Gadis Kecil Milik Mr. Mafia

Gadis Kecil Milik Mr. Mafia
EPS 24 # Jebakan Manis!


__ADS_3

Kantor pusat KTech, 04.30 PM.


Braaak!


Pintu ruang presdir terbuka lebar setelah Sam membukakannya, tuan mereka sudah berada di kantor setelah setengah hari mereka sedikit bernafas lega tanpa pengawasan darinya. Kedua anak buah kepercayaannya mengekor di belakang tubuh tegap Keenan menuju kursi kebesarannya.


"Ada berita apa?" Keenan menatap tajam satu per satu anak buahnya.


"Pagi tadi, bagian sistem telah selesai mengimplementasi EYES terbaru di seluruh perangkat kita." Sam menyahut segera, dia menggerakkan jemarinya lincah di gadget pintarnya. Hologram progress pekerjaannya sudah terpampang jelas di hadapan Keenan yang di    kendalikan oleh Sam.


Senyum smirk terpetakan jelas di wajah rupawan tuan mereka, kini berganti dia menatap Sandra. Dengan sigap wanita mandiri itu sudah tahu jelas gilirannya.


"Sam sudah memberikan notulen rapat semalam, Tuan Ron sudah menandatangani persetujuan project lanjutan dan dokumen asli akan di kirimkan selama tiga hari kerja." Sandra menggulirkan jemari di gadgetnya. "Selanjutnya, mengenai Leeshan─" Sandra memenggal kalimatnya dan menatap tuannya sekilas dengan gelisah.


"Ada apa dengan Leeshan?" Keenan beranjak lebih serius menautkan kedua tangan di atas meja kerjanya. Sorot mata tajamnya sungguh membuat orang terasa tertekan berada di sampingnya.


"Ehm," Sandra menatap rekan kerjanya sekilas. Sam menganggukkan wajahnya memberikan otorisasi untuk menjelaskan pada atasan mereka. "Nilai saham merosot tajam, beberapa investor menarik kembali dana mereka dan─" Sandra kembali tersendat dia begitu takut jika membahas Leeshan.


"Ck!" Keenan berdecak kesal, dia sudah bisa mengira kemana arah pembicaraan sekretarisnya. "Sam, seperti biasa sediakan dana darurat untuk masa krisis Leeshan!" titah Keenan lantang menatap Sam.


"T-tapi Tuan, kita sud─" Sam berusaha menghardik namun Keenan lebih dulu menampiknya.


"Cukup!" Keenan bangkit, berjalan menuju jendela besar ruangannya. Dari tempatnya dia bisa melihat aktivitas padat jalanan ibu kota. "Ini urusanku, bukankah kita tidak sedang kekurangan uang?" Keenan menatap tajam kedua anak buahnya.


"Jika aku ingin Leeshan masih berdiri, maka harus berdiri apapun resikonya!"


Sam dan Sandra menelan saliva mereka saat melihat perubahan raut wajah tuannya yang sudah merah padam. Mereka berdua mengetahui pasti bahwa tuannya sendiri sadar, tidak ada gunanya mempertahankan perusahaan yang sudah tidak sehat seperti Leeshan. Sistem operasi perusahaan itu berantakan setelah kematian tuan Lee. Keenan belum berani mengambil alih secara penuh mengingat adanya otorisasi keluarga pemilik perusahaan yang masih dalam sengketa. Hanya karena Leeshan adalah perusahaan milik keluarga Lee, Keenan berusaha mati-matian mempertahankannya.


"Aku yakin, kelak... Akan ada waktu dimana KTech bisa mengendalikan penuh Leeshan!" Keenan berjalan kembali menuju meja kerjanya.


"Tapi Tuan, sekumpulan idiot itu sungguh membuat perusahaan sebesar itu seperti hidup segan mati ogah!" cicit Sam merasa gemas dengan keputusan tuannya.


"Tentu saja mereka tidak mau mengurus yang bukan hak mereka." Keenan menarik beberapa berkas dan memulai pekerjaan yang sempat tertunda. "Mereka hanya sekumpulan sampah penjilat yang menunggu masa berlakunya surat wasiat. Di saat itu terjadi aku pastikan gadisku yang akan mengambil alihnya!" Tak terasa Keenan menaikan sudut bibir dan menyeringai kembali menampilkan wajah cantik Farah di dalam benaknya.


"Cieee, gadisku, ihhiiw!" Sam mengolok lirih di sebelah Sandra, rekannya terkejut dan menahan tawa melihat tingkah Sam.


Braaak!


Tiba-tiba saja Keenan menggebrak meja kerja dengan mata melotot ke arah keduanya. Sandra dan Sam terlonjak berjamaah dengan raut wajah yang berubah pucat seketika. "Enyah kalian!"


"M-maafkan kelancangan kami Tuan!" Sandra dan Sam menunduk bersamaan kemudian mundur teratur.

__ADS_1


Plaaak!


"Bangsat Samuel! Gue hampir die gara-gara lu!" Sandra memaki kesal dengan memukul keras bahu rekan kerjanya.


"Lah, lu maen nyalahin gua, kan lu juga sama cengar-cengir!" sahut Sam tidak terima.


Setelah berada di luar ruangan tuannya, kedua asisten mereka saling baku omongan dengan sesekali Sandra memukul tubuh Sam yang selalunya tanpa perlawanan berarti dari pria paling berpengaruh kedua di KTech.


***


Hotel Emperor 08.00 PM


"Selamat datang Tuan, silahkan tunjukan tiket masuk anda?" Salah seorang penjaga pintu ruangan pelelangan bertanya pada Keenan.


Tanpa banyak kata Keenan menunjukan kartu undangan yang baru ia dapat setelah membuat pingsan salah satu peserta dan menguncinya di salah satu ruangan oleh anak buahnya.


"Silahkan Tuan Kim, anda akan di pandu oleh rekan saya!"


Keenan menyamar menjadi si pemegang kartu undangan. Hari ini dia akan mengacaukan kembali acara pelelangan dan mencuri barang yang sedang di lelang di pasar gelap. Barang itu adalah satu set obat XY yang diproduksi Black Shadow sebagai senjata biologis yang tengah marak diperjualbelikan di pasar gelap beberapa bulan terakhir.


Keenan dan seluruh anggota jaringannya telah terkoneksi dengan earphones dan EYES mereka yang sudah disinkronkan. Keenan terus melakukan screening area dalam pelelangan dan mengirimkan data pada Sam. "Ben, apa kamu sudah berada di ruang pengawasan?!" tanya Keenan masih dengan awas menyelidik siapa saja partisipan yang hadir di acara pelelangan.


"Bagus!" Keenan menutupi earphones miliknya sesaat, salah satu pelayan menghampirinya dan menyerahkan welcome drink.


"Silahkan Tuan!" Pelayan itu menundukan wajahnya dan segera berlalu sebelum Keenan menyambut perkataannya.


"Sepertinya aku tidak asing dengan pelayan itu?" Keenan bergumam dengan menyelidik tubuh si pelayan. Keenan mencoba mencari informasi dari EYES, sialnya tubuh wanita itu sangat cepat menghilang di balik pilar ruangan lain sebelum EYES mendapatkan data si pelayan. "Huh, mungkin perasaanku saja!" dengus Keenan kesal. "Sejak kapan aku menggunakan perasaan?" ejeknya kemudian dengan tawa lirihnya.


Trak!


Lampu ruangan dimatikan, hanya ada lampu sorot yang mengarah pada pembawa acara yang sedang menyambut kedatangan para tamu undangan serta memulai jalannya acara pelelangan. "Selamat malam, good evening ladies and gentleman, Tuan dan Nyonya, tamu undangan sekalian yang Huateng Group hormati!"


"Pada kesempatan kali ini Huateng kembali menggelar pelelangan ke-90 terbesar tahun ini!"


Suara MC lantang menyambut dan menyebutkan rangkaian acara yang akan mereka gelar sebentar lagi. Keenan menyeringai, kedua netranya menangkap sosok yang selalu dia incar selama ini. "Sam, Mr. Wei disini!"


"Benar Tuan, setelah saya retas sistem acara, kali ini Tuan besar Wei sendiri yang memimpin jalannya pelelangan. Mungkin karena senjata biologis ini yang jadi barang pelelangan utama perusahan mereka."


Keenan kembali menyeringai dengan menenggak habis whiskey yang ada di tangannya. Keenan kembali menganalisis semua tamu undangan yang kini panel di depan matanya sudah penuh dengan data-data mengenai mereka yang sudah selesai diidentifikasi.


"Lapor Tuan, kami sudah meretas seluruh sistem!" Sam kembali masuk. "Data terbaru mengatakan pelelangan ini sangat kotor. Mereka akan memenangkan lebih awal pada salah satu peserta yang sudah membayar mahal di muka. Dengan kata lain ini formalitas perdagangan saja."

__ADS_1


"Hm," Keenan berdehem tanda mengerti.


Acara pelelangan telah dimulai, satu per satu barang mulai di tunjukkan dan dengan cepat sudah menemukan pembelinya. Akhirnya di penghujung acara, barang yang diincar seluruh peserta jaringan hitam menunjukan dirinya. Keenan menyeringai dengan kembali menenggak habis minumannya. "Ben, sekarang!"


"Noted!"


Traaak!


Dooor... Dooor... Dooor...


"Aaaarrghhh! Ada apa iniii!"


***


Beberapa jam sebelumnya di kampus Farah.


Farah berjalan gontai menuju salah satu ruang dosen di kampusnya. Dia menghela nafas berat dengan perasaan yang campur aduk menjadi satu. Farah mengetuk pintu ruangan yang merupakan ruangan dosen walinya yaitu Victor Xiao.


"Masuk!" pekik sang dosen dari dalam.


Farah sempat terdiam sesaat mengatur pernafasannya, tak lama dia memasuki ruangan. Tanpa sepengetahuan Farah pria yang menjadi dosennya itu sudah melengkungkan senyuman bahagianya. Sebelum Farah berada di ruangannya saat ini, pria itu memberikan hasil ujian sehari sebelumnya dan nilai ujian yang diterima Farah begitu buruk. Farah bahkan meremas kencang dan membuangnya ke tong sampah. Dia tidak pernah menerima nilai sejelek itu selama ini. Farah berencana meminta ujian susulan dia tidak ingin mempermalukan keluarga Kaviandra atas nilai akademiknya yang merosot tajam. Tanpa diketahui Farah bahwa itu adalah rencana yang dipersiapkan oleh dosennya. Dosen Victor paling tahu, Farah tidak akan pernah bisa menerima jika nilainya merah.


"Aku tebak, kamu pasti meminta ujian susulan?!" tukas dosen Viktor menyeringai dan menautkan kedua tangan di hadapannya.


Pria itu tergolong pria tampan, walau wajahnya dihiasi dengan kacamata tebal, tetap saja aura dan kharismanya  lebih kuat dibanding dosen lainnya. Hal itulah yang membuat dosen Victor dinobatkan menjadi dosen idaman kaum hawa di Universitas S termasuk rekan Farah, Gu Meishya yang tergila-gila pada dosennya sendiri.


"Aku tebak ini pasti jebakan!" Farah merutuk, untuk pertama kalinya dia tidak sopan di hadapan dosennya.


"Hehehe... Memang!"


Farah terbelalak saat melihat dosennya terkekeh dan mengakui perbuatannya. Ingin rasanya Farah menampar dosen itu sekarang juga. Pria itu tidak tahu, Farah begitu takut membuat keluarga angkatnya malu di hadapan publik. "What the fu-ck!"


"Kamu sungguh tidak sopan di depan dosenmu berbicara lancang!" Dosen Victor yang biasa terkenal ramah dan hangat berubah dingin demi ambisinya. "Bagaimana jika aku telpon Nyonya Lyn saat ini juga?" ancam dosen itu menekan. "Anak angkatnya sedang berulah setelah nilai akademiknya seminggu ini merosot tajam!"


Farah membuka mata dan mulutnya lebar, lancang sekali mulut dosennya membawa nama bibinya. Farah tidak mengetahui bahwa dosennya itu menaruh hati padanya, apapun mengenai Farah pria itu sudah mengetahuinya. Termasuk kelemahan gadis kecil itu, dia paling takut dengan bibinya.


"Huh!" Farah mendengus kasar, dia membuang wajahnya. "Apa aku bisa memperbaiki nilaiku? Aku akan lakukan apapun dan aku juga akan menjaga sikapku yang penting jangan sampai keluarga Kaviandra mengetahui nilai merahku!" cicit Farah tidak memiliki pilihan.


Senyum smirk terpetakan jelas di wajah dosen Victor. 'Yes! Gotcha Farah Lee... Aku tahu, kamu akan memberikan jalan yang mudah untukku kali ini.'


--- To be continue ---

__ADS_1


__ADS_2