
Makanan telah terhidang, semua sempat berbicara random sebelum akhirnya tuan Kaviandra kembali mengingatkan pembicaraan serius mereka akan tujuan datang kesana.
"Begini Marry." Tuan Kaviandra mencoba membuat perbincangan mereka nyaman. "Seperti yang bisa kamu lihat, Keano adalah putra Keenan dan Farah, kami minta maaf menutupi hubungan mereka selama ini."
Ibu Farah mengangguk mengerti, wajahnya yang selalu terlihat lelah kembali sudah memperlihatkan jelas sepasang netra yang mulai berembun.
"Keduanya sudah menikah, tercatat di catatan sipil per hari ini." sambung tuan Kaviandra perlahan tidak terlalu terburu-buru.
Semuanya tiba-tiba hening, nyonya Marry masih menata hatinya. Bohong jika dia tidak merasa gelisah dan khawatir akan nasib putrinya.
"Tante," Keenan mulai mengambil suara. "Maaf, aku sudah bersikap seperti pecundang yang mengabaikan segalanya." Keenan bangkit dan bersimpuh di hadapan ibu mertuanya.
Semua mata tercengang tidak terkecuali Farah. Dia tidak diberitahu Keenan akan melakukan hal ini di hadapan ibunya.
"Di masa lalu aku mungkin menyakiti Farah, tapi aku bersumpah. Kelak, di sisa usiaku, aku akan menyerahkan segalanya untuk menebus kesalahanku."
"Atas nama Tuhanku, atas nama cintaku pada Farah. Aku bersumpah, aku akan berusaha membahagiakan Farah, aku akan menjaganya, dan aku akan setia hanya padanya."
"Tidak ada lagi yang aku inginkan selain menua bersamanya dan anak-anak kami kelak."
Semua orang begitu terharu dengan apa yang diucapkan Keenan tulus di hadapan ibu mertuanya. Farah dan ibunya sudah menjatuhkan air mata dengan derasnya.
"Saya mengerti, anda bukan orang jahat. Jika tidak, bagaimana mungkin kami masih bisa bertahan hidup setelah apa yang terjadi pada kami selama ini." Nyonya Marry menyambut menggenggam tangan Keenan erat. "Ibu titipkan Farah padamu. Percayalah, dari awal hingga akhir Farah hanya bisa mencintai anda seorang."
Keenan tersenyum bahagia dia juga ikut berderai air mata. Akhirnya segala lika-liku kehidupannya berakhir bahagia.
"Ssst!" Daniel menyenggol perlahan lengan kakaknya. "Bagaimana bisa Kakak memiliki keberuntungan mendapatkan pria unggul seperti Tuan Keenan?"
"Entahlah," Farah menjawab segera dengan kalimat yang justru tidak memberi jawaban.
"Hiiss!" dengus Daniel kesal akan jawaban kakaknya yang tidak menjelaskannya sama sekali.
Pemakaman keluarga Lee.
"Papa, Farah pulang."
"Paman, aku datang kembali."
Keduanya mampir ke tempat peristirahatan terakhir tetua Lee. Sebelumnya, saat Farah dinyatakan meninggal Keenan memang selalu hilir mudik di sana setiap satu bulan sekali.
"Pah," Keenan tersipu malu saat menyerukan papa mertuanya. "Sesuai janjiku beberapa puluh tahun yang lalu, sampai beberapa tahun kedepan. Aku bersumpah, akan terus menjaga Farah seperti janjiku padamu terakhir kalinya."
"Papa harus bangga padanya, dia sudah bertumbuh. Tidak hanya cantik parasnya, melainkan hatinya yang besar yang memberikan nilai lebih dirinya. Dengan sabar dia menerima semua kepahitan hidup selama ini."
__ADS_1
Farah sudah kembali terisak tak mampu menyerukan kata yang tertahan di tenggorokannya.
"Farah Lee adalah wanita terbaik yang aku punya, dan aku berjanji akan menjaganya dengan segenap jiwa ragaku."
"Dia adalah wanita tangguh, walau cengeng, tapi dia tidak mudah menyerah. Kebaikan dan kesabarannya mengangkat aku dari pusara hitam kelamnya hidupku selama ini."
"Seperti yang Papa lakukan padaku sebelumnya, dia juga tidak menyalahkanku atas kematianmu. Maafkan aku..."
"Maaf, aku menghentikan waktumu untuk melihatnya tumbuh seperti sekarang ini."
Keenan semakin menundukan kepalanya, menyeka air mata yang berjatuhan tak kuasa dia tahan.
"Janjiku akan selalu sama, tidak hanya sekedar menjaga hidupnya. Aku akan selalu mencintainya, dalam keadaan apapun. Aku akan menukar waktuku untuk selalu bersamanya, menua bersama, bertumbuh bersama."
Keenan berbalik menatap Farah dengan senyuman, Farah membalas menatap Keenan dengan berlinang air mata. Keenan menggenggam salah satu tangan Farah, dia kembali menatap tempat peristirahatan mertuanya.
"Aku sangat mencintai Farah Lee, wanita yang mampu membuatku bertahan hanya pada satu cinta dari awal hingga akhir."
Tubuh Farah bergetar hebat, seketika dia memeluk erat prianya. Dia tidak ingin melepaskan Keenan saat ini, bahkan selamanya jika perlu.
"I love you, I love you, I love you, I love you... Until whenever!" Farah terus mengulang kata cintanya dengan masih terisak.
Selama jantung ini berdetak, ku akan selalu menjagamu..
Hingga akhir waktu...
Selama nafas ini berhembus, tak akan ada cinta yang lain
Ku akan selalu menjagamu...
Hingga akhir waktu...
Selama nafas ini berhembus, tak akan ada cinta yang lain
Tak akan ada cinta yang lain, Hingga Tua Bersama...
***
Keenan dan Farah kembali menuju kediaman Lee, rencananya mereka akan menginap sehari sebelum esok kembali pulang ke negara S.
"Kakak ipar," Daniel mulai membuka suara saat mereka tengah makan malam saat ini.
"Ya?" Keenan menunjukan wajah ramahnya membuat Farah memutar bola mata malas.
__ADS_1
"Kak, batulah aku menggapai cita-citaku!" Daniel menangkup kedua tangan di dadanya dengan wajah memelas.
Keenan melambatkan kunyahan makanan di mulutnya dan mencerna apa yang diinginkan adik ipar kesayangannya.
"Begini," Daniel bersiap menarik udara dalam dan menghembuskannya perlahan. "Jika cita-cita Kakakku menikah dengan Kakak Ipar. Maka, cita-citaku adalah masuk kedalam KTech!" Dengan satu kali tarikan nafas Daniel menyelesaikan kalimatnya.
"Pppfftt!" Keenan menunduk menahan tawanya. "Bisa diatur," sahut Keenan mencoba menggoda Daniel.
"Selama kamu masuk kualifikasi persyaratan staff KTech, maka tidak ada yang perlu kamu khawatirkan. Tanpa koneksiku, kamu sendiri akan mendapatkan kesempatan itu!" sambung Keenan menyemangati adik iparnya.
"Aku sih yakin," Daniel menjawab gelisah.
"Jika nilai Science-mu bagus kamu akan diterima langsung," timpal Keenan menatap Daniel serius.
"Aku sudah menyerahkan semua nilai akhirku, dan kemarin Pengurus Sam bilang aku hanya tinggal di panggil untuk proses magang lebih dulu." Daniel menjelaskan kaku membuat Farah terkekeh, dia tidak pernah melihat Daniel dalam kondisi tegang seperti ini.
"Good!" puji Keenan singkat membuat kedua bola mata Daniel bersinar. "Besok, kamu bisa ikut kami ke Negara S. Kamu akan segera masuk Ktech."
"Seriously?" Daniel terbelalak tidak percaya.
"Ya, kamu persiapkan apa saja yang kamu butuhkan yang penting saja. Sisanya, kamu bisa membelinya di kota S."
"Cihuuuy!!" Daniel bangkit dan segera memutar untuk memeluk kakak ipar terbaiknya. "Aaah, aku bahagia! Tenang Kak, jika Farah Lee nackal aku akan mengikatkannya, karena memang Kakakku itu sedikit bebal!"
"HEY!!" pekik Farah merasa namanya disebut Daniel dan mencorengnya.
Semuanya tertawa dan kembali menyelesaikan makan malam dengan khidmat. Sebagian beban semua orang mulai menguap, mereka tinggal menunggu hari bahagia itu, yang akan segera digelar sebentar lagi. Seluruh dunia akan mengetahui bahwa Keenan dan Farah resmi menjadi suami dan istri.
Farah membawa Keenan menuju kamarnya, setelah sebelumnya mereka menidurkan Keano dan Jimmy di kamar Daniel. Tanpa keduanya ketahui bahwa Keano berpura-pura tidur saja, karena setelah Farah dan Keenan pergi, mereka berdua kembali terbangun saat biang kerok yang tak lain tak bukan Daniel Lee memasuki kamar. Ketiganya langsung melakukan push rank memainkan game online sebelum benar-benar lelah dan tidur setelahnya.
Bruk!
Keenan menjatuhkan Farah perlahan di ranjang mungi yang berada di tengah ruangan yang serba pink. Dia memindai setiap lekuk tubuh indah milik istrinya. Keenan menelan saliva dan mulai melucuti pakaiannya satu per satu.
"Uuwwh, suamiku seksi sekali." Farah berujar menggoda Keenan yang sudah melempar pakaiannya sembarang.
"Yeah, apa kamu ingin aku layani Nyonya?" Keenan bertanya tepat di cuping telinga Farah dan lidahnya segera menyeruak menyentuh permukaan yang paling sensitif dari istrinya.
"Aarhh... Anda sungguh tidak sabaran Tuan!" goda Farah mendorong tubuh suaminya.
"Tentu saja, ada kudapan enak depan mata tidak boleh dilewatkan begitu saja!"
"Aarghh!! Hahaha..."
__ADS_1
Keduanya memadu kasih yang semakin lama semakin panas, bahkan derit ranjang keduanya hampir terdengar keluar kamar.
--- To be continued ---