
Mentari pagi mulai menyeruak menembus tirai kamar utama mansion Beverly. Keenan merutuk kesal, seseorang sedang membunyikan bel mengganggu istirahatnya.
"Selamat pagi T-tuan!" Sam terbelalak, tuannya dalam keadaan topless dan acak-acakan. Semula dia berpikir Keenan sehabis lembur bekernya. Namun, dia salah!
Beberapa tanda kepemilikan yang di tinggalkan Farah di tubuh Keenan membuat Sam yang jomblo tahu ada apa gerangan. 'Dia kembali bercinta dengan adik sepupunya? Sungguh luar biasa berani Tuanku ini!'
"Kamu sangat mengganggu!" pekik Keenan kembali merebahkan dirinya di sofa.
Keenan menutup matanya perlahan mendongakkan wajahnya. Sam mendekat dengan perasaan yang campur aduk. "Saya membawakan semua kebutuhan anda!"
"Hm!"
Keenan masih bisa mendengar apa yang diucapkan asistennya. Wajar jika Keenan mengantuk luar biasa, dia baru memejamkan mata selama dua jam saja, kalah dengan menggagahi gadisnya yang hampir semalaman.
"Aku ingat, malam itu adalah kecelakaan!" Sam mengutarakan ketidaknyamanannya. "Lalu, hari ini? Apa ini juga kecelakaan?"
Keenan membuka matanya segar, dia ikut tidak nyaman dengan penuturan Sam yang terkesan mulai mengaturnya. "Heh!"
Keenan membenarkan posisi duduknya dan menatap nyalang asistennya. "Bukan urusanmu!"
"Jelas jadi urusan saya, anda lupa─"
"Enough!"
Keenan menunjuk telunjuknya berang di depan Sam. Pria itu menelan salivanya, dia kembali menurunkan tangannya dan mengusap kasar wajahnya. Sam menunduk sendu, dia sangat memahami Keenan. Mereka adalah sepasang sahabat yang hampir separuh usia mereka habiskan bersama. Bagai tangan kiri mengetahui apa yang dilakukan tangan kanan, begitulah keduanya digambarkan.
"Ingat Keenan, dia Adikmu!"
"Hahaha, semakin kesini kamu semakin idiot!"
Keenan mengejek Sam, dia bangkit dan melewati Sam begitu saja. Bergegas mengambil air minum melepaskan dahaga yang membuat tubuhnya seolah kering sekarang ini. "Farah Lee bukan adikku! Jangan sesekali kamu mencoba untuk mengaturku!"
Keenan menaruh kembali gelas kosong di atas meja mini bar. Dia menatap nanar kearah sarapan yang sudah di bawa Sam. Dia kembali mengingat Farah yang dia tinggalkan di kamar. "Jangan lupa berikan Farah kembali ramuan kontrasepsinya!"
Sam mengepalkan erat kedua tangannya. "Kamu tidak sebejad itu kan Keenan?!"
"Aku tidak ingin dia hamil, titik!"
"Hah! Lusa orang tuamu pulang dari Eropa. Bagaimana jika mereka tahu─"
__ADS_1
"Cukup kataku Samuel Park! Jangan menguji kesabaranku!!"
Dengan cepat Keenan sudah mencekik leher asisten khususnya. Sam tak gentar, dia hanya merasa iba pada kondisi adik sepupu angkat keluarga Kaviandra. Tidak akan ada hal yang menguntungkan dari berdekatan dengan seorang pembunuh bayaran berdarah dingin sejenis Keenan.
"Remember this!" Keenan menatap tajam asistennya. "Kamu tidak pernah aku izinkan mengurusi masalah pribadiku! Jika sampai kamu tidak bisa menjaga mulutmu, maka bersiaplah untuk aku robek dengan tanganku sendiri!" Keenan melepaskan cengkraman tangannya, dia bersiap kembali menemui gadisnya.
"Aku mengerti posisiku, aku hanya tidak ingin sahabatku terjerumus pada hal yang akan membuatmu lemah kedepannya!" Sam menghentikan langkah kaki Keenan, terlihat Keenan menaikan sudut bibirnya.
"Kamu tenang saja, aku masih bisa mengendalikannya. Hal yang perlu kamu lakukan dan pastikan adalah kontrasepsi Farah! Aku tidak menginginkan seorang bayi hadir di antara kami berdua!"
Deg!
Tanpa Keenan ketahui bahwa Farah sudah terbangun akibat keributan yang mereka lakukan sebelumnya. Farah merasa penasaran untuk mengetahui apa yang sedang terjadi sebenarnya. Betapa terkejutnya dia saat mendengar Keenan benar-benar tidak ingin bertanggung jawab. "Cintamu hanya omong kosong Keenan!"
Farah bergegas kembali menuju ranjang dan berpura-pura tertidur sebelum Keenan menyadarinya. Tak lama kemudian Keenan telah kembali dan mencium kening Farah mesra.
"Morning My Baby!" sambut Keenan mesra penuh kelembutan di telinga gadisnya.
Farah berpura-pura mengulat malas, dia berbalik menghindari tubuh kakak sepupunya. Sekuat tenaga Farah memendam emosi yang sangat ingin ia keluarkan saat ini juga. Namun, dia sadar bahwa semuanya akan dirasa percuma.
"Bangun pemalas!" Keenan kembali menggoda, dia ikut merebahkan kembali tubuhnya. Dia juga memeluk erat dengan mencium lekat ceruk leher Farah. "Mmmhhh, harum tubuhmu membuat aku gila Sayang!"
"Aarghh, sssshhh!" Mau tak mau Farah ikut melenguh dengan sentuhan Keenan. "Kaaak!"
"Benarkah?" Farah pura-pura terkejut berbalik menatap pria yang sudah memporak-porandakan hatinya. "Aargh, ini kan ulah Kakak yang tidak manusiawi memakanku semalaman!" Farah merengek memukul dada bidang prianya yang masih polos menggoda.
"Hahaha... Kamu tidak bisa menyalahkan diriku seorang, tubuhmu jelas selalu menggodaku!"
"Aaarghh... Syebal... Syebaaal!" Farah terus meracau merutuki Keenan dengan pukulan bertubi-tubi.
"Jangan menggodaku Sayang!" Keenan menghentikan aksi adik sepupunya. Dia mencengkram kedua tangan Farah dan kembali meletakkan di atas kepala gadisnya.
"Ups! Maafkan aku Kak, aku tahu aku salah... Lepaskan aku ya... Aku sungguh tidak sanggup lagiii!" Farah menggelengkan kepala terus menerus. Dia sungguh tidak akan sanggup jika benar-benar kembali di gagahi pria perkasanya.
"Ssruupp... Semakin menolak justru semakin menggoda!" Keenan menjulurkan lidahnya di hadapan Farah. Gadis itu semakin ketakutan dan menutup erat matanya.
"Mandilah!" Keenan terkekeh lirih menghentikan tingkahnya dan melepaskan gadisnya.
Farah termangu, dia tidak menyangka kakak sepupunya itu jauh lebih mendingan memperlakukannya. Dengan cepat tanpa pikir panjang Farah bangkir dan berlari menuju kamar mandi.
__ADS_1
"Huh!" Keenan membuang nafasnya berat, dia berencana membersihkan dirinya di sebelah. Namun, lagi-lagi keputusannya itu tidak bisa dipercaya sekarang. "Shiiit Farah Lee! I'm addicted to you..."
Setelahnya terdengar kembali jeritan Farah dalam kamar mandinya, dia hanya merutuki Keenan yang benar-benar berubah cabul sepenuhnya!
***
Di meja makan Farah menatap kesal ke arah pria yang tengan memakan sarapan pagi yang kesiangan dengan elegan. Farah dengan sengaja memperlihatkan kekesalannya, memotong dengan sepenuh jiwa daging panggang yang disiapkan Sam sebelumnya.
"Pppfftt!" Keenan menahan tawanya, dengan santai Keenan bangkit dan menukar daging miliknya dengan milik Farah.
Farah terpaku, dalam piringnya sekarang sudah tersedia daging dalam potongan pas untuk dia suap ke mulut mungilnya. Farah tersipu malu, sebesar ini perubahan balok esnya. 'Sungguh luar binasaaa!'
"Kamu masih tidak diizinkan untuk keluar dari rumah. Lukamu belum sembuh sempurna." Keenan membuka percakapan dengan datar.
"Hm!" Farah mengerti, dia memasukkan daging kedalam mulutnya dan mengunyahnya perlahan.
"Sebentar lagi Sam kembali dengan ramuan kontrasepsimu!"
Farah tersentak, dia mendongak menatap sendu ke arah Keenan yang sama sudah menunjukan raut wajah seriusnya.
"Ingat Baby, aku tidak ingin kamu hamil!" Keenan menghentikan aktivitas sarapan paginya. Dia menautkan kedua tangan di atas meja menopang dagunya sejenak. "Ingat juga statusmu! Walaupun kamu adalah wanitaku, ini hanya berlaku jika kita sedang berdua saja. Kamu tetaplah seorang adik di depan publik!"
Nyeri dada Farah saat mendengar langsung Keenan memperingatinya. Dengan cepat Farah mengusap air mata yang tidak bisa lagi ia tahan.
"Apa Kakak benar-benar ingin menjadikanku simpanan?"
"Bukankah ini maumu?"
Lakukanlah semaumu...
Sampai kau lelah menyakitiku...
Sebisa ku tak kan mengusikmu...
Ku akan mencoba mengerti dirimu...
"Huh, ya... Aku mengerti!" Farah kembali memasukkan daging panggang kedalam mulutnya.
"Jangan pernah berharap lebih padaku Farah!" Keenan terus saja menyakiti perasaan Farah. "Aku akan pastikan, berada di sampingku, kamu tidak akan tahan!"
__ADS_1
"Lusa Papa dan Mama pulang, ingat untuk menjaga sikap dan mulutmu... Nyawa adikmu berada di tanganku!" Keenan bangkit dan berencana keluar, dia sendiri tidak tahan dengan kondisi mereka saat ini. Farah sudah semakin deras mengeluarkan air matanya.
--- To be continue ---