Gadis Kecil Milik Mr. Mafia

Gadis Kecil Milik Mr. Mafia
EPS 90 # Microbots


__ADS_3

Keenan menaikan selimut menutupi tubuh polos gadisnya. Farah terlelap setelah digempur tanpa ampun selama satu jam lamanya. Cukup efektif mengembalikan energi chinya.


Tuutt!


“Bawakan aku makanan dan suruh Mr. Huang mempersiapkan dirinya kemari!”


Keenan kembali menutup sambungan, dia sudah mengganti pakaian kerjanya. Semenjak kedatangan Farah. Di ruang entertain sudah tersedia juga pakaian ganti tidak hanya milik kekasihnya.


Sam sudah dipersilahkan masuk, dia membawa satu nampan makan siang pesanan tuannya. Tiba-tiba saja Keenan menginginkan wonton sebagai makan siangnya. “Makan siang anda, Tuan!”


“Hm…” Keenan berdehem. Dia menatap sekilas makanan itu, rasanya dia sungguh terobsesi dan segera meraihnya.


Sam mengernyitkan keningnya. ‘Sejak kapan Keenan Kaviandra menyukai Wonton? Dia memakannya seperti makanan kesukaannya!’


“Mana Mr. Huang?”


“Dalam perjalanan…”


“Kamu suruh Ben ambil sampel darah Farah, bawa kemari sekarang!”


“Apa?!”


Tentu saja Sam terkejut, selama ini dia tidak mengetahui perintah Keenan mengenai sampel darah Farah.


“Apa mengenai Virus Y?”


Keenan terdiam sejenak. “Hanya untuk memastikan saja!”


“Baiklah…”


Ada rasa takut menyusup dalam benak Sam. Harusnya, hanya Sam yang mengetahui pasal hasil laboratorium Farah selama di RS kemarin.


Sam mengerti dan beranjak pergi, tak lama berselang Mr. Huang sudah berada di hadapan Keenan.


“Anda memanggil saya?”


“Ya!”


Traaak!


Seluruh jendela tertutup rapat, seketika ruangan menjadi gelap gulita. Debar jantung Mr. Huang bertambah kecepatannya. Dia tidak bisa menerka apa yang akan dilakukan bosnya. Beberapa detik kemudian Keenan mengaktifkan mode pintar ruangannya. Ruangan gelap itu telah dipenuhi beberapa panel pintar berisi drive-drive prototype yang Keenan kerjakan selama ini.


"Aku memiliki tugas tambahan untukmu!" Keenan bangkit dan mengaktifkan mode transmitter di jemari tangannya.


Keenan memainkan panel, vektor dan semua hal yang dibutuhkan di hadapannya. Mr. Huang memperhatikan dengan seksama. Walaupun Mr. Huang juga ikut andil dalam proses pembuatan EYES. Namun, dia adalah satu-satunya orang yang tidak memiliki dan menikmati teknologi pintar itu. Keenan memiliki alasan khusus mengapa pria paruh baya itu tidak diberikan akses menggunakan EYES milik KTech walaupun dia juga merupakan bagian dari penciptaan teknologi yang mulai di incar di jaringan hitam.


"Aku baru saja mengirimkan email berisi prototype senjata penunjang milikku yang harus kamu garap dalam waktu dekat!"


Terdengar bunyi ketukan di pintu ruangannya. Keenan mendengus sejenak, Sam telah berada di ruangannya. Dengan memanfaatkan gaya magnetik di tangannya Keenan membuka pintu ruangan kemudian dengan cepat Sam memasuki ruangan gelap yang penuh dengan hologram itu.


"Ingat, dia memiliki kata sandi yang hanya diketahui olehmu dan hanya bisa dibaca oleh retinamu! Jika sampai prototipe itu jatuh ke tangan yang salah atau kamu menyalin dan memperjual belikannya maka─"


Dengan satu jentikan jarinya salah satu panel yang merupakan kamera pengawas satelit milik KTech menunjukkan aktivitas sebuah keluarga bahagia yang tak lain keluarga Mr. Huang. Pria paruh baya itu menelan salivanya, dia sangat tahu apa yang bisa dilakukan Keenan.


"Anda jangan khawatir, saya sudah mengabdi semenjak KTech berdiri. Tidak ada yang menjamin hidup saya dan keluarga saya sebaik anda menjamin kami!"


Keenan mengulas senyum bangganya, dia kembali membuka inti dari teknologi apa yang dia ingin ciptakan."

__ADS_1


"Aku sangat menyukai gagasan Microbots, aku ingin kamu menciptakan robot kecil ini yang bisa aku kendalikan sesuka hatiku!" Keenan membuka sebuah gambar seperti Microbots pada umumnya. "Ini adalah rancangan khusus yang aku inginkan. Microbots yang aku inginkan tidak sama seperti Microbots pada umumnya, aku hanya menginginkan dia berupa cangkang yang akan aku isi dengan pasir magnetik khusus. Pasir ini aku temukan di Bermuda. Dia memiliki kekuatan magnet yang besar dari medan magnet pada umumnya, dia akan aku pakai menjadi senjata andalanku berikutnya!"


Penjelasan Keenan membuat kedua anak buah di depannya tidak tahu harus berkata apa. Selain semua gagasan Keenan terkesan tidak masuk akal apalagi, terlebih Keenan menggunakannya untuk berperang.


"Maaf menyela Tuan..." Sam menginterupsi Keenan.


Dia sendiri memiliki akses ikut serta mengendalikan semua hologram di ruangan mereka. "Jika kita perhatikan robot kecil ini terlalu memakan banyak waktu dalam pembuatannya. Jika anda menginginkan sebuah cangkang untuk bubuk mesiu, kenapa tidak selongsong khusus saja?!"


Penuturan Sam di respon dengan anggukan setuju Mr. Huang. Jika di telaah bentuk dan design Microbots memang terlalu memakan waktu dalam pembuatan mold design si robot micro itu belum lagi harus dilakukan uji coba pengendaliannya. Belum tentu juga bisa menggunakan transmitter yang sudah diciptakan Keenan sebelumnya. Semua itu memakan waktu lama dan biaya yang tidak sedikit.


Keenan tidak menjawab pertanyaan Sam, dia justru menunjukkan salah satu hologram demonstrasi Microbots. Dengan tangannya dia menggandakan jumlah microbots sampai memenuhi hampir setengah ruangan. Beruntungnya semua dalam bentuk hologram yang tembus melewati tubuh mereka. Dengan cepat Keenan menggerakkan tangannya dari yang tadinya hanya terlihat microbots yang memenuhi ruangan Keenan menyatukan mereka menjadi sebuah robot, setelahnya berubah menjadi kendaraan, terus menerus Keenan bisa merubah bentuk microbots itu seperti keinginan dirinya. Sam menelan salivanya, dia tahu apa yang diinginkan Keenan.


"Aku menginginkan Microbots agar aku bisa menciptakan senjata apapun semauku di luar tubuh manusia. Sedangkan serpihan magnetik itu, aku bisa mengendalikannya di dalam nadi seseorang. Tak terlihat tapi cukup mematikan!!" Seringai Keenan terpetakan jelas di wajah tampannya. Sungguh mengerikan kinerja otak Keenan jika sudah berurusan dengan persenjataan yang akan membantunya mencapai puncak Master Jaringan Hitam.


"Saya akan berusaha Tuan, hanya saja saya membutuhkan SDM dalam jumlah memadai terlebih dahulu!" tukas Mr. Huang menyanggupi, bukan karena yakin mampu. Namun, tidak ada pilihan tidak dalam kamus Keenan.


"Lakukan apapun yang kamu butuhkan, jika perlu dirikan langsung departemen khusus hanya untuk memproduksi barang ini. Aku butuh dalam jumlah banyak! Pastikan kamu sudah bisa menghitung Rancangan Anggaran Biaya dengan bahan baku yang berkualitas. Pekerjakan semua ahli dengan gaji yang pantas." Keenan mempercepat urusannya. "Jika kamu berhasil disini, aku akan menjadikanmu salah satu petinggi KTech dan memiliki saham 10% yang akan aku berikan cuma-cuma untukmu!"


"Terima kasih Tuan... Saya akan berusaha semampu saya!"


"Semampumu?!"


Deg!


"M-Maaf, Tuanku... Maksud saya, s-saya akan membuatnya bekerja seperti yang anda inginkan!"


Senyum culas Keenan kembali terbit. Dia mematikan mode pintar ruangannya, energinya sungguh terkuras habis hanya untuk mendemonstrasikan seperti barusan. Jika tidak disinkronkan dengan tubuhnya mungkin dia tidak akan merasa terbebani seperti sekarang. Sebaik dan sebagus apa teknologi ciptaannya, selalu ada sisi kekurangannya. EYES memerlukan energi chi dalam penggunaannya. Itu alasannya, tidak banyak orang yang bisa mengoperasikannya.


Setelah kepergian Mr. Huang, giliran Sam melaporkan tugasnya. Beruntungnya hasil yang didapatkan Ben tidak sama dengan laporan laboratorium yang baru saja dia terima dari rumah sakit saat Farah terkena racun.


"Sebenarnya apa yang anda inginkan dari Farah, Tuan?" tanya Sam bingung ada saja hal yang di cari Keenan sampai ke akar permasalahannya.


"Kau meminumnya?" Sam membulatkan mata tidak percaya. "Kamu titisan Vampire? Kamu siapanya Edward Cullen?" canda Sam membuat Keenan melemparkan asbak ke arah wajahnya.


Bruk!


Dengan cepat tanggap Sam bisa menangkapnya dengan tepat.


"Aku tidak sengaja melukainya saat itu, aku tidak sengaja juga menghisap darahnya dan─" terang Keenan duduk di kursi kebesarannya.


"Wow! It's so magical!"


"Samuel!!" berang Keenan, asistennya selalu bisa membuat darahnya mendidih rasanya.


Sementara itu, di ruang istirahat, Farah mengerjapkan kedua matanya, dia merasa tubuhnya kejatuhan asteroid besar. Setiap kali prianya meminta hak biologisnya saat itu juga dia merasa tubuhnya remuk seketika. Beruntungnya dia memiliki daya sembuh yang bisa dikatakan sangat cepat.


"Kak?" Farah mencoba memanggil kekasihnya.


Dia menghela nafas, dia tak ubahnya wanita penghangat kasur seperti kebanyakan wanita penggoda lainnya. Dirinya akan ditinggalkan setelah selesai memuaskan prianya. Miris rasanya, tapi apa mau dikata. Farah berjalan dengan tertatih menuju kamar mandi dan membersihkan diri.


"Baby?" sapa Keenan setelah Farah selesai dan keluar ruang istirahat.


Keenan telah selesai dengan urusan pekerjaannya. Sam bahkan telah keluar setelah menyerahkan tugasnya.


“Lapar…”


“Kamu mau makan apa? Aku akan menyuruh Sam menyiapkannya!”

__ADS_1


“Huh, aku ingin makan keluar dengan Kakak!”


Keenan tersenyum mengacak rambut Farah. “Semakin hari kamu semakin manja!”


“Kakak juga! Semakin hari semakin cabul!”


“Hahaha…”


Keenan mengulurkan tangan, Farah tertegun sejenak. ‘Inikah rasanya dicintai?’


Farah menyambut dan langsung menggelayut manja di dalam dekapan Keenan. Sungguh tidak berpendirian, beberapa menit sebelumnya gadis itu merutuki tindakan Keenan yang menganggapnya seperti wanita penghangat kasur semata. ‘Cinta itu buta, bukan? Aku memang buta mencintainya!!’


Sandra dan Sam bangkit, menundukkan tubuh mereka menyambut dan memberi hormat pada tuannya. Keenan mengabaikan mereka dan langsung membawa Farah menuju lift yang sudah dibuka sebelumnya.


“Apa Kakak tidak bisa merespon mereka sejenak?” Farah mengomentari sikap kekasihnya yang begitu dingin memperlakukan bawahannya. “Apa salahnya menatap dan tersenyum sekilas!”


“Heh!” Keenan terkekeh, gadisnya mulai mengatur sikapnya. "Aku hanya sedang membangun image yang seperti ini. Dengan begitu mereka tidak memandang remeh terhadapku atau berpikir manipulatif terhadapku!" sahut Keenan mencubit hidung mancung Farah.


"Aaw!" rintih Farah perlahan menggosok hidungnya. "Tapi banyak juga loh pemimpin yang humble dan memanusiakan manusia disegani dan dihormati. Justru karena rasa hormat mereka, mereka segan untuk bertingkah!"


“Biarkan saja, itu urusan mereka, bukan aku!”


Farah membuka mulutnya lebar, ternyata percuma juga menasehati pria angkuh satu itu.


Keduanya telah berada di restoran yang diinginkan Farah, gadis itu sangat senang. Apapun keinginan Farah, Keenan dengan senang hati mewujudkannya.


Seluruh hidangan telah tersaji di meja mereka, Keenan memesan menu yang sama dengan yang dipilihkan oleh Farah. Gadis itu tiba-tiba saja menginginkan Beef Bourguignon. Hidangan yang berasal dari Prancis dengan berbahan dasar daging sapi yang telah dibumbui bersama dengan beragam bumbu-bumbu yang tercampur wine atau anggur merah di dalamnya.


Farah sebenarnya lapar, hanya saja melihat makanan itu rasanya laparnya sirna entah kemana. Tiba-tiba saja dia berganti selera makannya. Farah menatap Keenan dan mencoba menguji kekasihnya. "Aku tiba-tiba tidak selera, mau gak kita ganti resto?" tanya Farah menggoda.


"Heh!" Keenan menggoyangkan gelas wine miliknya dan menyesapnya perlahan. "Memangnya sekarang kamu mau makan apa?"


"Mekdi!" Dengan cengengesan Farah berujar sangat lucu dan menggemaskan di depan prianya berharap hati esnya mencair.


Keenan menegaskan rahangnya atas permintaan Farah yang sangat menggemari memakan makanan junk food.


“Hah, baiklah!” Farah berakting merajuk, dia mengaduk kembali makanannya dengan malas.


Baru gadis itu ingin menyuapkan sendok ke mulut. Aroma menyengat dari rempah sukses membuat Farah mual luar biasa.


Tanpa meminta izin pada Keenan, Farah melesat menuju kamar mandi dan memuntahkan kembali isi perutnya. “Ah sial!”


Farah teringat, dia meninggalkan Keenan begitu saja, gegas Farah mencuci wajah dan keluar dari sana.


Deg!


“Kamu muntah?”


“Kakak!”


Wajah Farah pucat seketika, dia gelisah tidak tahu harus berkata apa.


“Bukankah kamu sudah membaik? Tidak ada lagi racun di dalam tubuhmu!”


Farah semakin membatu, dia menunduk dan kesulitan menyela pertanyaan kakak sepupunya.


“Kita pulang sekarang!!”

__ADS_1


--- to be continue ---


__ADS_2