Gadis Kecil Milik Mr. Mafia

Gadis Kecil Milik Mr. Mafia
EPS 81 # Painful


__ADS_3

Farah sudah berada di ruangan yang selama ini menaunginya. Sam bangkit dan bersiap menyampaikan titah tuannya. "Nona, anda disuruh untuk menghadap Tuan!"


"Oh ya? Apa aku akan mendapatkan pekerjaanku?" tanya Farah dengan mendelik.


"Hehe..." Sam hanya bisa terkekeh dengan menggaruk pelipisnya yang tidak gatal. "Bisa jadi Nona!"


"Ow, baiklah..." Farah segera bergegas menuju ruang presdir dibantu Sam yang membukakan pintu untuknya. 'Mataku sungguh terbuka lebar, aku yang karyawan magang tapi bawahan Kakak ini masih memperlakukanku seperti atasannya, hehe...'


"Permisi Tuan, apa ada yang perlu aku banting? Eh bukan bantu maksudnya!" Farah sudah mulai tidak tahu diri kembali. Keenan menatap kearah suara dengan tatapan tidak sukanya.


Farah mendadak menelan ludah, Sam kembali undur diri dan menutup pintu segera. Ingin rasanya Farah kembali mundur dan melarikan diri, tatapan kekasihnya sungguh mengisyaratkan tanda bahaya.


"Kamu terlambat satu menit tiga puluh dua detik!" Keenan berujar dingin dan kembali menatap berkasnya tanpa memperhatikan Farah. "Kau pikir ini perusahaan nenek moyangmu, hm?!" Keenan menghentikan aktivitasnya dan kembali menatap nyalang si gadis yang kini berubah diam.


"Ehm, bukan milik Nenek Moyang sih, tapi milik kekasihku, apa itu termasuk dalam hitungan suka-suka aku?" Farah tidak ingin kalah, dia segera mendapatkan jawaban setelah memutar otaknya agar lebih berguna saat ini. "Lagi pula, sudah hampir sepekan aku jobless dan mengalami makan gaji buta, sungguh tidak mudah menjadi aku..."


"Pppfftt!" Keenan menunduk menyembunyikan tawanya. Gadisnya memang tengil, tidak pernah dalam satu hari pun Farah kehilangan ide meruntuhkan pertahanan lawan seperti dirinya.


"Apa kamu berniat menggoda? Karena aturan mainnya, menggoda Presdir di jam kerja dikenakan hukuman!" Keena juga tidak ingin kalah, dia menyeringai mengejek adik tengilnya.


"Hah?" Farah mengerutkan kening dengan perkataan Keenan yang belum bisa dicerna otak mininya.


"Haish, kamu sungguh membuang waktuku! Lompat katak seratus kali sekarang juga!!" Keenan memekik membuat tubuh Farah terlonjak terkejut.


"How come?" hardik Farah masih kebingungan.


"Now!" Keenan kembali membentak dan menatap tajam ke arah Farah yang kebetulan menatapnya dengan wajah yang polos. "Lompat katak sekarang atau aku gagahi sekarang!"


"What the fu-ck!!" sungut Farah segera setelah mendengar kata sarkas Keenan yang tidak enak di gendang telinganya.


"Membela diri dan mengumpat di tambah lima puluh lompatan!" Keenan kembali mengatakan dengan dingin dan membuka berkas pekerjaan di depan matanya.


"Aarrghhh, shibaaal!!"


"Satu..."


"Dua..."


"Aaarghh iyaaa!!"


Farah segera melompat setelah Keenan melakukan hitungan maju agar Farah menyelesaikan hukumannya saat ini juga.


Tap! Tap! Tap!


Farah terus melompat dan menghitung sendiri jumlah lompatan yang sudah ia lalui. Keenan mengembangkan senyuman dan menggelengkan kepalanya. Rasanya sungguh menyenangkan bisa mengerjai gadis tengil yang mulai menguasai hati dan pikirannya.


Tap!


"Lima puluuuh!!" Farah menghentikan lompatannya, dia terengah menggenggam kedua lututnya yang sudah bergetar tidak sanggup rasanya. Dadanya juga ikut sesak, peluhnya mulai membasahi tidak hanya wajahnya, bahkan punggungnya sudah terasa lengket.


Keenan menyadari Farah menghentikan hukumannya. Awalnya Keenan ingin kembali memaki. Namun, melihat raut wajah Farah yang memucat sontak Keenan menegang. "Enough!"


Farah berbalik menatap Keenan dengan wajah tidak sukanya, Keenan mengulumkan senyuman melihat respon kekasihnya. "Come here!"


Terdengar helaan nafas berat dari mulut mungil Farah, dia bangkit dan menyeka keringat di dahinya. "Apa lagi?!"


Farah mencoba bergegas mendekati kekasihnya, hanya saja kepalanya tiba-tiba merasa seolah berputar cepat. 'What's wrong?'


"Baby?" Keenan menyadari ada yang tidak beres dengan gadisnya, dia bangkit segera mendekati Farah.


Beruntung Keenan segera mendatanginya, karena sedetik kemudian tubuh Farah limbung dan hampir terjatuh. Keenan menopang tubuh Farah segera. "Are you okay?"

__ADS_1


"Tentu saja tidaaak!!" pekik Farah kesal, disaat kepalanya berputar emosinya juga ikut terasa tidak karuan, seperti ingin meledak.


"Sorry..." Keenan memapah Farah dan segera duduk di sofa tengah ruangan. Keenan menyeka keringat dingin di dahi Farah. Gadis itu semakin terlihat pucat, Farah membuka matanya lebar saat merasa ingin kembali memuntahkan seluruh isi di dalam perutnya.


Farah bangkit menghardik rangkulan tangan kekasihnya, gegas dia menuju toilet yang ada di ruang entertain. Keenan kembali seperti diserang perasaan yang tidak tahu apa namanya.


"Hoek... Hoek..."


Keenan bisa mendengar dengan jelas Farah sedang memuntahkan isi dalam perutnya, suara itu begitu nyaring bahkan seperti tengah meremas kencang jantung Keenan. Pria itu bangkit perlahan, dia mencoba menepis rasa khawatir berlebihannya.


Keenan membuka pintu dan melihat gadisnya tengah bersimpuh di depan toilet dalam keadaan paling lemah. Hati Keenan begitu nyeri melihat semuanya, terlebih dia tidak ingin apa yang ditakutinya terjadi. Keenan mendekat mengusap lembut punggung dan tengkuk leher Farah.


"Kak..." Farah terkejut dan mendongak segera.


"Aku akan menyuruh Sam memanggil Tante Vero..."


"Aku..."


Keenan membantu Farah bangkit setelahnya membantu Farah duduk di atas ranjang. Pria itu juga kembali menuju nakas dan menyerahkan gelas yang sudah diisi dengan air mineral untuk gadisnya. Farah menerimanya dengan tangan bergetar, Keenan duduk dan membantu gadis itu memegang kendali sebelum Farah menjatuhkan gelasnya.


"Apa perutmu masih sakit?" tanya Keenan setelah melihat keadaan Farah yang mulai tenang.


"Hmm..." Dengan ragu Farah menjawab menganggukkan kepalanya. Tangannya juga melingkar menekan perutnya yang terasa begitu perih dan teramat sangat mual saat ini.


Keenan kembali bersikap hangat dan lembut, pria itu tidak lagi banyak berkata. Dia membantu Farah memijat bagian tubuh Farah yang dikatakan gadisnya tengah merasa tidak nyaman. Farah bisa jelas melihat sorot mata Keenan yang seolah tengah berpikir keras.


"Apa kamu sudah mendapatkan menstruasimu?"


Farah menelan saliva, Keenan memecah kesunyian dengan pertanyaan horornya. Tanpa Farah sadari, genggaman tangannya melonggar membuat gelas yang ia genggam jatuh begitu saja.


Praaang!


"Aarrghh!" jemari Farah terluka mengenai pecahan kaca.


Keenan terpaku sejenak, kemudian menarik tubuh Farah kesemula. "Biarkan Sam yang mengurusnya!"


Farah mengatupkan bibir, raut wajahnya jelas terlihat ketakutan saat ini. Keenan menarik jemari tangan yang terluka. Dia menyesapnya membuat Farah sedikit meringis perih. "Sweet like you, Baby!"


Ucapan lirik Keenan terasa begitu menghujam jantung Farah, prianya memang terlihat seperti pria psikopat yang begitu menyukai darah. Tubuh Farah semakin bergetar hebat karena takut akan sikap kekasihnya yang seperti terlihat bukan Keenan.


"Jangan alihkan pembicaraan kita, Baby!" Keenan mendekat dan kembali berujar menekan. "Apa kamu melewatkan meminum obat kontrasepsimu, hm?" Keenan mengendus leher Farah perlahan, gadis itu semakin dibuat ketakutan luar biasa. Keenan menyentuh permukaan kulit leher Farah dengan ujung lidahnya. Farah merintih, dia tidak fokus. Namun, rasa takutnya cukup membuat dia segera tersadar.


"Aku selalu meminumnya Kak!"


"Jangan menipuku!!"


"Aku tidak menipumu, aku hanya terlambat makan!"


Untuk pertama kalinya juga Farah mencoba mempertahankan pendapatnya. Dia tidak ingin membuat suasana mereka semakin tidak nyaman saat ini. "Percayalah padaku, lagipula selama sepekan ini Kakak tidak ada dirumah. Aku bahkan pulang ke kediaman besar."


Keenan bangkit, rasanya dia ingin memukul sesuatu atau membunuh seseorang. "Aku tidak ingin menyakitimu Farah Lee... Ingat, aku tidak ingin ada bayi diantara kita. Jangan mencoba peruntungan dengan menghadirkannya. Jika tidak, aku tidak segan membunuhnya saat ini juga!"


Deg!


Jatuh sudah air mata Farah yang tidak bisa ia tahan. Perkataan Keenan sungguh seperti bukan seorang manusia yang memiliki perasaan. Keenan memang manusia yang sepertinya saat penciptaannya, naluri kemanusiaannya terlupakan oleh Tuhan.


"Tante Vero akan memeriksamu, disaat dia mengatakan kemungkinan yang terjadi. Ingat, aku tidak akan segan melakukan apapun. Kamu paham?" Keenan mencengkram wajah Farah kasar, kemudian melepaskannya dengan tak kalah kasar.


Braaak!


Keenan menutup pintu dengan begitu kencang, hati Farah sudah terpecah belah bagai kaca. Nasi sudah menjadi bubur, niat awal begitu gigih memperjuangkan perasaannya. Kini, sirna karena kemungkinan terbesarnya dia benar-benar tengah mengandung benih kekasihnya. 'Bagaimana bisa, aku sudah meminumnya! Huhu... Ibuuu... Aku ingin pulang saja...'

__ADS_1


"Aaaaarrrghh!!"


Di luar ruangan, Keenan menjerit kencang. Dia juga membanting apapun yang ada di depan matanya. Setelah merasa cukup puas, dia menghubungi Sam. Asisten pribadinya itu bukan tidak tahu akan kondisi barusan, hanya saja... Sam jauh lebih memahami sifat tuannya.


"Ada yang bisa saya bantu Tuan?" Sam mendatangi tuannya setelah Keenan memanggilnya.


"Panggilkan Dokter Vero!"


"Baik Tuan, ada hal lainnya?"


"Kamu sudah membelikan testpacknya?"


Sam tersentak, dia tidak menyangka Keenan kembali bertanya pasal alat test kehamilan tersebut, itu artinya...


"Sudah, tapi... Saya menaruh di dashboard mobil. Apa anda membutuhkannya sekarang?"


"Ya, bawakan secepatnya!! Aku bisa gila dengan kecemasan tidak jelas ini!!"


Keenan berkacak pinggang, dia begitu gelisah teramat sangat gelisah saat ini. Farah tengah menguping pembicaraan Keenan dan asistennya. Sekuat tenaga Farah menutup mulut agar suara tangisnya tidak keluar dan menyadarkan Keenan.


Tak mau kehilangan, tapi lelah berjuang... Bukankah rumah tempatku bersandar, sendiri ku tak bisa, bersama kutersiksa, ini kenyataannya kita tak baik saja...


Farah kembali bangkit dan menyeka air mata yang membasahi wajahnya. Dia berusaha tegar, dia harus memikirkan caranya agar hasilnya tidak diketahui oleh Keenan dan yang lainnya. 'Dia tidak menginginkannya, tapi aku ingin... Ini buah cinta kami... Dia sungguh tidak memiliki hati!!'


Sakit... Tak sanggup... Sadarkah kita terlalu hancur, hilang habis tak bersisa... Tapi tak mampu kumenyerah... Tertawan hati... Kita terlalu hancur, hilang habis tak bersisa, tapi tak mampu kumenyerah...


***


Dokter sudah berada di ruangan, tante Vero sapaan akrab wanita yang masih terlihat awet muda itu sudah selesai memeriksa tubuh Farah. "Oke sudah selesai..."


Tante Vero menaruh kembali stetoskop-nya, dia telah selesai memeriksa tubuh Farah. Dengan raut wajah gelisah dan tubuh yang sedikit bergetar Farah hanya bisa terdiam.


"Apa ada yang ingin kamu ceritakan? Sudah sangat lama..." Tante Vero menjeda kalimatnya, dia seperti mengerti apa yang terjadi dengan anak angkat kakaknya. "Terakhir Tante berkunjung saat kamu masih mempersiapkan diri memasuki Universitas..."


"Kamu sudah berubah banyak... Bahkan, terlalu cantik..." Tante Vero menggoda Farah. Gadis itu menunduk dan terkekeh perlahan.


"Kamu banyak pikiran, jika kamu ingin menceritakannya. Tante dengan senang hati mendengarkan... Siapa tahu Tante bisa membantu masalahmu..."


Selama pemeriksaan Keenan memang dilarang untuk mengganggu tantenya itu, selain demi kenyamanan, tantenya itu juga ingin memastikan satu hal. Farah tetap diam tidak menunjukan ingin mengeluarkan suaranya yang biasanya akan terus bercicit menggemaskan seperti yang sudah lalu.


"Jujur pada Tante, apa hubungan kamu dan Keenan benar-benar sudah sejauh itu?"


Tumpah sudah air mata Farah saat tante Vero kembali mendesaknya. Bagi Keenan waktu adalah uang, wanita itu harus memanfaatkan sebaik-baiknya kesempatan yang jarang ini. "Tante ingin membantumu, kita sangat tahu sifat Keenan bukan? Jangan takut..."


"Aku mencintainya..." Hanya itu yang mampu keluar dari mulut Farah. "Akan aku lakukan segalanya untuk membuat Kakak menjadi milikku!" Terlihat raut wajah kusut Farah di depan netra dokter pribadi kediaman Kaviandra.


Tante Vero terdiam sejenak, dia menghapus bulir bening yang jatuh di wajah cantik gadis kecil mereka. "Tante tahu... Tapi, apa kamu tahu resiko yang akan kamu terima?"


"Iya... Aku menerimanya... Sekalipun menjadi simpanannya, aku sudah sangat bahagia!"


"Faraaah!!" Tante Vero tidak menyukai tanggapan putri angkat keluarga Kaviandra. "Kamu jangan berpikir sempit dengan mengatakan Keenan hanya akan menjadikan kamu simpanannya."


"Aku..." Farah kembali terisak pilu, dipeluknya tubuh ringkih gadis kesayangan oleh tantenya. "Aku sudah mengecewakan Paman dan Bibi, juga Karen... Huhu..."


"Hehe, kamu ini lucu... Kamu adalah kesayangan mereka... Tidak mungkin mereka menyalahkanmu..."


"Tante, apapun yang Tante ketahui tentang aku, boleh aku meminta bantuan Tante..."


"Ya, Tante mengerti..."


--- To be continue ---

__ADS_1


__ADS_2