajam dosennya, jika ada satu hari lagi dia menyuruh berbohong di depan orang tua dosennya. Maka, Farah dengan tegas menolaknya. 'Memang benar, kadang manusia itu serakah... Udah di kasih jantung malah minta otak!'
--- To be continue ---
__ADS_1