
Sudah lebih dari waktu yang di tentukan Sam tapi Keenan belum juga menampakan dirinya di permukaan. Di tengah kegelisahan hati semua orang yang menunggu tuannya menyelesaikan misi terakhir, mereka justru tengah di kejutkan dengan bunyi ledakan.
DUUUAAARR!
"KAKAAAAAAK!!" pekik Farah dengan debar jantung yang tidak beraturan, dia kembali menangis histeris saat ini.
Di bawah sana Keenan yang membawa kontainer dengan shields-nya tentu tidak akan mengakibatkan ledakan. Sialnya ada salah satu speedboat lainnya yang lepas dari pengawasan Sam dan team membuat detektor kembali aktif dan meledak sebelum waktunya.
Tubuh Keenan yang sudah di kendalikan EYES sepenuhnya tentu saja memikirkan keselamatan Keenan di banding membawa kembali kontainer ke dasar, EYES mengaktifkan kode pengamanan menutup seluruh tubuh Keenan dengan shields dan meluncurkan tubuhnya kepermukaan.
Sam dan seluruh anak buah lainnya terkejut dan ketakutan dalam waktu bersamaan.
"APA YANG KAMU LAKUKAN KEENAN?!! KELUAR DARI SANA SEKARANG JUGAA!!" pekik Sam lewat EYES nya.
"HALO?! KEENAAAAAN!!"
Sam baru menyadari bahwa Keenan memutus kontak mereka. Sam mengepalkan kedua tangan dengan eratnya. Rasanya esofagusnya tengah di jejal bola es besar yang memenuhi seluruh bagian tenggorokannya. Selain sesak dia juga tidak bisa lagi mengatakan apapun. Tak terasa air matanya jatuh, rasanya sulit di percaya mereka akan mengalami hari ini!
Byuuur!
Sam tersadar seketika saat dia mendengan bunyi sesuatu yang terjatuh ke dalam air.
"FARAAAAAAH!" jerit Sam berlari ke arah dimana sebelumnya Farah berdiri.
"MENGAPA KALIAN TIDAK MENCEGAHNYA!" cerca Sam pada anak buah lainnya.
Sam bersiap menyusul Farah namun dia tidak menduga bahwa akan ada ledakan susulan yang jauh lebih dahsyat. Ledakan itu memicu gelombang besar dan menghempaskan speedboat yang di tumpangi Sam beberapa mil jauhnya.
DDDUUUUUAAAARRR!!
Farah menceburkan dirinya tentu saja untuk menyelamatkan prianya yang masih berada di bawah sana. Hal yang ada di pikiran Farah saat ini adalah jika tidak bisa hidup bersama, maka dia lebih memilih untuk mati bersama. Farah berusaha keras mencari keberadaan prianya sampai ledakan kedua menghempaskan tubuhnya membuatnya tidak sadarkan diri saat ini juga.
Flashback Farah beberapa tahun kebelakang...
"Heh Degil come on!" Karen menarik tangan Farah yang tengah terduduk di ruang santai. "Hari ini Kakak pulang..." sahutnya kemudian membuat raut wajah Farah merona seketika.
"Kakak melakukan perjalanan bisnis di Eropa, dia pasti kedinginan selama di sana!" Karen mengeluarkan cricket dari saku celananya. "Kita hangatkan dulu tangan kita seperti ini..." Karen mengajari Farah sesuatu yang akan mereka lakukan pada Keenan seperti biasanya saat pria itu pulang dari perjalanan bisnisnya mereka akan menyambutnya dengan antusias.
Dengan menggunakan cricket keduanya menghangatkan tangan mereka, sampai suara husky pria yang paling di tunggu saat ini terdengar di telinga mereka. "Aku pulaaang!"
"Kakaaaak!" Seperti biasa, dengan cepat Karen selalu lebih dulu menghampiri kakaknya.
__ADS_1
Karen menghambur menyambut Keenan, tak lupa dia menempelkan kedua tangan di wajah Keenan.
"Apa ini cukup hangat?" tanya Karen membuat Keenan tersenyum tersentuh dengan perhatian adiknya.
"Ya!" Keenan mengacak rambut Karen seperti biasa.
Tiba giliran Farah, gadis itu berdebar luar biasa. Saat ini dia bukan lagi gadis kecil yang bisanya merengek dan bertingkah di depan kakak angkatnya. Farah sudah mulai beranjak dewasa, perasaan sukanya sudah tidak bisa lagi dia sembunyikan rasanya.
Farah gelisah mendekat dan berharap bisa melakukan hal serupa seperti yang Karen lakukan sebelumnya. Keenan menatap Farah sejenak, keduanya bertatapan langsung dalam beberapa saat, tak lama Keenan justru menghindar dan melewati Farah begitu saja.
DEG!
Farah terhenti, perasaannya sakit melihat Keenan mengabaikannya kali ini. Karen menyadarinya dan berencana menanyakan pada kakaknya. Dia begitu bimbang, Farah sendiri kembali menuju kamarnya dengan berlari kecil tidak biasanya. Tanpa Karen ketahui gadis itu sudah menjatuhkan air matanya.
"Hiiish!! Ada apa dengan Kakak? Tidak biasanya dia melewatkan Farah..." geram Karen berencana mengejar adik angkat kesayangannya.
Di dalam kamar Farah menangis sejadi-jadinya, Karen berusaha untuk menenangkannya namun Farah mengusir halus Karen. Dia membual tentang keadaannya yang mengatakan tengah sembelit. Akhirnya Karen menyerah berbalik memaki kakaknya.
"Apa aku berbuat salah pada Kakak? Huhu..." tangis Farah kembali pecah. "Apa Kakak membenciku sekarang? Dia tidak mau lagi menyapaku! Huhu..." Farah membenamkan dirinya dalam tumpukan bantal dan menangis kencang, berharap tidak ada yang mengetahui dirinya tengah menangis saat ini.
Ceklek!
Keenan memasuki kamar adik angkatnya dengan perlahan, terlihat Farah tengah tertidur saking lelahnya menangis sepanjang malam.
Cup~
Keenan mencium kening Farah perlahan dan lembut dia juga bersimpuh di bawah ranjang menggenggam erat jemari Farah. "Kamu tumbuh begitu cepat, kamu menepati janjimu menjadi gadis cantik yang pintar, dan aku benci mengakuinya bahwa aku terpesona olehmu!"
"Bukan maksudku mengabaikanmu... Hanya saja─" Keenan tercekat, dia sungguh kesulitan.
"Akan sangat berbahaya jika kamu berada di dekatku. Aku juga tidak pantas untukmu Baby..." Keenan membenamkan wajahnya tetap menggenggam tangan adik angkat yang di cintainya.
"Tanganku berlumur darah, aku penuh dengan dosa. Bahkan Paman Lee tewas di tanganku..." Keenan menjatuhkan air matanya, penyesalan itu terus menggerogoti hatinya.
"Kamu berhak bahagia dengan pria yang benar-benar bisa mencintaimu dan lebih baik dariku."
Keenan bangkit dan mencium bibir Farah sekilas. "Ingat janjiku Baby, selamanya kamu akan menjadi gadisku, Si Degilku, My Farah Lee... I love you Baby... Kau lebih cantik dari snow white kesukaanmu!"
Flashback Off...
Tubuh Keenan mengapung terombang ambing di bawa gelombang. Sinyal SOS telah terkirim pada anak buahnya. Keenan sepenuhnya tidak sadarkan diri. Namun di alam bawah sadarnya Keenan tengah kembali merefleksikan panel memory masa lalunya.
__ADS_1
Flashback Keenan...
DOOOORRR!!
"PAPAAAAA!! PAPAAA BANGUUNN... JANGAN TINGGALKAN FARAAH"
"PAPAAAA!"
"AAARRGHH!!"
Keenan terbangun dari mimpi buruknya, nafasnya tersenggal bahkan tubuhnya telah basah di penuhi keringat dinginnya. Dia mengusap wajahnya kasar dan bangkit segera, dia berencana memasuki kamar gadis kecilnya.
Dia begitu mudah memasuki kamar Farah selain ini tengah malam, dia juga memiliki akses seluruh ruangan di kediaman. Pria itu kembali mendekat menatap wajah teduh gadisnya yang tertidur lelap. Tubuh Keenan merosot, dia terduduk bersandar di bawah ranjang Farah. Keenan juga sudah menjatuhkan air matanya.
"Maafkan aku Farah... Aku sudah merenggut nyawa salah satu anggota keluargamu..." lirihnya membenamkan kepala di lututnya. "Aku bersumpah, aku akan membalaskan dendam keluarga Lee. Karena mereka aku salah menembak... Aku berjanji... Maafkan akuu.."
Keenan berbalik kembali menatap wajah cantik Farah yang sudah mencuri perhatian hatinya. Keenan tertidur di lantai dengan kepala bersandar di samping tubuh Farah. Tangannya pun tak lepas dari menggenggam jemari lentik Farah. Keenan akan selalu seperti ini, setiap kali mimpi buruk itu menyapanya dia akan mencari Farah untuk menenangkan dirinya. Hanya saja, biasanya gadis itu tidak akan menyadarinya sampai waktunya dia terbangun Keenan sudah lebih dulu pergi dari kamarnya.
Tapi tidak kali ini, Farah tiba-tiba terbangun. Dia terkejut saat mengetahui pria yang di cintainya menggenggam erat tangannya.
"Aku bersumpah, tidak akan ada orang yang berani menyentuh dan menyakitimu Farah... Kamu adalah gadisku!"
DEG!!
Farah terpaku, saat mendengar Keenan yang tengah mengigau saat ini. Dia tidak percaya apa yang di dengarnya, jika itu mimpi dia yakin ini mimpi paling indah.
"Kak..." lirih Farah menggapai wajah Keenan yang masih tertidur lelap dengan posisinya.
"Mengapa Kakak tidur di lantai?" bisik Farah meneteskan air matanya.
Tanpa menjawab Keenan justru menggenggam erat jemari Farah. Dari tempatnya Farah bisa mendengar dengkuran halus dari mulut prianya.
"Heh..." Farah terkekeh pilu. "Kak, aku sudah menepati janjiku bukan? Aku sudah tumbuh seperti yang kakak inginkan..." tutur Farah sendu.
"Jangan pernah berpikir untuk mengingkari janjimu Keenan! Karena aku akan menagihnya suatu saat nanti... Kelak aku akan memaksamu membayar seluruh janjimu seumur hidupmu menjadikan aku satu-satunya gadis kesayanganmu!" Farah menjatuhkan kepalanya di atas kepala prianya tanpa menyakitinya.
"Kakak harus tahu bahwa mimpi dan cita-citaku tidak akan pernah berubah. Aku hanya ingin menjadi istrimu... Menghabiskan hidupku mengabdi padamu seumur hidupku..." Air mata terus mengalir dari kedua netra Farah.
"Kita sudah sama-sama berjanji, aku yakin Tuhan akan melakukan tugasnya kelak menyatukan kita tanpa ada hambatan!"
"I believe it..."
__ADS_1
Flashback off...
---To be continued---