
Sudah selama beberapa hari Keenan dan Farah hidup bersama layaknya sepasang kekasih bahkan lebih dari itu. Selama itu juga kantor Keenan berpindah menjadi di Beverly, orang yang paling dirugikan oleh atasannya adalah Samuel Park tentu saja.
"Enak sekali jadi Tuan Besar tuh, tinggal tunjuk, tinggal ngomong, kita disini udah babak belur!" rutuk Sam tidak terima. Dia bahkan kurang tidur menyebabkan lingkar matanya yang mulai menghitam.
"Hahaha, aku turut berduka!" Sandra menoleh dan menertawakan rekan kerjanya. "Tenang Sam, itu masalahmu, bukan jadi urusanku! Hahaha..." Sandra semakin terbahak dengan kesusahan rekannya.
"Dasar Nenek Lampir! Gue sumpahin jomblo tau ra─"
Braaak!
"Aaww!"
Belum selesai Sam berucap Sandra telah melempar berkas yang di tolak oleh tuannya. "Mulut satu di jaga Kisanak!"
"Hiissh!" Sam memukul angin pada sekretaris utama KTech, Sandra menjulurkan lidahnya senang.
"Jika kamu bukan perempuan aku akan menyiksamu habis-habisan!"
"Bising ko, buruan di tunggu Tuan Liam!" Sandra kembali berkutat dengan gadget miliknya.
Terdengar Sam menghembuskan nafas berat, harinya jauh lebih berat dari berat badannya. Sedangkan Tuannya, sungguh tidak berbelas kasih padanya.
Sedangkan di mansion Farah, kedua sejoli itu masih asik dengan dunia baru mereka. Keenan akan memanjakan gadisnya. Apapun permintaan Farah, sekalipun hal yang aneh akan segera Keenan penuhi dengan bantuan seluruh anak buahnya. Walau sudah jelas seperti itu, pria besar itu tetap tidak ingin mengakui perasaannya.
"Aku dengan Paman dan Bibi sudah akan pulang besok?" Farah membuka percakapan mereka saat menemani Keenan yang sedang bekerja dengan beberapa tumpukan berkas di ruang kerjanya.
"Hm!" Tanpa ingin melihat Farah dia tetap fokus pada pekerjaan yang selalu tidak selesai.
"Hish, coba kalau kita di kamar, Sayang pasti bawel!" rutuk Farah manja.
Keenan menghentikan aktivitas memverifikasi berkas, menatap gadisnya dengan senyuman tampannya yang membuat Farah semakin tidak tahu diri mendekatinya. "Aku sedang bekerja, Sayang!"
Keenan merengkuh tubuh Farah yang sudah berada di pangkuannya. "Apa pekerjaan Sayang begitu penting dibanding aku?" Farah kembali mengoda menunduk dan memagut bibir kekasihnya.
Setelah mengakui hubungan terlarang mereka, Farah dan Keenan sudah tidak segan saling memanggil dengan kalimat sayang dan sejenisnya. Farah semakin lama semakin terbuai, seolah melupakan apa yang sudah dilakukan Keenan sebelumnya.
"Jika aku tidak bekerja, dari mana semua kemudahan ini kamu dapatkan?!" Keenan menjentikan jari telunjuk di hidung mancung Farah. "Memangnya kamu, ujian aja gak lulus!"
Dang!
__ADS_1
Rasanya Farah berubah menjadi batu lalu pecah saat mendengar kalimat barusan. 'Dari mana Kakak tahu aku tidak lulus? Ah sial!'
"Aku bereskan pekerjaanku sejenak, oke? Setelah itu... Aku milikmu Baby!"
Ingin rasanya Farah meledak saat ini juga, dia memeluk segera Keenan sebelum dia bangkit dan membiarkan kekasihnya bekerja dengan tenang. "Aku mencintaimu Kak, selalu, always, never, never, ever change!"
"Kamu paling tahu membujukku!" Keenan memagut bibir kekasihnya dan tangannya ikut menggerayangi tubuh Farah.
"Kaaak!" Farah mendorong tubuh kekasihnya. Dia menggoda bukan untuk melayang di surganya dunia. Dia menggoda untuk berbincang serius pasal kedepannya saat paman dan bibi atau kedua orang tua Keenan kembali ke kediaman.
"Setelah menggoda lalu mencampakanku? Hanya kamu yang berani seperti ini!" rutuk Keenan kesal.
"Kak... Aku ingin berbicara serius!" Farah menatap Keenan dengan raut wajah yang berubah setelahnya.
"Lukamu telah sembuh, kamu boleh memilih tinggal di rumah atau tetap lanjut disini!" Seolah tahu apa yang jadi kegelisahan gadisnya Keenan menjawab semuanya dengan singkat dan jelas.
"Aku akan kembali, Bibi pasti akan curiga jika aku tetap disini!" Farah mengatupkan bibirnya gelisah. Hal yang tidak bisa diprediksi olehnya adalah respon Keenan dengan keputusannya barusan.
"Oke, itu jauh lebih baik untukmu, bukan?" Keenan mengusap lembut wajah Farah. "Aku sendiri ada urusan pekerjaan ke negara bagian kedepannya." Keenan menautkan helaian rambut yang jatuh di depan wajah Farah.
Lyin' here with you so close to me
I'm caught up in this moment
Caught up in your smile...
Hati Farah kembali berdenyut kencang, perlakuan Kakak sepupunya ini sudah di luar ekspektasinya. "Kak!"
"Hm?"
"Apa benar Kakak masih tidak mau mengakui bahwa Kakak sudah mencintaiku?"
Keenan terdiam, dia menerawang sejenak kemudian dengan pasti menunjukan senyuman smirknya. "Aku pikir justru kamu yang semakin jatuh cinta padaku, bukan? Aku hanya sedang menyenangkan perasaanmu, dengan begitu kamu akan jauh bisa menyenangkanku!"
"Heh!" Farah terkekeh sinis. "Aku sangat yakin, seorang Keenan Kaviandra dengan nama besarnya tentu sangat gengsi mengakui perasaannya!"
"Farah Lee!" Keenan menaikan intonasi suara menekan Farah.
"Kakak boleh menipuku atau bahkan masyarakat luar. Tapi, aku yakin Kakak tidak bisa menipu perasaan Kakak sendiri, bukan?" Farah menekan dada bidang kekasihnya. "Tidak mengapa, aku tidak akan mempercepatnya... Kita akan menikmati prosesnya..."
__ADS_1
"Ada istilah yang baru saja aku dengar. Tidak ada yang bisa menghancurkan besi jika bukan karatnya sendiri!"
"Sekeras apa Kakak menghindar, sekeras itu aku akan berusaha... Aku percaya, usaha dan cintaku akan mematahkan takdir. Kelak, kamu lah yang akan memohon padaku!"
"Kakak akan mencintaiku lebih dari mencintai diri sendiri!"
Keenan menaikan sudut bibirnya, dia berusaha keras menyembunyikan tabuhan detak jantungnya yang sudah tidak beraturan. "Apa kutukanmu belum cukup kamu berikan untukku?"
"Never!" Dengan cepat Farah menjawab pertanyaan Keenan. "Aku tidak akan pernah menyerah, cintamu dan pengakuanmu adalah pencapaian terbesar hidupku! Kamu adalah hidupku..."
Keenan benci mengakui, Farah memang sosok lemah. Namun, tidak dengan kata-katanya. Seluruh kata-kata Farah bagai sembilu bagi Keenan. Hal yang membahayakan dari seorang manusia terletak dalam setiap katanya. Keenan tidak bisa menjawab, dia kembali menyesap bibir Farah, dia juga menggendong adik sepupu yang sudah naik tingkat statusnya menjadi kekasih berjalan melewati meja kerjanya. Keenan menjatuhkan tubuh Farah di atas sofa yang tak jauh dari tempatnya sebelumnya.
"Bukankah aku sudah jadi milikmu, lalu apa yang perlu kamu khawatirkan?!" ucap Keenan menatap penuh cinta ke arah Farah yang terbelalak dengan ucapan kakak sepupunya.
"Ya!" Farah meneteskan air matanya. Sampai kapan mereka akan seperti ini, menyembunyikan hubungan dar iseluruh masyarakat bahkan keluarga besar mereka.
Keenan kembali meminta haknya, baginya permasalah pelik antara keduanya akan selesai begitu saja dengan aksi di ranjang. Pria tetaplah pria...
"Aku sangat mencintaimu Kak. Aku sangat takut... Aku sangat takut kehilanganmu... Aku tidak bisa membayangkan reaksi Karen mengetahui kita sudah sejauh ini. Aku juga sangat menyayanginya, dia tidak suka aku dekat dengan Kakak!"
Deg!
Jiwa Keenan seperti terhempas setelah raganya luruh di atas tubuh Farah, kini gadis itu kembali membuat kegelisahan yang sempat menghilang kembali datang. Semua orang tahu, Karen dan Farah tumbuh bersama, dia juga tahu sendiri bagaimana Karen, adik kesayangannya itu menyayangi Farah seperti adiknya sendiri. 'Tentu saja Karen akan menolakku, dia akan membenciku jika tahu Kakaknya menyakiti adik kesayangannya seperti ini.'
"Jika kamu disuruh memilih, kamu akan memilih Karen atau aku?" Keenan menaikan wajah Farah yang sayu.
Farah mulai membanjiri wajahnya dengan air mata. "Aku mencintaimu Kak!"
"Hahaha... Maka diamlah... Mereka tidak perlu tahu!"
I've never opened up to anyone
So hard to hold back when I'm holdin' you in my arms
But we don't need to rush this
Let's just take it slow...
--- To be continue ---
__ADS_1