
Keenan menundukan wajahnya, dia sudah selesai memporak-porandakan ruangannya seperti kapal karam. Dia terduduk lemas bersandar pada dinding pemisah antara ruangan kekasihnya dan dirinya saat ini. Sam paling tahu apa yang harus dilakukan dalam memperlakukan tuannya, bahkan di saat seperti ini.
"Saya bantu, Tuan!" Sam menjulurkan tangannya bersimpuh di depan Keenan.
"Bawa peralatan pengobatan Farah, aku akan mengobati lukanya sekarang!" Keenan menyambut juluran tangan rekannya dan kembali bangkit seolah keributan sebelumnya tidak pernah terjadi.
"Baik Tuan!"
Sam menyingkir dan kembali mendorong trolly yang berisi apa-apa saja yang dibutuhkan tuannya untuk mengobati kekasih kecilnya. Dengan tampilan acak-acakannya Keenan memasuki kamar, dia begitu kesal saat melihat Farah masih bersimpuh di lantai memeluk tubuhnya sendiri.
"Apa kamu tidak bisa memakai pakaian sendiri, hah?"
Farah mendongak, dia menatap penuh kebingungan ke arah kedatangan prianya. "Kakak sedang pms kah? Marah aja kerjanya!"
Keenan terkekeh sejenak, hanya Farah yang mampu men-switch moodnya."Sini Sayang, aku akan mengobati lukamu!" Keenan menjulurkan tangan dan memapah Farah lembut duduk di atas ranjang.
"Apa aku sampai perlu diinfus?" Farah mulai menyadari, Keenan tidak hanya membawa obat oles untuk memarnya. Pria itu sudah cosplay menjadi perawat rumah sakit rasanya. Farah mulai gelisah, jika dia bisa bertahan terluka oleh prianya. Tapi, tidak dengan jarum suntik di depan matanya.
"Lihat tubuhmu yang lemah seperti seonggok daging tanpa tulang!"
Ingin rasanya Farah menjatuhkan pria di hadapannya dari ketinggian merek saat ini. Keenan terkekeh dengan respon Farah sekarang. "Ini adalah cara paling cepat agar kamu kembali seperti semula. Luka organ bagian dalammu juga perlu pengobatan khusus!"
"Aku baik-baik saja!" Secepatnya Farah menghindar, dia bertingkah layaknya popaye yang menunjukan otot lengannya.
"Hahaha!" Keenan menggelengkan kepala gemas, dengan telaten pria itu mengoleskan salep di beberapa tempat di tubuh Farah yang lebam. Melakukan pengobatan pada Farah sekarang sama seperti tengah berlatih menahan tenaga dalam dan mengontrol energi chi-nya. "Selesai!"
Farah terkesima sejenak, dia melahap habis tampilan sempurna kekasihnya. Farah melengkungkan senyuman, gilirannya mengambil kapas juga obat luka luar, perlahan tanpa Keenan sadari gadis itu mengoleskan obat luka di beberapa bagian leher Keenan yang terkena benda tajam.
"Sayang..." panggil Keenan lirih.
"Hm?" Farah mendongak menunjukkan senyuman terbaiknya, Keenan menelan salivanya. Dia kembali tidak bisa berkata-kata. Tanpa Farah sadari, Keenan akan bersikap seperti pengecut di hadapannya.
Keenan berbalik bersiap menancapkan selang infus. Farah segera beringsut mundur. "Can we skip to the good cheeeck!"
Keenan kembali terbahak melihat gadis kecilnya yang benar-benar terlihat seperti anak kecil. Dia semakin senang menggoda gadisnya menunjukan jarum suntik di depan wajah Farah.
"Kakak kan bukan perawat? Salah suntik kelar hidup akuuu~"
"Hahaha, apa yang tidak bisa aku lakukan Sayang?"
"Aaarrrrghhh!"
Farah sudah menjerit padahal Keenan belum melakukan apapun. "Lihat ada uang!" tukas Keenan mengalihkan pandangan Farah.
"Manaaa?!"
"Pppffft!"
"Aaarghhh... Kakaaak menipuuu!"
Keenan kembali terkekeh, proses injeksi telah selesai. Farah meringis dengan wajah menakutkannya. "Seumur hidup aku tidak pernah kena jarum infus. Huaaa... Kekuatan ranger pink ku sirnaaa... Huaaa..."
__ADS_1
"Hahahaha~"
Keenan tidak tahan tidak terbahak dengan ekspresi Farah yang sungguh membuatnya senang bukan kepalang. "Sudah selesai, Baby!"
Keenan mengusap lembut kepala kekasihnya, dia juga mengecup perlahan kening Farah. "Kamu sekarang istirahat ya..."
Farah tidak mau berkata apapun, tubuhnya kaku. Dia begitu takut saat menggerakkan tangannya jarumnya akan ikut berpindah.
"Hahaha, tanganmu masih berfungsi!" Keenan menyadari apa yang jadi masalah Farah saat ini. "Kamu boleh menggerakkannya sesuka hatimu..."
Farah tetap tidak ingin menjawab, bibirnya sudah seperti bebek dengan wajah ditekuknya. Keenan menciumnya perlahan membuat Farah tertegun. Bukan Keenan tidak tahu bahwa gadisnya begitu takut dengan dunia medis. "Apa Kakak akan meninggalkanku?"
"Tidak..."
Farah menjatuhkan kepalanya di dada bidang kekasihnya. "Kakak janji tidak akan pernah meninggalkanku?"
"Aku berjanji Sayang, aku akan selalu ada disini. Menjagamu..."
Farah menutupkan matanya dengan tenang, setelahnya dengkuran harus bisa di dengar oleh Keenan. Pria itu berusaha membenarkan posisi mereka. Dia memeluk erat gadisnya. "Maafkan aku Farah... Asal kamu tahu, aku sangat mencintaimu... Sangat!"
"Tapi... Disampingku, kamu akan terus terluka..."
Keenan menjatuhkan air matanya, dia tidak menyangka kutukan Farah berhasil dalam waktu sesingkat itu.
***
Axcel tidak peduli, dia sudah menyampaikan apa yang jadi keinginannya. Selebihnya dia kembali tidak peduli, dia hanya akan mengantarkan Arneth menuju kediaman. Setelah itu dia kembali menuju mansionnya. Sudah hampir dua tahun Axcel memang memilih tinggal di mansion miliknya di banding kediaman besarnya. Apalagi saat papanya terus mendorong dan memaksakan dirinya untuk menerima perjodohan yang berbalut kerja sama bisnis. Sungguh konyol dalam benaknya jika dia menerima pernikahan hanya atas dasar membesarkan bisnis keluarganya tanpa memikirkan perasaannya.
"Turun!" Axcel segera memberi perintah pada tunangannya setelah mobilnya terparkir di area enterence rumahnya.
"Aku masih tidak bertenaga!" Arneth merengek berharap Axcel kembali menggendongnya.
"Aku tidak peduli! Keluar sekarang juga atau aku seret kamu dengan paksa!" Axcel kembali menunjukkan keangkuhannya.
"Huh!" Arneth mendengus tidak percaya prianya benar-benar sulit di taklukkan. Dengan lesu gadis itu membuka pintu mobil kesayangan tunangannya. Axcel tiba-tiba menyesal membantu Arnetha, seharusnya hanya Farah yang boleh duduk di kursi yang kini diduduki Arnetha.
Bruuk!
Axcel terkejut, bagaimana bisa Arneth kembali terjatuh tanpa disadari olehnya. "Apa kamu dungu!"
Axcel merutuk sarkas pada tingkah gadis yang terlihat memiliki ribuat taktik untuk mendapatkan perhian seorang Axcel Luciano. Arnetha meringis kesakitan, dia tidak menyangka bahwa dia bisa tersandung dan terjerembab tepat saat dia menurunkan kakinya.
"Aaarh..." rintih Arneth menyapu tangannya yang terluka.
"Hiiisshh!" Axcel kesal, dia segera turun dan membantu Arnetha.
Tanpa diminta dan tanpa pikir panjang Axcel menggendong Arneth ala bridal. Sontak gadis itu terpaku dengan jarak tubuhnya dengan tubuh Axcel yang tidak memiliki halangan apapun lagi. 'Oh my goodness! Aku tahu dia sangat tampan dan wanginya sungguh menggoda! Pantas saja Farah Lee yang tidak tahu diri itu masih menempel pada tunanganku!'
"Thanks..." Arneth mendongak menunjukkan rasa terima kasihnya.
__ADS_1
Axcel menghentikan langkah tepat di ambang pintu masuk, seluruh maid sudah menyambut kedatangannya. Pria itu tengah mempersiapkan rutukan dengan kalimat kasarnya. Sialnya, Arneth tidak sengaja menggeser posiya. Tepat seperti dugaan Arnetha, keduanya terlibat ciuman singkat.
DEG!
Keduanya dalam keadaan freeze, Arneth merasa seluruh jaringan saraf di tubuhnya tidak berfungsi sebagaimana mestinya. Dia berusaha terus membuka mata tanpa berkedip. Axcel pun demikian, bibir mereka masih terus menempel. Perlahan Axcel menarik wajahnya, namun tak sengaja dia menggigit ujung bibir Arneth semua itu terlihat sensual.
"Well, Papa pikir kamu tidak menyukai Arneth. But now? Kalian...."
Sungguh keberuntungan ganda bagi Arnetha, tetua Lucifer dan juga ayahnya melihat keduanya saat ini. Axcel tersadar, dia segera menurunkan Arneth. Dengan perasaan kecewa dan juga gelisah Arneth berusaha berdiri dan masih menopang keseimbangannya dengan menggenggam erat tangan Axcel.
"Ehm, maaf... Ini salahku om..."
Axcel berbalik menatap Arneth serius. Pria itu berdecak dan menunggu drama apa yang akan dimainkan Arnetha di depan ayahnya.
"Aku tadi terjatuh, dan Axcel menolongku... Kami..." Dengan gugup Arnetha mencoba menjabarkan kejadian sebenarnya.
"Axcel tidak mungkin menyukaiku... Benar bukan?" Arneth menatap sendu kearah tunangannya.
Tiba-tiba saja Axcel merasa simpati pada sikap Arnetha saat ini. Arneth tengah bersorak riang dalam benaknya, dia memiliki ide gila untuk kembali mengejar cintanya.
"Karena Axcel tidak menyukaiku, sebaiknya perjodohan ini dibatalkan saja!" Arneth menjatuhkan air mata buayanya. "Walaupun aku benar-benar sudah jatuh cinta padanya..."
Axcel terkesima, dia benar-benar tidak memiliki kalimat sanggahan saat ini.
"Loh tapi kan?!" Tuan Lanchester yang merupakan ayah dari Arneth mencoba menghardik dan mengingatkan putrinya.
"Pah... Sudahlah, aku sangat lelah... Bisakah kita pulang sekarang? Aku sudah merepotkan Axcel barusan!"
Arneth mendesak ayahnya agar kembali kekediaman mereka. Tanpa banyak pembahasan tambahan keluarga besar itu sudah kembali. Axcel mendengus nafasnya kasar, pria itu ikut beranjak dan meninggalkan kediaman.
"Axcel!!" pekik ayahnya yang tak lain tuan Lucifer.
"Hm!" Axcel menjawab dengan malas membuat ayahnya semakin terlihat murka.
"Kamu tidak sopan pada orang tuamu, hah?! Ikut Papa sebentar, ada hal yang perlu kita bicarakan dengan serius!"
"Aku tidak mau, bukankah sudah jelas wanita itu juga sama membatalkannya jadi bisa kita sederhanakan permasalahannya?" ungkap Axcel percaya diri seolah tahu apa yang ingin dibahas ayahnya.
"Bukan hal itu," ucap tuan Lucifer menurunkan intonasi suaranya.
Tiba-tiba Axcel merasa tertarik dengan apa maksud dan tujuan ayahnya kali ini. "Lantas?"
"Jauhi salah satu anggota Keluarga Kaviandra!"
Deg!
'Bagaimana Papa tahu hubunganku dengan Farah,' batin Axcel terpaku di tempatnya.
"Jauhi dia, kamu tidak akan mengorbankan keluarga demi melawan kekuasaan putra sulung mereka bukan?"
--- To be continue ---
__ADS_1