
Setelah urusan anak-anak mereka selesai, Karen dan Farah sudah tidak sabar akan membahas banyak hal dari awal hingga akhir. Sepertinya satu hari jelas tidak akan cukup untuk menceritakan apa yang sudah mereka lewati selama lima tahun terakhir. Walau demikian keduanya sudah sangat berantusias.
Sebelum Farah menceritakan bagaimana kisahnya, dengan cepat Farah menodong Karen lebih dulu. Farah sempat bertanya-tanya. Bagaimana bisa Jimmy tercipta dan ayahnya tidak berada di tengah keluarga besar Kaviandra? Dia bahkan sempat terkecoh dan berfikir Jimmy adalah putra prianya beserta wanita lain yang ada di rumah mereka saat ini.
Pada akhirnya Karen menceritakan dengan berderai air mata, dia sudah mengecewakan keluarga besarnya. Dia menikahi pria yang salah. Farah turut berduka, dia juga mengepal penuh emosi, bagaimana bisa Karen tertipu pada pria yang salah?
Mereka semakin larut dalam perbincangan yang semakin kesini semakin seru bahkan membuat mereka bersiap untuk lupa waktu. Sampai mereka mendengar letusan senjata api yang cukup memekakkan telinga.
DOR!
Keduanya terdiam dan saling pandang sejenak, setelahnya mereka menghambur keluar. Karen berpikir bahwa letusan itu berasal dari area tengah dimana kamar Farah yang saat ini ditempati Keenan. Lagi pula, siapa lagi yang berani menggunakan senapan jika bukan satu-satunya pria arogan disana?
"Ada apa ini?!" pekik nyonya Lyn pada keduanya, mereka berpapasan saat mencoba mengetahui apa yang sedang terjadi saat ini.
Tuan Kaviandra semakin mempercepat langkah kakinya, dia tidak mungkin membiarkan penjahat memasuki kawasan pribadinya.
Sedangkan beberapa menit sebelumnya di ruangan yang memang merupakan kamar Farah, Carol menyusup dan menaruh segelas minuman yang diracik untuk meracuni Keenan dengan obat afrodisiak-nya. Carol mengetahui Farah tidur bersama Karen. Hal ini digunakan untuk menjerat pria incarannya, dengan begitu meskipun Keenan sudah memiliki Farah tapi dia tidak mungkin mengabaikan keadaannya yang ternoda oleh pria nomor satu di negara S itu.
Keenan menatap segelas susu yang berada di atas nakas. Dia sudah selesai membersihkan dirinya, mengganti pakaian kerja dengan piyama tidur bersiap beristirahat di atas ranjang seperti biasa. Keenan sedikit mengerutkan keningnya. Pertama, dia tidak pernah mengijinkan siapapun memasuki kamar pribadinya. Kedua, dia sangat mengenal Farah. Wanitanya tidak pernah menggunakan note untuk mengatakan sesuatu.
Carol tidak memastikan lebih dahulu kebiasaan ini, karena memang dia sangat terburu-buru. Dia menyimpan secarik kertas, menuliskan hal yang romantis dan perhatian pada prianya seolah itu Farah yang membuatnya. Keenan mengerti, ada yang sedang ingin bermain-main dengan batas kesabarannya. Keenan meminumnya, tanpa diketahui Carol bahwa Keenan sudah minum anti racun terlebih dahulu.
"Aarrkk!!"
Carol mencengkram lengan Keenan yang mencekik lehernya kuat. Dia berusaha meronta dan melepaskan diri dari genggaman pria yang sudah bertransformasi menjadi utusan Alam Baka sekarang. 'Bagaimana bisa obatnya tidak bekerja, padahal minuman itu dia habiskan?' Carol masih bia bermonolog dalam hatinya mempertanyakan keadaannya sekarang.
"Papa Besar!" Jimmy memekik saat melihat Keenan menyeret Carol tanpa melepaskan cengkramannya.
Bruuk!
Semua orang sudah berada di tempat kejadian perkara. Nyonya Lyn menutup mulutnya, ini bukan yang pertama kali dia melihat Keenan menyeret carol. Sudah di pastikan semua orang memiliki pemikiran yang sama bahwa Carol mulai merencanakan sesuatu untuk merusak keharmonisan keluarga mereka. Naasnya, tidak ada yang berani menyela apa yang dilakukan Keenan saat ini.
__ADS_1
'Sial, aku hampir mati begini tidak ada yang mau menolongku seorangpun!' batin Carol miris, dia sudah mengalirkan air mata membanjiri wajahnya.
"Dengar bi tch!" Keenan kembali berulah di hadapan keluarganya. "Jangan harap kamu bisa menukar posisi atau menyingkirkan istriku!" Dengan masih mencengkram kuat leher Carol Keenan memaki wanita tidak tahu diri itu.
"Kamu tidak akan sanggup menjadi seperti Farah! Tidak, kau tidak akan pernah sepadan dengannya!"
"Kalian tidak pernah bisa merasakan apa yang sudah di lewati Farah untuk membuat aku membuka mata hatiku!" pekik Keenan lantang dalam satu tarikan nafas. "Untuk menukar posisinya, setidaknya kamu butuh beberapa kali merasakan berada di ujung kematianmu." Keenan semakin mencengkram kuat leher Carol, terlihat Carol sudah hampir kehabisan pasokan oksigen, nafasnya mulai terputus-putus.
"Kak!" Akhirnya Farah menghentikan tingkah suaminya yang sudah di luar batasan.
Keenan tersadar menatap ke arah istrinya.
Bruk!
Dengan cepat Keenan menjatuhkan tubuh Carol, wanita itu terlihat lemas dan berusaha mengambil kembali oksigen yang dia butuhkan untuk bertahan hidup.
"Karennina!!" jerit Keenan menyalahkan adiknya atas kehadiran wanita tidak tahu diri itu.
"Caroline, kau sungguh mengecewakan!" Karen berujar dingin, tidak terlihat iba sedikitpun dari wajahnya. Bahkan tuan Kaviandra sendiri tidak terlihat ingin menghardik dan menyalahkan tindakan putranya yang hampir membunuh nyawa seseorang.
"Mulai detik ini kamu bukan lagi bagian dari Suho, kemasi barangmu dan─"
"Enyah dari sini sekarang juga!!" Keenan menyela kalimat yang belum selesai adiknya utarakan pada Carol. "Paman Chen! Bawa wanita menjijikan ini dari sini sekarang juga, aku muak dengannya!" Keenan berteriak memanggil kepala pengurus rumah Kaviandra.
"Dengar Caroline, aku sudah memberikanmu kesempatan sebelumnya. Kamu benar-benar bodoh!" Keenan menunduk sejenak dan mencengkram erat wajah Carol. "Bersiaplah, besok seluruh perusahan keluargamu akan aku akuisisi, tidak akan ada yang mau memandang keluarga kalian lagi di negara ini!!" Sebelum melepaskan Carol, Keenan tidak lupa mengancam dan menarik seluruh harapan masa depan wanita di hadapannya. Tidak hanya berlaku pada Carol, tapi seluruh keluarga dan turunannya.
Semua terdiam tidak mungkin membantah dan membantu Carol. Toh, tindakan Keenan sudah benar terlepas apa sebenarnya yang sudah dilakukan Carol sebelumnya, setidaknya mereka yakin Keenan tidak mungkin gegabah dalam bertindak. Keluarga Carol cukup memiliki nama besar, bukankah sangat beresiko mengusik mereka jika tanpa alasan yang jelas.
"Baby, kemari!" Keenan membutuhkan pelampiasan emosinya, dia menatap Farah nyalang. Semua orang kembali menelan saliva.
Pengurus Chen sudah bersiap membawa Carol keluar kediaman. Wanita itu masih membatu atas apa yang diucapkan Keenan sebelumnya. Dia sungguh menyesal, namun semua itu sudah tidak berguna lagi sekarang.
__ADS_1
Bruk!
Keenan memeluk Farah segera dengan begitu eratnya. "Kamu sih kenapa harus tidur sama Karen!" rutuk Keenan sedikit manja membuat semua pasang mata melotot dengan tingkah ajudan Raja Alam Baka yang dengan cepat berubah menghangat setelah bersama dengan pawangnya.
"Lah, kenapa aku yang di salahin!" Farah tidak terima dan bersiap berselisih dengan suaminya. "Udah jelas-jelas wanita itu yang tiba-tiba di kamarku, lalu salahku dimana?"
Semua mendengus lega, Karen segera menyuruh Daniel membawa kembali anak-anak menuju kamar mereka. Daniel mengerti dan segera menyuruh anak-anak mengikutinya. Sepanjang perjalanan kepala Daniel penuh dengan berbagai macam pertanyaan dan kenyataan yang baru diketahui sekarang. Daniel tak ubahnya Farah saat pertama kali melihat sikap Keenan barusan. Bagi keluarga Lee, Keenan adalah pahlawan. Dalam benak penerus Lee, imajinasi pahlawan diartikan manusia yang tidak akan berlumur dosa. Bagi mereka Keenan tak ubahnya seperti Shichi Fukujin yang merupakan sebutan untuk tujuh dewa keberuntungan.
"Aku benar-benar harus menjaga sikapku di depan Kakak ipar." Daniel bergumam lirih sebelum dia menutup matanya beranjak merajut mimpi.
Di dalam kamar Farah, Keenan membutuhkan kembali energi chi-nya. Dia langsung menggelayut manja di dalam dekapan Farah. "Apa kamu puas dengan hukuman yang aku berikan pada wanita itu?" Keenan mendongak menatap istrinya, dia yakin Farah percaya padanya.
"That's enough. Melenyapkan harapannya sudah cukup mengakhiri hidupnya." Farah menangkup kedua wajah suaminya lembut.
"Aku tidak menyangka wanitaku bisa berujar dingin seperti ini juga." Keenan menyeringai puas.
"Heh, perjalanan hidup membuat kita berubah dengan cepat, bukan?" Farah menatap lekat prianya. Tidak perlu menjelaskan bagaimana dia bisa berubah, Keenan sudah pasti memahaminya. "Bahkan, aku bisa jauh lebih berani dari sekedar berkata dingin seperti ini. Aku bisa saja menyelinap keluar dan membunuh wanita yang mencoba merebut suamiku dengan tidak tahu diri."
DEG!
Keenan tidak menyukai wanitanya yang lemah lembut berubah kejam seperti sekarang. "Baby!"
Keenan bangkit dan memposisikan dirinya dengan benar. "Jangan pernah mengotori tanganmu, biarkan aku dan anak buahku yang bekerja untukmu!" Keenan menarik salah satu tangan Farah dan mencium telapak tangannya mesra.
"Jika begitu, lakukanlah!"
Keenan menyeringai, walau dia tidak suka perubahan yang begitu cepat pada wanitanya. Namun, semua ini justru akan menjadi keuntungan bagi Keenan kedepannya. Nyonya Mr. K haruslah kuat dan tangguh, kedepannya musuh Keenan akan semakin tidak terkendali. Farah harus bisa mengimbangi bagaimana posisi Keenan di dunia bisnis maupun jaringan gelap.
Keenan sudah menginstruksikan pada anak buahnya untuk melenyapkan wanita yang sudah dua kali berencana kotor padanya. "Apa kamu sudah puas, Nyonya?"
"Sure..."
__ADS_1
Keenan menatap nakal, dia langsung meminta kompensasinya kembali. Farah memutar bola mata malas sejenak, namun seperti biasa mana mungkin Farah menolak melakukan penyatuan dengan prianya.
--- To be continued ---