Gadis Kecil Milik Mr. Mafia

Gadis Kecil Milik Mr. Mafia
EPS 149 # Heartbreaker


__ADS_3

Tok... Tok... Tok...


"Masuk!"


Sandra memasuki ruang tuannya dengan membawa beberapa berkas dan juga mengingatkan akan jadwal pekerjaan tuannya untuk seminggu kedepan.


"Pagi Tuan," sapa Sandra ramah menunggu di persilahkan.


"Taruh berkas di sini!" sahut Keenan dingin seperti biasa.


"Baik Tuan,"


Sandra bergegas menaruh beberapa dokumen penting di atas meja kerja. Keenan masih mengacuhkannya, tangannya sibuk berkutat mengutak-atik keyboard laptopnya.


"Apa jadwalku?" tanyanya kemudian.


"Siang ini anda memiliki janji temu dengan Tuan Ron sebagai jamuan berakhirnya project x yang sudah rampung di laksanakan Lee Hi Group." Sandra menggeser tangannya lincah di gadget pintarnya. "Peresmian pembukaan cabang baru di TW sudah bisa dilaksanakan, tinggal menunggu konfirmasi anda Tuan. Berikutnya ada janji temu untuk melakukan kerja sama baru denga Eternal Trade."


Keenan menghentikan aktivitasnya sejenak, kemudian dia sudah memutuskan saat ini dia hanya akan mencari istri dan putranya sisanya dia bisa menyerahkan pada anak buahnya.


"Makan siang dengan Lee Hi Group aku utus kamu dan Sam untuk menemui Tuan Ron!" titah Keenan menunjuk pena di hadapan Sandra.


Wajah Sandra seketika menunjukan ketidak-sukaannya. "T-Tapi Tuan... Bukan kah─"


Keenan menatap tajam ke arah Sandra. "Kamu menolaknya?"


Sandra mendengus pasrah. "Saya tidak berani Tuan, jika begitu jadwal lainnya─"


"Kamu undur sampai bulan depan!!" Keenan kembali menyela dengan cepat sebelum sekretarisnya melanjutkan pernyataannya.


"Aku tidak ingin di ganggu selama seminggu ini, siapkan segala keperluanku untuk berangkat ke Negara B!" titah Keenan terakhir dan mengusir Sandra keluar dengan dingin.


Di luar ruangan tuannya Sandra menatap meja kerja Sam yang memang terbiasa kosong seperti biasanya. "Kenapa sih harus sama Si Idiot Samuel? Kenapa gak dia aja sama Si Benny... Mereka kan cocok!! Haaiishh..."


Sandra menghentak kakinya kesal, dan segera merogoh ponselnya untuk menghubungi patner dua langkahnya itu. Tak berapa lama setelah Sandra memberitahukan pekerjaan pada Sam, dia di kejutkan dengan kedatangan tuan muda kecil dan juga seorang wanita muda yang selama tiga tahun ini menjadi bagian dari keluarga Kaviandra.


"Bibi Sandraaaa... Aku mau ketemu Papa Besar!!" celoteh pria kecil yang di ketahui bernama Jimmy.


"Hai Tuan Muda..." Sandra bangkit mendekat dan menundukan tubuhnya. "Tapi Papa Besar tengah sibuk, Bibi takut kamu─"


Jimmy merengut dan dengan kesal dia mendobrak sendiri pintu ruangan orang nomor satu di KTech.


"PAPAAA JIMMY BOSAAAAAN!!"


Braaaak!!


Jimmy benar-benar mendobrak pintu dan berlari menghambur ke dalam ruangan yang dia yakini Papa Besarnya ada di sana.


"Jimmy? What are you doing here Baby?" Keenan merubah raut wajahnya yang dingin menjadi hangat.


"Maaf Tuan..." Sandra mencoba menjelaskan.


"Pergilah..." hardik Keenan.


Sandra pergi dengan mendelik tidak suka pada wanita yang berada di samping Jimmy.


"Maaf Kak, Jimmy memaksa meminta mengantarkannya kesini. Dia bilang dia rindu pada Papanya." Seorang wanita muda yang usianya hampir sama dengan Farah tengah menjelaskan.


Keenan menatap wanita itu sekilas dan tidak memberikan respon yang berarti. Dia kembali menatap Jimmy dan langsung mendudukan pria kecil yang berusia tiga tahun di dalam pangkuannya.

__ADS_1


'Aku juga sangat merindukanmu, kamu begitu tampan jika di depan Jimmy tapi begitu dingin di depan semua orang.' batin si wanita terlihat tersipu saat mencuri pandang pada Keenan yang tengah memainkan hidungnya dengan hidung Jimmy yang menggemaskan.


"Ehm, maaf Kak... Ini aku bawa makanan... Tadi pagi aku belajar memanggang di bantu Bibi." Wanita itu mendekat dan menaruh satu box berukuran sedang di atas meja kerja Keenan.


"Papa makanlah... Oma juga membuatnya, rasanya sedaaaap!" celoteh Jimmy lucu di hadapan Keenan.


"Benarkah?" selidik Keenan menggoda pria kecilnya. "Jika begitu Papa bagi untukmu ya. Papa tidak suka makanan manis." Saat mengatakan tidak suka sorot mata Keenan mendelik mengarah pada wanita yang membuat kudapan manis di depannya.


"Ehm..." Wanita itu menjadi salah tingkah.


"Papa jangan begitu, papa makan ya... Jimmy suapi. Tapi setelah itu─" Jimmy menjeda kalimatnya dia bersiap berujar dengan bersemangat.


"Kita ke kids stations ya Paaa..." rengek Jimmy manja dengan puppy eyes-nya. Semua hal menggemaskan itu mengingatkan Keenan pada Farah kecil yang selalu manja padanya. Hati Keenan sakit seketika, dia mengangguk mengiyakan permintaan pangeran kecil di keluarga Kaviandra saat ini.


"Baiklah, papa selesaikan sebentar pekerjaan Papa oke?" tukas Keenan menurunkan Jimmy.


Keenan mengotak-atik laptop meneruskan pekerjaannya dan juga beberapa verifikasi berkas yang baru Sandra berikan.


"Papa, tidak masalahkan Bibi Caroline menyuapi Papa?" celetuk Jimmy membuat Keenan menghentikan aktivitasnya dan menatap nyalang ke arah wanita yang di maksud Jimmy.


"Jimmy─" lirih wanita yang bernama lengkap Caroline Khiels.


"Jims, Papa mau di suap olehmu." hardik Keenan lembut di depan pria kecil yang sudah membuka box kue yang sesekali dia colek krimnya dan di masukan ke mulutnya.


"Baik Papaaa... Aaaaa~"


Caroline Khiels atau akrab di sapa Carol adalah putri tunggal dari keluarga Khiels. Dia melamar menjadi sekretaris Karennina di Suho Enterprise. Setelahnya di bawa ke kediaman atas persetujuan Nyonya Lyn. Kedua keluarga besar itu sempat sepakat untuk menjodohkan Keenan dan Carol, tentu saja Keenan menolaknya mentah-mentah. Sayangnya Jimmy menyukai Carol, dia bisa bertahan di posisinya tentu berkat Jimmy Shin. Putra dari Karennina dan Erick Shin.


Karen dan Erick resmi bercerai satu tahun yang lalu, Erick berselingkuh dengan sekretarisnya. Jimmy resmi bergelar Kaviandra dan Keenan membuat nama Papa Besar untuk membesarkan perasaan Jimmy. Kedua orang tuanya berpisah menjadi pukulan besar untuknya. Keenan tentu akan melakukan apapun demi kebahagian keluarganya. Apalagi saat memandang Jimmy, dia berharap putranya juga masih hidup dan dia akan segera menemukannya.


Keenan telah selesai dengan pekerjaannya, pada akhirnya Jimmy lah yang memaka kue buatan Carol. Carol sempat merengut kesal hasil jerih payahnya dari pagi buta tidak di hargai oleh pria yang di sukainya. Ya, Carol sangat menyukai Keenan. Dia jatuh cinta pada pandangan pertama saat Karen membawanya ke kediaman.


Sayangnya, semua orang tahu yang bisa mengisi hati Keenan hanya Farah seorang. Sudah berbagai cara Carol membuat Keenan terpesona padanya bahkan dia tak segan selalu memanfaatkan kedekatannya dengan Jimmy tentu saja agar dia bisa bersama dengan Keenan.


Keenan menggandeng Jimmy bersiap keluar dari ruangan dan memanjakan keponakannya. Carol menunjukan senyum manis pada dua pria di hadapannya. Berharap Keenan tersentuh dan menyerah padanya. Jimmy berhambur senang berlari lebih dulu. Carol berbalik badan dan bersiap mengekor di belakang Keenan. Keenan menghentikan langkah kakinya dan menatap tajam Carol.


Di tatap dalam jarak yang sangat dekat membuat debar jantung Carol berdetak dua kali lebih cepat. Dia juga telah menelan salivanya dengan rona wajah yang sudah tidak bisa di sembunyikan.


"Dengar Carol, kamu sudah tahu bukan jangan pernah panggil aku dengan sebutan KAKAK!" tekan Keenan dingin membuat jantung Carol seolah berhenti berdetak sejenak. "Hanya dua orang yang boleh memanggil aku dengan panggilan itu. Kamu tahu diri sedikit!!"


Keenan segera berlalu tanpa ingin mendengar pembelaan atau apapun yang keluar dari mulut Carol. Di depan lift Jimmy merengek meminta di gendong oleh Keenan. Carol tersadar sebelum dia tertinggal dia berlarian kecil menyusul keduanya. Keenan tidak mungkin mengusirnya di depan Jimmy.


'Heh, kamu memang begitu dingin. Tapi kita lihat saja kedepannya, Jimmy begitu menempel padaku... Kamu pasti tersentuh dan jatuh hati padaku!!' batin Carol tersenyum mengajak bermain Jimmy yang ada di pangkuan Keenan.


Keenan sudah keluar dari area lobby menuju mobil yang sudah terparkir di depan. Jimmy menggelitik leher Keenan, mau tak mau pria besar itu tertawa. Jimmy juga bergantian menggoda Carol terlihat mereka tertawa bertiga bersama-sama. Bagi yang tidak mengetahuinya tentu merasa bahwa ketiga makhluk itu adalah satu keluarga yang berbahagia.


[Bagusnya dari sini puter backsound biar kena mental wkwkwkwk]


Uri saranghaetjana jebal nal ullijima, ojik naegen no hanappunya...


Nuneul gamado boyeo, gwireul magadeo deullyeo...


Jebal nal ttonagajima...


Bukankah kita saling mencintai? Ku mohon jangan membuatku menangis.


Bagiku hanya kau satu-satunya...


Ketika aku menutup mata ku melihatmu, ketika ku tutup telinga aku mendengarmu...

__ADS_1


Kumohon jangan tinggalkan aku...


(Davichi, T-ARA - We were in love)


──


Keenan tidak mengetahui bahwa Farah dan Keano sudah berada di depan gedung KTech dan memperhatikan mereka. Tentu saja Keenan lengah, orang yang paling di cintainya tengah mengenakan seperangkat peralatan perlindungan diri. Farah dan Keano memakai kacamata, masker bahkan topi untuk menutupi wajah mereka.


"See?" Tubuh Farah bergetar hebat, tanpa perlu waktu lama Farah menjatuhkan air matanya. Dia resmi salah sangka.


Farah menatap Keano sendu. "Kita sudah mati baginya, apa kita sudah bisa kembali pulang?"


Keano bisa merasakan ibunya menggenggam erat jemari mungilnya. Keano masih menatap kepergian Keenan yang tengah menggendong pria kecil dan di sampingnya berdiri wanita lain ketiganya bercengkrama seolah keluarga paling bahagia di dunia ini. Keano mengepalkan erat tangan lainnya. Jantungnya seperti di remas kencang oleh tangan besar ayahnya sendiri.


Keano kembali berpaling menatap ibunya. "Ibu menangis?"


"Ah tidaak, ini tadi kelilipan... Hehe" Farah segera mengatur emosi dan menekan sudut matanya yang memang sudah menjatuhkan air matanya. "Ayok, kita temui Papa Kecil?" ajak Farah berusaha tegar.


Keano masih tidak bergeming di tempatnya, mobil Keenan sudah melesat meninggalkan KTech. Tatapan mata Keano tidak lepas dari sana.


'Kau melukai Ibuku, berkali-kali... Lihat apa yang akan aku lakukan padamu Mr. K, semua harus di perhitungkan jelas. Aku akan mengambil hakku, kau setuju atau tidak kau tidak berhak atas diriku Keenan Kaviandra. Aku sungguh membencimu!!'


Farah menyadari tatapan kebencian dari putranya, dia membuang nafasnya kasar. "Apa kamu masih ingin bertemu dengannya?"


Keano tersadar dan kembali mencoba menunjukan senyuman di balik masker mulutnya. "Tentu saja tidak!!"


'Pria tua itu sudah memiliki keluarganya sendiri, untuk apa aku harapkan? Bersenang-senanglah sekarang dengan keluarga barumu, karena sebentar lagi aku akan memberikan kalian sedikit kejutan.'


DEG!


"Aku sudah memiliki Papa Kecil, aku tidak membutuhkan dia atau siapapun lagi!!" hardik Keano penuh kebencian pada ayah kandungnya sendiri.


Farah benar-benar meneteskan air mata di hadapan Keano saat ini. Dia bersimpuh dan mencoba membesarkan hati putranya. 'Ternyata apa yang di katakan Axcel benar, tidak akan ada perasaan bahagia lagi di sampingnya.'


"Ibu..." Keano mengusap perlahan wajah Farah yang sudah basah.


"I'm okay... Hehe" Farah terkekeh kecil menguatkan diri demi putranya.


"Ibu, rasanya sungguh merugi jika kita tidak bermain sebentar disini." rengek Keano mencurigakan.


Farah menatap sangsi pada putranya namun perasaan itu segera dia enyahkan. "Haha, kamu mau kemana?"


"Kids Station!! Aku dengar Kids Station di sini terbaik... Mereka juga menyediakan beberapa robot star wars terbaru... Aku mau ibuuu~" rengek Keano tidak biasanya.


"Kau merengek seperti itu ibu merinding jadinya..."


Keano mengerucutkan bibirnya walau tak terlihat tapi Farah bisa merasakannya. "Hahaha... Oke, oke... Ibu hubungi Papi Kecilmu dulu ya."


"TIDAAAK IBUU!" hardik Keano cepat.


Farah mengerutkan keningnya, dia mulai curiga dengan tingkah putranya.


"Aku hanya ingin waktu berdua dengan ibu saja..." lirih Keano sendu membuat Farah benar-benar tidak berkutik kali ini.


Farah mengucap lembut kepala Keano. "Baiklah Sayang... Jom!"


Keano tersenyum penuh arti, seperti yang tidak pernah Farah duga selama ini bahwa putranya memiliki IQ di atas rata-rata dari anak seusianya. Bahkan dia jauh lebih pintar dari seorang mahasiswa rasanya.


---To be continued---

__ADS_1


__ADS_2