
Kondominium Royal Luxury.
Keenan sudah berada di mansion miliknya, seperti sebelumnya, dia tidak ingin membangunkan Farah. Dia justru kembali menggendong adik sepupunya tanpa mengeluh. Pengurus Tang terbelalak saat melihat pemandangan yang tidak pernah dilihat sebelumnya.
"Paman, suruh salah satu pelayan wanita ke kamar dan membersihkan tubuh Si Degil ini!" titah Keenan berbalik menatap paman Tang sebelum ia menaiki tangga.
"Baik Tuan Muda, Jenny akan segera melakukan pekerjaannya!" Paman Tang segera menjawab, ingin rasanya dia menanyakan apa yang terjadi pada Farah. Namun, dia urung mengingat sifat keras Keenan, paman Tang lebih baik diam dan menurut.
Sudah beberapa hari Farah berada di Condo, hal ini tentu membuat perubahan besar pada kediaman mereka sekarang. Paman Tang bersyukur, kehadiran Farah membuat tuannya dalam suasana hati yang jauh lebih baik. Biasanya Keenan jauh lebih dingin dan kejam pada pelayan di rumah. Dia tidak akan berhenti memaki dan memecahkan barang jika tidak sesuai dengan apa yang dia inginkan. Setelah Farah datang, rumah mereka jauh lebih aman dan tentram. Namun, Paman Tang dan seluruh pelayan lain tidak menutup kemungkinan berpikir yang bukan-bukan tentang mereka. Keduanya lebih sering menghabiskan waktu bersama di dalam kamar dan tanpa bersuara. Jika pun ada keributan maka dalam beberapa menit kedepan kembali senyap.
"Apa mungkin, Tuan membalas perasaan Farah? Haish... Siapalah aku ini... Semoga benar, aku tidak sabar mendengar suara bayi disini... Hihi!"
Bruuk!
Dengan perlahan Keenan menidurkan Farah di ranjang besar mereka. Sudut bibirnya terangkat, perlahan jemari tangannya membenarkan letak rambut panjang adik sepupunya yang menutupi wajah cantiknya. "Kau sungguh sangat berani seperti ini padaku, Farah!"
Keenan menunduk dan memagut bibir tipis Farah yang seolah terus menggodanya. Keenan menutup matanya, merasakan gelenyar aneh tiap kali mereka berpagutan mesra, panas dan liar. Keenan semakin membuat nyaman posisinya. 'Apa Si Bodoh ini tidak ingin terbangun dan merasakan apa yang aku lakukan saat ini?!'
Keenan tidak percaya, Farah benar-benar berbahaya jika terus berada di sampingnya. "Bagaimana jika kita bersenang-senang sekarang ini, Baby?" Keenan bangkit melempar jas dan melonggarkan dasinya.
Kedua netra Keenan memindai tampilan adik sepupunya, jakun pria itu naik dan turun dengan gejolak hasrat yang kembali muncul ke permukaan. Keenan memposisikan dirinya, dia tidak memiliki pengalaman dalam hal kemesuman, tapi entah bagaimana bisa dia seolah tahu harus seperti apa. Keenan tidak percaya, dia bisa mengeluarkan lenguhan beratnya. Ingin rasanya dia menyudahi semua ini, namun, tubuh Farah kembali memberikan daya magnetis yang sulit diungkapkan kata. Keenan melanjutkan aksinya, dia mengecup ceruk leher Farah dari perlahan kini mulai menyesap dalam. Wangi semerbak dari tubuh dan parfum keduanya yang menyatu di tubuh gadis tengilnya sungguh memabukkan Keenan.
"Aaargh!"
Keenan sempat tersentak saat mulut Farah mengeluarkan suara lenguhan lirihnya. Hal itu memicu senjata tumpul miliknya menggeliat di bawah sana. Dia berhenti sejenak, kembali terjadi perdebatan dalam benaknya, otaknya bilang terus, hatinya menolaknya, sedangkan gairahnya tentu saja memberi jawaban maju terus pantang mundur!
__ADS_1
Keenan terus melakukan pergerakan dengan pandangan mata yang mulai kabur, dia sudah gelap mata tertutupi oleh kabut gairahnya. Setiap kali Farah melenguh, rasanya seperti cambukkan di tubuh Keenan untuk melakukan lebih.Tak henti Keenan mengumpat atas kelakuannya yang baru dia lakukan selama dua puluh delapan tahun dia tidak tahu apapun tentang hubungan pria dan wanita selama ini.
Deg!
Farah terjaga membulatkan matanya, dia baru saja mendapatkan mimpi buruk. Sekuat tenaga dia ingin terbangun dari alam mimpinya. Di dalam mimpinya itu, dia tengah melakukan tindakan asusila dengan kakak sepupunya. Dalam mimpinya juga Keenan memaksa Farah, tentu saja Farah menolah, dia menjerit dan sekuat tenaga mencoba melarikan diri. Saat terbangun betapa terkejutnya Farah, tubuh kakak sepupunya sudah berada di atas tubuhnya. "Aaarrghh, Kakak!"
Keenan terkejut dan menghentikan aksinya. "Kamu terbangun, Baby?" Suara Keenan terdengar lebih berat dari biasanya, penuh penekanan dan penuh hasrat, membuat tubuh Farah bergetar ketakutan.
"Kakak, mau nga-pa-in?" Farah berujar terbata, mendongak dan melenguh saat bibir penuh Keenan kembali mengecup ceruk lehernya.
"Kamu bilang, kamu mencintaiku bukan?" Keenan berbisik di telinga Farah. "Aku ingin kamu membuktikannya sekarang!"
DEG!
"Kakak gila! Lepaskan akuuu!" Farah segera berontak mencoba melepaskan diri dari kungkungan pria pujaan hatinya.
"Hahaha!" Keenan semakin gencar mengunci pergerakan gadis pencuri perhatiannya. "Aku gila?" makinya bertanya meyakinkan. "Ya, kau benar aku gila Farah!!" imbuh Keenan kembali memaki kasar di depan wajah Farah yang sudah mulai berkaca-kaca.
Tidak berhenti disitu, Keenan mencengkram wajah Farah. Emosi dan gairahnya seolah berlomba menunjukan dirinya. Farah semakin takut, dia semakin kuat memberontak dan berharap Tuhan membantunya untuk terlepas dari kakak sepupunya yang tiba-tiba menjadi gila itu. Farah tidak mengetahui, gerakan tubuhnya justru merupakan respon yang diinginkan Keenan saat ini. Keenan menyeringai senang mengejek Farah dan kembali melakukan aksinya. Farah sudah mengeluarkan air matanya, walaupun dia sangat mencintai pria itu, tapi ini salah!
"Uughh, tubuhmu harum sekali, Baby!" Hasrat Keenan sudah di ambang batas.
"Aaarghh! Jangaaan Kaaak... Kakak sadarlah!" jerit Farah terus berusaha menghentikan aksi bejat Keenan.
Keenan tidak memperdulikan tangisan dan jeritan Farah, yang dia butuhkan menyelesaikan menyenangkan hasratnya. Farah semakin terisak pilu, air matanya semakin deras turun membasahi wajahnya.
__ADS_1
"Shiiit!" Keenan tersadar, dia bangkit segera dari tubuh Farah saat dia merasakan air mata di wajah cantik gadis kecil kesayangan keluarganya. Dengan cepat Farah menutup bagian tubuhnya yang terbuka dan beringsut menjauh dari tubuh kakak sepupunya.
"I'm sorry..." Keenan menatap nanar adik sepupunya. Dia sungguh merasa bersalah dan menyesal atas kelakuaan sebelumnya. Keenan membuang wajah frustasi, isak tangis Farah sungguh menyayat hatinya.
"Huh!" Keenan membuang nafas berat, dia menatap Farah sekilas dan kembali bersikap seperti biasa. Dingin dan arogan. "Kamu sudah bangun, itu artinya kamu bisa membersihkan dirimu sendiri!" Keenan segera meninggalkan Farah dengan menutup pintu sedikit membantingnya.
Braaak!
"Selamat malam, Tuan!" sambut pelayan yang bernama Jenny di hadapan Keenan yang membuat pria itu terkejut setengah mati.
"Hish! Pergilah!!" bentak Keenan kasar mengusir keberadaan pelayan yang sebelumnya dia minta pada paman Tang. Pelayan itu beringsut mundur ketakutan dan menundukkan diri bersiap pergi dari sana.
"Tunggu!" Keenan kembali berseru menahan Jenny tetap di tempatnya. "Kamu sudah lama di depan sini?" Keenan mengintimidasi pelayannya dengan dingin. "Dengar ya, apapun yang kamu dengar sebelumnya, jika kamu mencoba mengatakan pada yang lainnya. Maka, persiapkan dirimu untuk kembali pulang tanpa nama!" Keenan berujar dingin menekan setiap kata dengan sorot mata tajam mengancam pelayannya.
Jenny hanya mampu menganggukkan kepalanya mengerti, Keenan bergegas pergi menuju ruang kerjanya. "Ya ampun! Barusan dia begitu dekat..."
Jenny menyeringai menatap ruangan tuannya. "Sejujurnya aku sudah tidak sabar, tapi aku harus bertahan agar aku bisa mengendalikanmu kelak!"
Di dalam ruang kerja Keenan, pria itu tengah menopang kepala dengan kedua tangan di atas mejanya. "Apa yang barusan aku lakukan pada Farah?!" lirihnya menyesal. "Aku harus segera mengirimnya pulang!" Keenan kembali pada posisinya.
Dengan cepat dia memeriksa laptop di atas meja, beberapa pesan masuk di surel elektroniknya membuat hormon endorfin dalam tubuhnya meningkat pesat. Dia merogoh saku dan menghubungi seseorang. "Sam, persiapkan anak buah terbaik kita. Besok kita akan mengacaukan pelelangan di Hotel Emperor. Jangan mengecewakanku lagi! Pastikan EYES kalian sudah selesai proses perbaikan tahap akhir. Satu lagi, kirimkan kembali prototype microbot yang akan kita kembangkan via EYES sekarang juga!"
Keenan menutup sambungan segera, dia tengah mengotak-atik keyboard laptop miliknya. Sebelumnya ada halaman website yang masih terbuka, dia kembali memeriksanya. "Axcel Luciano? Sungguh kebetulan... Apa ada niat tertentu kamu mendekati Farahku?"
--- To be continue ---
__ADS_1