
"Sayang..."
Keenan memasuki ruangan dengan wajah berserinya. Farah sempat tertegun dengan rona wajah dan aura kekasihnya itu. 'Apa yang dilakukan Tante sampai Kakak seperti ini?'
Keenan mendekat dan mencium kening Farah lekat. "Kamu ingin membersihkan diri?"
“Ya,” sahut Farah lemah.
Tanpa mengatakan apapun lagi Keenan menggendong Farah dan membawanya menuju kamar mandi. Keenan menaruh Farah perlahan di bak mandinya. Dia menanggalkan pakaian Farah dengan perlahan. Farah sampai tidak ingin berkedip melihat ketulusan Keenan memperlakukannya sekarang.
I wake up and wonder why, looking at you through the glass… The only thing like home I've ever known. Look around you drive me home, I'm addicted to your heart, we will find a way forever more…
[ Aku bangun dan bertanya-tanya mengapa, melihatmu melalui kaca… Satu-satunya hal seperti rumah yang pernah kukenal. Lihatlah sekelilingmu, kamu mengantarku pulang. Aku kecanduan pada hatimu. Kita akan menemukan jalan selamanya… ]
Keenan tidak pernah melepaskan senyumannya, dia memastikan tidak melukai lagi tubuh gadis kesayangannya. Farah sempat meringis dan menjerit saat Keenan membasuh beberapa luka di tangan dan lehernya.
“Aaarh, periiih!”
Keenan menghembuskan nafasnya perlahan. “Jika kamu terus berisik aku akan menginfusmu!”
“Apa Kakak tidak pernah tahu rasanya perih?” sungut Farah kesal.
“Hish!”
Farah menatap Keenan dengan sorot mata yang sulit diartikan Keenan.
“Aaah, shibal!!” pekik Keenan terkejut saat Farah mencipratkan air tepat di wajahnya.
“Haha!” gelak Farah semakin menjadi menyemprotkan shower ke arah tubuh kekasihnya yang masih berpakaian lengkap.
“Honeeey!!”
Keenan terkekeh, dia menatap pakaiannya yang sudah basah sepenuhnya. Farah menunggu adegan selanjutnya dengan wajah penuh harap.
“Kau sungguh cabul Farah Lee!” umpat Keenan menanggalkan satu per satu pakaian yang melekat di tubuhnya.
“Kakak yang cabul! Terima ini… Hahaha…” Farah kembali menyemprotkan shower ke tubuh polos kakaknya.
“Aaarrh!! Hahaha…”
Keduanya tertawa bahagia saling melempar candaan dan berakhir saling menggosok tubuh mereka.
We're here through the rain to keep fight for our wildest dreams… Don't afraid there's no more lonely fears, no more tears… We will fly away, let show the world how beautiful we are!
[ Kita di sini melewati hujan untuk terus berjuang demi impian terliar kita. Jangan takut tidak ada lagi. Ketakutan akan kesepian, tidak ada lagi air mata. Kita akan terbang jauh, tunjukan pada dunia betapa indahnya kita! ]
“Farah…” lirih Keenan di belakang telinga gadisnya yang masih asik memainkan busa sabun mandi mereka.
“Hm?” Farah berbalik menatap kekasihnya dengan riang.
Cup~
Kedua bibir mereka bertaut, Farah terbelalak sedangkan Keenan menyeringai. “I love you my Farah Lee…”
Deg!
Look around you drive me home, I heard your voice in the wind… Your kisses stole all my words away…
[ Lihat sekelilingmu, kamu mengantarku pulang. Aku mendengar suaramu di angin, ciumanmu mencuri semua kata-kataku… ]
Farah kembali tersentuh dengan perlakuan kakak sepupunya. ‘Selalu seperti ini, selalu saja dipermainkan oleh takdir kita. Disaat aku ingin melepaskanmu, kamu datang memberiku rasa yang selalu menghanyutkanku!’
Keenan dan Farah telah selesai membersihkan diri, Farah bak putri raja yang dilayani oleh seorang dayang yang tak lain kekasihnya sendiri.
“Apa kamu ingin memakan sesuatu?” tanya Keenan setelah selesai mengeringkan rambut Farah dan menyisirnya perlahan. “Tante bilang kamu harus makan makanan bergizi!”
“Memangnya selama ini aku tidak melakukannya?” cicit Farah membuat Keenan menoyor kepalanya lemah.
__ADS_1
“Aaw!”
“Tidurlah, Tante juga bilang kamu harus bedrest… Itu artinya, jangan keluar dari ranjang!”
“Huh! Aku selalu menjadi pasien… Sungguh membabikan!”
“Jaga mulutmu!!” Keenan kembali menjentikkan jemari besarnya di kening Farah.
“Aarkk! Kasar banget sih!!”
Keenan terkekeh, dia mencium kening Farah mesra. “Maaf Sayang… Aku akan keluar mempersiapkan makananmu!”
Keenan bangkit dan meninggalkan Farah sendiri. Setelah pintu tertutup, Farah menghela nafas panjang. Ternyaa berakting baik-baik saja itu melelahkan. “Bagaimana aku bisa kabur setelah ini? Rencanaku gagal sepenuhnya, you’re loser Farah Lee!”
Keenan kembali mendorong trolly makanan yang sudah disiapkan Sam berikut obat-obatan untuknya.
“Kamu bilang apa?” Keenan sempat mendengar Farah bergumam sebelumnya.
“Ah, tidak… Aku hanya bilang… Bagaimana aku tanpa Kakak?!” Farah tersentak, lagi-lagi dia hampir ketahuan. ’Kecepatannya sungguh bagai vampire!’
“Sudah tahu tidak bisa tanpaku, kamu berani kabur dengan pria lain?!”
“Huh…” Farah tidak ingin berdebat dengan Keenan, begitu pula dengan prianya.
“Mau aku suapi?” Keenan sudah duduk di samping Farah. Dia sudah membawa semangkuk bubur tawar.
“Aku tidak mau!” Dengan tegas Farah menolaknya.
“Ck!” Sungguh, kesabaran Keenan itu setipis tissue two ply.
“Aku bukan bayi, aku juga bukan pasien rumah sakit. Tidak mau!!”
Keenan menegaskan kembali rahangnya. Mengurus satu biji Farah seberat mengurus sepuluh anak kecil rasanya. “Lalu maumu apa?”
“Cheeseburger!” Dengan semangat Farah mengatakan kudapan favoritnya.
“Dasar Degil!” rutuk Keenan mengetuk keningnya. “No junk food! Apa kamu tidak mengerti makanan sehat?”
Keenan memperhatikan gadisnya tanpa menyela.
“Lemak dari daging dan keju, sayuran dari selada, tomat, dan acar! Tidak hanya itu, mereka enak luar binasa!!” Farah kembali berujar berapi-api.
“Kamu belajar dimana selama ini? Kamu mempelajari aliran sesat!” kesal Keenan merogoh saku celana menghubungi asisten khususnya kembali.
“Belikan Cheeseburger untuk Farah. Besok, aku ingin KTech memiliki Mekdi tersendiri di pantry!”
Farah berbinar dengan wajah menggemaskannya.
“Puas?!!”
“Absolutely!!”
Keenan tersenyum bahagia hanya melihat betapa bahagiannya Farah dengan makanan kegemarannya itu. “Hm!”
Keenan menunjuk bibirnya meminta kompensasi atas tindakan manja Farah barusan.
Farah terkekeh, dia mendekat sebelum mencium kekasihnya dia berujar menggoda. “I love you to the moon and back. Even though I'm on the moon, I'm still waiting for you like Chang’e waiting for Hao Yi…”
[ Aku mencintaimu sampai kapanpun. Meski aku di bulan, aku tetap menunggumu seperti Chang’e menunggu Hao Yi… ]
“Kamu sedikit gila, tapi aku suka! Hehe...”
Keduanya kembali bertautan mesra, sampai mereka tertidur saling memeluk setelahnya.
Sam telah membawa beberapa pack burger pesanan tuannya. Dengan sedikit menekuk wajahnya Sam memasuki ruangan tuannya yang sepi.
“Tuan?”
__ADS_1
Dengan berani Sam membuka pintu ruang istirahat. “Ck, dia sungguh tidak berperikasihan sama gua!”
Sam tersenyum sejenak sebelum dia menutup kembali pintu ruangan tuannya. “Kalian berdua, adalah orang lain yang selalu aku doakan agar bisa bersama. Jika memang saling mencintai, tidak perlu saling menyakiti!"
“Baiklah, mungkin tidak masalah aku memakannya sebagian!” Sam membawa kembali pesanan tuannya.
Tak lama kedua temannya yang lain menghampirinya.
“Gue udah buang putra Luciano!” pekik Ken mendekat. “Anjay burger!” Tanpa basa-basi Ken mengambil satu. “Tumben lu jajan beginian banyak amat? Ngidam?!”
“Bangsat! Makan aja ribet jir!!” sungut Sam malas sebenarnya membalas si Kenny.
“Emang paling enak tuh makanan gratis, wey!” timpal Ben ikut serta memakan burger dengan suka cita.
Tuuut!
Sam menerima panggilan dari ruangan tuannya. “Kamu membeli burger ke Amerika?!!”
Semua orang langsung menjatuhkan burger yang ada di tangan mereka dengan perasaan mencelos.
“Bajingan Samuel!! Lu jebak kito rang… Gak beres emang otak lu yeee!!” Ken menoyor kepala Sam berkali-kali saking kesalnya.
“Aku bersiap dulu menulis surat wasiat dan hutangku!!” susul Ben yang semakin kesini semakin kesana.
***
Kediaman besar Lucifer.
"Papa!"
Tuan Lucifer terkejut saat tuan Besar Akeno yang tak lain tetua Luciano telah berada di kediaman putranya saat ini.
"Kamu kaget begitu lihat Papa kayak lihat hantu…” sungut tuan besar kesal. “Mana Axcel? Papa rindu cucuku!!" Tuan besar Akeno menyelidiki setiap sudut ruangan berharap bisa menangkap siluet cucu kesayangannya.
"Anak itu mana pernah pulang kemari, Pa!" sahut tuan Lucifer.
"Loh kenapa?" Tuan Akeno terlihat kebingungan.
Tak lama anak buah tuan Lucifer menghampirinya dengan tergesa. “Maaf Tuan Besar, Tuan Lucifer!”
“Kenapa?”
“Baru saja saya menerima panggilan dari rumah sakit X!”
Deg!
“Ada apa?!! Cepat katakaaan!!” pekik tuan Lucifer mendadak tidak enak perasaan.
“Kita mendapat kabar Tuan Muda Axcel mengalami kecelakaan, kondisinya kritis!”
“Apa?!!”
Dengan cepat tuan besar dan putranya berlari keluar ruangan memastikan kabar yang diterima anak buahnya.
Tuan Lucifer sendiri yang mengendarai kendaraannya, dia sudah mendapatkan foto dan detail kondisi Axcel dari mulai ditemukan sampai sekarang setelah ditangani tim medis. “Bocah itu sangat tahu berkendaraan, dia tidak mungkin terlibat kecelakaan! Apalagi membawa mobil kesayangannya. Ini tidak mungkin!!”
Tuan Akeno merasakan firasat tidak enak, dia menatap foto kecelakaan itu lekat. "Ini bukan kecelakaan, dia dicelakai!"
“Siapa yang berani berurusan dengan Luciano Group?” timpal tuan Akeno membuat tuan Lucifer berbalik menatap ayahnya.
“Ehm, aku tidak pasti… Tapi, beberapa hari yang lalu Axcel terlibat rumor dengan Klan Kaviandra!”
“Mr. K? Heh… Dia sungguh berani menyentuh wilayahku!”
“Pah, lebih baik kita tidak terlalu terburu-buru menyimpulkan… Belum tentu juga mereka! Axcel digosipkan memiliki hubungan dengan anak angkat Kaviandra, mereka satu kampus! Tidak mungkin karena hal itu, bukan?” Tuan Lucifer tampak gelisah. Dia tahu dengan jelas siapa ayahnya!
“Aku tidak peduli pada masalah mereka, aku hanya ingin mengingatkan Mr. K, siapa penerus Klan Naga!!”
__ADS_1
--- To be continue ---
Credit of song : Beautiful We Are Song by Alffy Rev ft Hanin Dhiya